APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Married by Accident

Married by Accident

Kehidupan Clara runtuh akibat pelecehan oleh sang dosen, yang justru memfitnah Dev, seorang mahasiswa hukum. Terdesak keadaan, Clara terpaksa menikahi Dev walau ia sudah punya kekasih. Di tengah rumitnya situasi, janji Dev untuk memperjuangkan keadilan lewat jalur hukum perlahan menumbuhkan rasa cinta di hati Clara. Namun, bahtera rumah tangga mereka seketika goyah saat rahasia masa lalu Dev terkuak. Sanggupkah Clara bertahan menghadapi misteri suaminya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Mungkinkah aku meminta, kisah kita selamanya. Tak terlintas dalam benakku, bila hariku tanpamu. Segala cara telah kucoba pertahanan cinta kita, selalu kutitipkan dalam doaku, tapi ku tak mampu melawan restu ...."

Clara terus mengulang lirik yang sama dari lagu berjudul Melawan Restu dari Mahalini tersebut. Karena lagu itu sangat mewakili perasaannya saat ini. Ia tidak direstui menikah dengan pacar beda agamanya yang bernama Algo.

Ya ... mereka sudah berpacaran sejak dua tahun yang lalu. Mereka bertemu ketika Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).

Algo merupakan kakak angkatan Clara yang merupakan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang dikenal dengan ketampanan dan sikap dinginnya. Bahkan banyak yang memanggilnya kulkas berjalan.

Kala itu, secara tidak sengaja ... Clara sudah menumpahkan minuman dingin ke almamater milik Algo. Alhasil laki-laki itu marah dan memintanya untuk mencuci. Ia pun menurut saja, pasalnya memang ia yang salah.

Ia sering dihukum oleh Algo karena alasan dendam. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Ia mulai menyukai Clara karena sikapnya yang berbeda dari gadis lain. Ia mampu memikat hatinya dalam waktu yang singkat. Wonderful!

Setelah kejadian itu ... mereka sering bertemu dan menjadi semakin dekat. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk pacaran. Namun, hubungan mereka dipenuhi bara api karena terhalang restu orang tua. Pasalnya, mereka berbeda keyakinan dan tetap bersikukuh untuk mempertahankan kepercayaan masing-masing.

"Kalau saja Mama sama Papa memberikan restu untuk hubungan Clara, mungkin sekarang Clara nggak akan kabur dari rumah," gumamnya dalam hati.

Ia menghela napas panjang dan mulai memejamkan mata. Karena hari ini ia menginap di kos sahabatnya, Caca. Hatinya gundah setiap kali hubungannya dengan Algo ditentang orang tua.

"Ra, kamu udah tidur?" tanya Caca.

Ia mengambil selimut untuk sahabatnya ini. Kemudian, menyelimutkannya ke tubuh gadis itu.

"Belum," jawabnya.

Ia hanya memejamkan mata untuk menenangkan diri. Batinnya sangat lelah dan tertekan.

"Cepetan tidur, besok kita harus berangkat kuliah pagi. Soalnya besok ada Pak Arya. Duh ... jadi nggak sabar pengen cepet-cepet ngampus," ujar Caca.

Matanya berbinar seperti rembulan malam. Senyum di bibirnya terukir sempurna. Karena ia merupakan salah satu fans fanatik dosen tampan itu. Tidak hanya tampan, tapi juga ... penuh rahasia.

"Ra, kamu kok diam aja? Aku lagi ngomong sama kamu, loh."

Ia menatap Clara penuh tanda tanya. Pasalnya hari ini ia terlihat tak bersemangat sama sekali. Bahkan ia datang ke rumah kosnya secara tiba-tiba. Itu pun langsung nyelonong masuk tanpa salam atau pun sepatah kata.

"Aku denger, kok. Lagi nggak mood jawab aja," celetuknya.

"Kamu ada masalah sama Mama kamu lagi?" tanya Caca penasaran.

Pasalnya ia tahu jika hubungan Clara dan Algo ditentang oleh orang tua mereka masing-masing. Hanya saja ... mereka tetap berhubungan. Karena sudah terlanjur jatuh cinta. Namun, apakah cinta bisa bertahan selamanya?

"Kamu pasti tahu sendiri jawabannya, 'kan?"

Ia mendengus kesal. Karena perkataan mamanya tadi pagi sangat menusuk hati. Dengan tega ia mengatakan jika Clara anak durhaka. Tapi ia juga tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia telanjur jatuh cinta pada Algo.

"Makanya akhiri aja hubungan kamu sama Algo. Lagi pula kalian nggak akan pernah bisa bersama, Ra. Ingat! kalian beda keyakinan. Seamin tapi tak seiman," peringat Caca.

"Nggak bisa, dong. Aku sama Algo udah dua tahun pacaran. Masak iya harus putus gitu aja. Apakah hanya karena masalah keyakinan. Aku mau kok masuk ke agamanya dia," sahut Rara.

Caca menatap sahabatnya ini penuh arti. Di satu sisi ia terharu dengan kisah cinta mereka yang langgeng. Namun di sisi lain ia tak mau sahabatnya menjadi murtad (keluar dari agama Islam).

"Jangan ngomong gitu, Ra. Kamu nggak boleh jadi murtad. Nggak takut siksa api neraka apa?"

"Kemarin aja bilangnya nggak mau masuk agama Algo, kenapa sekarang berubah pikiran?"

Ia geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang terlihat santai dan penuh keyakinan melontarkan kata-katanya.

"Tahu ah, mendingan kita tidur aja. Besok pasti Pak Arya bakalan nunjuk aku lagi buat maju. Menyebalkan emang tuh dosen," kesal Clara.

"Harusnya kamu seneng dong, itu tandanya Pak Arya perhatian sama kamu. Atau jangan-jangan ...."

Belum sempat melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba ponsel Clara bergetar.

Drt ... drt ... drt ....

"Ra, ponsel kamu bergetar tuh. Kali aja ada notifikasi penting," tunjuk Caca pada benda pipih di meja belajar.

"Siapa sih yang ganggu malam-malam begini? Nggak tahu apa lagi sedih," gerutunya.

Ia memasang muka cemberut. Karena pasti itu hanya pesan dari nomor tidak dikenal yang menawarkan pinjaman dana. Hal itu sudah biasa ia terima akhir-akhir ini. Padahal ia tak merasa ingin menjadi pengusaha, tapi notifikasi itu selalu muncul di layar ponselnya.

"Buka aja, Ra! Kalau ternyata itu dari pacar bucin kamu itu bagaimana? Nanti dia ngambek loh, kalau kamu cuekin. Ntar diambil orang gimana?"

Karena perkataan Caca barusan, ia langsung beranjak dari kasur dan mulai mencari benda pipih berwarna merah muda itu.

"Yeay, kalau tentang Algo aja cepetnya ngalahin macan tutul," ejek Caca.

Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang tak pernah berubah.

Saat membuka layar ponsel, ia tertegun. Ia pun mengernyitkan dahinya bingung. Pasalnya ini tak biasa ia terima. Sangat asing.

"Siapa, Ra?" tanya Caca penasaran.

Pak Arya

BESOK TOLONG TEMUI SAYA DI GUDANG KAMPUS. JANGAN SAMPAI TERLAMBAT. KARENA INI MENYANGKUT NILAI IPK KAMU. SATU LAGI, DATANG SENDIRI! JANGAN BAWA TEMAN!

Ia masih membaca pesan singkat, tapi panjang itu secara berulang-ulang untuk menyadarkan dirinya sendiri. Karena ini sangat aneh dan ambigu.

"Clara! Siapa yang mengirim pesan? Jangan bikin penasaran, kenapa?" kesal Caca. Ia mulai beranjak dan melihatnya sendiri.

"Ya ampun, Clara. Demi apa Pak Arya ngirim pesan malam-malam begini? Kami disuruh ke gudang lagi. Pasti disuruh beres-beres, soalnya kan kemarin kamu absen," tebak Caca.

Ia menertawakan sahabatnya yang masih berdiri mematung. Ia masih mencerna maksud pesan dosennya ini. Karena ini pertama kalinya sang dosen mengirimkan pesan padanya.

"Clara, kok malah bengong sih!" sergah Caca kesal.

Pasalnya ia tak bereaksi apa pun. Jika saja itu mahasiswi lain, pasti langsung jingkrak-jingkrak saking senengnya.

"Aku malah ngerasa aneh sama nih dosen. Nggak biasanya ngirim pesan kayak gini. Apalagi memakai kalimat yang dibold," ucap Clara penuh curiga.

"Ya ampun, Ra. Positive thingking, kenapa? Bisa jadi kamu bakal dipersunting di dalam gudang, maybe."

Ia masih tak kuat menahan tawa. Pasalnya ekspresi Clara menunjukkan jika gadis itu kurang nyaman dengan pesan dari dosen tampan tersebut.

"Hitung-hitung cari keuntungan, Ra, bisa bertemu dosen tampan secara privat. Walaupun hanya di dalam gudang," ejeknya. Ia nyengir tak berdosa. Ingin rasanya menonjok mukanya, tapi ia tahu jika Caca adalah sahabat paling baik.

"Kayaknya Pak Arya punya maksud terselubung, deh. Apa iya ... ada dosen yang menyuruh mahasiswanya menemui di gudang? Kenapa tidak di kantor dosen saja? Aneh nggak, sih?"

Pertanyaan itu terus bergejolak dalam pikirannya. Ia bukan gadis bodoh yang akan menganggap itu hal yang wajar. Karena hanya dosen itu yang sikapnya aneh padanya. Hal itu membuatnya kurang nyaman saat di kampus.

"Iya juga ya, Ra. Perasaan ya dosen kalau mau manggil mahasiswanya pasti ke ruang dosen. Tapi ini kok beda sendiri. Atau ... Pak Arya ingin berbeda dari yang lain? Kan dia paling tampan tuh di antara semua dosen. Bisa jadi kebijakan yang diterapkan juga beda," pikir Caca.

Tak tahu benar atau salah yang penting berkomentar. Karena mahasiswi kedokteran penuh dengan ambisi dan suka mengkritik orang lain, tapi ... hal itu hanya berlaku untuk mahasiswi seperti Caca.

"Tahu, ah. Kita lihat saja besok. Sekarang ayo tidur, mataku sudah nggak kuat nahan rindu," ucapnya.

"Gadis aneh, mana ada yang merasakan rindu itu mata. Mata gunanya untuk melihat Clara. Aku jadi curiga bagaimana cara kamu bisa masuk fakultas kedokteran. Fungsi mata saja kamu nggak tahu," sergah Caca.

Namun, Clara sudah terlelap dalam dunia mimpinya. Ia cepat sekali tidurnya. Padahal baru lima menit mereka mengobrol. Caca pun membenarkan selimut sahabatnya, kemudian menyusul tidur di sampingnya.

Ia pun memikirkan hidupnya sendiri yang sulit mendapatkan cinta. Padahal ... wajahnya tidak jelek-jelek amat. Tapi entah mengapa tidak ada laki-laki yang mendekati dirinya.

Dulu sewaktu Ospek, ia pernah berkenalan dengan seseorang dan menyukainya. Namun, ternyata dia sudah berada di pelukan orang lain. Memang ... kapan datangnya cinta tidak ada yang tahu. Karena semua akan indah sesuai takdirnya masing-masing.

"Have a nice dream, Clara."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Setelah Menikah
9.4
Bunga, wanita yang masih dibayangi masa lalu, bertemu Rio Xen Zhin. Rio adalah CEO asal Jepang yang kaya, berwibawa, dan dingin. Wajahnya sangat mirip mendiang mantan tunangan Bunga. Demi membalas sebuah jasa, Rio memutuskan menikahi Bunga. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, mampukah Bunga merelakan masa lalunya dan menghadapi kenyataan bersama pria berwajah serupa?
Sampul Novel Gairah Duda Keren
8.1
Moreno Dava Mahendra menjadi pria dingin dan galak setelah ditinggal wafat sang istri, namun pesona duda tampan ini tetap memikat banyak orang. Sementara itu, Aira Cecilia terpaksa bekerja di rumah bordil karena jeratan utang sang ayah. Sebuah jebakan tak terduga mempertemukan mereka hingga berakhir di ranjang yang sama. Moreno terkejut menyadari paras Cecil sangat mirip mendiang istrinya, hingga ia menuntut pernikahan. Mampukah cinta tumbuh di antara luka masa lalu mereka?
Sampul Novel Salahkah Aku Mendua
9.2
Astrid terperangkap dalam pernikahan dingin tanpa cinta akibat perjodohan. Pengabaian konstan dari sang suami, Tristan, menorehkan luka batin yang begitu dalam baginya. Merasa tak pernah dihargai, Astrid memilih berpaling kembali kepada Deon, mantan kekasihnya. Di balik pencarian kenyamanan tersebut, ia merancang skenario balas dendam untuk memberi pelajaran pada Tristan. Astrid bahkan nekat mengancam akan mencari lelaki lain jika Deon menolak membantunya dalam rencana ini.
Sampul Novel Satu Malam Untuk Selamanya
9.3
Akibat jebakan sahabatnya, Claire melewati malam panas bersama Levin hingga dirinya hamil. Ia memilih pergi menjauh untuk merawat putranya seorang diri tanpa memberi tahu Levin. Namun, takdir membawa mereka bertemu kembali bertahun-tahun kemudian. Levin yang terkejut saat mengetahui keberadaan anak kandungnya langsung menuntut tanggung jawab. Kini, Claire dihadapkan pada pilihan sulit: memaafkan pria masa lalunya itu atau tetap menutup rapat pintu hatinya.
Sampul Novel Suamiku Menuduhku Selingkuh
9.1
Pertemuan santai dengan sahabat mendadak berubah menjadi kekacauan brutal saat meja mereka dihantam hingga terbalik. Sekelompok orang asing tiba-tiba mengepung dan melontarkan tuduhan perselingkuhan keji sambil merekam kejadian tersebut. Ketika situasi memanas hingga temannya terluka akibat hantaman kursi, sang istri bertindak cepat untuk melindunginya. Ia segera menghubungi polisi serta pengacara guna memproses perceraian dengan suaminya, Ben, tanpa memberinya sepeser pun harta.
Sampul Novel Terjebak Pernikahan Dengan Duda Kaya
8.4
Kehidupan Alina berbalik total setelah dinikahi Arjuna, duda kaya yang sangat dingin. Meski bergelimang kemewahan, ia justru hidup dalam kesepian dan terus ditolak oleh anak-anak tirinya. Di pernikahan tanpa cinta ini, Alina hanya diperlakukan layaknya seorang pengasuh. Saat kepedihan hatinya kian tak tertahankan, sebuah kejadian besar terjadi, memaksa Alina mengambil keputusan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau pergi menjauh demi kebebasannya.