APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lovers

Lovers

Pertemuan tak sengaja di kelab malam saat malam tahun baru memicu ketertarikan Ryan Bagaskara pada Kanaya Putri Soemardi, meski pakaiannya sempat terkotori oleh gadis itu. Namun, jalan cinta mereka sangat terjal. Ayah Kanaya telah merencanakan perjodohan putrinya dengan Gilang Witjaksono, seorang putra pejabat yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Ryan. Kini, Ryan harus menghadapi dilema rumit dan berjuang keras demi mendapatkan restu serta memenangkan hati Kanaya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bukan perihal yang sulit di zaman yang serba teknologi ini untuk mencari seseorang. Hanya dengan mengetik namanya dalam pencarian di media sosial. Maka akan muncul banyak rekomendasi akun-akun yang menampilkan nama seseorang yang berkaitan. Begitulah Ryan menemukan akun media sosial Kanaya.

Ia tidak pernah mengira bahwa pertemuannya dengan perempuan itu membuat Ryan terus memikirkannya. Ryan memang memiliki nomor ponsel Kanaya, tapi dia masih belum menghubunginya. Ryan merasa bimbang, haruskah ia menjadikan biaya laundy itu sebagai alasan untuk memulai percakapan?

Lalu, setelah itu bagaimana? Apa yang harus Ryan tanyakan setelahnya?

Ryan yang tengah duduk di teras Villa mengacak rambutnya. Ia mematikan rokoknya yang hampir habis dan membuangnya ke asbak. Untuk saat ini, setidaknya melalui unggahan media sosial Kanaya, Ryan telah mengetahui bahwa Kanaya tinggal di Jakarta dan merupakan pemilik sebuah kedai kopi.

***

(Dua Minggu Kemudian)

Suasana Hour Coffee siang itu terlihat cukup lengang. Hanya ada satu pelanggan yang duduk di dalam dan fokus dengan laptopnya. Sedangkan di luar ada dua mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas. Hour Coffee baru dibuka tiga bulan yang lalu tak lama setelah Kanaya mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya. Di Cafe tersebut Kanaya bekerja dibantu dengan satu barista dan satu pegawai yang bertugas memasak di dapur. Urusan mengantarkan pesanan, jika sedang tidak sibuk Kanaya turun langsung mengantarnya. Begitu pun urusan kasir, jika dua pegawainya tengah sibuk maka Kanaya yang mengambil alih.

Sejak dibukanya Hour Coffee, belum ada kemajuan yang signifikan. Kanaya benar-benar masih hijau dalam dunia bisnis seperti ini. Ia merintisnya hanya berbekal ilmu yang dipelajarinya sendiri serta dari teman-temannya yang memiliki bisnis serupa, selebihnya Kanaya melakukan riset sendiri dengan mendatangi tempat Coffee Shop yang lain.

Ukuran Hour Coffee tidak begitu besar juga tidak begitu sempit. Di ruangan indoor, terdapat tiga meja bundar serta dua kursi bar. Sedangkan di halaman belakang/outdoor, terdapat empat meja yang cukup besar.

Kanaya benar-benar masih merintis. Untuk membuat bisnis ini, ia bahkan menggunakan seluruh uang tabungan yang ia kumpulkan selama kuliah dan bekerja di perusahaan swasta selama satu tahun.

"Selamat datang di Hour Coffee." Kanaya dengan sigap berdiri di balik kasir, menyapa satu pelanggan baru yang masuk. Ketika melihatnya semakin dekat, tatapan Kanaya terpaku seakan dunianya berhenti berputar. Lelaki tampan itu mengenakan kaos putih polos dan celana hitam kain. Tangan kirinya menenteng jaket sementara bahu kanannya membawa tas.

Lagi-lagi Kanaya hampir tenggelam dalam pesonanya. Mata Kanaya mengerjap saat lelaki itu kini sudah di hadapannya.

"Ryan?"

"Kanaya?"

Kanaya terkekeh. Bagaimana bisa ia melupakan sosok Ryan, lelaki yang pernah ia muntahi bajunya. Ingatan memalukan itu tentu tak bisa Kanaya lupakan dengan mudah. Tetapi, yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Ryan masih mengingat dirinya? Oh tentu saja, Nay. Siapapun pasti akan mengingat kamu sebagai perempuan ceroboh yang memuntahi kaosnya.

Kanaya tidak bisa menahan senyumnya. Begitu juga dengan Ryan yang tengah menatapnya.

"Mau pesan apa?" Tanya Kanaya berusaha untuk kembali profesional.

Ryan mengalihkan tatapannya pada menu. Ia terlihat berpikir. "Mm ... hot cappuccino satu sama mac and cheese. Itu aja."

"Oke. Hot cappucino satu dan mac and cheese." Kanaya mengulangi. "Duduk di mana?"

Ryan menengok untuk melihat ruang di Cafe tersebut. Melihat ruangan outdoor yang tidak begitu panas, akhirnya ia memilih untuk duduk di luar. Di bawah rindangnya pohon tabebuya.

***

"Gue kira lo tinggal di Bali." Kanaya kini duduk di hadapan Ryan yang tengah menikmati cappuccino-nya.

Ryan tersenyum. Meletakkan cangkir kopi, tangan kirinya mengapit rokok di antara sela-sela jari telunjuk dan jadi tengahnya.

"Gue nomaden."

"Nomaden?"

"Iya. Kadang di Bali, kadang di Jakarta, kadang juga di Surabaya. Tergantung kerjaan aja."

Kanaya mengangguk-angguk. Nampaknya seru juga bekerja seperti Ryan, ia bisa sekalian berjalan-jalan. Tidak seperti dirinya yang hanya stuck di satu tempat.

"Tapi lo aslinya orang mana?"

"Jakarta. Gue lahir dan besar di sini."

Kanaya kembali mengangguk-angguk. Ia kemudian terjingkut karena baru mengingat sesuatu. "Oh iya! Uang laundry-nya. Jadi berapa?"

"Udah nggak usah ... santai aja ...."

"Aduhh jangan gitu dong ... gue masih nggak enak."

"Nggak apa-apa tenang aja ...."

"Yaudah, sebagai gantinya lo nggak perlu bayar ini semua."

Ryan tersenyum menyeringai, ternyata Kanaya cukup keras kepala. Akhirnya ia mengangguk mengalah.

"Lo udah berapa lama buka Cafe ini?" Ryan bertanya seraya membuang abu rokok ke asbak.

"Belum lama ... baru tiga bulan. Eh, tapi kok lo tau kalo gue ownernya?"

Ryan langsung terdiam. Dalam hati ia merutuki dirinya yang keceplosan. Ya bagaimana lagi, Ryan mengetahuinya karena ia melihat-lihat media sosial Kanaya. Tapi masa iya dia mengatakannya? Tapi, kalau tidak jujur, Ryan harus mencari alasan dari mana?

Akhirnya, dengan berusaha menutupi rasa malunya, Ryan memilih untuk jujur. "Gue liat di instagram lo."

"Ooh ...." Kanaya mengangguk santai.

"Bagus tempatnya, cozy juga buat kerja, nugas atau sekedar santai. Apalagi ada pohon tabebuya. Bagus nih kalo gugur mirip bunga sakura." Ryan buru-buru mengalihkan topik pembicaraan untuk mengakhiri kecanggungan.

Kanaya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia setuju dengan pendapat Ryan, bahkan saat menatanya Kanaya dengan sepenuh hati memilih dan mempertimbangkan design Cafe-nya.

"Iya ... tapi masih sepi. Mungkin karena masih baru kali ya?"

"Iya Nay ... berproses ...."

Kanaya tersenyum. Itu pertama kalinya Ryan menggunakan panggilan 'Nay' untuknya.

"Mau gue kasih tips, nggak? Biar Cafe ini ramai?"

Sontak Kanaya mengangguk dengan tatapan antusias. "Mau! Mau banget!"

Ryan tersenyum. Ia melirik jam tangannya. "Besok ya? Sebentar lagi gue harus pergi, ada meeting soalnya."

Senyum Kanaya melebar. "Oke."

***

Memikirkan perkataan Ryan yang pernah melihat instagramnya, akhirnya Kanaya terpikir untuk mencari instagram Ryan. Ia juga jadi penasaran mengenai lelaki itu.

Namanya adalah Ryan Bagaskara. Tidak banyak yang dapat dilihat pada media sosial Ryan. Namun, unggahan foto dirinya selalu dipenuhi banyak komentar, terutama dari para perempuan. Komentarnya pun beragam, ada yang menggoda, meminta untuk di-follow back, dan lain sebagainya. Dari foto profilnya, mereka adalah perempuan yang cantik-cantik. Hanya saja, tidak ada satu pun yang komentarnya dibalas oleh Ryan.

Kanaya menghela napas. Lelaki setampan Ryan tentu saja banyak yang suka. Mustahil juga jika Ryan tak tertarik pada satu pun wanita yang memenuhi kolom komentarnya. Apalagi nampaknya Ryan itu akrab dengan dunia malam, tentu seleranya adalah perempuan-perempuan cantik yang bahkan membuat Kanaya saja tak berani membandingkan diri dengan mereka.

Aduhh Kanaya! Lo mikirin apa sih!

Kanaya menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengembalikan fokusnya. Ia pun memilih untuk menutup ponselnya, tapi justru, dirinya tak sengaja menekan tombol mengikuti media sosial milik Ryan. Saat itu juga tubuh Kanaya langsung membeku.

Kanaya bodoh!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta yang Hilang di Tengah Fitnah
8.7
Batal menikah secara sepihak, Aleyna Seraphina malah dijebak adik sepupunya hingga terjebak satu malam bersama lelaki asing. Demi menghindari fitnah keji yang merusak nama baiknya, ia pun nekat pergi jauh. Empat tahun kemudian, Aleyna kembali dan bekerja untuk Rowan Sinclair, seorang miliarder misterius berlatar belakang kelam. Siapa sangka, atasan barunya itu ternyata adalah sosok pria yang pernah menghabiskan malam skandal bersamanya dahulu.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Desain Cinta Kedua
9.4
Tiga tahun membina rumah tangga, Jessica hanya mendapatkan kepedihan dari Aaron. Usai perceraian mereka, ia memilih mandiri dan sukses membangun karier sebagai desainer terkemuka serta pengusaha tanpa sokongan kekayaan keluarganya. Namun, di tengah keberhasilan dan kemandirian yang kini ia nikmati, Aaron mendadak muncul kembali. Sang mantan suami didera penyesalan mendalam dan memohon dimaafkan. Akankah Jessica luluh atau memilih menutup rapat pintu hatinya?
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah seorang arsitek hancur setelah kecelakaan merenggut ingatan suaminya, taipan Adrian Wijaya. Di bawah kendali Helena yang licik, Adrian berubah kejam: membunuh adik sang istri, melumpuhkannya, hingga merebut pita suaranya untuk Helena. Pengkhianatan ini menyulut dendam membara. Setelah memalsukan kematian, sang istri siap bangkit menghancurkan kerajaan Adrian dan membalas semua kekejamannya.
Sampul Novel Is This Love?
8.7
Farrel Aditama Effendi, pria kaya berjiwa bebas, sangat berbeda dari Fachmi, saudara kembarnya yang kaku. Didorong obsesi untuk memiliki sang kakak, Farrel berniat merusak rencana pertunangan Fachmi dengan seorang wanita lembut. Namun, taktik sabotase lewat penyamaran sebagai kembarannya justru menjadi bumerang. Farrel malah jatuh hati pada calon tunangan kakaknya itu. Kini, ia didera kecemasan besar jika kedoknya terungkap.
Sampul Novel KECELAKAAN SEMPURNA
8.9
Demi membiayai pengobatan kanker sang ibu, Qarletta Averly yang berumur 21 tahun melamar sebagai fotografer di Heston Corporation. Namun, harapan Arlett pupus setelah berurusan dengan sang CEO, Carl Heston. Sebuah kecelakaan fatal justru menyeretnya ke dalam skandal besar yang telah direncanakan oleh Carl. Kini, Arlett terjebak dalam pusaran masalah rumit bersama pria berkuasa tersebut, yang membuat seluruh kehidupannya berubah total.