
Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang
Bab 4
Keesokan paginya, saat Shanon terbangun, Andy dan Shane sedang masuk ke kamar sambil membawa sarapan. Melihat dia bangun, Andy dengan sangat alami menyerahkan sarapan ke tangannya, menatapnya penuh kasih sayang.
“Aku dan Shane ingin kau tidur lebih lama, jadi kami sengaja bangun lebih pagi untuk ambil sarapan.”
Shane juga memanjat ke atas tempat tidur dengan kaki kecilnya, bersandar di bahunya. “Baru saja ninggalin sebentar aku udah kangen banget, Ma.”
Shanon merasakan kedinginan di sampingnya dan pandangannya menunjukkan sedikit sindiran pada diri sendiri.
Jelas-jelas mereka tidak pulang semalam, baru juga turun dari ranjang Rainie, tapi beraninya bilang “mengambil sarapan”. Dulunya dia tidak tahu akting mereka sehebat ini.
Setelah sarapan, Andy dan Shane langsung mengajaknya ke area ski. Rainie sudah berdandan lengkap dengan perlengkapan ski menunggu mereka di pintu masuk. Tapi Shanon tidak berminat main ski.
Andy menatapnya dengan sedikit khawatir, dia bertanya dengan nada menguji, “Shanon, belakangan ini kau kenapa? Apa aku atau Shane bikin kau nggak senang?”
Shanon menggeleng. “Nggak, cuma urusan temanku mengganggu suasana hatiku.” Baru setelah itu Andy merasa lega, lalu mencium dahinya dengan lembut. “Tenang Shanon, hal kayak gitu pasti nggak bakal terjadi di keluarga kita. Kalau kau nggak mau main ...”
Belum selesai berkata, terdengar suara Rainie yang ragu. “Pak Andy....”
Melihat pandangan Rainie yang berpengharapan, Andy menghela napas kecil, lalu mengubah kata-katanya. “Kau tunggu kita di sini, aku, Shane dan Rainie main beberapa putaran, lalu balik.”
Shane tidak bicara, tapi Shanon dengan mata tajam melihat tangannya diam-diam sudah meraih ujung pakaian Rainie. Mungkin dia terlalu rindu menghabiskan waktu bertiga, sampai sama sekali tidak khawatir tindakannya ketahuan olehnya. Shanon mengangguk tanpa berkata.
Andy menyuruh staf hotel untuk menjaganya, lalu memakaikan sarung tangan dari tas pada tangannya dengan teliti. “Shanon, di sini dingin, aku khawatir kau kedinginan, kalau nggak enak badan langsung telepon aku.”
Shane juga memeriksa resleting pakaiannya. “Aku juga nggak mau lihat Mama flu.” Melihat seluruh perhatian mereka tertuju padanya, Rainie tidak bisa menahan rasa cemburunya. “Nyonya, Pak Andy dan Tuan Muda Shane itu baik banget sama Anda.” Mendengar itu Shanon menatapnya sejenak. Di mata Rainie masih tersisa sedikit rasa cemburu yang tidak sempat disembunyikannya.
Shanon hanya sedikit tersenyum, dan berkata dengan makna tersirat. “Aku rasa keluargamu lebih sayang samamu.”
Fakta bahwa Andy dan anaknya bisa diam-diam membentuk keluarga lain dengan Rainie sudah cukup membuktikan bahwa mereka tidak menghiraukan perasaannya, mereka lebih mengutamakan bersama Rainie.
Belum selesai ucapannya, terdengar suara gemuruh dari kejauhan, tanah di bawah kaki seolah mulai bergetar. Shanon hendak bertanya apa yang terjadi, ketika menengadah dia melihat sekilas bayangan putih menyilaukan bergerak cepat ke arahnya. Orang-orang di sekitarnya langsung berhamburan, suasana menjadi kacau. Dia reflek meraih ujung pakaian Andy. Namun detik berikutnya, dia melihat ujung pakaian Andy terseret dari tangannya menuju ke arah Rainie. Dan Shane yang semula di hadapannya juga berlari ke arah yang sama.
“Rainie!”
“Kak Rainie!”
Gubrak!
Tumpukan salju berat menimpa Shanon. Sebelum kehilangan kesadaran, dia sempat melihat Andy yang pernah bilang mencintainya dan Shane yang selalu menjaganya melindungi wanita yang di pelukannya.
Anda Mungkin Juga Suka





