APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel LUKA HATI SEORANG IBU TIRI

LUKA HATI SEORANG IBU TIRI

Kehidupan Raisa runtuh setelah suaminya meninggal dunia. Di tengah duka yang mendalam, ia justru dihadapkan pada kenyataan pahit yang sangat menyiksa. Kehadiran seorang bayi yang terbukti sebagai darah daging suaminya mengungkap pengkhianatan yang selama ini tersembunyi. Kini, Raisa didera dilema hebat, terjebak di antara rasa cinta yang tersisa untuk mendiang suaminya dan rasa sakit hati yang luar biasa akibat kebohongan yang baru terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Si-si-siapa kamu?"

      "Sssttt...!"

      Seorang wanita tiba-tiba datang mendekati box bayi yang berada dalam jagaan Nur, wanita tak dikenal itu mengabaikan pertanyaan Nur yang masih belum hilang rasa kagetnya karena kehadiran wanita berambut ikal sebahu itu tanpa permisi.

      "Ma-maaf Mbak..."

      "Ssstttt!" wanita tak dikenal itu memotong kalimat Nur dengan telunjuk yang ditempel ke bibirnya, menyuruh Nur untuk diam.

      Seperti dihipnotis, Nur diam mengikuti arahan wanita bertubuh langsing itu, dengan hatinya yang panik Nur memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut tanpa berkedip.

      Wanita tak dikenal itu membungkukkan badannya, lalu diciumnya kedua pipi bayi Ziana dengan lembut, air mata yang membasahi kedua pipinya tak dihiraukannya.

      "Ma-maaf Mbak, sa-saya panggilkan bu Raisa ya?" Nur yang dari tadi diam terpaku karena panik dan bingung akhirnya bersuara.

      "Ssssttt, diam! Saya akan pergi sekarang!" wanita itu menyahut ucapan Nur dengan suara lirih, tanpa menoleh ke arah Nur, sementara tangannya memegang seutas kalung kecil lalu dengan cepat memakaikan kalung tersebut di leher Ziana.

     Melihat itu Nur kaget dan panik, gadis lugu itu menyangka wanita itu akan mencekik leher Ziana.

     "Ja-jangan! Toloong!" Nur berteriak histeris karena panik. Mendengar teriakan Nur, wanita itu kaget dan panik, tanpa membuang waktu wanita itu berlari keluar dari rumah Raisa.

     "Tolooong!" Nur semakin keras berteriak, sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena takut dan tak sanggup melihat apa yang terjadi, Nur tak menyadari kalau wanita tak dikenal tadi sudah pergi.

      Raisa yang baru saja hendak menyendokkan nasi ke piring Wilma terkejut mendengar teriakan Nur, wanita yang baru saja bergelar janda itu segera menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menuju ke ruang depan.

     "Ada apa sih Mbak, bukankah tadi saya bilang untuk bawa dia ke kamarmu Mbak?" cecar Raisa, sambil melirik ke arah Ziana yang sedang menggeliatkan tubuh mungilnya.

      "Dan kamu ini kenapa Mbak, ada apa dengan wajahmu?" tanya Raisa lagi dengan keras, dia heran melihat tingkah asistennya yang sejak tadi menutupi wajahnya.

      "It-itu, itu Buuu!" Nur menunjuk-nunjuk box bayi dengan telunjuk kanannya, dan matanya terpejam.

     Raisa semakin bingung dan heran melihat tingkah Nur, karena tak sabar dia mendekati Nur dan menarik tangan yang menutupi wajah Nur.

     "Kamu ini kenapa sih Mbak? Jangan bikin saya bingung!"

     "Ma-maafkan saya Bu, saya nggak tahu, tiba-tiba orang itu datang," ucap Nur dengan ketakutan, dia tak berani melihat ke arah box bayi di mana Ziana sedang tertidur pulas.

     "Orang? Siapa? Orang mana?" tanya Raisa bertubi-tubi, wanita cantik itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan tak menemukan orang lain selain dirinya dan Nur.

     "Jangan ngaco kamu Mbak, nggak ada siapa-siapa di sini!" sergah Raisa jengkel.

     "Segera bawa bayi ini ke kamarmu!" sambung Raisa lagi tegas, lalu beranjak pergi meninggalkan Nur yang masih berdiri di tempatnya tadi.

     Mendengar langkah majikannya pergi, Nur bingung dan panik.

    "Buuuu, ini bagaimana?" tanya Nur dengan ketakutan, sambil menunjuk ke arah box Ziana tapi pandangannya tertuju ke arah lain.

     Raisa menghentikan langkahnya, dahinya berkerut dan merasa kesal melihat sikap asistennya yang aneh.

     "Oek, oek!"

     "Nah kan, karena ulahmu dia nangis, mungkin karena haus, cepat bawa ke kamar dan bikinkan susu!" celetuk Raisa ketus karena merasa jengkel dan kesal.

     Nur tersentak ketika mendengar suara tangisan Ziana, sontak gadis itu menoleh ke arah box bayi itu, matanya mengerjap beberapa kali, dilihatnya Ziana menangis dan menggeliat, Nur mengucek-ucek kedua matanya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

     "Dia ma-masih hid-hidup Bu?" tanyanya dengan suara terbata.

      Pertanyaan Nur membuat Raisa heran, ditatapnya wajah asistennya itu dengan bingung.

     "Pertanyaanmu aneh Mbak?"

     "Tad-tadi saya lihat orang itu mencekik leher non Ziana," ucap Nur sedikit tenang, kemudian dia menceritakan tentang wanita tak dikenal yang datang tadi dan apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu.

     Mendengar cerita asistennya, Raisa terkejut dan timbul pikiran macam-macam dalam benaknya. Dia menduga kalau yang datang itu adalah Hesti, ibu kandung Ziana.

     Raisa beranjak berlari keluar rumahnya, dia mengitari halaman rumahnya yang tersambung ke garasi mobil. Raisa tak menjumpai siapa pun di sana, karena masih penasaran,  Raisa berjalan keluar pagar rumahnya, di luarpun dia tak menemukan orang yang mencurigakan.

     "Kenapa kamu ceroboh Mbak, dan kenapa kamu nggak memanggilku?" cecar Raisa setelah kembali masuk ke dalam rumahnya, nafasnya memburu karena perasaan panik dan marah bercampur aduk menjadi satu.

     "Sa-saya nggak tahu Bu, tiba-tiba orang itu sudah berada di dalam sini," sahut Nur dengan bibir gemetar karena ketakutan.

     Raisa mendengus kesal dengan jawaban asistennya, sudut matanya melirik ke arah Ziana yang kebetulan sedang membuka matanya. Dahi Raisa berkerut ketika matanya menangkap satu kilauan dibawah dagu Ziana.

      "Kalung?" gumam Raisa lirih.

       Nur mendekati majikannya, dan asisten lugu itu tersadar, wanita tak dikenal tadi bukan mencekik leher Ziana, tapi melingkarkan kalung kecil itu ke leher Ziana.

      "Jadi orang tadi nggak membunuh non Ziana Bu?" Nur bertanya pelan dengan perasaan lega setelah tahu kejadian yang sebenarnya.

      Raisa mengabaikan pertanyaan Nur, matanya tertuju ke arah liontin kecil berbentuk hati yang ada di kalung yang melingkar di leher Ziana.

      Dengan tangan gemetar Raisa memegang liontin tersebut, dengan jelas tertera huruf Z di liontin tersebut.

      "Cepat bawa dia masuk Mbak! Saya nggak mau kejadian yang sama terulang lagi, pastikan pintu rumah selalu terkunci!" titah Raisa tegas lalu beranjak menemui Wilma yang masih menunggu di meja makan.

     "Adik Zi kenapa Bu?" tanya Wilma dengan raut wajah khawatir karena mendengar teriakan pengasuhnya tadi.

      Raisa menatap tajam ke arah putrinya, gadis kecil itu sontak menundukkan kepalanya, dia tahu ibunya pasti tak suka dengan pertanyaannya.

     "Sudah berapa kali ibu bilang, dia bukan adikmu!" ucap Raisa dengan nada tinggi.

     "Tapi Bu?" Wilma mencoba membantah ucapan ibunya.

      "Wilma!" bentakan Raisa membungkam mulut gadis kecil itu, sontak air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, sendok yang dari tadi dipegangnya diletakkan di atas piringnya, dan bergegas lari ke kamarnya.

      "Wilma, habiskan dulu makannya!" seru Raisa berusaha mengontrol emosinya. Wilma terus berlari ke kamarnya, mengabaikan teriakan ibunya.

      "Wilma, maafkan ibu Nak!" ucap Raisa pelan sambil memeluk tubuh mungil putrinya.

      "Ibu jahat!" sahut Wilma keras sambil menutupi wajahnya dengan selimut, di bawah selimut lembut itu Wilma menyembunyikan tangisnya dari Raisa

     Raisa tersentak mendengar ucapan putrinya, selama hidupnya, baru kali ini Wilma berkata kasar terhadapnya.

     "Semua gara-gara bayi sialan itu, anakku yang dulu penurut dan lembut sekarang berani memberontak dan membantahku," gumam Raisa lirih.

      "Wilma, dengarkan ibu Nak!" bujuk Raisa sambil berusaha menarik selimut yang menutupi wajah putrinya.

     "Enggak! Pokoknya aku mau adik!" Wilma menyahut dari balik selimut di sela isak tangisnya yang lirih.

      "Dia bukan adikmu Nak!" ucap Raisa tegas.

      "Kalau bukan adikku kenapa dibawa ke rumah ini?" tanya Wilma masih belum juga membuka selimut yang menutupi wajahnya.

       Raisa bingung mendengar ucapan Wilma, dia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Gadis kecil seusia Wilma pasti belum paham dengan masalah yang menimpanya.

       Tok, tok, tok!

       "Bu Raisa, Bu....!" lamunan Raisa buyar mendengar suara Nur yang memanggilnya dengan panik.

       "Ada apa lagi sih Mbak, dari tadi bikin orang jantungan terus!" sahut Raisa dengan sedikit emosi.

       "Non Ziana...non Ziana hilang Bu!"

       "Si-si-siapa kamu?"

      "Sssttt...!"

      Seorang wanita tiba-tiba datang mendekati box bayi yang berada dalam jagaan Nur, wanita tak dikenal itu mengabaikan pertanyaan Nur yang masih belum hilang rasa kagetnya karena kehadiran wanita berambut ikal sebahu itu tanpa permisi.

      "Ma-maaf Mbak..."

      "Ssstttt!" wanita tak dikenal itu memotong kalimat Nur dengan telunjuk yang ditempel ke bibirnya, menyuruh Nur untuk diam.

      Seperti dihipnotis, Nur diam mengikuti arahan wanita bertubuh langsing itu, dengan hatinya yang panik Nur memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut tanpa berkedip.

      Wanita tak dikenal itu membungkukkan badannya, lalu diciumnya kedua pipi bayi Ziana dengan lembut, air mata yang membasahi kedua pipinya tak dihiraukannya.

      "Ma-maaf Mbak, sa-saya panggilkan bu Raisa ya?" Nur yang dari tadi diam terpaku karena panik dan bingung akhirnya bersuara.

      "Ssssttt, diam! Saya akan pergi sekarang!" wanita itu menyahut ucapan Nur dengan suara lirih, tanpa menoleh ke arah Nur, sementara tangannya memegang seutas kalung kecil lalu dengan cepat memakaikan kalung tersebut di leher Ziana.

     Melihat itu Nur kaget dan panik, gadis lugu itu menyangka wanita itu akan mencekik leher Ziana.

     "Ja-jangan! Toloong!" Nur berteriak histeris karena panik. Mendengar teriakan Nur, wanita itu kaget dan panik, tanpa membuang waktu wanita itu berlari keluar dari rumah Raisa.

     "Tolooong!" Nur semakin keras berteriak, sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena takut dan tak sanggup melihat apa yang terjadi, Nur tak menyadari kalau wanita tak dikenal tadi sudah pergi.

      Raisa yang baru saja hendak menyendokkan nasi ke piring Wilma terkejut mendengar teriakan Nur, wanita yang baru saja bergelar janda itu segera menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menuju ke ruang depan.

     "Ada apa sih Mbak, bukankah tadi saya bilang untuk bawa dia ke kamarmu Mbak?" cecar Raisa, sambil melirik ke arah Ziana yang sedang menggeliatkan tubuh mungilnya.

      "Dan kamu ini kenapa Mbak, ada apa dengan wajahmu?" tanya Raisa lagi dengan keras, dia heran melihat tingkah asistennya yang sejak tadi menutupi wajahnya.

      "It-itu, itu Buuu!" Nur menunjuk-nunjuk box bayi dengan telunjuk kanannya, dan matanya terpejam.

     Raisa semakin bingung dan heran melihat tingkah Nur, karena tak sabar dia mendekati Nur dan menarik tangan yang menutupi wajah Nur.

     "Kamu ini kenapa sih Mbak? Jangan bikin saya bingung!"

     "Ma-maafkan saya Bu, saya nggak tahu, tiba-tiba orang itu datang," ucap Nur dengan ketakutan, dia tak berani melihat ke arah box bayi di mana Ziana sedang tertidur pulas.

     "Orang? Siapa? Orang mana?" tanya Raisa bertubi-tubi, wanita cantik itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan tak menemukan orang lain selain dirinya dan Nur.

     "Jangan ngaco kamu Mbak, nggak ada siapa-siapa di sini!" sergah Raisa jengkel.

     "Segera bawa bayi ini ke kamarmu!" sambung Raisa lagi tegas, lalu beranjak pergi meninggalkan Nur yang masih berdiri di tempatnya tadi.

     Mendengar langkah majikannya pergi, Nur bingung dan panik.

    "Buuuu, ini bagaimana?" tanya Nur dengan ketakutan, sambil menunjuk ke arah box Ziana tapi pandangannya tertuju ke arah lain.

     Raisa menghentikan langkahnya, dahinya berkerut dan merasa kesal melihat sikap asistennya yang aneh.

     "Oek, oek!"

     "Nah kan, karena ulahmu dia nangis, mungkin karena haus, cepat bawa ke kamar dan bikinkan susu!" celetuk Raisa ketus karena merasa jengkel dan kesal.

     Nur tersentak ketika mendengar suara tangisan Ziana, sontak gadis itu menoleh ke arah box bayi itu, matanya mengerjap beberapa kali, dilihatnya Ziana menangis dan menggeliat, Nur mengucek-ucek kedua matanya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

     "Dia ma-masih hid-hidup Bu?" tanyanya dengan suara terbata.

      Pertanyaan Nur membuat Raisa heran, ditatapnya wajah asistennya itu dengan bingung.

     "Pertanyaanmu aneh Mbak?"

     "Tad-tadi saya lihat orang itu mencekik leher non Ziana," ucap Nur sedikit tenang, kemudian dia menceritakan tentang wanita tak dikenal yang datang tadi dan apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu.

     Mendengar cerita asistennya, Raisa terkejut dan timbul pikiran macam-macam dalam benaknya. Dia menduga kalau yang datang itu adalah Hesti, ibu kandung Ziana.

     Raisa beranjak berlari keluar rumahnya, dia mengitari halaman rumahnya yang tersambung ke garasi mobil. Raisa tak menjumpai siapa pun di sana, karena masih penasaran,  Raisa berjalan keluar pagar rumahnya, di luarpun dia tak menemukan orang yang mencurigakan.

     "Kenapa kamu ceroboh Mbak, dan kenapa kamu nggak memanggilku?" cecar Raisa setelah kembali masuk ke dalam rumahnya, nafasnya memburu karena perasaan panik dan marah bercampur aduk menjadi satu.

     "Sa-saya nggak tahu Bu, tiba-tiba orang itu sudah berada di dalam sini," sahut Nur dengan bibir gemetar karena ketakutan.

     Raisa mendengus kesal dengan jawaban asistennya, sudut matanya melirik ke arah Ziana yang kebetulan sedang membuka matanya. Dahi Raisa berkerut ketika matanya menangkap satu kilauan dibawah dagu Ziana.

      "Kalung?" gumam Raisa lirih.

       Nur mendekati majikannya, dan asisten lugu itu tersadar, wanita tak dikenal tadi bukan mencekik leher Ziana, tapi melingkarkan kalung kecil itu ke leher Ziana.

      "Jadi orang tadi nggak membunuh non Ziana Bu?" Nur bertanya pelan dengan perasaan lega setelah tahu kejadian yang sebenarnya.

      Raisa mengabaikan pertanyaan Nur, matanya tertuju ke arah liontin kecil berbentuk hati yang ada di kalung yang melingkar di leher Ziana.

      Dengan tangan gemetar Raisa memegang liontin tersebut, dengan jelas tertera huruf Z di liontin tersebut.

      "Cepat bawa dia masuk Mbak! Saya nggak mau kejadian yang sama terulang lagi, pastikan pintu rumah selalu terkunci!" titah Raisa tegas lalu beranjak menemui Wilma yang masih menunggu di meja makan.

     "Adik Zi kenapa Bu?" tanya Wilma dengan raut wajah khawatir karena mendengar teriakan pengasuhnya tadi.

      Raisa menatap tajam ke arah putrinya, gadis kecil itu sontak menundukkan kepalanya, dia tahu ibunya pasti tak suka dengan pertanyaannya.

     "Sudah berapa kali ibu bilang, dia bukan adikmu!" ucap Raisa dengan nada tinggi.

     "Tapi Bu?" Wilma mencoba membantah ucapan ibunya.

      "Wilma!" bentakan Raisa membungkam mulut gadis kecil itu, sontak air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, sendok yang dari tadi dipegangnya diletakkan di atas piringnya, dan bergegas lari ke kamarnya.

      "Wilma, habiskan dulu makannya!" seru Raisa berusaha mengontrol emosinya. Wilma terus berlari ke kamarnya, mengabaikan teriakan ibunya.

      "Wilma, maafkan ibu Nak!" ucap Raisa pelan sambil memeluk tubuh mungil putrinya.

      "Ibu jahat!" sahut Wilma keras sambil menutupi wajahnya dengan selimut, di bawah selimut lembut itu Wilma menyembunyikan tangisnya dari Raisa

     Raisa tersentak mendengar ucapan putrinya, selama hidupnya, baru kali ini Wilma berkata kasar terhadapnya.

     "Semua gara-gara bayi sialan itu, anakku yang dulu penurut dan lembut sekarang berani memberontak dan membantahku," gumam Raisa lirih.

      "Wilma, dengarkan ibu Nak!" bujuk Raisa sambil berusaha menarik selimut yang menutupi wajah putrinya.

     "Enggak! Pokoknya aku mau adik!" Wilma menyahut dari balik selimut di sela isak tangisnya yang lirih.

      "Dia bukan adikmu Nak!" ucap Raisa tegas.

      "Kalau bukan adikku kenapa dibawa ke rumah ini?" tanya Wilma masih belum juga membuka selimut yang menutupi wajahnya.

       Raisa bingung mendengar ucapan Wilma, dia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Gadis kecil seusia Wilma pasti belum paham dengan masalah yang menimpanya.

       Tok, tok, tok!

       "Bu Raisa, Bu....!" lamunan Raisa buyar mendengar suara Nur yang memanggilnya dengan panik.

       "Ada apa lagi sih Mbak, dari tadi bikin orang jantungan terus!" sahut Raisa dengan sedikit emosi.

       "Non Ziana...non Ziana hilang Bu!"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Andai Aku Boleh Memilih
7.9
Kenanga Wulan, mahasiswi berprestasi, terus menderita akibat tekanan ibu tirinya, Mirna, hingga akhirnya diusir dari rumah. Demi memisahkan Bastian dari bayang-bayang mantan istrinya, Mirna sengaja menyembunyikan kekayaan kiriman ibu kandung Kenanga. Sementara itu, Firda mendesak putranya, Ghaffarel, untuk menikahi Kenanga demi menyelamatkannya dari hubungan tak wajar dengan Raiya. Meski Kenanga mencintai Arkatama, ia terjebak dalam skema pernikahan yang penuh rahasia dan pengkhianatan.
Sampul Novel Brondong Bucin
8.3
Kehilangan suami membuat dunia Aira hancur. Sebagai ibu tunggal, ia sempat tenggelam dalam kesedihan hingga mengabaikan ketiga anaknya. Sadar harus bertahan hidup, Aira berjuang bangkit demi masa depan buah hatinya. Di tengah badai kehidupan tersebut, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda yang mencintainya dengan sangat ugal-ugalan. Namun, sanggupkah hubungan mereka bertahan ketika rintangan baru kembali datang menguji keteguhan hati Aira?
Sampul Novel Cinta Palsu Namun Penuh Gairah
9.7
Saat kuliah, pesona Ryan sebagai mantan idola SMA meredup akibat jerawat parah. Perubahan fisik dan sikap posesifnya membuat Lala, sang kekasih, pergi meninggalkannya. Di tengah keputusasaan pasca-putus, Ryan bertemu Ify, seorang gadis polos yang belum pernah mengenal cinta. Tanpa ada rasa sayang sedikit pun, Ryan memanfaatkan Ify sebagai pelarian untuk melupakan Lala, menyeret gadis tanpa pengalaman itu ke dalam hubungan romansa yang lebih berani.
Sampul Novel Cintaku Berakhir di Malam Pertamaku
9.4
Saat bulan madu, seorang suami bersikeras meminta manajer hotel mengganti seprai kamar mereka di tengah malam. Ternyata, manajer itu adalah mantan kekasihnya. Wanita tersebut histeris karena merasa sengaja dipermalukan, lalu menyiramkan air panas dari teko ke tubuh sang istri sebelum melarikan diri. Alih-alih menolong istrinya yang terluka akibat siraman tersebut, sang suami justru mengabaikannya dan langsung pergi mengejar mantan pacarnya yang diklaim takut akan kegelapan.
Sampul Novel DIKIRA MISKIN
8.0
Yudi dan Antika selalu direndahkan oleh kakak ipar mereka yang mengira kehidupan mereka serbaterbatas. Padahal, selama tinggal di kota, pasutri ini telah sukses besar dan mapan. Saat kebenaran tentang kemakmuran mereka akhirnya terbongkar, sikap keluarga yang semula meremehkan langsung berbalik manis demi mencari keuntungan. Akankah Yudi dan Antika sudi menerima kembali keluarga yang mendadak mendekat setelah sekian lama menghina mereka?
Sampul Novel Dinikahi Calon Kakak Ipar
9.0
Hari pernikahan Elvira berubah menjadi duka saat calon suaminya tewas dalam kecelakaan. Ia pun terpaksa menikahi kakak mendiang kekasihnya yang berwatak kaku, Arsen. Di tengah peliknya pernikahan baru mereka, Elvira menyadari bahwa Arsen adalah alasan sesungguhnya ia jatuh cinta dahulu. Kini, ia bertekad mengajari suaminya cara mencintai. Kisah ini juga mengiringi romansa beda kasta antara sang asisten, Tio, dan sekretaris bernama Mona. Akankah cinta mereka berakhir bahagia?