APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Madu Untuk Suamiku

Madu Untuk Suamiku

Namanya Fransiska Damayanti (33 tahun) dan suaminya bernama Arya Praptama (35 tahun) mereka adalah sepasang suami istri yang sangat bergelimang harta, namun kisah cinta mereka tak sesempurna yang orang pikirkan, 10 tahun pernikahan mereka belum juga dikaruniai anak. Hingga suatu hari Siska menjodohkan suaminya dengan gadis belia berusia 17 tahun, yang bernama Dinda Kinara, gadis yatim piatu yang tinggal didesa bersama nenek dan adik laki laki satu satunya, Sejak usia 10 tahun Dinda sudah menjadi yatim piatu. bagaimana dengan kisah cinta mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Arya sudah siap dengan mengenakan kemeja putih ,celana hitam ,bersama dasinya yang bergaris horizontal berwarna hitam biru .

Arya kembali menatap dirinya dibalik cermin kamar penginapan, Ia tampak begitu cemas menghadapi semua ini ,Karena untuk kedua kalinya Ia akan mengikrarkan janji suci didepan penghulu, bersama wanita yang tidak ia cintai dan tentu saja paksaan dari istri tercintanya itu. Berulang kali Arya meyakinkan dirinya, menghilangkan segala kecemasannya yang ada pada dirinya, tapi tetap saja tak bisa.

"Arrrghh, ini benar benar konyol, bagaimana bisa aku akan menikah dengan seorang anak kecil" gerutu Arya dalam hati.

Sementara Siska tampak sibuk sejak pagi hari tadi menyiapkan seserahan untuk dibawakan kepada keluarga Dinda, Ia hanya berjalan kesana kemari menelfon seseorang tanpa mempedulikan suaminya yang dilanda kecemasan luar biasa.

"Siska" panggil Arya.

"Iya Mas" sahut Siska menghentikan langkahnya.

"Hmm, Itu siapa namanya yang anak kecil itu?" tanya Arya.

"Oh Dinda"

"Hmm Iya iya, nama lengkapnya siapa? soalnya aku harus menghapal namanya jika Ijab kabul nanti" ucap Arya sambil menghela napasnya dengan panjang.

"Oh iya maaf aku lupa mas, seharusnya aku sudah memberitahukan ini kepadamu sejak semalam" ucap Siska menepuk jidatnya. "Namanya Dinda Kinara Binti Sudarsono Mas" lanjut Siska menyebut nama lengkap Dinda.

"Apa? Dinda Kirana?" Tanya Arya merasa pendengarannya kurang jelas.

"Bukan Mas, Dinda Kinara" jelas Siska lagi.

"Oh ya ya"

'Macam nama artis saja, hah' batin

Arya dalam merasa heran.

"Mas kamu sudah Siap?" Tanya Siska memastikan.

"Hmmm"

Arya hanya bergumam sambil menganggukan kepalanya lalu memutar tubuhnya kembali ke arah cermin. Tiba-tiba Siska memeluk Arya dari arah belakang, Ia benar-benar merasakan  kesedihan yang mendalam, Sehingga butiran kristal dimatanya jatuh membasahi pipinya.

Arya yang sedang berdiri, turut merasakan kesedihan istrinya itu, seketika Ia mengerjapkan matanya lalu berbalik arah menatap Istrinya yang sudah 11 tahun Ia kenal itu.

"Sayang kenapa kamu sedih? bukankah ini kemauanmu?" tanya Arya membelai kepala Siska yang dibalut hijab pashmina berwarna kuning keemasan itu.

Siska langsung mengusap Air matanya, lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Arya.

"Aku, tidak sedih Mas, Aku hanya merasakan terharu bahagia karena kamu akan menikah" ucap Siska berusaha menutupi kesedihannya, walau ada rasa sakit menggerogoti lehernya.

"Sudahlah Siska, kamu tak perlu berbohong, aku tahu kamu sedang sedih, aku sudah lama mengenalmu ,jadi aku tahu betul sifat kamu yang sebenarnya"

Mendengar ucapan Arya, Siska langsung menundukkan wajahnya, Ia langsung melepaskan pelukannya kepada Arya.

"Sudahlah Mas, nanti kita bicarakan itu, bersiaplah karena penghulu akan segera datang di rumah Dinda" ucap Siska berusaha mengalihkan suasana dengan beranjak pergi dari Arya, namun seketika Arya menahan tangan Siska,

"Apa kamu sudah yakin Siska, ?" tanya Arya meyakinkan dengan keputusan Siska.

"kalau kamu tidak yakin kamu bisa membatalkannya pernikahan ini sekarang" lanjut Arya berbicara.

Siska terdiam sejenak, Ia berusaha menahan Air matanya agar tidak tumpah, dengan pelan Siska menarik napasnya lalu berbalik arah menatap Arya.

"Mas kamu tahu kan aku orangnya keras kepala, jadi sekali aku memutuskan, aku tak akan merubahnya" ucap Siska melepaskan tangannya dari genggaman Arya, dan berlalu pergi meninggalkan Arya.

Saat Siska pergi, Arya mengepalkan jari-jemarinya karena menahan emosinya, ingin rasanya ia memukul cermin itu hingga hancur karena perbuatan istrinya itu.

Siska mulai berjalan keluar dari Penginapan dengan membawa sebuah seserahan kecil untuk dihadiahkan kepada Dinda, sementara Arya berada dibelakang menyusul Siska keluar dari penginapan, Arya segera memencet tombol yang berada di kunci mobil, agar Siska bisa segera masuk mobil, tampa harus menunggunya,

Arya pun ikut masuk ke mobil, lalu mulai menyetir, mereka pun melesat dengan cepat menuju rumah calon istri keduanya itu.

Sesampainya dirumah Mbah Tarmin, Siska mulai menuruni mobil dengan membawa seserahan , disana sudah terlihat beberapa orang sedang menunggu, termasuk pak penghulu, perlahan Siska dan Arya masuk ke dalam rumah, Mbah Tarmin menyambut mereka dengan hangat dan mempersilakan mereka masuk. Arya mulai duduk dilantai kayu beralaskan tikar yang mulai usang menghadap pak penghulu, bersiap mengikrarkan janji suci itu untuk kedua kalinya.

"Mbah, Dinda mana?" tanya Siska setelah memberikan seserahan itu kepada Mbah Tarmin.

"Dinda ada di dalam kamarnya nak"

"Boleh saya masuk Mbah?"

"Boleh sekali nak, Silahkan"

Setelah Mbah Tarmin mengizinkan,  Siska langsung beranjak lalu masuk kedalam menuju kamar Dinda yang berada didepan.

"Dindaa" Panggil Siska dari ambang pintu kamar Dinda.

"Iya Bu Siska" sahut  Dinda yang sedang duduk ditepi ranjang, ia segera menghapus air matanya agar Siska tak curiga bahwa ia sedang bersedih.

Dinda sudah siap dengan busana kebaya putih bersama hijab yang terbalut menutupi kepalanya, wajahnya memancarkan cahaya, karena Riasan wajah yang sangat natural hingga terlihat cantik, dan ini semua karena Siska yang telah mengundang MUA (Make Up Artist) terbaik dikotanya.

Siska pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar menghampiri Dinda.

"Dinda kamu cantik banget"  ucap Siska pangling melihat wajah Dinda yang begitu cantik.

Dinda hanya tersenyum menatap Siska, meski didalam hatinya dirundung rasa gugup karena akan menikah dengan orang yang baru dikenalnya itu.

"Bu Siska, Dinda deg-degan banget" kata Dinda sambil meremas jari-jemarinya

"Kamu tenang saja Dinda, Memang begitu kalau baru pertama menikah ,pasti akan merasakan yang namanya deg-degan Sih, sama seperti Mbak juga begitu waktu awal menikah dengan Mas Arya" ucap Siska tersenyum berusaha menenangkan Dinda.

Berulang kali Dinda menarik napasnya, lalu menghembuskannya dengan pelan agar rasa gugupnya berkurang.

"Nak Siska, Dinda, acaranya sudah mau mulai, ayo keluar" panggil Mbah Tarmin dari balik pintu kamar Dinda.

"Oh iya Mbah, kami akan segera keluar" sahut Siska.

"Ayo Dinda kita segera keluar, acaranya akan dimulai"

"Iya Bu Siska" sahut Dinda beranjak dari duduknya.

"Eh iya, mulai sekarang kamu gak usah panggil saya Ibu, tapi panggil saya mbak atau kakak saja yah, begitu juga dengan Mas Arya"

"Hmm Iya, jadi saya panggil Mbak Siska saja yah, biar enak" ucap Dinda merasa segan.

"Nah gitu donk, Ayo kita keluar," ajak Siska seraya memegang tangan Dinda.

Sampai diruang tamu, semua mata tertuju melihat kecantikan Dinda, SementaraArya hanya menatap Dinda sebentar lalu menundukkan wajahnya, meskipun Dinda terlihat lebih cantik dan muda dari Istrinya, tapi itu semua tidak akan memudarkan rasa cinta Arya kepada istri pertamanya itu.

Perlahan Siska mengantarkan Dinda duduk disamping Arya, jantungnya mulai berdegub kencang karena rasa cemburu mulai membakar hatinya, namun Ia berusaha tegar, menghilangkan segala keegoisan yang ada pada hatinya.

Sementara Arya hanya diam membisu, menahan emosi sambil menghafal nama Dinda, Ia berusaha menjaga sikapnya sebaik mungkin agar Istri tercintanya itu tidak kecewa dengan ucapannya saat ijab kabul nanti.

"Baik semuanya sudah kumpul, jadi acaranya kita mulai saja yah?" tanya pak penghulu ditengah ruang tamu Mbah Tarmin.

"Iya Pak segera dimulai saja" jawab Siska semangat. Seluruh saksi dan Mbah Tarmin hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju.

Pak penghulu pun mulai membacakan doa-doa yang sakral itu, hingga saat yang ditunggu tunggu itu tiba, Pak penghulu mulai memegang tangan Arya lalu menuntun Arya untuk membacakan Ijab kabul.

Mata Siska hanya terbelalak saat menyaksikan semuanya, Dinda hanya meremas jemarinya saat melihat Arya mulai memegang tangan pak penghulu, rasanya ia benar-benar tak percaya bahwa secepat ini ia akan menikah. Hingga pada akhirnya terdengarlah suara itu,

"Saya terima nikahnya Dinda Kinara binti Sudarsono dengan mas kawin cincin seberat dua gram dibayar Tunai" ucap Arya dengan lugas tanpa celah.

"Bagaimana  saksi , sah?" tanya Pak penghulu.

"SAH !" Seru semua saksi dan orang-orang yang berada didalam ruangan itu

Deg.

Mendengar seruan orang-orang seketika membuat hati Siska semakin remuk, hancur berkeping-keping, ia tak menyangka dalam satu kalimat sakral itu telah membawanya pada sesuatu kehidupan yang penuh dengan penderitaan nantinya. 'ya Allah kuatkan hati ini, jangan sampai aku pingsan disini,' batin Siska menguatkan dirinya sendiri.

"Alhamdulillahirobbill'alaamiin" ucap pak penghulu sambil membacakan doa selamat untuk pengantin baru.

Setelah selesai penghulu membacakan doa, Arya memasangkan cincin mas kawin dijari manis Dinda, kemudian Dinda mencium punggung tangan Arya yang telah menjadi suami sah nya itu.

Kini semuanya telah terjadi, hari ini Siska harus memulai hidup baru bersama madunya Dinda, dan mulai hari ini juga suami yang ia sayangi dan telah mendampinginya selama 10 tahun pernikahan, harus membagi hati untuk kedua Istrinya.

Dinda menangis, langsung memeluk Siska, seketika tangisan Siska pecah membalas pelukan dari Dinda, beberapa kali ia mengucapkan selamat kepada Dinda, memberikan doa yang terbaik untuk suaminya dan istri barunya itu.

Sementara Arya hanya menundukkan kepalanya sambil mengusap wajahnya, ia berusaha menahan kekecewaannya terhadap Siska, sejujurnya ia tak sanggup melakukan ini semua, namun apa daya rasa cintanya terlalu besar terhadap Siska ,hingga dengan terpaksa Arya harus melakukan pernikahan yang tak pernah ia inginkan.

Setelah melepas kesedihan bersama Siska, Dinda pun menghampiri Mbah Tarmin dan memeluknya dengan erat, sambil meminta restu kepada Mbah yang ia sayangi itu, karena bagi Dinda Mbah Tarmin adalah satu-satunya keluarga sekaligus orang tua yang tersisa dihidupnya.

"Selamat yah Nduk, semoga kamu bahagia bersama suamimu dan Mbakmu" ucap Mbah Tarmin terisak.

"Iya Mbah, Aamiin terima kasih doanya" ucap Dinda terisak dalam dekapan Mbah Tarmin.

***

Usai melangsungkan acara pernikahan, Siska menyuruh Dinda untuk mengemasi barang-barangnya ,karena sore ini mereka akan segera kembali ke Jakarta.

"Mbah, hati hati yah disini, jaga kesehatan" ucap Dinda terisak mengucap pamit kepada Mbah Tarmin.

"Iya Nduk, kamu juga hati-hati dijalan, selalu jaga kesehatan yah Nduk"

"Iya Mbah" jawab Dinda seraya mencium punggung tangan Mbah Tarmin.

Kemudian Dinda berlalu pindah kepada adiknya untuk berpamitan, Ia memeluk Dandi , lalu memberi pesan kepada Dandi adik semata Wayangnya.

"Dandi, jaga mbah baik baik yah, kamu sekolah yang betul-betul, jangan suka kelayapan"

"Iya Mbak, mbak juga jangan lupa ngabarin kami disini yah kalau sudah sampai disana" ucap Dandi.

"Iya dek, Pasti Mbak kabarin"

"Dinda ayo cepetan kita sudah mau jalan" panggil Siska dari dalam mobil.

"Iya Mbak," sahut Dinda menoleh ke arah Siska yang tepat berada dibelakang nya.  Dinda pun mulai mengangkat tas yang berisikan pakaiannya, lalu berjalan pelan menuju mobil Arya.

Dari dalam mobil Siska pamit kepada Mbah Tarmin dan Dandi, dan ketika mereka mulai jalan, Dinda dan Siska masih sempat melambaikan tangan kepada Mbah dan Adiknya sampai akhirnya mereka tak terlihat. didalam perjalanan Dinda masih menoleh ke belakang melihat Mbah Tarmin dan Dandi untuk terakhir kalinya.

Dinda hanya bisa menangis sesenggukan harus meninggalkan keluarga yang ia sayangi itu,

"Dinda, kamu kenapa?" tanya Siska.

"Hmm, nggak Mbak, Dinda cuma sedih aja ninggalin mbah sama Dandi, karena selama ini Dinda gak pernah pisah sama mereka Mbak, hiks hiks" ucap Dinda terisak.

"Kamu gak usah khawatir, Mbah Tarmin dan Dandi pasti akan baik-baik saja disana" Siska mengusap bahu Dinda, berusaha menenangkan Dinda.

"Nggih Mbak Siska"

"Siska" Panggil Arya dari kemudi depan memotong pembicaraan Siska dan Dinda.

"Iya Mas" sahut Siska.

"Jadi bagaimana nanti jika Dinda dirumah? nanti apa yang akan kita katakan kepada orang tua kita, jika mereka tanya tentang Dinda?" tanya Arya masih fokus menyetir mobilnya.

"Hmm Iya juga Mas, aku juga belum memikirkan soal itu"

Sejenak Arya menghela napasnya lalu mengatakan sesuatu kepada Siska.

"Bagaimana kalau dia berpura-pura sebagai pembantu kita disana?  hanya untuk sementara waktu saja" papar Arya menawarkan idenya.

"Bener juga idemu mas"

"Bagaimana Dinda, kamu mau kan pura pura jadi pembantu kita?" Tanya Siska menoleh kearah Dinda.

"Hmm iya Mbak, saya mau" jawab Dinda mengiyakan pendapat Arya dan Siska.

Mendengar Dinda yang setuju membuat Siska merasa lega dan senang.

"Terima kasih Dinda," ucap Siska tersenyum. Dinda hanya mengangguk membalas senyuman Siska.

Dalam perjalanan Dinda hanya melihat pemandangan lewat jendela mobil, sesekali ia berhitung mobil dijalan agar bisa menghilangkan kebosanannya, hingga akhirnya Ia tertidur pulas.

Setelah menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga, Siska pun menatap Dinda yang tertidur pulas disampingnya itu 'kasihan Dinda, pasti dia kelelahan' batin siska merasa iba.

"Dinda, bangun! kita sudah sampai" panggil Siska mengguncangkan tubuh Dinda.  Dinda langsung terjaga dari tidurnya saat mendengar ada yang memanggilnya. 

"kenapa Mbak? kita sudah sampai mana?" tanya Dinda kebingungan.

"kita sudah sampai Dinda" ucap Siska.

"Hah, masak Mbak, Alhamdulillah kalau begitu" ucap Dinda merasa lega lalu bersiap turun dari mobil. dan setelah turun dari mobil betapa terkejutnya Dinda melihat rumah mewah yang ada dihadapannya.

"Waah, besar banget rumahnya Mbak? Kayak Istana" ucap Dinda dengan mulut menganga terkesima sambil memegang tas bututnya, melihat tingkah Dinda, membuat Siska merasa lucu dan tertawa.

"Mari Dinda kita masuk" ajak Siska.

"Iya Mbak"

Merekapun masuk bersama-sama kedalam Rumah, namun sampai didepan pintu rumah Dinda mulai membuka sendalnya,

"Eh kenapa itu sendalnya dilepas?" tanya Siska saat menyadari Dinda melepas sendalnya.

"Gak papa Mbak, sendal saya kotor Mbak, takut lantainya kotor" ucap Dinda dengan polos.

"Hahaha, gak papa kok Dinda, dipakai aja" kata Siska terkekeh.

"Tapi Mbak"

"Sudahlah pakai saja" bujuk Siska, Dinda pun kembali mengenakan sendalnya, lalu sama-sama tertawa karena merasa konyol. Mendengar celotehan kedua istrinya didepan rumah membuat Arya kesal,

"Dasar Gadis Kampungaaan!"

Teriakan Arya sontak membuat Dinda dan Siska terkejut. Selesai mengucap kata itu, Arya berlalu pergi meninggalkan Siska dan Dinda yang masih berdiri terpaku didepan rumah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aroma Godaan dan Perselingkuhan
9.6
Sebuah sentuhan tak terduga mampu mengubah segalanya. Dalam novel modern Aroma Godaan dan Perselingkuhan, momen relaksasi di atas sofa berubah total saat pijatan lembut dari seorang terapis mulai mengalirkan sensasi panas ke seluruh tubuh. Kehangatan yang menjalar membuat pertahanan fisik runtuh seketika dalam kondisi lemas tak berdaya. Ketegangan semakin memuncak ketika embusan napas hangat menerpa telinga, memicu getaran hebat yang membangkitkan hasrat tersembunyi.
Sampul Novel Ayo Nikah! Siapa Takut
8.3
Demi menyelamatkan bisnis Ana's Wedding Dream, Fiona nekat menyatakan cinta pada David di bandara. Aksi ekstrem ini sengaja ia lakukan untuk merusak reputasi sang kapten pilot yang menjadi ancaman. Di balik keanggunannya, Fiona menyimpan dendam membara. Namun, David yang berhati dingin justru menyambut tindakan nekat itu dengan senyum sinis. Merasa sangat terhina, Fiona kini bertekad menjerat David ke dalam sandiwara cinta penuh manipulasi.
Sampul Novel Pengkhianatan Sang Pria, Kisah Cinta Tak Tergoyahkan Miliknya
8.5
Ulang tahun ke-22 menjadi petaka saat tabungan kuliahku di ITB dirampas dua kakak kandung demi operasi plastik adik angkat kami, Vanya. Aku diusir, dituduh egois, lalu ditinggal berlibur ke Bali. Di titik terendah, tawaran proyek medis rahasia selama 15 tahun hadir sebagai jalan keluar. Aku pun pergi dan memutus ikatan keluarga demi masa depan baru, tanpa lupa meninggalkan bukti kebohongan Vanya di meja.
Sampul Novel Cinta yang Jatuh Tanpa Gema
8.1
Rumi tak sengaja bertemu mantan iparnya saat periksa kehamilan. Di tengah tuntutan untuk kembali pada Aryan—miliarder yang dulu mengabaikan pernikahan mereka demi wanita lain hingga memicu kematian ibu Rumi—ia diingatkan akan perjuangan sang mantan suami mencarinya. Namun, luka masa lalu akibat pesan suara kejam Aryan tak bisa terhapus. Dengan tenang, Rumi menunjukkan cincin di jarinya, menegaskan bahwa ia telah memulai hidup baru yang sederhana dan meninggalkan masa lalu kelamnya di Kota Daro.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dibuang, Bangkit, Menang!
8.1
Tiga tahun mengabdi sebagai istri, Cindy justru diceraikan demi perempuan lain dan menjadi bahan cemoohan sekota. Namun, ia bangkit membuktikan bakat terpendamnya hingga mencapai kesuksesan luar biasa. Saat sang mantan menyesal dan memohon untuk rujuk, Cindy menolaknya dengan dingin. Di saat bersamaan, suami barunya yang tampan datang melindungi Cindy dan memperingatkan sang mantan agar tidak berani mengusik kehidupan mereka lagi.