APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love In Bandung

Love In Bandung

Di balik romansa Bandung, Lisa memendam rasa pada Reyhan, sahabatnya. Namun, kehadiran Louis dari Singapura mengubah segalanya dan berhasil memikat hati Lisa. Ketika hubungan Lisa dan Louis terjalin, Reyhan baru menyadari perasaannya sendiri. Sayang, sebuah rintangan pahit menghadang cinta Lisa dan Louis. Meski Reyhan berusaha mendekat, sosok Louis tetap tak tergantikan. Akankah Lisa bersatu dengan salah satu dari mereka, atau justru kehilangan keduanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Lisa duduk bersandar di kursi dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya lurus, menatap layar komputer di depannya yang sudah dia matikan sebelumnya. Pandangannya mulai beralih ke layar ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Wajahnya berkerut dan matanya menyipit, terus memandangi layar ponsel itu. Entah apa yang sedang dia tunggu.

Dia mulai mengetuk-ngetukan jari mungilnya di atas meja kerjanya. Merasa mulai bosan menunggu ponsel kesayangannya itu yang tidak kunjung bergetar. Dia tidak habis pikir, kenapa benda berbentuk pipih itu tidak berdering, tidak bergetar, tidak menyala, tidak melakukan hal yang sesuai dengan harapannya.

Dia menaruh ponselnya dengan sembarangan. Tidak lagi berharap ponsel itu untuk menyala, bergetar, ataupun berdering. Baru kali ini dia merasa ponselnya tidak berguna. Entah ponselnya yang tidak berguna atau ponsel orang yang sedang dinantinya.

"Untuk apa memiliki ponsel kalau tidak bisa digunakan? Apa mungkin ponselmu sudah dijual?"

Lisa bermonolog sembari merutuki seseorang yang menjadi alasan, kenapa dia sampai merasa kesal seperti ini.

Dia mulai merasa bosan. Dia memutar kursi kerjanya menghadap jendela yang cukup besar dan menampakkan pemandangan indahnya kota Bandung saat di malam hari. Memerhatikan mobil- mobil yang berseliweran di jalan raya kota Bandung dengan tatapan menerawang.

Dia perhatikan, selama beberap tahun terakhir jalanan kota Bandung semakin ramai. Tidak sedikit kemacetan yang terjadi di kota ini, meskipun pada malam hari. Pemandangan indah jalan raya selalu membuat hatinya bahagia.

Langit sudah gelap. Dia melirik ke salah satu benda kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam delapan lewat. Dia mendesah dan mendengus kesal. Dengan sekali hentakan, dia memutar kembali kursinya menghadap meja kerja.

"Apa kamu tidak punya pulsa atau paket data? Kenapa sampai saat ini tidak menghubungiku juga?" desis Lisa sembari mengetuk-ngetuk ponselnya dengan kukunya yang bening.

"Kamu berdebat dengan ponsel?" tanya seseorang dari arah belakang.

Lisa mengangkat wajah dan menoleh, menatap ke sumber suara yang baru saja didengarnya.

Orang itu tidak lain adalah Rena. Dia baru saja masuk ke ruangan dan tersenyum ketika melihat rekan kerjanya yang sedang berbicara dengan sebuah ponsel.

"Kenapa Kak Ren masih ada di sini? Belum selesai pekerjaannya?" tanya Lisa ringan tanpa beban, sambil mencondongkan tubuh ke depan, menumpukkan kedua siku di meja dan bertopang dagu. Tentu saja hal itu membuat pipi chuby-nya terlihat seperti akan tumpah.

Rena menggelengkan kepala, "pekerjaanku sudah selesai. Hanya saja aku melupakan sesuatu di meja kerja, dengan terpaksa aku kembali ke sini untuk mengambilnya."

Lisa mengangguk dengan mantap. Sepertinya dia mengangguk karena benar- benar paham, bukan asal mengangguk tanpa alasan.

Rena berjalan ke meja kerjanya yang berada tepat di samping meja kerja Lisa. "Bukankah kamu sudah menyelesaikan pekerjaan sejak dua jam yang lalu?" tanya Rena sembari menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Lisa mendengus kesal. "Memang," jawabnya lemas dengan suara yang hampir saja tidak terdengar. Dia lemah karena suatu hal atau dia lemah karena lapar. Entahlah, hanya dia yang tahu tentang dirinya sendiri.

"Lalu ... kenapa kamu masih ada di sini?" sambung Rena kembali, setelah sebelumnya mendapat jawaban dari Lisa.

Bukannya menjawab pertanyaan Rena, Lisa malah menunduk dan menyandarkan keningnya di atas meja, dengan kedua tangannya yang dia gunakan sebagai tumpuan. Kemudian dia mendengus keras.

Lisa dan Rena merupakan karyawan di salah satu perusahaan terbesar di kota Bandung. Perusahaan itu bergerak di bidang produksi. Rena lebih dulu bekerja di perusahaan itu dibanding Lisa, bisa dikatakan Rena adalah seniornya.

Mereka berdua sedang menangani sebuah produksi yang sama. Pembuatan produk mie instan dengan versi baru yang belum pernah ada sebelumnya, menjadi produksi besar yang pertama kali Lisa tangani.

Berbeda dengan Rena. Sebelumnya dia sudah pernah menangani beberapa produksi dari berbagai jenis makanan yang sangat laku di pasaran, sebelum Lisa masuk dan menjadi karyawan baru di perusahaan itu. Bahkan sampai sekarang dia sudah menjadi karyawan tetap.

Perlu digaris bawahi, Lisa dan Rena bekerja di bagian kantor. Sehingga mereka yang merancang dan mengatur, supaya produk yang dikeluarkan oleh perusahaan mereka bisa menembus pasar nasional bahkan pasar internasional.

"Lis, kenapa kamu lesu begitu? Tidak biasanya kamu bersikap seolah tidak ada semangat hidup," ucap Rena sambil menepuk pelan bahu Lisa, kemudian dengan pelan mengelusnya. Dia sudah menganggap Lisa sebagai teman sekaligus adiknya sendiri.

"Kamu lupa hari ini adalah hari jumat? Biasanya kamu merasa senang dan bersemangat di hari jumat," sambung Rena kembali, sembari menarik tangannya dari pundak Lisa.

Lisa mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Rena dan menampakkan senyumnya yang terlihat sedikit terpaksa.

Hari jumat memang hari yang paling disukainya karena hari jumat adalah hari terakhir yang akan mengeluarkannya dari dunia pekerjaan.

Dalam kata lain, hari jumat sebagai tanda jika akhir pekan telah menantinya. Dia bisa melakukan semua hal yang dia inginkan di akhir pekan. Namun, hari ini menjadi pengecualian. Dia tidak merasa senang atau bersemangat ketika akhir pekan sudah berada tepat di depan mata.

"Hmm... sepertinya aku mengerti," ucap Rena tiba-tiba sembari menampakkan senyumnya. "Rupanya ... kamu belum mendapat kabar dari dia." Tebakkannya tepat mengenai sasaran.

Lisa menggigit bibir dengan tipis dan mengangguk lemah. Dia kembali melirik layar ponselnya yang masih setia dalam mode gelap dan dalam mode diam. Saking lelah dan bosan menanti sesuatu yang tidak pasti, akhirnya dia membulatkan tekad untuk tidak berharap lagi kabar dari orang itu. Dia mendengus dan meraih ponselnya dengan kasar.

"Sudah. Lupakan saja dia!" ucapnya dengan tegas. Ucapan itu dia tujukan kepada dirinya sendiri.

Dengan sikap acuh tak acuh, dia memasukan ponselnya ke dalam tas selempang, kemudian dengan satu kali gerakan dia berdiri dari kursi kerjanya.

"Kak Rena, ayo kita pulang saja sekarang. Percuma juga terus berada di sini," ajaknya kepada Rena yang masih memasukkan barang-barang yang sempat tertinggal, ke dalam tasnya.

"Duduk melamun dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, sama sekali tidak ada gunanya," sambungnya kembali dengan raut wajah yang mulai tampak kesal.

Rena menatap Lisa dengan bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang di maksud teman kerjanya itu. "Yang mengharapkan sesuatu tidak pasti itu siapa?" tanya Rena sambil mengerutkan keningnya.

"Tidak ada," jawab Lisa dengan asal. Tentu saja hanya Lisa sendiri yang mengharapkan sesuatu tidak pasti itu. Sementara Rena, dia tidak berharap apa pun.

Rena masih berada di ruangan itu hanya karena ada barangnya yang masih tertinggal, bukan karena berharap akan sesuatu.

***

Sepuluh menit kemudian, Lisa dan Rena sudah berada dalam lift kaca yang membawa mereka turun ke lantai dasar. Lisa berdiri membelakangi pintu lift dan menikmati pemandangan malam kota Bandung yang terbentang di depan mata.

Di saat matanya tengah asik menikmati keindahan malam di kota kembang itu, entah kenapa pikirannya tiba-tiba membawanya kembali mengingat kejadian di masa lalu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Masa muda seorang gadis seketika runtuh saat ulang tahun ke-18. Ia dipaksa menikah dengan David, pria dewasa yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Alih-alih mesra, kehidupan baru mereka justru dipenuhi pertengkaran konyol, mulai dari urusan kartu kredit hingga uang tunai untuk membeli camilan. Di tengah keraguan atas masa depannya, Dinar hadir dan secara terbuka menunggu status jandanya. Akankah pernikahan ini membawa kebahagiaan atau justru berujung nestapa?
Sampul Novel Manis di Bibir, Pahit di Takdir
9.4
Devan Atmadja berulang kali mengkhianati Viona dengan dalih kesetiaan pada mendiang sahabatnya. Mulai dari pernikahan rahasia dengan Keira Maheswari, menjadikannya nyonya besar demi aliansi mafia, hingga kehamilan yang diklaim sebagai kecelakaan. Setelah berkali-kali mengalah dan memaafkan janji manis Devan, Viona akhirnya tersadar bahwa hubungan mereka tidak memiliki masa depan. Di tengah jaringan intrik dan dusta ini, Viona memilih untuk melepaskan diri dan pergi selamanya.
Sampul Novel Obsesi sang Billionaire
8.4
Demi mendapatkan keturunan yang tak kunjung hadir dari sang istri, Evander Alywar Miller, seorang CEO sekaligus mafia kejam, mengincar Rossie Casaundra. Rossie, yang bekerja sebagai pengurus kuda di perkebunannya, dijebak lewat rencana licik yang membuat ayahnya yang sakit mendekam di penjara. Terdesak demi menyelamatkan sang ayah, Rossie terpaksa menyetujui kontrak pernikahan tanpa rasa cinta ini. Akankah kebencian mendalam di antara mereka bisa berubah menjadi cinta?
Sampul Novel Pengkhianatannya Membangkitkan Kekuatan Sejatinya
8.9
Lima tahun aku berkorban di balik nama 'Aura' untuk kesuksesan Revan. Namun, aku justru memergokinya bermesraan dengan sang asisten, Kyra. Bukannya menyesal, Revan malah menyalahkanku atas kesalahan Kyra dan mengusirku di depan para eksekutif. Dia lupa siapa sosok di balik kariernya. Di tengah kehancuranku, CTO kami datang dan mengungkap identitasku yang sebenarnya sebagai pemilik asli perusahaan di hadapan Revan yang syok.
Sampul Novel Perfect Bastard
8.0
Kehidupan Abelian mendadak kacau setelah seorang lelaki tak dikenal merampas ciuman pertamanya di depan umum. Pria asing yang lancang itu bahkan tanpa ragu mengumumkan bahwa Abelian adalah calon istrinya. Kejadian memalukan tersebut membuat Abelian sangat murka. Kini, ia harus menghadapi situasi rumit saat sosok misterius itu terus hadir dan mengacaukan kesehariannya. Bagaimanakah cara Abelian mengatasi segala gangguan dari pria menyebalkan ini?
Sampul Novel Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku
9.8
Kehidupan Hanum dan Hardi berubah drastis setelah Hardi kehilangan pekerjaan. Meski harus bertahan hidup sebagai kuli cangkul dan buruh cuci, pasangan ini tetap bersyukur dan harmonis membesarkan kedua anak mereka selama tujuh tahun pernikahan. Namun, ketenteraman keluarga kecil ini seketika runtuh saat sebuah musibah besar melanda. Kini, Hanum terpaksa berjuang sendirian menghadapi penderitaan yang luar biasa demi menyelamatkan dan melindungi buah hati tercintanya.