APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mawar Hitam Berdarah

Mawar Hitam Berdarah

Lelah didera siksaan batin oleh mertua dan suaminya yang tidak adil, Maria akhirnya memilih bercerai. Ia dicap cacat karena belum punya anak, bahkan suaminya tega menikah lagi secara sepihak. Namun, takdir mempertemukannya dengan bos menyebalkan yang perlahan meluluhkan hatinya. Saat cinta baru mulai tumbuh, sang mantan suami justru datang memohon untuk rujuk. Maria kini terjebak di antara masa lalu atau memulai lembaran baru.
Bab
Bagikan

Bab 2

Maria tersentak ketika mendapati air dingin menyiram ke wajahnya. Dia mendongak mendapati Marni yang tersenyum culas memandangnya jijik. Seolah belum puas, Marni kembali melempari Maria dengan gayung yang tadi dia pakai untuk menampung air.

"Dasar pemalas. Cepat bangun dan siapkan sarapan!" Marni melewati Maria begitu saja. Dengan sengaja Marni tidak menjauhkan roda kursinya yang ada di depan jari tangan Maria sehingga dengan naas menggilasnya.

Maria menjerit sakit ketika tangannya tergilas roda. Marni hanya melihatnya sekilas lalu melanjutkan niatnya untuk keluar.

Maria mengusap jari tangannya pelan. Ingin marah, tapi dia cukup sadar dengan keberadaan di rumah ini saja orang-orang sudah tak menginginkannya.

Dia melihat jam di nakas dan baru menunjukkan pukul 04. Pagi. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai menunaikan ibadah Shalat, dia pergi ke dapur untuk memasak. Namun, waktu melewati kamarnya yang dulu dia dan Fiko tempati, pintu itu sedikit terbuka, dia mendapati Fiko masih tertidur sambil berpelukan dengan Sela. Hatinya sakit, namun dia mengingatkan diri bahwa Sela juga istrinya, dan wajar mereka melakukan hal seperti itu.

Marni yang bersembunyi di belakang tembok menyeringai puas. Dia sengaja membuka sedikit pintu kamar Fiko dan Sela agar ada celah untuk Maria melihatnya yang sedang berpelukan mesra. Setidaknya wanita yang sayangnya masih menantunya itu sadar diri bahwa Fiko sudah tidak membutuhkannya lagi karena ada Sela yang menggantikannya.

Tanpa menggagu Fiko dan Sela, Maria melanjutkan langkahnya ke dapur guna memasak sarapan untuk semua orang. Selesai masak, Maria membereskan seluruh rumah sampai beres. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi, dia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum berkumpul untuk makan. Namun, begitu dia keluar untuk makan, Maria tak mendapati sayur dan ikan yang tadi dia masak. Hanya tertinggal nasi sedikit di atas bakul.

Fiko yang masih duduk di kursi makan menatap heran Ke arah Maria yang memandang meja dengan tatapan kecewa. "Kenapa kamu memandang meja seperti itu?"

Maria mendudukkan tubuhnya di sebelah Fiko. "Kenapa kalian tidak menungguku makan?" Maria balik bertanya. Dia menyorot Fiko hampa. Padahal perutnya sudah kelaparan karena lelah dari subuh membereskan rumah.

Fiko menggelengkan kepala heran. "Bukannya kamu sudah makan?"

"Kapan?" Maria bertanya bingung. Dia belum menyentuh makanan sedikit pun, lalu bagaimana bisa dia di bilang sudah makan.

"Ibu bilang kamu makan duluan tadi." Marni memang mengatakan pada Fiko bahwa dia melihat Maria makan duluan tanpa menunggu yang lain. Fiko berpikir mungkin karena Maria sudah lapar bekerja dari subuh, makanya memutuskan untuk makan duluan tanpa menunggu yang lain.

"Dan mas percaya?" Maria menyorot Fiko kecewa. Sudah sering terbukti kalau Marni sering mengarang cerita bohong tentang dirinya, namun Fiko tetap mempercayainya seolah Marni tak pernah melakukan kebohongan sekalipun.

"Ibu gak mungkin berbohong!" Fiko agak meninggikan suaranya karena tidak suka dengan pertanyaan Maria yang seolah menyebut ibunya tidak jujur. Ibunya, wanita yang paling Fiko hormati adalah wanita terbaik dalam hidupnya. Setelah kepergian ayahnya 15 tahun yang lalu, hanya ibunyalah seorang yang membesarkannya sampai sesukses sekarang.

Maria bangkit berdiri meninggalkan Fiko yang termenung. Fiko sangat menghormati ibunya, sehingga tak mungkin dia menjelekkan ibunya. Terlepas dari benar atau salahnya Marni, Fiko tetap akan membelanya walau itu artinya harus menyakiti istrinya.

Maria pergi ke belakang rumah. Dia menangis Di sana menumpahkan segala amarah yang terpendam. Berkali-kali dia memukul dadanya berharap rasa sakit itu mereda walau hanya sedikit.

"Sakit. Sakit. Sakit." Maria terus memukuli dadanya sampai rasa lapar diperutnya terlupakan terganti dengan rasa sakit hatinya yang tak terkira. Dia ingin marah pada Fiko, namun kewajiban seorang istri kepada suaminya masih terikat untuk selalu taat selagi masih belum melenceng dari syariat Islam.

Samar Maria mendengar Fiko memanggilnya. Buru-buru dia menghapus air matanya sebelum ketahuan.

Fiko datang menjinjing kantong di tangannya. "Ini ada nasi dan lauknya, sebaiknya kamu makan sebelum mag kamu kambuh!"

Maria menerimanya. Di bibirnya tersungging senyum kecil. Fiko masih memperhatikannya, dan itu cukup untuk Maria bertahan. Ya perhatian Fiko saja cukup untuk dirinya. Dia tidak meminta lebih, asal Fiko masih menganggapnya ada. Katakan Maria labil, namun di dunia ini hanya Fiko yang dia punya. Tentu Maria punya batas kesabaran, dan untuk saat ini, kesabaran itu masih ada selagi Fiko adil kepadanya.

"kamu tahu aku belum makan?" Tanyanya penuh haru. Rona di wajahnya kembali ceria seolah baru saja mengisi energi.

Fiko mengangguk dan memperhatikan wajah Maria lekat. Dia menyadari mata Maria bengkak. Maria adalah wanita tangguh, kalau dia menangis berarti sesuatu itu sangat menyakiti hatinya. Dan Fiko tentu sadar dengan apa yang membuat Maria menangis, itu dirinya. Dirinya si laki-laki berengsek yang tega membuat wanita sebaik Maria mengeluarkan air mata, wanita yang dia cintai setulus hati, namun sekaligus wanita yang tidak bisa memberinya keturunan. "Habiskan!"

Maria mengangguk. Dalam diam dia menghabiskan makanannya ditemani Fiko. Tanpa mereka sadari seseorang mengepalkan tangannya marah menyaksikan antara Maria dan Fiko. Dia bersumpah akan membuat Fiko membuang Maria dari hidupnya.

"Aku mendapatkan gajiku kemarin." Fiko memulai kembali pembicaraan di saat makanan Maria telah habis.

Mari mendongak menampilkan senyum kecil di bibirnya. "Bagus dong."

Fiko ikut tersenyum melihat senyum muncul di bibir Maria. "Ya. Mulai sekarang kamu gak usah lagi mengatur kebutuhan rumah. Karena kata ibu, Sela lebih bisa mengatur keuangan, jadi aku kasih hampir semua gajihku kepadanya." Fiko merogoh sesuatu dari dalam sakunya. "Ini ada tiga ratus ribu untuk uang jajanmu. Kalau tidak cukup, kamu bisa memintanya lagi pada Sela."

Senyum Maria lenyap tak tersisa. Hatinya kembali pedih. Dia kira hanya dengan Fiko masih menganggapnya ada itu sudah cukup untuknya. Nyatanya, hal ini pun sama menggores luka. Dengan tangan bergetar, Maria menerima uang pemberian Fiko.

"Kenapa Mas tidak mendiskusikannya denganku terlebih dahulu?" Maria bertanya tanpa melihat Fiko. Kepalanya menunduk memandang pada cekalan tangannya yang mengerat kuat pada uang. Dia kecewa, ingin marah karena tidak mendapat perlakukan selayaknya pasangan yang selalu di ikut sertakan dalam hal apa pun.

"Kalau soal itu, Mas percaya kalau kamu pasti setuju dengan apa yang menjadi keputusan Mas. Selama ini kamu memang suka begitu, kan." Fiko menjawab enteng tanpa menyadari perubahan emosi wanita di depannya.

Maria tersenyum pedih. "Mas, benar. Selama ini memang aku selalu mengikuti apa yang menjadi keputusan, Mas. Tapi, itu terjadi karena Mas juga tidak pernah sekalipun bertanya hal mengenai apa pun padaku. Mas lebih suka merundingkannya bersama ibu." Maria mendongak ke arah Fiko. Tatapan matanya menggambarkan kehampaan "Apa keputusan sekarang Mas mengajak Sela?"

Fiko membeku. Seakan lupa dengan satu hal. Bagaimana pun Maria selalu mengikuti keinginannya, Maria tetap saja wanita yang punya hati dan keinginan tersendiri. Fiko sadar selama ini sering melupakan akan pakta itu. "Maaf." Balas Fiko menyesal. "Harusnya Mas ajak kamu juga! Maaf sayang. Mas minta maaf." Fiko mengambil tangan Maria dan menciumnya lembut penuh penghayatan.

Maria menghela napas pasrah. Bagaimana pun itu juga sudah menjadi keputusan suaminya. Akhirnya Maria hanya bisa mengangguk membuat senyum lega Fiko terbit.

"Ya sudah. Mas masuk ke dalam." Fiko berdiri dan menepuki celana bahannya yang tertempel daun kering. Sebelum pergi, sekilas dia mengusap kepala Maria yang tertutup hijab.

Maria memandang kepergian Fiko sampai menghilang di balik pintu. Dia berdiri dan memutuskan untuk menyusul masuk ke dalam rumah. Namun, niatnya itu harus tertunda dengan kedatangan seseorang yang kini tengah menghalangi jalannya.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayiku dibunuh Pelakor, Suamiku Tak Peduli
8.9
Setelah didorong dari tangga oleh Mariana, cinta pertama suaminya, sang istri kehilangan bayinya dan sekarat di rumah sakit Grup Dariawan. Putranya yang masih kecil memohon pertolongan pada ayahnya, Ridwan. Namun, sang suami justru menuduh istrinya berpura-pura demi mencari perhatian. Ridwan bahkan melarang dokter memberikan perawatan medis dan mengusir anaknya sendiri demi melindungi Mariana. Akhir tragis menjemput ibu dan anak ini, meninggalkan jasad dingin yang takkan pernah kembali.
Sampul Novel Gairah Liar Tuan Xavier
8.5
Bella berada dalam posisi terdesak saat berjuang menolak klaim sepihak dari Tuan Xavier. Walau Bella terus menentang takdir paksaan tersebut, pria berkuasa itu tetap menegaskan bahwa Bella telah menjadi miliknya secara mutlak. Xavier menutup rapat segala celah bagi Bella untuk kabur ataupun membantah keputusannya. Kini, Bella tidak punya pilihan selain menghadapi jeratan obsesi liar sang tuan yang tidak pernah menerima penolakan.
Sampul Novel Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda
7.9
Bertemu kembali dalam rapat kerja, Lunara Angkasa berusaha keras menjauhi sang mantan, Kayden Narasoma. Khawatir rahasia anak mereka terungkap, ia memilih bersikap profesional. Kayden yang salah paham berniat membalas dendam demi memuaskan luka lamanya. Namun, saat melihat Lunara terpuruk, ego miliarder itu runtuh dan ia justru ingin hidup bersama mereka. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, Kayden tersadar bahwa dendamnya hanya menyakiti dirinya sendiri, sementara Lunara tetap kukuh menjaga batas.
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif
8.9
Mimpi indah Sheila bersanding dengan Bryan hancur lebur. Kini, ia terpaksa menikahi Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya sebagai jaminan atas utang sang mantan kekasih. Sheila pun terjebak dalam kehidupan pernikahan yang rumit, menghadapi obsesi Bara yang sangat posesif dan mengklaim dirinya sepenuhnya. Di tengah badai kebencian dan kekecewaan, mampukah Sheila bertahan, atau justru menemukan kebahagiaan tak terduga?
Sampul Novel My Beautiful Bride
9.7
Trauma masa lalu mengubah CEO Ethan Daniel menjadi sosok yang dingin dan kasar. Ketika sang kakek menuntutnya memenuhi janji pertunangan masa kecil, Ethan sempat acuh. Namun, semua berubah saat ia bertemu Anna. Gadis sederhana ini justru memikat perhatiannya karena berani menolak pesona serta harta melimpah sang konglomerat. Penolakan tersebut memicu rasa penasaran Ethan yang tak biasa diabaikan. Di tengah perjuangannya mendekati Anna, luka lama Ethan kembali membayangi. Akankah ketulusan Anna mampu menyembuhkan hatinya?
Sampul Novel Pemuas Ranjang Tuan Majikan
8.4
Slater Jagger mengajukan tuntutan yang tak biasa kepada asisten rumah tangganya. Tak sekadar membereskan urusan domestik, sang wanita juga diwajibkan melayaninya di ranjang serta memberikan ASI secara rutin. Demi memuaskan fantasi dan hasrat pribadinya tersebut, sang majikan memberikan penawaran menggiurkan. Slater membebaskan asistennya untuk menentukan sendiri jumlah gaji yang diinginkan tanpa batasan nominal.