APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Liang Hangat Sang Penari

Liang Hangat Sang Penari

Kehidupan Lisnawati, janda muda berumur 16 tahun, hancur setelah suaminya, Komar, tewas dibegal. Demi bertahan hidup, biduan dangdut keliling yang berparas menawan ini direkrut Tante Shinta ke dunia malam. Lisna pun menjadi primadona dan memikat Budi Hendrajit, pengusaha kaya raya. Hubungan benci tapi cinta pun terjalin di antara mereka. Meski Budi sangat terobsesi untuk menikahi Lisna, rencana tersebut terhalang oleh restu ibunya yang menolak keras latar belakang sang biduan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Lisna hanya menatap hambar kotak makan siang di atas meja makan. Seperti kemarin, ia lebih memilih menyantap cake dan es krim.

Lisna masih tidak berselera makan, sejak kejadian dua hari yang lalu. Ia bahkan masih belum lupa rasanya. Aroma amis serasa memenuhi kepala, saat cairan hangat dan kental memenuhi rongga mulutnya.

Sekarang Lisna tidak berselera menyantap pisang.

Budi malam itu benar-benar kasar dan berengsek, melenceng jauh dari imajinasi mengenai suami takut istri yang akan kelewat memuja setiap inci bukit ranumnya dan kulit mulusnya. Padahal Lisna sudah membayangkan, Budi akan tunduk seperti kerbau saat ia menggoda pria itu. Tapi sikap Budi sungguh berkebalikan dari perkiraannya.

Kedua mata Budi menatapnya dengan demikian rendah, nyaris tidak ada pemujaan di sana. Padahal, ia sempat melihat Budi terkagum-kagum melihat aksinya di tiang. Saat itu ia sudah sembilan puluh persen yakin, Budi akan jatuh sepenuhnya.

Nyatanya, malam itu Budi hanya memperlakukannya seperti sampah.

Lisna sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Janji Tante Shinta padanya bagai angin, hilang tak berbekas.

Lisna ingin segera berhenti dari pekerjaannya.

Tante Shinta menjanjikan akan mencarikan pria kaya yang akan menjadikannya istri simpanan.

Bahkan Tante Shinta membodoh-bodohinya. Masih mencari celah kesalahannya, seharusnya ia membangun rencana yang lebih matang untuk Budi.

Budi ternyata lebih sulit daripada dugaannya.

Jadi sebenarnya pria seperti apa Budi itu? Awalnya begitu jinak-jinak merpati, tetapi kemarin Budi benar-benar memperlakukannya seperti pelacur murahan. Apa memang Budi seliar itu?

Lisna merenungi sikap Budi, berusaha mempelajari pria itu ketika Tante Shinta muncul.

"Lisna, lo ikut saya siang ini. Tante sudah bikin janji ketemu sama Budi," ucapan Tante Shinta barusan membuat kedua mata Lisna membelalak lebar. "Negosiasi terakhir," sambung Tante Shinta yang membuat Lisna tertegun.

"Kandidat diganti? Kalau kali ini saya gagal, Bian pake cewek lain Tan, tapi tolong, saya mau usaha lagi?"

"Ya bisa aja. Saya ngasih kesempatan kamu. Tapi kalau Budi nya ga mau, saya mau bilang apa."

Tante Shinta menarik kursi dan duduk di hadapannya.

"Bisa tetep saya aja yang handle Budi?"

"Kenapa?" Dahi Tante Shinta berkerut dan Lisna kehilangan kata-kata.

"Kenapa?" Tante Shinta mengulangi pertanyaannya.

"Saya mau buktikan kalau omongan dia salah. Saya mau buat dia jatuh cinta."

"Kamu nggak mampu," tukas Tante Shinta cepat.

"Saya nggak tahu gimana maunya Budi ini. Tapi daripada buang-buang waktu, mending kamu ambil yang lain. Masih banyak yang mau sama kamu. Kamu ga takut dengan sikapnya Budi yang kasar...?"

"Saya bisa taklukan Budi.."

"Lisna, kamu udah gagal. Kesempatan kamu tinggal nanti. Kemungkinan juga gagal. It's oke. Terima aja udah. Mendingan cari pria kaya lain dan lupain Budi."

"Saya belum gagal."

"Kamu gagal. Seharusnya setelah kamu udah tidur sama Budi, Budi akan menwarkan kontrak.Seharusnya kamu udah bisa pengaruhin dia buat tanda tangan kontrak. Harusnya dengan bantuan saya malam itu,kamu udah bisa dapetin Budi. Tapi nyatanya, kamu gagal."

"Siapa pun cewek yang dipilih Tante bakal bernasib sama kayak saya . Budi itu sulit."

"Ya udah. Manfaatin kesempatan kamu yang tinggal nanti siang. Kalo kamu gagal, Budi aku lepas ke cewek lain. Kamu nanti saya kasih yang lain."

Lisna hanya bisa menatap meja dengan sedih.

"Lisna, kamu kenapa?" Tante Shinta menatap tajam kedua matanya, seolah menyadari sesuatu yang tengah ia sembunyikan.

"Nggak pa-pa Cuma, saya juga lagi usaha."

"Lisna, yang penting duit. Kalo Budi nggak bisa bawain kita duit, ya udah kita lepas aja. Nggak usah sabar-sabar. Masih ada pria kaya lainnya. Jangan bilang kamu punya misi pribadi."

"Misi pribadi apaan!"

"Kamu kesannya kayak berat banget ngelepas Budi. Inget, dia itu cuma pria yang mencari kepuasan,jangan kebawa perasaan!"

" Saya nggak kebawa perasaan!"

"Inget siapa kamu! Jangan sempet kamu berharap yang aneh-aneh. Tugas kamu Cuma ngerayu dan bujuk dia untuk kontrak kamu. Udah sampe situ aja."

Lisna tentu tahu siapa dirinya. Ia hanya pelacur. Namun ia tidak pernah menyangka, kisahnya dengan Budi benar-benar singkat bahkan sebelum dimulai.

Budi masih meragu, apakah kejadian tempo hari itu benar-benar nyata?

Apa ia sudah melewati batas ataukah itu hanya mimpi?

Budi ingin bertanya kepada asistennya, tetapi ia luar biasa malu. Bahkan asistennya itu tidak mengatakan apa-apa kepadanya selain mengirim pesan berisi ucapan penyesalan karena membawanya pulang dalam keadaan teler.

Budi yakin malam itu ia melihat Lisna. Akan tetapi ia tidak yakin akan aksi liarnya di sofa yang berlanjut ke kamar hotel. Budi menggeleng pelan ketika samar kilas kejadian itu kembali terbayang. Budi harap itu hanya mimpi.

Demi kebaikannya, siang ini Budi menyetujui ajakan bertemu dari Tante Shinta di lounge hotel berbintang yang tidak jauh dari kantornya. Budi sudah menghabiskan satu batang rokok, saat Tante Shinta baru saja muncul.

"Pak Budi, maaf membuat menunggu. Bener-bener macet di luar sana." Shinta tergopoh mendatangi mejanya.

Budi hanya mengulas senyuman dingin. Shinta tampak salah tingkah saat mendapati piringnya yang sudah kosong. Ia memang tidak berniat menunda rasa lapar hanya demi menunggu mucikari itu datang.

"Kayaknya Pak Budi sudah duluan." Shinta tersenyum basa-basi sebelum menyalakan rokok.

"Satu jam lagi saya harus balik kantor, ada tamu." Budi melirik sejenak jam tangannya. "Karena waktu saya singkat jadi langsung aja Bu Shinta. Saya nggak minat sama wanita yang kemarin ibu tawarkan. Saya nggak tertarik sama cewek itu. Jadi mulai sekarang, tolong berhenti, mengirimi saya foto perempuan. Dan satu lagi tolong anak buah ibu jangan terus hubungi saya." Budi menatap datar.

"Oh begitu ya Pak." Shinta tampak tertegun.

"Sudah Bapak pertimbangkan?Apa service Lisna kemarin kurang memuaskan bapak...? Atau bapak mau saya Carikan wanita lain...?"

"Rasanua sudah cukup jelas dengan yang saya katakan tadi, saya tidak berminat."

"Ah begitu ya Pak." Shinta manggut-manggut. "Baik Pak kalau begitu saya mohon maaf atas sikap lancang saya. Benar-benar saya mohon maaf. Saya akan suruh Lisna tidak menghubungi bapak lagi."

Budi hanya menatap Shinta, sama sekali tidak ingin merespon dengan ungkapan basa-basi. Ia harap kali ini Shinta benar-benar berhenti.

"Kalau begitu, saya nggak akan buang-buang waktu Pak Budi lebih banyak lagi. Saya pamit undur diri. Sekali lagi saya mohon maaf. Terima kasih Pak." Shinta segera bangkit dan dengan senyuman pahit meninggalkan meja

Budi kembali menyalakan sebatang rokok. Ia tadi sudah menyelesaikan tagihannya dan berada lebih lama di sini hanya untuk menunggu mucikari itu datang.

Sebatang lagi, sebelum ia kembali ke kantor saat derap langkah sepatu wanita menarik atensinya. Ia terkejut saat melihat Lisna, muncul dalam balutan dress nuansa putih dengan belahan dada rendah. Lisna menarik kursi dan duduk di hadapannya.

Budi segera melempar pandangan ke segala penjuru. Ia tidak menemukan Shinta. Apa perkataannya tadi masih kurang jelas di telinga mucikari itu?

"Pak Budi," sapa Lisna. Kali ini tanpa senyuman di wajah.

Budi hanya membalas dengan hembusan asap rokok. Perasaan canggung sekaligus malu menyelinap, saat adegan klimaks di sofa kembali menerjang ingatan.

Diam-diam Budi berharap semua itu hanya mimpi.

"Pak Budi, saya datang ke sini bersama Tante Shinta. Tapi keputusan saya mendatangi meja Pak Budi, benar-benar di luar sepengetahuan beliau."

"Mau apa?" tanya Budi langsung pada intinya sambil mencuri sekilas bibir merah Lisna dengan tatapannya. Bahkan di siang bolong, Lisna memilih mengenakan lipstik merah terang.

"Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?"

"Apanya?"

"Keputusan Pak Budi."

"Apa urusan kamu? Kamu Cuma pelacur."

Lisna terkesiap.

"Siapa kamu mau coba-coba mempengaruhi keputusan saya?" Budi melirik sejenak payudara mulus Lisna sebelum kembali menyesap rokoknya.

Pergerakan mata yang terbaca oleh Lisna. Senyuman Lisna perlahan mengembang.

"Siapa saya? Pak Budi mau tahu siapa saya?" Lisna mengangkat kedua alis.

"Memangnya kamu siapa?" Budi menatap heran pelacur di hadapannya.

"Saya adalah wanita yang akan mengijinkan Pak Budi menjadi diri sendiri."

Dahi Budi berkerut. "Maksud kamu?" Ia sungguh tidak mengerti pernyataan Lisna yang terkesan bertele-tele.

"Jadi Pak Budi suka disepong kayak waktu itu kan?" Lisna mencondongkan tubuh sambil sedikit berbisik.

Budi tertegun di tempatnya yang tentu saja menimbulkan reaksi puas Lisna.

"Pak Budi boleh banget kalau mau ejakulasi di mulut saya lagi. Sodok yang dalem kayak tempo hari, sampe saya keselek.... "

Bibir Budi terbuka lebih lebar. Jadi semua itu nyata? Jadi kenangan bibir merah yang mencumbui kejantanannya itu benar-benar terjadi?

Sial. Budi menyesap rokoknya frustasi. Ia sudah buka celana di hadapan wanita lain.

Lisna menatap lekat-lekat wajah Budi, seolah kini ia bisa membaca pria seperti apa Budi. Secara mengejutkan, Budi jauh berbeda dengan Lou. Meski ia pelacur, Lou tidak sampai kasar seperti Budi.

Budi malam itu benar-benar serampangan dan egois. Mulutnya juga berengsek.

Pria di dihadapannya mengaku punya istri.

Lisna yakin ia tidak bisa memenangkan hati Budi. Dari sisi emosional, pria itu sudah sangat tercukupi. Akan tetapi, sepertinya ia bisa memenangkan fantasi Budi.

Seratus persen Lisna yakin mendiang istrinya tidak sehina dirinya saat berada di atas ranjang. Ia juga yakin, malam itu Budi sedang mengeluarkan sisi liar dalam diri yang selama ini tersembunyi rapat di balik identitas lelaki baik-baik, dan sederet pujian bermoral lainnya.

Nyatanya, Budi tak ubahnya binatang kelaparan. Lisna belum lupa rasanya saat jemari Budi meremas kasar rambutnya dan kejantanan lelaki itu menyetubuhi rongga mulutnya.

"Pak Budi? Kenapa Bapak diem? Bapak menyesal?" Lisna mengejek Budi dengan senyuman remehnya.

"Pergi. Saya nggak tertarik sama kamu." Budi menatap sengit.

"Masa?" Lisna membusungkan dadanya lebih dekat ke arah meja. Budi terlihat menelan ludah sebelum berusaha tidak melihat ke arah sana. "Pak Budi boleh lihat. Ini memang buat Bapak."

Budi menatap tak percaya wajah Lisna. Ia kembali menyesap rokoknya dengan frustasi. Jantungnya berlarian dan tangannya mulai gemetaran. Lisna sungguh tidak tahu, apa yang sedang ia rasakan saat ini.

Sesuatu di dalam dirinya bergejolak hebat dan Budi sedang berusaha menahannya mati-matian. Sama persis saat ia nyaris larut dalam rayuan pelacur lainnya.

Sebenarnya Budi kerap merasa tidak tahan terhadap godaan, terutama dari wanita yang menarik. Akan tetapi ia tidak bisa melihat dirinya seperti itu. Ia tidak bisa mengijinkan hawa nafsu menguasai akal sehatnya, karena itu sangat mengerikan.

Maka dari itu, Budi berusaha menjaga dirinya karena ia tidak yakin sekuat itu.

Budi sungguh menyesal, malam itu ia tergelincir. Jadi ia merasa harus segera memperbaiki kesalahannya sekaligus mempertebal dinding pertahanannya jangan sampai masuk ke liang hangat yang menjepit itu lagi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DERITA PERNIKAHAN PAKSA
9.3
Kehidupan Vivian berubah menjadi mimpi buruk sejak dipaksa menikah dengan Maximilian Windsor. Hari-harinya dipenuhi kekerasan fisik dan mental yang menyisakan trauma berat. Di tengah keputusasaan, hadirlah River, sosok penyayang yang selalu melindungi dan menguatkannya. Namun, obsesi gila Max memicu tragedi hingga Vivian hamil anak sang suami yang sangat ia benci. Kini, ia didera dilema besar antara ketulusan River atau Max yang merupakan ayah kandung dari janinnya.
Sampul Novel Desire of Love CEO
8.0
Kehidupan Alana Handoko berubah menjadi mimpi buruk setelah ia dinyatakan bersalah atas kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang anak perempuan. Insiden tragis tersebut menyulut murka Reynar Adiwangsa, seorang CEO tampan yang kehilangan figur tercinta. Terbakar oleh hasrat membalas dendam, Reynar bersumpah membuat hidup Alana menderita. Ia merancang berbagai rencana kejam untuk menyiksa Alana dan mengubah dunianya bagai neraka demi menuntaskan rasa sakit hatinya.
Sampul Novel Dream come true
8.7
Zefanya mengira Andrew tulus mencintainya, namun sebuah salah paham fatal merenggut kehormatan dan impiannya akan keluarga yang hangat. Sepuluh tahun berlalu dalam penyesalan, Andrew hidup menderita di tengah kekayaannya yang melimpah. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, sosok Zefanya telah berubah sepenuhnya. Andrew pun mulai berjuang keras demi mendapatkan pengampunan, tetapi benarkah permohonan maaf saja cukup bagi dirinya?
Sampul Novel Gejolak Hati dan Logika
7.8
Olivia menghadapi dilema besar antara cinta dan trauma masa lalu. Ia mencintai Rendra, bosnya yang kaya, namun logikanya menolak pernikahan. Luka mendalam akibat kematian sang ibu karena KDRT serta kegagalan cinta saudara perempuannya memicu ketakutan hebat akan pengkhianatan. Terlebih, kakak dan adiknya sangat menentang hubungan ini. Di tengah bayang-bayang kelam masa lalu, mampukah Olivia membuka hati, memercayai Rendra, dan memilih kebahagiaannya sendiri?
Sampul Novel Istri Pengganti Sang Miliarder
8.7
Identitas aslinya terbongkar, memaksa Hailey membalas budi pada keluarga Brantley. Ia pun terpaksa menggantikan sang kakak menikahi miliarder yang dirumorkan telah renta. Namun di pelaminan, ia terkejut mendapati Mathias, pemuda tampan yang menjadi suaminya. Ketegangan memuncak saat malam pertama ketika Mathias menyudutkan Hailey ke dinding, mengungkap fakta bahwa ia tahu sang istri bukanlah putri sulung yang seharusnya ia nikahi.
Sampul Novel KECELAKAAN SEMPURNA
8.9
Demi membiayai pengobatan kanker sang ibu, Qarletta Averly yang berumur 21 tahun melamar sebagai fotografer di Heston Corporation. Namun, harapan Arlett pupus setelah berurusan dengan sang CEO, Carl Heston. Sebuah kecelakaan fatal justru menyeretnya ke dalam skandal besar yang telah direncanakan oleh Carl. Kini, Arlett terjebak dalam pusaran masalah rumit bersama pria berkuasa tersebut, yang membuat seluruh kehidupannya berubah total.