
Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi
Bab 2
“Pak Peter, bisakah kita jalankan mobilnya sekarang?”
Namun, satu tangan Peter malah menyelinap masuk ke balik kerah bajuku, lalu meremas bagian lembut di dadaku dengan kuat.
“Suamimu tahu kalau kamu sesensitif ini? Dia benar-benar beruntung bisa menikahi istri secantik dirimu.”
Perlakuan itu membuat tubuhku melemas seketika. Aku ingin marah, tapi entah kenapa malah tak bisa.
“Pak Peter, kamu berani sekali. Kamu nggak takut kalau suamiku tahu?”
Aku mencoba menepis tangannya dan merapikan pakaianku.
Namun, Peter malah semakin berani. Dia mengeluarkan benda miliknya dan menempelkannya tepat di bawahku.
Napasku tertahan, jantungku berdebar keras. Benda panas itu menempel erat di bagian tubuhku yang paling sensitif.
Aku mengenakan rok mini dan di baliknya hanya ada lapisan celana dalam yang sangat tipis!
Sentakan itu terasa seolah menembus hingga ke titik terdalam sensitifku.
“Aku dan John sudah berteman begitu lama. Menurutmu, dia bakal lebih percaya padaku atau padamu?”
Sambil menyeringai nakal, dia menekanku kuat-kuat ke badannya, lalu mulai menjalankan mobil.
Meski aku sempat berniat membuat suamiku marah, tapi tindakan ini benar-benar sudah kelewat batas.
Aku ingin berdiri dan menghentikannya.
Namun, benda milik Peter terlalu besar dan sangat panas.
Benda itu menempel erat di pangkal pahaku, seolah memiliki kekuatan magis yang menghisapku.
Tiba-tiba, hasrat dalam tubuhku melonjak. Ada bagian dari diriku yang ingin dipuaskan dengan kuat oleh benda itu, ingin merasakan sensasi yang sebenarnya!
Begitu pikiran itu muncul, aku langsung menepisnya.
Tidak, tidak! Bagaimanapun, aku ini istri orang, tidak seharusnya berpikir begitu.
Tiba-tiba, Peter memegang kedua tanganku dan memutar setir.
“Perhatikan, saat mobil sampai di sini, putar setir ke kiri sampai habis, lalu luruskan kembali.”
Pikiranku sudah kacau balau karena gesekan itu. Aku bahkan tidak bisa lagi membedakan mana kiri dan mana kanan
Hanya bisa membiarkan dia mengendalikan tanganku.
Setiap kali mobil berhenti mendadak, aku merasa benda itu semakin menekan masuk.
Celana dalamku tipis dan sepetinya benda itu sudah mendesak masuk ke celah terdalam.
Seluruh beban tubuhku bertumpu di sana. Hasrat tubuhku semakin kuat, seperti panci presto yang hampir meledak.
Melihat wajahku yang sudah memerah, Peter menghentikan mobil. Tangannya mulai bergerak tidak karuan, meraba-raba tubuhku.
Telapak tangannya yang hangat menyentuh hampir seluruh bagian tubuhku. Jika terus begini, rasanya sel-sel di sekujur tubuhku akan meledak.
Dan tiba-tiba, jarinya menyelinap ke balik rokku, lalu memainkan lembut di sepanjang celah sensitifku.
Seluruh tubuhku gemetar hebat. Aku merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa menjalar dari bawah ke seluruh tubuhku.
“Jangan… nggak boleh di sana… uh….”
Aku tak boleh mengkhianati suamiku!
Namun, sensasi ini… uh… kok bisa… rasanya senyaman ini!
Peter sangat paham titik sensitif wanita. Dia bisa dengan tepat menemukan titik paling peka dan memainkannya dengan liar.
Tenggorokanku terasa gatal dan aku tak bisa menahan desahan yang mulai keluar.
“Ahh… uh… jangan, jangan….”
Peter menarik tangannya. Cairan bening terlihat membasahi jari tengahnya.
“Kamu bahkan sudah sebasah ini, jangan menahan diri lagi. Kamu nggak mau mencoba sensasi selingkuh yang mendebarkan?”
Aku berusaha sekuat tenaga menahan rasa geli yang menusuk sampai ke tulang itu, mencoba menolak sebisanya.
“Nggak, aku nggak boleh mengkhianati suamiku.”
“Kumohon hentikan, aku ke sini untuk latihan menyetir, bukan untuk berselingkuh.”
Siapa sangka, Peter malah semakin menjadi-jadi. Dia menarik celana dalamku hingga bokongku terbuka sepenuhnya.
“Sialan! John saja bisa menidurimu, kenapa aku nggak boleh? Aku harus mendapatkanmu hari ini!”
Hatiku dipenuhi rasa kaget dan takut, tapi rasa takut itu tertutup oleh api gairah yang membakar. Aku ingin menolak, tapi tenagaku seolah lenyap.
“Kumohon, Pak Peter….”
Peter memegang kedua belas pantatku dan mengangkat tubuhku. Tepat di bawahku adalah benda miliknya yang menegang.
Seolah ada daya tarik magis yang memintaku untuk segera duduk di atasnya.
Aku merasakan aliran hangat terus mengalir keluar dari dalam tubuhku.
“Kamu nggak tersiksa menahannya seperti ini? Mau aku memuaskanmu?”
Rasanya seluruh organ tubuhku akan meledak. Aku tak bisa menahannya lagi. Sambil menggoyangkan pinggul, aku berbisik,
“Jangan sampai suamiku tahu….”
Anda Mungkin Juga Suka





