APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Melahirkan Anak Mantan

Melahirkan Anak Mantan

Keadaan mendesak memaksa Rania pergi menjauh, meninggalkan kota asal sekaligus kekasihnya, Devano, tanpa sepatah kata pun. Kepergian misterius ini menorehkan luka batin dan kemarahan mendalam pada diri Devano. Enam tahun kemudian, takdir mempertemukan pria itu dengan seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengannya dan Rania. Misteri besar apa yang sebenarnya dipendam Rania? Mengapa ia memilih pergi dan memicu kebencian Devano? Temukan jawabannya dalam kisah emosional ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Pagi, Ran. Sudah mau berangkat kerja ya," sapa Rayyan, tetangga sekaligus sahabat Rania.

"Pagi juga Ray, iya nih. Tapi aku mau nganter Al ke sekolahnya dulu baru ke kantor," balas Rania.

"Om Ray gak adil, masa cuma mom yang disapa. Al malah di cuekin," omel Al sambil memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Ray terkekeh melihat bocah 5 tahun itu merajuk, wajahnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Rayyan pun mengangkat tubuh kecil Al dan menggendongnya.

"Pagi jagoan om Ray yang ganteng," sapa Rayyan membuat Al tersenyum.

"Pagi juga om," balasnya yang sudah kembali ceria.

"Mau om Ray antar gak."

"Mauuu…" dengan cepat Al menjawabnya, tanpa meminta persetujuan dari ibunya terlebih dahulu.

"Gak usah deh, Ray. Entar ngerepotin kamu lagi. Kamu kan juga harus berangkat kerja," tolak Rania karena merasa tak enak hati.

Padahal mereka bukan baru sehari dua hari kenal, tapi sudah lima tahun mereka bertetangga dan bahkan bersahabat.

Namun, Rania masih sering merasa sungkan setiap kali Rayyan menawarkan bantuannya untuk menolong dirinya.

"Kamu ini ya, Ran. Kayak baru sehari dua hari saja kenal sama aku. Sudahlah, biar aku saja yang antar Al ke sekolahnya. Kamu berangkat saja ke kantor, aku tau kamu hari ini ada pertemuan dengan klien kan."

"Iya sih. Ya sudah deh kalo gitu," Rania pun pasrah, percuma dia berdebat dan menolak bantuan Rayyan. Pria itu akan terus mendesaknya sampai akhirnya Rania berkata 'ya'.

"Tapi makasih loh ya, sebenarnya aku memang lagi buru-buru sih ini," sambung Rania.

"Nah kan, ya sudah sana pergi, biar Al aku yang urus," usir Rayyan membuat Al terkekeh.

"Hihihi. Mom diusir sama om Ray," bocah Lima tahun itu cekikikan dalam gendongan Rayyan.

"Berani kamu ketawain mommy." Rania menggelitiki putranya yang sudah meledeknya. Al hanya bisa tertawa kegelian dan menggeliatkan badannya demi menghindari serangan dari ibunya.

"Sudah, Ran. Cepat pergi, nanti kamu terlambat." Rayyan kembali mengingatkan Rania.

"Ya sudah, kalo gitu aku pamit ya," ucapnya pada Rayyan. Lalu ia beralih pada Al, "mom pergi dulu ya sayang. Muaach." Rania mengecup pipi sang anak.

"Aku gak di cium juga Ran," celetuk Rayyan dan langsung di hadiahi pukulan pada lengannya. Alvaro tertawa kesenangan melihat tingkah kedua orang dewasa itu. Tak ingin terlambat, Rania pun bergegas memasuki mobil dan mengendarainya dengan kecepatan normal.

Pagi ini dia ada jadwal pertemuan dengan klien dari perusahaan property yang ingin membangun sebuah apartemen.

Masih ada sisa waktu 30 menit lagi sebelum jadwal pertemuannya di mulai.

***

"Makasih banyak ya, Ran. Berkat kamu, meeting kita kali ini sukses dan klien sangat suka dengan presentasi kamu tadi," ucap Kiara memuji keberhasilan Rania.

Pagi ini Rania melakukan presentasi tentang contoh bangunan apartemen yang di inginkan kliennya. Mulai dari bentuk bangunannya, desain interiornya, fasilitas dan sebagainya. Tentu saja presentasinya itu sangat di sukai oleh klien mereka. Karena sudah sesuai seperti yang mereka minta bahkan melebihi ekspektasi mereka.

Untuk itu Kiara mengajak Rania makan siang di sebuah restoran tak jauh dari tempat meeting mereka tadi.

"Ah, mbak Kiara ini, jangan terlalu memuji saya seperti itu. Entar telinga saya jadi panjang kayak telinga kelinci gimana," canda Rania membuat Kiara tertawa.

"Hahaha, kamu ini bisa saja bercandanya,"

"Biar jangan serius kali mbak, soalnya serius sudah bubar. Hehehe."

"Ih, kamu ini ya." Kiara menepuk bahu Rania pelan. "Eh, Ran. Lihat deh cowok yang duduk disana itu, ganteng banget gak sih," Kiara menunjuk seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari mereka.

Rania pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Kiara. Jika dilihat dari posisi mereka saat ini, yang terlihat hanyalah wajah sisi sebelah kanannya saja. Meskipun hanya terlihat dari samping, sudah bisa dipastikan kalau pria itu memiliki wajah yang tampan.

"Ganteng dari mananya sih mbak, yang kelihatan cuma sebelah doang. Jangan-jangan yang sebelah lagi mukanya rata. Hihihi."

"Hush, kamu ini. Hati-hati kalo ngomong, bisa gawat entar kalo dia dengar ucapan kamu," tegur Kiara.

"Gak mungkinlah dia bisa dengar mbak, kecuali kalo dia punya antena yang bisa menangkap sinyal suara di atas kepalanya."

Kedua wanita itu sedang asik mengomentari tentang pria yang duduk tak jauh dari mereka. Namun, siapa sangka tiba-tiba pria itu menoleh dan menampakkan seluruh wajahnya.

Baik Kiara maupun Rania, keduanya sama-sama tercengang saat melihat wajah pria itu. Kiara menatap dengan tatapan memuja, wajah tampan pria tersebut mampu membuatnya tak bisa berkedip sedikitpun.

"Ran, ganteng banget. Sumpah!" Bisik Kiara tepat di telinga Rania, "dia jalan ke sini Ran, jangan-jangan dia dengar apa yang kamu ucapkan tadi," bisiknya lagi.

Berbeda dengan Kiara, Rania terkejut saat tau siapa pria yang sedang mereka bicarakan. Jantungnya tiba-tiba berpacu dengan cepat, tak di pedulikan lagi apa yang sedang di bisikkan Kiara padanya. Sebisa mungkin Rania menutupi wajahnya sebelum pria itu melihatnya.

Namun, terlambat. Pria itu sudah melihat keberadaan Rania, bahkan mata mereka sempat saling bertemu walau hanya satu detik saja. Karena Rania langsung membuang pandangannya ke arah lain.

Pria itu tersenyum membuat Kiara yang salah mengira hampir menjerit kesenangan. Dia berpikir pria itu tersenyum padanya. Sedangkan Rania berdoa dalam hati dan berharap kalau pria itu tak mendatangi mejanya.

Tapi sepertinya doanya tidak dikabulkan oleh Tuhan, pria itu berjalan mendekati meja mereka. Berjalan dengan gagah dan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.

Kini pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Rania, membuat Rania terpaksa harus mendongak.

"Hai! Kita bertemu lagi."

****

"Kamu beneran gak kenal sama cowok tadi, Ran?" tanya Kiara penasaran. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil, menuju kantor mereka.

"Enggak. Aku gak kenal," jawab Rania cepat. 

"Tapi kok, kayaknya cowok tadi kenal sama kamu deh."

Rania bingung harus menjawab apa, sepertinya Kiara tidak akan berhenti bertanya jika Rania tidak memberikan jawaban yang memuaskannya. 

"Aku beneran gak kenal mbak, cuma kebetulan pernah ketemu di pestanya Karina kemarin. Aku gak sengaja nabrak dia, mungkin dia masih marah sama aku," jawab Rania berbohong.

Kiara manggut-manggut mendengar jawaban Rania, sepertinya wanita itu mempercayai ucapannya. Karena setelahnya Kiara tak menanyakan apapun lagi hingga mereka sampai di kantor.

Rania menghempaskan tubuhnya di kursi kerja miliknya, tubuhnya terasa lelah begitu juga dengan pikirannya yang sejak tadi terus mengingat pertemuan kedua nya dengan Devan di restoran tadi siang.

"Apa kabar Rania," tanya Devan, lelaki itu masih tetap berdiri di depan Rania.

"Baik," jawab Rania singkat. Meskipun ia terlihat tenang, tapi sebenarnya dalam hati ia sedang berdoa semoga Devan bisa segera pergi dari hadapannya.

"Bisa bicara berdua sebentar?" tanya Devan sambil melirik Kiara, seolah memberi isyarat agar Kiara pergi dan memberikan waktu mereka untuk bicara berdua.

Kiara yang peka dengan isyarat itu pun langsung berpamitan dengan Rania dan akan menunggu di dalam mobil. Awalnya Rania menolak dan meminta Kiara untuk tetap tinggal, namun melihat tatapan mata Devan yang tajam membuat Kiara sedikit takut dan pergi meninggalkan Rania dan Devan berdua saja.

Kini tinggal Rania dan Devan berdua, tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Rania yang sibuk menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan tajam dari Devan, sedangkan Devan masih setia menatap wajah Rania, wajah yang sangat ia benci sekaligus ia rindukan.

"Sepertinya takdir mempertemukan kita kembali, Rania." ucap Devan dengan senyum sinis nya.

"Saya malah berharap kalau ini adalah pertemuan terakhir kita," balas Rania dengan masih menunduk.

"Oh ya?"

"Ya."

"Bagaimana kalau kita taruhan."

Rania mendongak menatap Devan penuh tanya.

"Jika nanti kita bertemu untuk yang ketiga kalinya, saya mau kamu menjadi asisten pribadi saya," ujar Devan menampilkan seringainya.

Rania menatap tajam Devan, rasa takut yang tadi ia rasakan menghilang begitu saja dan berganti dengan perasaan marah dan benci terhadap laki-laki yang ada di hadapannya ini.

"Jangan harap. Karena saya bisa pastikan kalau hari ini adalah terakhir kali kita bertemu," desis Rania lalu pergi dari hadapan Devan.

"Menarik. Kita lihat saja nanti," gumam Devan sambil memandangi punggung Rania yang semakin menjauh.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, seorang gadis biasa, mendadak jadi sorotan saat Nyonya Silviana menunjuknya sebagai pewaris tunggal. Perubahan nasib yang instan ini memicu penolakan dari orang-orang sekitar yang meragukan dirinya. Di tengah kepalsuan dan intrik kaum elite, Lucyana harus berjuang bertahan hidup. Mampukah ia menghadapi tekanan lingkungan barunya sembari menemukan sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel Cinta Yang Penuh Rahasia
8.0
Risa menaruh hati pada dosen mudanya, Bima, walau sadar hubungan mereka terlarang. Impian Risa seolah menjadi nyata saat perjodohan menyatukan mereka. Namun, di balik kehangatannya, Bima menyembunyikan rahasia kelam. Ketika kebenaran menyakitkan itu terbongkar, Risa yang terluka parah berubah menjadi pribadi yang tertutup dan memilih lenyap tanpa jejak. Kepergian sang gadis meninggalkan penyesalan mendalam bagi Bima yang kini didera rasa bersalah selama bertahun-tahun.
Sampul Novel Dibenci Keluarga Mertua
8.1
Bertahun-tahun Ayu bertahan dari perlakuan buruk ibu mertua dan adik iparnya. Namun, batas sabarnya habis ketika perselingkuhan Wahyu, sang suami, terbongkar. Di tengah penyesalan Wahyu yang membisu, ibunya justru menuntut perceraian agar Wahyu bisa bersama Vina. Lelah dihina sebagai perempuan kampungan dan dikhianati, Ayu memutuskan pergi. Dengan kemarahan mendalam, ia bersumpah hidup keluarga yang telah menyakitinya tidak akan pernah bahagia lagi.
Sampul Novel Gadis Rahasia Kapten
8.7
Saat Rusia mengumumkan perang, Kapten Anatoly menyembunyikan turis Jerman bernama Helen di kediamannya. Tak disangka, benih cinta tumbuh di hati sang kapten yang dingin di tengah situasi mencekam. Namun, kedamaian mereka sirna ketika Helen terungkap sebagai putri dari musuh besar negaranya. Kini, Anatoly dihadapkan pada pilihan sulit yang menyiksa batinnya: tetap setia pada tanah airnya atau mempertaruhkan segalanya demi melindungi wanita yang sangat ia cintai.
Sampul Novel Gairah Cinta Senior
8.4
Demi masa depan, Diana rela menolak cinta Arga meski keduanya saling memendam rasa sejak lama. Namun, keteguhan hatinya goyah saat mulai kuliah. Di kala Arga terus berjuang mendekatinya dari jauh, Diana justru dipertemukan dengan Bara. Senior galak berlabel bad boy itu mulai memperlihatkan ketertarikan padanya. Kini Diana bimbang, harus bertahan pada komitmen masa lalu atau hanyut dalam gairah baru yang menantang.
Sampul Novel Jerat Cinta Tuan Mafia Salvatore
8.4
Felix Salvatore didera dendam kesumat kepada Veronica Reager. Ia menuduh putri musuhnya itu sebagai dalang atas tewasnya sang ibu. Lewat ancaman mati, Felix memaksa Veronica untuk menikahinya. Meski berniat menyiksa sang istri, pertahanan Felix goyah saat perasaan cinta perlahan tumbuh di antara mereka. Akankah kebenaran tentang kesalahpahaman masa lalu terungkap sebelum amarah Felix telanjur menghancurkan segalanya?