APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga

MAHLIGAI: Istana yang Kujaga

Kebahagiaan Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam hancur. Ibu dan kakak kandungnya kembali hadir, membawa dendam membara untuk merusak keharmonisan tersebut. Sebagai mantan putri yang dahulu dibuang dan diabaikan, Dara menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang habis-habisan demi melindungi keluarga kecilnya dari ancaman kerabat sendiri. Mampukah Dara bertahan menghadapi teror yang datang bertubi-tubi?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Sayang, ada apa?”

Dara langsung membuka kedua matanya, dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan ini adalah kamarnya.

Ini bukan mimpi, kan?

“Sayang, kamu mimpi buruk?”

Suara Adam membuyarkan lamunan Dara, dia langsung menatap suaminya, dan dia pun menangis, memeluk suaminya erat. “Ini bukan mimpi, kan?” tanyanya terisak.

Dan di saat Dara kalut, tiba-tiba dia tidak bisa mengendalikan kecepatan mobilnya, dan dia merasa panik saat rem tidak berfungsi, tanpa pikir panjang dia langsung membanting stir dan mendadak semuanya gelap!. “Kamu kecapean karena kemarin sibuk ya, Sayang?” suaranya lembut, pria itu mengecup puncak kepala Dara lembut.

“Mas Adam... kamu masih mencintaiku, kan?” Dara malah bertanya ke hal lain.

Adam semakin bingung, dia langsung menatap istrinya. Dia melihat ada kegelisahan luar biasa di mata indah itu. Air mata terus saja mengalir di kedua pipi Dara.

Adam menghela napas pendek, dia menghapus air mata itu dengan jemarinya. “Pertanyaan yang kamu juga tahu jawabannya, Sayang,” balasnya tersenyum hangat.

“Mas Adam masih menganggap aku menarik, kan?”

Adam semakin tidak mengerti, alisnya pun terangkat. “Sebentar, Mas ambilkan minum dulu buat kamu, Sayang.” Pria itu beranjak dari tempat tidur.

Tak berselang lama, Adam langsung menyerahkan segelas air mineral pada Dara dan istrinya itu langsung meminumnya habis.

Dara mengatur napasnya, dia masih saja kalut dan takut dengan mimpi buruknya tadi. Dia memeluk Adam lagi. Sungguh, Dara tidak mau kehilangan suami dan anak-anaknya. Mereka adalah surganya, dan dia akan menjaga istana ini dengan segala kekuatannya. Siapapun tidak berhak mengambil surganya itu.

Adam mengecup kening Dara. Sebenarnya dia ingin bertanya pada istrinya itu, kenapa dia mendadak menangis dan ketakutan dan juga bertanya tentang perasaannya, namun Adam mengurungkan niatnya, dia hanya ingin Dara kembali tidur karena malam masih larut.

“Sudah tenang, Sayang?” suara Adam memecahkan keheningan itu.

Dara mengangguk, lalu dia tersenyum menatap suaminya itu. “Mas Adam, maafkan aku, ya!”

“Ada apa, Sayang?”

“Aku memang bukan istri yang sempurna, dan aku juga bukan ibu yang baik untuk Suri dan Kai. Maafkan aku jika aku banyak kurangnya selama ini. Tolong katakan saja apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin kalian berpaling dan membuangku.”

Kedua alis Adam terangkat sempurna, dia merasa ucapan Dara malam ini terasa aneh. Kenapa istrinya itu mengatakan hal yang tidak masuk akal?

“Kamu adalah istri dan ibu yang luar biasa, Sayang. Kami sangat mencintaimu dan bangga padamu, jadi kenapa kamu harus risau?”

Dara tersenyum dan dia pun menangis lagi. Dara hanya menundukan wajahnya, dia tidak tahan menatap tatapan hangat Adam.

Adam mengangkat dagu istrinya itu. “Jangan menangis, Sayang! Jika kamu tadi bermimpi buruk, itu hanya mimpi dan tidaak akan nyata. Kami sangat mencintaimu dan sangat membutuhkanmu.” Pria itu tersenyum dan mengecup bibir Dara singkat, “Kita tidur, ya! Besok bukankah kamu harus pergi ke Singapura? Kamu bilang padaku untuk bangun lebih awal.”

Dara mengernyit, dia tidak ingat apa-apa. “Ke Singapura? Untuk apa?”

“Besok kamu memang ada peresmian gerai baru di sana, kamu lupa mau buka cabang baru di sana?”

“Cabang baru? Itu... bukankah sudah lewat?”

Adam menatap Dara tak mengerti. “Besok baru peresmiannya, Sayang. Kamu benar-benar lupa?”

“Itu tanggal 7 Maret kan?”

“Iya, besok.”

“A-apa? B-besok tanggal 7 Maret?” Dara terkejut.

Adam semakin tak mengerti karena istrinya berbicara asal. “Sayang pikir besok tanggal berapa?”

“Sekarang bulan Desember, kan?”

“Apa? Sayang... kamu kenapa sampai lupa tanggal dan bulan?” Adam menggelengkan kepalanya, lalu dia mengambil ponselnya yang ditaruh di atas nakas dan langsung menunjukkan waktu. “Lihat, kamu percaya sekarang itu masih tanggal 6 Maret?”

Dara tidak langsung menjawab. Dia melihat layar ponsel suaminya. Lalu, dia memeluk suaminya erat. Air matanya pun tumpah lagi.

Adam semakin tidak mengerti dengan kelakuan istrinya malam ini. Tapi, Adam membuarkannya, dia hanya ingin memeluk Dara agar istrinya itu bisa tenang kembali.

Dara hanya menangis dalam pelukan suaminya, dia merasa Tuhan sedang memberinya keajauban. ‘Tuhan, terima kasih atas kesempatan kedua ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya!’ batinnya dalam hati.

***

“Bunda!”

Dara menatap anak kembarnya yang terkejut karena melihatnya pagi ini. Wanita itu menyiapkan sarapan untuk Kai dan Suri. Dia tersenyum dan meletakkan roti tawar di atas piring keduanya.

“Ini cukup tidak untuk cokelatnya?” Dara malah bertanya balik.

Kai dan Suri tidak menjawab pertanyaan bundanya, keduanya saling menatap satu sama lainnya dengan takjub. Keduanya tidak menyangka bahwa mereka bisa melihat pemandangan yang sangat langka di pagi hari.

Bundanya ada di rumah? Menemani mereka untuk sarapan? Apa ini mimpi?

Dara tertegun menatap kedua anak kembarnya yang melamun. Dia langsung menghampiri Kai dan Suri dan mengecup pipi kedua anaknya itu. “Selamat pagi, kesayangan Bunda... “

Kai dan Suri tersentak, keduanya pun tersenyum lebar.

“Bunda, nggak kerja?” tanya Suri dengan polosnya.

“Hmm... Bunda masih kerja, Sayang.”

“Lho kok masih di sini?” Suri menatap bundanya dengan heran.

“Kenapa? Suri tidak suka kalau Bunda masih di rumah sepagi ini?”

Suri langsung menggelengkan kepalanya. Dia langsung memeluk bundanya erat. “Suri senang, Bunda. Suri kangen sekali sama Bunda,” balasnya pelan.

Deg!

Hati Dara tentu saja sakit mendengar jawaban anaknya itu, dia pun baru menyadari bahwa selama ini dia tanpa sadar mengabaikan kerinduan kedua anaknya. Dia pikir, kedua anaknya baik-baik saja, tapi ternyata kedua anaknya yang masih berusia 6 tahun ini masih butuh sosok ibu. Hatinya pun perih, sungguh dia tdak menyadarinya sama sekali.

Dara langsung tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Suri. “Maafkan Bunda, ya! Kemarin Bunda terlalu sibuk, tapi mulai pagi ini dan seterusnya... Bunda pasti akan usahakan selalu duduk di meja makan menemani kalian.”

“Bunda janji?” tanya Suri tak percaya.

“Bunda, nggak bohong, kan?” timpal Kai.

Dara memgangguk menatap anak kembarnya itu. “Bunda pasti akan menepati janji ini!”

Suri dan Kai bersorak bahagia, keduanya memeluk bundanya dan mencium pipi Dara. “Bunda itu hebat! Kami sayang sama Bunda!”

“Ya, itu harus! Kalian hanya harus sayang sama Bunda!” tukas Dara dengan mimik wajah yang terlihat serius.

Di sisi lain, Adam menatap pemandangan yang tak biasa. Dia pun mematung melihat ketiganya berpelukan. Adam tersenyum, dia merasa terharu karena Dara akhirnya bisa menyempatkan waktu menemani anak-anak mereka untuk sarapan pagi.

“Terima kasih, Sayang,” lirih Adam tersenyum. Baru saja dia mau menghampiri ketiganya di meja makan, ponselnya berdering. Dia mengernyitkan keningnya saat tahu siapa yang menghubunginya sepagi ini.

Dengan langkah hati-hati, Adam pergi mencari tempat yang agak menjauh dari ruang makan. Dia menerima panggilan itu di dekat kolam renang.

“Iya, ada apa Sarah?”

“Ah, kamu lama sekali mengangkatnya,” balas Sarah di ujung sana. “Bagaimana? Anak-anak sudah siap? Aku jemput mereka sekarang, ya!”

“Itu tidak perlu.”

“Lho, kenapa? Kamu mau mengantar mereka ke sekolah? Bukankah kamu ada meeting pagi ini?”

“Bukan aku yang mengantar anak-anak.”

“Lalu, siapa? Pak Gunardi? Kamu membiarkan anak-anak hanya dengan sopir?”

“Bukan. Anak-anak ada Dara yang mengantarnya pagi ini.”

Jawaban dari Adam membuat suasana hening sejenak. “A-pa? Dara? Dia ada di rumah sepagi ini? Bukankah dia harus pergi ke Singapura?”

Baru saja Adam mau menjawabnya, suara Dara pun langsung memanggilnya dengan mesra.

“Mas Adam, kamu di sini ternyata.” Dara tersenyum dan menghampiri suaminya yang sedang menerima telepon.

Adam tertegun, dan dengan refleks dia memutuskan panggilan selulernya. “Ada apa, Sayang?” tanyanya.

“Mas Adam sedang menelepon siapa?”

“Ini staff di kantor, dia bertanya masalah meeting pagi ini,” balas Adam. Dia terpaksa berbohong karena tidak mau nanti Dara malah salah paham.

“Oh... aku sama anak-anak mau berangkat, Mas. Mau pamit.”

Adam mengangguk, dia langsung merangkul istrinya untuk menemui anak-anak mereka yang sudah menunggu.

Namun, di sisi lain... Dara merasa aneh dengan gelagat suaminya. Apa benar yang menghubungi Adam itu adalah hanya salah satu staff di perusahaan suaminya?

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masuk Tiga Besar Daftar Orang Terkaya di Negara Ini
7.9
Divonis tumor otak saat suaminya, Ethan Wood, berselingkuh dengan manajernya membuat dunia wanita ini runtuh. Menolak diam demi menutupi skandal itu, ia memilih bercerai demi mengejar impiannya. Tak disangka, investasi impulsif dan galeri seninya sukses besar hingga ia masuk daftar tiga orang terkaya di Preayork. Di tengah ejekan Ethan tentang sisa umurnya, sebuah keajaiban datang: diagnosis tumor itu ternyata salah. Kini, ia siap bangkit berkuasa.
Sampul Novel contract merriage with the ceo
9.0
Faza tak menyangka hari pertamanya sebagai istri Demian langsung disambut dengan surat perjanjian. CEO muda itu menegaskan pernikahan mereka hanyalah formalitas demi keluarga. Dengan dingin, Demian mengaku sudah punya kekasih dan memperingatkan Faza agar tidak berharap mendapatkan cintanya. Tanpa pilihan, Faza kini terjebak dalam komitmen kontrak yang kaku. Mampukah pernikahan tanpa kehangatan dan kontak fisik ini bertahan di tengah dinginnya sikap sang suami?
Sampul Novel Istri Yang Diabaikan
9.5
Saat hamil tua, Lili mengalami kemalangan akibat kelalaian suaminya, Azzam. Ia terjatuh tanpa ada yang menolong hingga harus kehilangan sang buah hati. Walau Azzam sangat menyesali perbuatannya dan bertekad untuk berubah sewaktu Lili dalam kondisi kritis, situasi justru kian memburuk. Desakan tiada henti dari sang ibu mertua membuat Lili akhirnya memilih kabur dari rumah. Kini, Azzam harus berjuang melacak istrinya demi memperbaiki ikatan pernikahan mereka yang telah retak.
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta, Ini Hanya Kontrak
7.9
Arga Satria Wicaksana terpaksa mencari istri sewaan demi menutupi kelemahan rahasianya. Namun, pernikahan kontrak ini justru membawa keajaiban yang tak terduga. Kehadiran wanita sewaan tersebut perlahan menyembuhkan penyakit kronis yang diderita Arga selama bertahun-tahun. Hubungan formal yang awalnya murni demi bisnis ini kini menjadi satu-satunya kunci kesembuhan Arga, sesuatu yang mustahil ia dapatkan dari pengobatan medis mana pun.
Sampul Novel Mencintaimu Lebih Dari Yang Aku Bisa
8.4
Dua tahun membina rumah tangga, Berman tak pernah mau menatap Clarissa saat mereka bersama. Clarissa sadar dirinya hanyalah bayangan sang adik bagi suaminya. Meski telah memendam cinta yang tulus selama sebelas tahun, rasa rendah diri membuat Clarissa menyerah dan memilih pergi. Sialnya, saat mencoba melupakan Berman, kepedihan luar biasa justru mengancam nyawanya. Mencintai pria itu rupanya telah menjadi candu berbahaya yang mustahil ia hentikan.
Sampul Novel Miliarder Misterius dan Pengantin Penggantinya
8.6
Demi membiayai pengobatan pelayan tercinta, Julita terpaksa menggantikan saudara angkatnya untuk menikah dengan Erwin, pria yang dicap tidak berguna. Erwin sendiri setuju menikahi Julita hanya demi memenuhi wasiat ibunya. Namun, di balik penindasan yang dialami Julita, Erwin ternyata menyimpan rahasia besar tentang kemiripan dirinya dengan miliarder terkaya di kota. Akankah pernikahan penuh kebohongan identitas ini bertahan, atau justru berujung pada bencana?