APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Luka Terindah

Luka Terindah

Pengkhianatan besar menghancurkan pernikahan seorang wanita, membawanya pada pilihan sulit: bertahan atau melangkah pergi. Meski sang suami adalah teman masa kecilnya, hubungan lama itu ternyata tak menjamin kesetiaan. Sosok yang semestinya melindungi justru menggoreskan luka batin paling dalam. Kini, di tengah kehancuran hatinya, ia didera keraguan besar dan kesulitan untuk kembali memercayai laki-laki lain dalam hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aresh Abiwara Oliver.

Yang artinya, anak lelaki pintar dan penuh keberanian dari keluarga Oliver.

Seuntai nama yang begitu indah dengan terselip doa dan harapan yang begitu besar dari kedua orang tua. Namun, putra kedua dari pasangan Nathan Oliver dan Shana Abila yang lahir berjarak tujuh belas menit dengan Arash Abisatya Oliver ini, rupanya memiliki sifat yang jauh berbeda dengan sang kakak, walau keduanya termasuk kembar yang identik.

Serupa tapi tak sama.

Seperti sifat lembut dan penyayang yang dimiliki Arash, ternyata tak dimiliki oleh Aresh. Atau ... sifat rendah hati dan setia yang dimilik Arash, ternyata juga tidak dimiliki oleh Aresh. Padahal, didikan kedua orang tuanya selalu sama, dan tidak pernah dibeda-bedakan. Terlebih, didikan dari sang ayah. Yang mana keduanya selalu diperlakukan seadil-adilnya dengan begitu tegas.

Ya ... Entah semua sifat positif yang dimiliki Arash masih tersembunyi di dalam diri Aresh, atau memang benar-benar tidak ada sama sekali? Yang jelas, baik Shana, maupun Nathan, sama-sama sering dibuat sakit kepala karena sikap dan tingkah satu anak lelakinya itu. Sampai-sampai, tekanan darah tinggi Shana selalu meningkat setiap kali Aresh membuat masalah.

Seperti malam ini, usai mendengar kabar tidak mengenakkan dari putra pertamanya, hipertensi yang diderita Shana kembali kambuh hingga kepala bagian belakangnya terasa begitu nyeri. Sementara sang ayah–Nathan–dibuat naik pitam oleh hal tersebut.

Bagaimana tidak? Di jam istirahat seperti ini, pasangan suami istri itu dikejutkan oleh kedatangan Arash dan Aresh secara tiba-tiba, lalu menceritakan detail kejadian yang terjadi di antara Aresh dan Nerissa. Dimulai dari kejadian di ruangan Aresh, hingga Nerissa yang kabur dan memblokir seluruh akses komunikasi Aresh, Arash, telepon kantor, bahkan Zeira–istri Arash–sekalipun, untuk pertama kalinya.

Bukan maksud mengadu. Bukan pula hendak memancing emosi. Mereka hanya benar-benar sudah buntu dalam berpikir, hingga memutuskan untuk meminta solusi dari kedua orang tuanya atas permasalahan kompleks yang dihadapi oleh Aresh menyangkut masa depan rumah tangganya.

Duduk di atas sofa ruang tamu, tepat pada pukul sepuluh malam, gelas air mineral yang sempat dibawakan oleh asisten rumah tangga di rumah tersebut, seketika melayang melewati sisi kanan wajah Aresh, membanting pada tembok di belakang sana, dan pecah terberai di atas lantai. Membuat satu goresan tipis di wajah tampan pria itu, hingga mengeluarkan darah segar. Sedangkan Arash sibuk menenangkan sang ibu yang menangis sesenggukan dengan merangkulnya.

“Jadi, Nerissa menuntut cerai sama kamu?” tanya Nathan, dengan raut wajah speechless, juga menahan amarah.

Walau ragu, Aresh menganggukkan kepalanya.

“Keterlaluan kamu, Aresh! Bener-bener bikin malu! Ayah kecewa sama kamu!” ucap Nathan dengan suara bergetar menahan amarahnya yang memuncak.

Aresh hanya terdiam menunduk, tanpa berniat menjawab perkataan ayahnya. Takut-takut, pria paruh baya itu lepas kendali, jika Aresh mengeluarkan kalimat sanggahan sebagai pembelaan diri. Lagipula ... toh, semua yang terjadi memang benar-benar kesalahannya. Jadi, tak ada yang perlu di klarifikasi lagi.

“Apa yang harus Ayah katakan pada ayah mertuamu, Aresh?! Apa?!” teriak Nathan, dan hal itu menjadi kali pertama untuk pria paruh baya itu membentak putranya.

“Yah ....” Gumam Arash pelan, karena terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh ayahnya.

“Nerissa, adalah putri kesayangan kedua orang tuanya. Mereka membesarkan Nerissa dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan, dijaga sebaik mungkin dengan memberikan segala hal terbaik demi membuatnya bahagia. Lalu sekarang ... Kamu sakiti putri kesayangan mereka sedemikian rupa, setelah kamu minta secara resmi untuk dijadikan istri. Apa kedua orang tua Nerissa akan rela putri kesayangan mereka diperlakukan seenaknya seperti itu sama kamu? Sekiranya kamu belum siap untuk menikah, dan masih ingin bermain-main dengan wanita-wanitamu di luaran sana, lantas untuk apa kamu melamar Nerissa dan nikahin dia? Kalau ujung-ujungnya, kamu malah menyakiti dia seperti ini!” lanjut Nathan dengan penuh penekanan.

“Aresh salah, Yah. Aresh salah,” lirihnya sangat pelan, bahkan hampir tak terdengar.

Pria paruh baya itu mengembuskan napas kasar. “Ya, jelas! Kamu memang salah, dan Ayah tidak akan pernah membenarkan kelakuan kamu yang sudah sangat keterlaluan dan memalukan itu! Bahkan, kata maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menebus kesalahan besar ini!”

“Ayah sudah sering mengingatkan kepada kalian berdua. Kalian boleh nakal, kalian boleh bertindak sesuka hati kalian. Tapi, jangan pernah menyakiti hati seorang wanita, dan jangan pernah bermain-main dengan wanita! Apa kamu masih belum paham juga, maksud dari nasihat Ayah itu?” tanya Nathan.

Aresh masih tetap terdiam pada posisinya. Sedangkan Nathan mengusap wajahnya kasar. “Kamu sudah merusak mental seorang wanita, Aresh! Kamu sudah merusak pikiran seorang wanita!” lanjutnya.

Melihat sang ayah mulai tidak dapat mengontrol amarahnya, Arash pun seketika menyela, “Yah, apa yang harus kita lakuin sekarang? Kayanya ... sampai detik ini, Om Arion, Tante Al, dan Galen belum tahu permasalahan ini. Mengingat, gak ada satu orang pun dari mereka yang ngehubungin aku, Ayah, Bunda, ataupun Aresh untuk meminta penjelasan.”

Nathan memijat pelipis matanya yang berdenyut nyeri. “Sayang, bisa minta tolong hubungi Nerissa?” tanyanya kepada sang istri.

Tanpa banyak mengatakan hal apapun, Shana segera mengangguk, dan mengambil ponsel miliknya dari atas meja ruang tengah. Membuka kunci layar, lalu menggulir daftar kontak yang tersimpan untuk mencari nama sang menantu. Setelah berhasil menemukannya, Shana pun menyentuh simbol telepon, lalu menempelkan benda pipih tersebut pada telinga. Berharap, Nerissa mau mengangkat panggilan darinya, tanpa ada drama lain yang mengikuti keresahan Shana.

“Gimana, Bun?” tanya Aresh, was-was, setelah hampir satu menit berlalu, namun sang ibu masih tetap diam tak bersuara. Rupanya, pria itu pun menanti secercah kabar baik dari Shana yang tengah berusaha menghubungi istrinya.

Dengan raut wajah khawatir, Shana menggeleng. Sementara Nathan menghela napas dalam, menatap kepada Aresh, masih dengan tatapan tajam, penuh amarah.

“Kamu sudah hubungi teman-teman terdekat istrimu?” tanyanya.

Aresh mengangguk. “Udah, Yah. Putri, Salma, Devan, Lutfi, bahkan Nayang pun gak ada yang tahu, di mana Sasa.”

Nathan menghela napas dalam, menahan kekesalannya yang semakin meningkat. “Ya Allah ... Ayah bener-bener gak tahu lagi harus bagaimana saat ketemu orang tua Nerissa nanti. Ayah bener-bener malu karena sudah gagal mendidik putra Ayah,” ucap Nathan setengah berbisik, namun lebih terdengar gumaman untuk dirinya sendiri.

“Lo udah coba cek di apartemen lagi?” Kini, giliran Arash yang bertanya.

Pria berwajah kusut itu menggeleng. “Terakhir dua jam yang lalu, masih belum pulang, Rash.”

Arash terdiam sejenak, sebelum akhirnya bangkit dari posisinya. “Dua jam ... Jarak waktu yang cukup lama untuk kemungkinan besar Sasa pulang ke apartemen kalian. Kita cari dia di apartemen lo. Kalau masih belum pulang, kita cari di sekitaran kantor atau tempat yang deket-deket apartemen lo, yang sekiranya biasa Sasa sambangi. Mumpung masih belum tengah malam,” ajak Arash, dan langsung disetujui oleh Aresh.

Sementara di tempat lain. Tepat di dalam salah satu kamar tidur sebuah apartemen mewah bernuansa ash grey, Nerissa yang nampak begitu sibuk mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam lemari, tiba-tiba jatuh terduduk di atas lantai. Bersandar pada tempat tidur berukuran king size dengan kepala tertunduk–menyembunyikan wajahnya.

Namun, hanya berselang beberapa detik, suara isak tangis pun lambat laun mulai terdengar, makin keras dan lepas kendali, hingga menyayat hati siapapun yang ikut mendengarnya.

Lelah ... Selelah-lelahnya. Bahkan, untuk kembali bangkit dari posisinya dan berdiri mengambil pakaian saja, rasanya begitu sulit.

Ya ... sulit! Sulit menghadapi kenyataan yang ada. Sulit merelakan segalanya. Dan yang tersulit, adalah mengambil keputusan akhir. Terlalu menyakitkan, hingga saat menarik napas saja, rasanya begitu sesak. Seperti menyelam di air yang dalam.

“Ma ... Pa ... Apa yang harus Sasa lakuin sekarang? Sasa gak sanggup kalau harus nanggung semua ini sendirian. Sasa gak sanggup kalau harus hadapi semua ini sendirian,” gumam wanita itu di sela isak tangisnya. “Tapi ... Sasa juga belum siap, Mama sama Papa tahu soal ini. Sasa gak mau, Mama sama Papa jatuh sakit karena masalah keluarga Sasa. Dan, Sasa juga takut, Mama sama Papa berpikir buruk tentang Aresh,” lanjutnya begitu lirih.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hati Beku yang Tak Dapat Dicairkan Lagi
9.2
Di kamar utama vila Keluarga Andara, Natasha bersiap mengakhiri pernikahan kontraknya yang tersisa satu bulan lagi. Ia bahkan telah merencanakan kematian palsu untuk pergi. Meski ibu mertuanya memohon agar kesepakatan dibatalkan karena sangat menghargai jasa Natasha merawat Varo selama sepuluh tahun dan melahirkan keturunan mereka, Natasha dengan tegas menolak. Keputusannya sudah bulat untuk tetap menyelesaikan hubungan pernikahan tersebut sesuai dengan kontrak awal.
Sampul Novel I Love You My Secret Daddy
9.5
Kehidupan mapan Aisyahzaara Bellova seketika runtuh usai ayahnya menikah kembali. Di belakang sang ayah, ibu tiri menyiksanya dengan kejam. Demi kebahagiaan ayahnya, gadis berusia 17 tahun ini memilih memendam penderitaannya sendiri. Karena sangat mendambakan kasih sayang yang hilang, ia nekat terjun menjadi sugar baby. Siapa sangka, sosok pria yang menjadi daddy rahasianya justru menyimpan rahasia besar yang siap menjungkirbalikkan seluruh takdir hidupnya.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Pasca dikhianati saudara angkat dan tunangannya sekembalinya dari desa, Sabrina bertekad membalas dendam. Ia memilih mendekati Charles, paman dari mantan kekasihnya. Walau Charles sempat menolak komitmen setelah malam intim mereka, Sabrina berhasil memicu harga diri pria itu hingga mereka terikat selamanya. Kini, Sabrina kembali sebagai bibi sang mantan. Di balik pandangan remeh orang lain, ia rupanya menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan dirinya adalah pemilik takhta yang asli.
Sampul Novel Omega yang Ditolak: Kesempatan Kedua Bersama Sang Raja
9.2
Tujuh tahun aku menderita setelah ditolak Alpha Kaelan Adhitama yang lebih memilih Livia. Tragisnya, saat tuduhan pencurian palsu menyerangku, Kaelan justru mempermalukan dan mengurungku di sel perak. Pengkhianatan kejam ini menghancurkan ikatan kami sekaligus memadamkan seluruh harapanku. Namun, usai bebas, seorang Alpha musuh datang menawarkan peluang besar untuk membalas dendam. Kini, aku siap meruntuhkan kerajaan Kaelan demi menebus segala rasa sakit di masa lalu.
Sampul Novel Pesona Perawat Tuan Daniel
8.1
Pasca kecelakaan tragis, CEO sukses Daniel lumpuh dan depresi karena ditinggal Isabella, kekasihnya. Clara, sang ibu yang dirundung kesedihan, terus berjuang merawat putranya hingga ia mempekerjakan Elara. Sebagai perawat baru, Elara membawa ketulusan serta empati mendalam. Melalui kesabaran dan perhatian kecilnya, ia berusaha membangkitkan kembali semangat hidup Daniel yang sempat sirna dalam kegelapan.
Sampul Novel Terpaksa Menikah Karena Kesalahpahaman
8.5
Akibat salah paham terkait undangan sebuah pesta, Marissa terpaksa menikahi Hendra, sopir pribadinya yang berpenampilan biasa saja. Keputusan keluarga demi menutupi skandal membuatnya tak berkutik, meski ia sempat menolak keras karena merasa kebebasannya direnggut. Namun, ketulusan serta kesabaran Hendra perlahan-lahan meluluhkan hati Marissa. Ia pun akhirnya menyadari bahwa kesetiaan sejati jauh lebih bernilai dibanding penampilan fisik semata.