
Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an
Bab 3
Lina berkata bahwa dia akan membawa Alicia pergi bersamanya.
Anak itu sama sekali tidak merasa sedih, dia hanya menghitung dengan jarinya berharap hari keberangkatan itu segera tiba.
Lina menenangkannya. "Alicia, kalau kamu sudah melihat matahari terbenam dua belas kali lagi, kita bisa pergi."
"Kalau begitu aku mau lihat matahari!"
Alicia berlari dua langkah ke depan, lalu tiba-tiba berhenti.
Lina mengangkat kepalanya, dia melihat Sam dan Lili berjalan mendekat, masing-masing menggenggam tangan Alan dari sisi kiri dan kanan.
Wajah Alan memerah karena terlalu gembira.
Orang-orang di kompleks perumahan tersenyum sambil berkomentar, "Wah, lihat betapa harmonisnya keluarga kecil ini!"
"Banyak orang khawatir kalau jadi ibu tiri itu sulit, tapi Lili bisa begitu akrab dengan Alan, jadi nggak perlu khawatir."
Sam menatap Lina, lalu berkata dengan nada memerintah, "Lili ingin makan kue kurma, jangan keluyuran di luar. Cepat pulang dan kukus satu loyang."
Lina tertegun dan memandangnya dalam diam.
Semasa hidup, kakeknya paling menyukai kue kurma, sehingga Lina paling mahir membuatnya.
Saat kakeknya meninggal, Lina menangis sampai rasanya hampir mau mati.
Ketika itu, Sam sangat iba padanya dan sejak saat itu Sam tidak pernah membiarkan Lina membuat kue kurma lagi.
Ibu mertuanya juga suka memakannya, tetapi Sam dengan tegas memaksanya mengubah kesukaannya.
Sam pernah berkata, seumur hidupnya dia tidak akan membiarkan Lina bersedih.
Namun, sekarang, dia justru memintanya membuat kue kurma untuk wanita lain.
Sam berkata dengan nada tidak sabar, "Lina! Kenapa melamun? Cepat kembali masak. Apa hal sepele seperti ini saja nggak bisa kamu lakukan?"
Lina mengiyakan pelan, lalu menggandeng tangan Alicia menuju rumah.
Lina segera mengeluarkan kue kurma yang harum dari kukusan dengan cekatan.
Alicia menatapnya dengan penuh harap, tetapi dengan pengertian dia tidak meminta.
Lina merasa iba lalu berkata, "Ibu mengukus agak banyak, nanti Alicia juga bisa makan."
Ketika Lina hendak membawa piring itu keluar, begitu berbalik dia melihat Lili berdiri di ambang pintu dapur.
Di wajahnya tersungging senyum mengejek. "Kamu nggak benar-benar mengira aku mau makan masakanmu, 'kan?"
Dia meludah dengan jijik. "Bau amis tanah."
Saat Lina lengah, dia segera merebut piring itu lalu melemparkannya ke lantai. Dengan sengaja, Lili menjatuhkan diri ke belakang hingga membentur pintu dengan keras.
Lili menjerit sambil menutup tangannya dengan kesakitan, "Ah!"
Detik berikutnya, Sam dan Alan bergegas masuk.
Lili menahan napas sambil berkata dengan susah payah, "Lina nggak sengaja..."
Sam menatap Lina dingin. "Kalau nggak mau melakukannya bilang saja. Kenapa harus merusak barang! Kita baru bisa makan kenyang beberapa tahun belakangan ini, kamu malah mendorong Lili. Lina, jangan paksa aku sampai harus memukul wanita."
Alan juga ikut mendorongnya. "Wanita jahat! Kamu menyakiti Tante Lili, keluar dari rumahku!"
Lina menatap Sam dengan wajah kosong.
Tanpa bertanya sepatah kata pun, dia sudah langsung menjatuhkan vonis bersalah pada Lina.
Lili memasang wajah penuh penderitaan. "Sam, tanganku sakit sekali..."
"Aku antar kamu ke klinik."
Sam menggendong Lili keluar, tetapi dia masih sempat melontarkan ancaman kepada Lina. "Kalau tangan Lili benar-benar cedera, tunggu saja akibatnya!"
Alan menendang Lina dengan keras. "Dasar sampah masyarakat! Wanita jahat! Enyahlah dari rumahku!"
Alicia berlari keluar dan mendorong Alan sekuat tenaga. "Nggak boleh memukul Ibu! Dasar anak nakal!"
Alan mengangkat tangannya dan hendak menampar Alicia, tapi Lina dengan cepat menahannya.
Lina menatap dingin pada anak yang lahir dari rahimnya sendiri, yang telah dia besarkan dengan susah payah hingga berusia lima tahun itu.
Alan sempat menciut sesaat, lalu melompat sambil memaki, "Kalian berdua sampah masyarakat, nggak tahu malu! Aku akan suruh ayah mengusir kalian!"
Sambil berteriak, dia segera berlari mengejar Sam dan Lili.
"Tante Lili, aku kasih semua permenku untukmu. Kalau makan permen, sakitnya akan hilang!"
Lina mendekap erat putrinya dan menenangkan. "Alicia, jangan takut. Kita sebentar lagi pergi. Kita naik kereta ke ibu kota. Mereka nggak akan bisa menyakiti kita lagi."
Alicia terisak dan bertanya, "Ibu, kenapa ayah sama kakak membela orang lain?"
Lina terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, "Karena mereka sudah bukan ayah dan kakakmu lagi."
Dia dan Alicia tidak lagi menginginkan mereka.
Dalam dua belas hari lagi, mereka berdua akan lenyap sepenuhnya dari dunia mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





