APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Gay Kaum Pelangi

Mantan Gay Kaum Pelangi

Kepergian sang ayah membuat Leo kehilangan arah hingga terjerumus ke dunia kelam demi mengejar kasih sayang. Trauma masa lalu itu menyeretnya ke dalam hubungan sesama jenis. Sadar akan dosa, ia mendapat hidayah dan bertekad kuat untuk berhijrah. Namun, jalan pulang tidak mudah karena berbagai godaan masa lalu terus menguji imannya. Mampukah Leo tetap istiqomah, melepas identitas lamanya, dan membangun lembaran hidup baru yang normal?
Bab
Bagikan

Bab 3

Desa Bendasari. 1997

PRRAAAAAANG!!

Aku masih ingat saat usiaku kurang lebih berumur empat belas waktu itu. Begitu aku sampai di depan pintu dapur, aku melihat piring-piring telah pecah. Lalu, siapa lagi kalau bukan Bapakku pelakunya.

“SUURTIIII! KAMU KOK GAK PERNAH BECUS MASAK NASI, SIH, SURTI?!

Aku menelan ludah, bersiap-siap menguatkan mental. Bapak memang hobinya marah-marah. Itu sudah wataknya. Namun aku hanya seorang anak kecil, tak punya kuasa apa pun untuk menyadarkan Bapak. Bapak terlalu berkuasa di dalam rumah. Emak harus menanggung semua pelampiasan kekecewaan Bapak. Kulihat Bapak hendak mengangkat telapak tangan. Aku segera masuk dan menghalangi Bapak dari Emak.

“Bapak! Jangan pukulin Emak!” kataku.

“Kamu jangan ikut campur, Waldi! Anak kecil tau apa?! Gara-gara emakmu, bapak kena sial terus! Dari dulu masak nasi juga gak pernah becus!”

“Ya tapi emak jangan dipukul, kan bisa masak lagi!” kataku takut-takut. Lalu Emak di belakang menyahut.

“Beras habis. Itu nasi yang kemarin. Bapak kan belum ngasih uang.”

“Argh! Alasan saja!"

Bapak membentak Emak. Mendengarnya, Emak langsung menangis. Hati Emak berkali-kali telah terluka. Dadaku jadi panas.

“Bapak jangan ngomong gitu. Bukan salah emak."

Aku protes. Lalu Bapak mata Bapak melotot.

“Diam kamu!"

Aku terdiam. Saat itu aku tak tahu bagaimana membalas perkataannya. Tetapi mungkin nilai rapotku. Siapa tahu marah Bapak mereda setelah melihat nilai rapotku.

“Pak, lihat nilai rapot Waldi! Waldi juara satu, Pak!" seruku. Tetapi ternyata aku keliru. Bukannya senang, wajah Bapak malah memerah. Ia tiba-tiba menangkis buku rapot dari tanganku. Buku rapotku pun terjatuh.

“Bodo amat!"

Bapak menyemburkan umpatan. Kemudian ia pergi meninggalkan kami. Lalu setelah Bapak pergi, tangis Emak pun pecah. Lekas kutarik Emak ke pelukanku.

“Udah, Mak. Ada Waldi di sini. Jangan dengerin bapak. Lihat deh, rapot Waldi," kataku. Lalu tangis Emak pun terhenti. Wajahnya berubah cerah.

“Nak, kamu dapat juara satu lagi?”

“Iya, Mak. Waldi dapat juara satu!” kataku. Lekas kupungut buku rapotku yang teronggok di depan pintu lalu menunjukkannya pada Emak

“Bagus, Nak!” kata Ibu, ia tersenyum. Aku lega melihat wajahnya.

“Doain Waldi ya, Mak. Moga Waldi bisa kerja di kota, dapat uang banyak buat Emak.”

Emak tersenyum lemah. Aku bisa melihat wajah letihnya. Wajah yang setiap hari hanya disakiti oleh ucapan ayah. Aku begitu prihatin. Aku sangat menyayangi ibu melebihi segalanya, juga adikku.

“Abang!”

Di depan pintu, adik perempuanku yang bernama Wiwit sedang berdiri. Usia Wiwit baru lima tahun. Meski sekecil itu, ia tahu, saat ayah mulai marah ia akan bersembunyi di tempat-tempat tertentu. Dan sekarang ia telah keluar dari tempat persembunyiannya.

“Abang bawa permen?” tanyanya. Wajahnya tampak semringah.

“Iya, Abang bawa. Sini!” kataku, sambil kukeluarkan permen dari sakuku. Lalu senyum Wiwit semakin melebar. Ia mendekat dan menyambar permen dari tanganku.

"Eh, ini rapot Abang!" serunya. Kemudian dia memungut rapot dan mencoba membaca sampulnya. Wiwit mengeja.

“L-E-O-W-A-L-D-I jadi Leowaldi!"

Aku dan Emak tertawa. Lega rasanya melihat Wiwit sudah mulai pandai membaca. Selama ini aku lah yang mengajari Wiwit belajar. Sedangkan Emak buta huruf.

Lekas kuusap rambut Wiwit.

“Doain Abang ya, Wit. Kalau Abang berhasil sukses, kalian nanti bisa makan enak, bisa jalan-jalan, bisa pake baju bagus, bisa punya rumah bagus…”

“Bisa makan permen yang banyak juga ya, Bang?” tanya Wiwit tak sengaja memotong ucapanku karena antusias.

“Iya! Nanti Wiwit bisa beli permen apa aja yang Wiwit mau!”

“Bener Bang?”

“Iya!” kataku.

Dan memang seperti itulah cita-citaku. Aku Leowaldi, anak dari kampung yang sudah tahu benar tujuanku sejak kecil, walau impianku sederhana. AKu giat belajar dengan rajin agar nilai di sekolah tinggi demi mendapatkan beasiswa agar bisa melanjutkan kuliah. Jika aku bisa menjadi sarjana, paling tidak aku akan mendapatkan pekerjaan yang bagus yang gajinya tinggi. Aku akan mudah mengadu nasib di ibu kota. Kalau aku sudah bekerja, setidaknya aku bisa menyelamatkan ibu dan adikku.

Aku tak pernah main-main dengan usahaku. Aku tak ingin nasibku sama dengan orang-orang di kampung. Di kampungku hampir rata-rata dipenuhi orang miskin, cukup terbelakang dan hanya mengandalkan kekayaan dari hasil penjualan tani atau membuka usaha tuak. Sedangkan ayahku, dulunya ia berasal dari keluarga petani yang cukup makmur. Namun sejak kepergian orang tuanya, harta kekayaan keluarga ludes tak bersisa. Ayah terpaksa bekerja jadi kuli, karena memang itu satu-satunya keahlian ayah. Dulu ayah biasa dimanja orang tuanya. Jadi ia tak tahu bagaimana caranya membuka usaha. Usaha ayah sering bangkrut dan ujung-ujungnya ia harus dililit hutang.

Sejak adikku lahir, sikap ayah jadi berubah, karena dia terlalu percaya ucapan para dukun. Dukun-dukun itu bilang sebab ayah sering tidak beruntung adalah karena tanggal weton ayah dan ibu sangat tak cocok. Dan ayah malah percaya itu. Ayah berubah total setelahnya. Tidak hanya kepada ibu, dia juga tidak segan-segan berlaku kasar kepadaku dan Wiwit. Ayah seakan-akan membenci kami. Dia juga egois, kalau dapat uang ia akan menikmatinya sendiri. Terpaksa ibu harus banting tulang juga menjadi buruh tani di tempat orang. Aku tak tega tiap kali melihatnya. Dan perlakuan kasar ayah menumbuhkan rasa tak suka di dalam jiwa. Aku sangat benci tiap kali ia memarahi ibu. Dan aku sangat sedih ia tak pernah memuji pretasiku. Ayah bilang, di kampung akan sia-sia saja menjadi pintar. Ayahku memang sangat aneh.

Namun, di tengah-tengah keterbatasanku, aku tetap berusaha giat belajar. Bahkan hingga lulus sekolah SMP aku mendapatkan nilai terbaik. Aku pikir dengan nilai bagus, aku bisa meredam kebenciannya kepada ibu. Tetapi ternyata kelakuan ayah malah semakin menjadi-jadi. Diam-diam ia menikah lagi. Ayah memang seorang pria yang sangat gagah, dan ternyata dia menikah dengan seorang janda kaya pemilik warung bernama Minarti. Dan aku baru tahu kabar itu dari orang lain, katanya sudah lama sekali mereka berhubungan. Aku mengepalkan tanganku saat mendengar kabar itu. Sepulang masa orientasi siswa sekolah SMA, aku tidak langsung pulang ke rumah.

“Di mana acara kawinannya, Ren?” tanyaku pada temanku, Rendi. Dia yang memberi tahuku tentang pernikahan ayahku.

“Itu di lapangan kelurahan panggungnya. Ada acara dangdutan.”

Dadaku rasanya sangat panas. Ayah memang selalu main seenaknya. Aku sudah tak tahan.

“Hei, Waldi mau ke mana? Kenapa belok ke sana? Arah pulangmu ke kiri! Hei, Waldi!!”

Rendi memanggilku, tetapi aku tidak menggubrisnya. Langkahku menggebu-gebu. Dengan membawa sebongkah batu di tanganku. Aku ingin segera tiba di tempat itu. Tempat di mana ayahku sedang bersenang-senang sendirian sekarang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After Marriage
9.5
Bagi Denisa, menikahi pria yang ia puja sejak SMA adalah impian yang jadi nyata. Namun, biduk rumah tangga mereka rupanya tak seindah dongeng. Hubungan pernikahan yang semula diharapkan harmonis kini perlahan hancur akibat bayang-bayang kelam dari masa lalu yang terus menghantui. Di tengah badai konflik yang tiada henti, Denisa kini dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan memperjuangkan cintanya atau menyerah dan menyudahi pernikahan ini.
Sampul Novel Derita Menantu Jelita
9.5
Kehidupan rumah tangga dalam novel modern "Derita Menantu Jelita" berubah drastis setelah sang suami mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan tragis. Situasi kian rumit ketika ayah mertua memutuskan tinggal bersama mereka. Demi menjaga kelangsungan garis keturunan, sang suami nekat melakukan aksi ekstrem dengan diam-diam membius istri dan ayahnya sendiri. Keputusan tersebut memicu rangkaian peristiwa misteri yang tak terkendali dan mengubah nasib mereka selamanya.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Ayah
8.0
Zeva terpaksa mengencani Alex demi menyelamatkan bisnis keluarganya atas desakan sang ayah. Padahal, ia menyembunyikan hubungan asmaranya dengan Darrel dari orang tuanya. Konflik batin pun melanda Zeva ketika daya tarik Alex perlahan-lahan mulai memikat hatinya. Kini, ia berada di persimpangan jalan antara bakti pada keluarga, komitmennya kepada Darrel, serta getaran baru yang kian nyata. Akankah pilihan Zeva membawanya pada kebahagiaan atau justru penyesalan?
Sampul Novel menikah lagi
9.1
Kini aku tinggal di sebuah rumah besar milikku sendiri bersama lima orang penyewa. Walau bangunan ini sudah lama kubeli dan kuperbaiki untuk dijadikan kos, aku selalu menjauhinya selama bertahun-tahun. Masa lalu kelam di sana menyisakan luka mendalam yang memicu amarah dan kesedihan setiap kali teringat. Namun sekarang, aku terpaksa menempati kamar utama di lantai bawah dan harus kembali menghadapi kenangan buruk yang tersimpan rapat di rumah ini.
Sampul Novel Persekutuan Gaib
9.3
Saras, wanita menawan yang menyimpan rahasia besar, memiliki ramuan misterius dengan kekuatan luar biasa. Cairan ajaib tersebut mampu membuat Fadlan, pria yang awalnya bersikap sangat dingin dan acuh tak acuh, kini tunduk sepenuhnya di bawah kendali Saras. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi di balik ramuan pemikat hati Fadlan ini? Ikuti kisah cinta penuh magis dan misteri persekutuan gaib mereka yang mendalam.
Sampul Novel Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku
9.8
Kehidupan Hanum dan Hardi berubah drastis setelah Hardi kehilangan pekerjaan. Meski harus bertahan hidup sebagai kuli cangkul dan buruh cuci, pasangan ini tetap bersyukur dan harmonis membesarkan kedua anak mereka selama tujuh tahun pernikahan. Namun, ketenteraman keluarga kecil ini seketika runtuh saat sebuah musibah besar melanda. Kini, Hanum terpaksa berjuang sendirian menghadapi penderitaan yang luar biasa demi menyelamatkan dan melindungi buah hati tercintanya.