APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Maduku Adik Kandungku

Maduku Adik Kandungku

Impian Rea membangun keluarga bahagia hancur lebur saat ingin mengabarkan kehamilannya pada Beno. Bukan kehangatan yang didapat, ia justru memergoki suaminya berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri. Keadaan kian pelik karena sang adik juga tengah mengandung anak Beno. Pengkhianatan ganda dari dua orang terdekatnya ini seketika mengubah hidup Rea menjadi kepedihan yang tak terbayangkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ya Tuhan, hati terasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum peniti. Perihnya hingga ke tulang begitu tersiksa batin dan jiwa. Adik yang kupercaya telah menikam dari belakang hingga tembus terkena dalam jantung. Masih teringat saat aku menemukannya tergeletak di lantai dengan bersimbah darah karena keguguran. Yah, suaminya yang arogan telah begitu tega menyiksanya lahir dan batin.

Flashback

"Assalamualaikum", kuketuk pintu berulang kali dan mengucapkan salam namun tidak ada jawaban.

Aku hanya berdiri di depan pintu rumah adikku Nisa sembari terus mengetuk pintu tapi tidak juga ada jawaban. Dengan terpaksa Mas Beno mendobrak pintu masuk utama rumah dengan kasar. Firasatku semakin tidak enak karena mengkhawatirkan kondisi Anisa yang terakhir menghubungiku dengan isak tangis. Begitu pintu usai didobrak alangkah terkejutnya aku melihat kondisi Anisa.

"Astaga, Anisa!" apa yang terjadi denganmu, Nis?" aku mengguncangkan tubuh Anisa yang tak sadarkan diri. Darah keluar deras dari pangkal pahanya.

"Sepertinya, Anisa pingsan," timpal Mas Beno.

"Anisa, bangunlah! Ini, Mba Rea. Anisa," kutepuk-tepuk pipinya agar ia sadar dan bisa mendengar suara panggilanku.

"Sayang, sebaiknya kita bawa Anisa ke rumah sakit," ucap Mas Beno yang juga panik.

"Ayo, Mas! Sepertinya Nisa mengalami pendarahan hebat darahnya tidak mau berhenti mengalir," tukasku.

Mas Beno segera membopong tubuh Anisa yang masih tak sadarkan diri. Kami bergegas membawa Anisa ke rumah sakit tempatku bertugas.

Dengan kecepatan tinggi Mas Beno mengendarai mobil agar segera sampai di tempat tujuan.

"Mas, cepatlah aku takut terjadi sesuatu pada, Nisa karena terlambat menolongnya," titahku.

"Sabarlah, Sayang! aku juga sudah berusaha untuk fokus menyetir agar kita bisa segera sampai," seru Mas Beno yang masih fokus menyetir. Sementara aku panik terus memangku Nisa yang terlihat pucat pasi.

Tubuh Anisa kurasakan sedingin es tanpa aliran darah yang berdesir. Bibirnya pucat kebiruan, wajah cantiknya begitu layu dan tak berdaya. Banyak luka lebam di sekujur tubuhnya. Sungguh miris mataku menyaksikan adikku yang begitu tersiksa menjalani rumah tangganya.

Aku tau kalau suami Anisa sangat kejam, bahkan tak segan-segan memberi saat ia melakukan salah walaupun kesalahan itu hanya masalah sepele saja. Sudah berulang kali aku menyarankan agar ia mengakhiri pernikahannya tidak bahagia tapi Anisa selalu menolak menggugat cerai karna takut dengan ancaman suaminya.

***

Tiba kami di rumah sakit segera kami bawa Anisa ke ruang UGD.

"Suster, tolong siapkan ruang operasi untuk pasien adikku," ucapku memberi perintah kepada suster jaga.

"Baik, Dok," setengah berlari para suster dengan ceketan mempersiapkan kamar operasi.

"Mas, tolong selesaikan registrasi Anisa, ya," ujarku pada Mas Beno.

Mas Beno mengangguk "Iya, sayang".

Selama satu jam aku di ruang operasi menolong Anisa. Dengan peralatan yang serba canggih akhirnya bayi yang berusia dua bulan dalam kandungannya bisa aku keluarkan. Anisa masih terlihat lemah dan belum sadarkan diri. Selang oksigen terpasang di hidungnya yang mancung. Terlihat nafasnya beraturan, detak jantungnya pun semakin normal. Kuelus wajah cantiknya yang masih pucat dan kugenggam erat tangannya yang masih dingin terasa ada aliran darah yang menjalar keseluruh tubuhnya.

Perlahan Anisa sadarkan diri setelah obat bius hilang. Matanya yang indah dengan bulu lentik mengerjap dan membuka secara perlahan. Aku tersenyum bahagia melihat kondisi adikku yang sudah sadar.

"Nis, kamu sudah sadar?" tanyaku.

"Mba Rea, aku dimana?" tanyanya dengan penasaran. Ia memandang sekeliling dinding yang bernuansa putih berkhas aroma karbol.

Aku tersenyum menanggapi pertanyaan," Kamu di rumah sakit, Nis".

"Aku kenapa, Mba? Kenapa bisa sampai di rumah sakit? siapa yang sudah membawaku ke rumah sakit?" pertanyaan Nisa bertubi-tubi diajukan padaku.

"Mba, yang sudah membawamu kesini Nis. Mas Beno tadi yang sudah mendobrak pintu rumahmu karena tidak ada jawaban dari dalam jadi kami terpaksa melakukan tindakkan," ujarku menjelaskan.

Anisa kelihatan shock dan menangis kemudian mengusap perutnya yang sedikit kempes.

"Bayiku," ucapnya lirih.

"Maafkan, Mba terpaksa harus mengkuret bayimu untuk menyelamatkan nyawamu," ujarku yang mencoba menenangkannya. Aku tau jiwanya pasti terguncang setelah apa yang dialaminya sekarang.

Anisa menangis tatapannya kosong, gairah semangat hidupnya pudar.

"Mas Reno, sudah menyiksaku, Mba. Dia tidak suka kalau aku hamil dan menyuruhku menggugurkan kandungan setelah ia tahu aku hamil anaknya," lirihnya. Seraya menangis dengan pilu ke dalam pelukanku.

"Ini tidak bisa di diamkan, Nis. Reno seharusnya dilaporkan atas tindakan KDRT".

"Aku takut, Mba," ucapnya menyela perkataan ku.

"Nisa, tindakkan Rena itu sudah kriminal".

"Tolong jangan laporkan dia kepolisi, Mba! aku mohon," pintanya memelas.

"Kenapa, Nis? Kamu jangan takut, Mba pasti akan menyewa pengacara untuk menuntutnya," seruku dengan kesal.

"Reno, sangat licik, Mba. Dia mengancamku akan menyebarkan fotoku yang tanpa busana saat di kamar jika aku berani melaporkannya ke polisi atau pun berani mengadu padamu," jawab Nisa yang sontak membuatku shock dengan penuturannya.

"Apa?!" tanyaku tak percaya.

"Mas Reno, pasti akan memberi alibi kalau aku istri panggilan. Ia menyuruhku berdandan seperti wanita pelacur dan memakai pakaian seksi kemudian setelah kami berhubungan ia dengan sengaja merekam di ponselnya. Ini senjata yang digunakan agar aku tidak pernah berani menuntutnya," Nisa menjelaskan panjang lebar kenapa alasannya selama ini tidak berani menuntut suaminya.

" Gila, ini benar-benar sudah tindakkan kriminal, Nis. Bagaimana bisa seorang suami memperlakukan istri tidak bermoral seperti itu," ucapku berdecak kesal.

"Dia juga menyuruhku untuk melayani teman rekan bisnisnya di kamar hotel demi mendapatkan ambisinya untuk kerja sama dengan temannya dan memenangkan tender," tukasnya lagi.

"Jadi benar kemarin lusa kita bertemu karena kamu lari dari Reno," tanyaku penasaran.

Nisa mengangguk "Iya".

"Lalu, kenapa kamu hanya diam saja Nis? Seharusnya kemarin kamu katakan pada, Mba! Pantasan saja Mas Beno menemukanmu di hotel yang sama saat menghadiri seminar dengan keadaan acak-acakkan," emosi begitu di ubun-ubun ingin rasanya aku membalas perlakuan Reno yang kasar.

Aku meninggalkan Nisa di ruang perawatan karena kondisinya yang masih lemah.

***

"Apa ini, Mas?" tanyaku yang melihat Mas Beno menyodorkan selembar kertas.

"Tanda tangani ini karena aku akan menikah secepatnya dengan adikmu, Anisa," ucapnya dengan menatapku dingin.

Ekspresi wajahku memerah tapi bukan kerana malu, tapi sebaliknya meluapkan kemarahan dan menggebrak meja. Seketika aku bangkit dari duduk dan menatap wajah suamiku yang kini kubenci." Dimana nalurimu, Mas? Bahkan binatang pun punya hati, tapi kamu yang sudah bertahun-tahun ku kenal tega meminta menandatangani izin untuk berpoligami dengan adik kandungku".

Kurobek surat yang berisikan surat izin untuk berpoligami dan menghempaskannya ke wajah Mas Beno menjadi serpihan kecil-kecil.

"Aku tetap akan menikahi, Anisa walaupun kamu tidak memberi ijin," ucapnya dengan percaya diri.

"Silahkan, kau nikahi dia jika itu keputusanmu," jawabku dengan setengah berteriak.

"Ini", Mas beno menyerahkan amplop berwarna coklat.

"Apa lagi yang kau inginkan dariku, Mas? Belum cukupkah kau hancurkan rumah tangga ini dengan menikahi adik kandungku," celetuk ku dengan kasar.

"Aku sudah mendaftarkan perceraian kita di pengadilan dan kamu aku jatuhkan talak satu," ucapnya dengan keras.

Aku terduduk lemas ketika kudengar kata talak dari Mas Beno. Sendi-sendiku terasa sakit, tanganku gemetar membuka amplop coklat yang ia berikan.

"Aku terima talakmu, Mas," ucapku dengan lirih. Dengan sisa tenaga menguatkan hati agar tidak menangis di hadapannya.

Mas Beno berlalu dari ruanganku dengan senyuman miring dari sudut bibirnya. Seakan belum puas ia menyakitiku dengan perselingkuhan yang dilakukan kini ia kembali menyayatku dengan sembilu. Ucapan talaknya telah menjatuhkan harga diri ini. Aku menangis membenamkan wajah di atas meja tanpa ada seorang pun yang tahu.

Tok...Tok...

Suara pintu diketuk dari arah luar ruangan. Kuhapus air mata yang tersisa membasahi pipi. Aku berusaha tegar dengan tersenyum saat mempersilahkan tamu yang berada diluar masuk.

"Masuklah".

Dokter Maya masuk ke dalam ruanganku. Ia tersenyum menyapaku.

"Rea, aku tau apa yang kamu alami sekarang. Jadi gak usah pura-pura tegar di hadapanku," ucapnya.

"Aku baik-baik saja, May," tukasku dengan senyum sebisa mungkin kubuat alami di depan dokter Maya. Dokter Maya adalah sahabat yang sekaligus merawatku selama aku hamil. Kami bertugas di tempat yang sama .

"Alibi gak cocok untuk wajahmu yang polos, Rea," celetuknya dengan candaan menggoda.

Aku segera menghambur dalam pelukannya menumpahkan keluh kesah yang selama ini aku rasakan getir.

"Aku gak sanggup, May," lirihku dengan isak tangis.

"Aku tau, Rea! Sedari tadi aku mendengar percakapanmu dengan Beno di luar saat hendak mengantarkan hasil USG janin," ujarnya menjelaskan dengan detail.

"Jadi, kamu mendengar semua yang kami bicarakan tadi?" Aku balik bertanya.

"Iya, Rea. Seharusnya kamu katakan sebenarnya kalau kamu hamil. Jadi Beno bisa membatalkan pernikahannya dengan adikmu".

"Itu tidak mungkin, May".

"Kenapa tidak mungkin, Rea?" tanyanya penasaran.

Aku menjawab dengan ekspresi tatapan kosong" Anisa, hamil".

Mata Maya membulat seakan melotot tidak percaya mendengar penuturan.

"Apa?"

"Iya, May. Tanpa sepengetahuanku selama ini mereka berselingkuh di belakangku dan menyimpannya begitu rapi hingga aku tidak tahu hubungan mereka sudah terlalu jauh dan menyebabkan ia hamil di luar nikah dan itu anak Beno," kataku menjelaskan.

"Aku tidak menyangka kalau dokter Beno akan melakukan hal serendah itu. Di mata masyarakat ia terkenal santun dan mempunyai jiwa penolong tapi kenyataannya jauh dari kata baik," seru Maya kesal.

"Aku belum memberitahukan pada Beno kalau aku juga hamil, May. Jika dia tau aku hamil pasti Anisa tidak jadi menikahinya. Aku tidak mau kalau anak yang ia kandung tidak punya status jadi biar aku saja yang mengalah," akhirnya tangisku pun pecah tak mampu kubendung lagi yang sedari tadi sudah kutahan hingga membuatku terasa perih.

"Sabar, Rea! Kamu pasti bisa melalui semua ini dengan tabah," Maya kembali merengkuhku dalam pelukannya memberiku kekuatan.

"Makasih, May. Kamu adalah sahabat terbaikku," jawabku dengan mengulas senyum.

Jarum jam sudah menunjukkan angka lima sore. Aku pun bersiap-siap hendak melangkah keluar dan pulang kerumah. Udara rumah sakit yang berbau alkohol sedikit membuatku mual. Mungkin ini adalah bawaan ibu hamil saat lagi ngidam. Biasanya aroma terapi yang aku sukai mampu membuat perasaanku tenang tapi kali ini membuatku semakin pusing.

***

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
9.8
Setelah insiden malam pengantin yang menjebak Bara, Ayla diusir hingga harus mengasingkan diri ke luar negeri. Di sana, ia membangun kehidupan yang mapan dan merawat anaknya tanpa pernah diketahui Bara. Kini, takdir memaksanya pulang demi menuntaskan sebuah misi rahasia yang mempertaruhkan reputasinya. Walau dicap sebagai wanita murahan dan harus menghadapi pria yang ia benci, Ayla pantang mundur demi memperjuangkan tujuan krusial hidupnya.
Sampul Novel Antara Kau, Aku & Papimu
9.1
Kisah cinta Elena dan Erlangga yang kaya raya berakhir tragis akibat penolakan sang mami, Tiara. Sebuah rencana jebakan zat perangsang justru salah sasaran, menyeret Elena ke dalam pelukan Herlambang, ayah tiri kekasihnya sendiri. Situasi kian rumit saat Elena hamil, membuat Erlangga dan Herlambang sama-sama mengklaim sebagai sang ayah. Di tengah badai dendam dan ego, Elena kini terjebak di antara dua pria sedarah. Akankah rahasia kelam ini menghancurkan hidup mereka?
Sampul Novel Merebutmu Kembali
9.3
Sebagian orang berusaha pulih dari trauma, sedangkan yang lain memilih menghindar. Chandani kini berada di persimpangan jalan ketika kenangan masa lalu yang menyakitkan mendadak kembali membayanginya. Ironisnya, pria yang menjadi penyebab luka batinnya justru datang membawa lamaran pernikahan. Haruskah ia menerima pinangan tersebut atau kabur demi kedamaiannya? Di tengah situasi pelik ini, kegelapan justru tampak menjadi satu-satunya penentu arah takdirnya.
Sampul Novel Pacar Kontrak Berbalut Cinta
8.0
Sejak kecil, Tasya dan Kyler selalu bermusuhan. Namun, situasi mendesak memaksa mereka bersatu. Tasya harus segera mencari pasangan karena tekanan keluarganya, sedangkan Kyler berniat membalas dendam pada sahabat yang mengkhianatinya. Mereka akhirnya sepakat menjalin hubungan kontrak yang mengagetkan semua orang. Meski terpaut usia jauh dan awalnya saling benci, perasaan cinta perlahan tumbuh di antara mereka. Akankah sandiwara ini menjadi nyata?
Sampul Novel Pengantin Yang Terjebak Dalam Dendam
9.4
Sephia terjebak dalam pernikahan paksa dengan Elandro Varela, seorang pewaris tak berbelas kasih. Hubungan ini bermula saat Sephia harus mengurus ibu Elandro setelah kecelakaan tragis. Alih-alih membina rumah tangga, Elandro memakai ikatan tersebut untuk melampiaskan dendamnya. Bagi Sephia, pernikahan ini adalah hukuman dan penjara emas penuh kebencian. Di tengah perang dingin yang menyiksa, sanggupkah Sephia bertahan, atau justru hancur oleh amarah Elandro?
Sampul Novel Perfect Husband
8.6
Zuhra Kalinka terpuruk setelah ditinggalkan kekasihnya ke luar negeri dalam keadaan hamil. Di tengah ancaman aib dari lingkungan adat yang ketat, seorang pria berwatak dingin datang menyelamatkannya dengan menawarkan pernikahan. Hubungan tanpa rencana ini perlahan menumbuhkan benih cinta di hati Zuhra kepada sang penolong. Akankah keputusan nekat tersebut menuntunnya pada kebahagiaan yang nyata?