APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk

Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk

Dekade pernikahan bersama Pradipa berujung pilu akibat obsesinya pada cinta pertama. Ia bahkan tega menuntut donor darahku demi wanita tersebut. Saat mendekati ajal, tabir masa lalu tersingkap, memperlihatkan kesalahanku yang telah merusak hidup Adam, sosok yang tulus menyayangiku. Beruntung, takdir memberiku kesempatan kedua saat terbangun kembali. Kini, aku bertekad meninggalkan Pradipa dan menebus dosa masa lalu demi kedamaian hidup yang hakiki.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alvina POV:

Pradipa merasakan tanganku gemetar saat aku menyerahkan dokumen kepadanya. Ia refleks meraih pergelangan tanganku, seolah ingin merebut kembali apa yang baru saja kuberikan. Namun, aku dengan cepat menarik tanganku, gerakan yang terasa lebih gesit dari biasanya.

"Sudah kutandatangani," kataku, suaraku datar. "Aku akan menyerahkannya ke pengadilan nanti. Kamu tidak perlu repot-repot."

Wajahnya menunjukkan kebingungan. "Kenapa kamu begitu terburu-buru?" Ia menatapku dengan tatapan curiga.

"Kamu punya banyak pekerjaan, kan?" Aku mengangkat bahu, mencoba terlihat santai. "Aku tidak ingin menghambatmu."

Pradipa terus menatapku, matanya menyipit. "Apa yang terjadi denganmu hari ini?" Tanyanya, nada suaranya berubah menjadi lebih tajam. "Kamu seperti... orang lain."

Aku hanya tersenyum tipis. Tidak ada gunanya menjelaskan. Baginya, aku mungkin memang sudah gila. Aku merasa seperti terlahir kembali, dan kebebasan ini terasa memabukkan.

Kami masuk ke dalam mobil, keheningan menyelimuti kami seperti selimut tebal. Aku menatap keluar jendela, membiarkan pemandangan melintas begitu saja. Pradipa, di sampingku, jelas merasa tidak nyaman dengan keheningan ini.

"Malam ini ada pertunjukan drama musikal," katanya tiba-tiba, memecah kesunyian. "Kamu suka drama, kan? Kita bisa pergi bersama."

Aku menoleh ke arahnya, terkejut. Aku ingat dengan jelas bagaimana dulu aku dengan antusias menceritakan tentang pertunjukan yang sama, berharap dia mau menemaniku. Dia hanya menatapku dingin, "Aku tidak punya waktu untuk hal-hal kekanak-kanakan seperti itu."

Kali ini, aku memilih untuk diam. Aku hanya menatapnya, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Wajah Pradipa mulai menunjukkan ketidaksabaran.

"Kalau tidak mau, tidak apa-apa," katanya cepat, seolah ingin menarik kembali tawarannya. "Aku hanya asal bicara."

"Aku mau," kataku, memotong ucapannya. Sekilas, senyum tipis terukir di bibirku, entah mengapa.

Pradipa tampak terkejut, ekspresinya sulit ditebak. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menyalakan mobil. "Akan kujemput setelah makan malam," katanya, suaranya sedikit serak.

Tepat saat itu, ponselnya berdering. Seorang pria dari rombongan teater, yang kukenal sebagai asisten Riana, tampak panik. "Tuan Pradipa! Riana... dia pingsan di belakang panggung! Kami tidak tahu harus berbuat apa!"

Mobil Pradipa mengerem mendadak. Ia menatapku, lalu kembali menatap ponselnya. "Aku akan ke sana sekarang," katanya pada asisten itu. Lalu ia menoleh padaku. "Kamu pulang saja sendiri. Aku ada urusan mendadak."

"Pergilah," kataku datar. "Dia lebih membutuhkanmu."

Pradipa ragu sejenak. Sebelum keluar dari mobil, ia menatapku dengan tatapan aneh. "Kamu tidak cemburu?" Tanyanya, seolah mencari-cari reaksi dariku.

Aku merasakan sedikit kepahitan di hatiku. Sepuluh tahun yang lalu, aku akan menangis, memohon padanya untuk tetap tinggal. Kini, aku hanya ingin semua ini berakhir.

"Jangan coba-coba melakukan hal bodoh, Alvina," katanya, suaranya penuh peringatan, sebelum akhirnya bergegas pergi.

Ia pergi, meninggalkanku sendirian. Ia tidak melihat air mata yang menggenang di mataku, tidak melihat kehancuran yang kucoba tutupi.

Aku pulang ke rumah yang terasa kosong. Begitu aku masuk, Mama Pradipa langsung menyambutku dengan senyum hangat. "Alvina sayang, kamu sudah pulang!" Ia mencium pipiku, lalu bertanya, "Apakah Pradipa sudah menyerahkan dokumen itu? Surat izinnya?"

Aku mengangguk kecil. "Sudah, Ma."

"Lalu, kenapa dia tidak ikut pulang?" Mama Pradipa mengerutkan kening.

Aku mencoba tersenyum, menyembunyikan rasa sakitku. "Dia ada urusan mendadak, Ma. Riana pingsan di teater."

Wajah Mama Pradipa langsung berubah muram. "Anak itu! Kapan dia akan belajar dewasa? Kapan dia akan berhenti mengejar bayangan masa lalu yang tidak akan pernah kembali?" Ia menghela napas, lalu menatapku dengan mata penuh kasih. "Jangan ambil hati, sayang. Mama tahu Pradipa memang seperti itu. Tapi dia pasti akan segera menyadarinya."

Papa Pradipa, yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, hanya menggelengkan kepala. Ia menepuk pundakku. "Jangan dengarkan Mama. Pradipa akan sadar. Kamu adalah istri yang baik."

Mataku terasa panas. Kehangatan yang kutemukan di keluarga ini adalah satu-satunya hal yang membuatku bertahan selama sepuluh tahun terakhir. Aku ingat, di kehidupan sebelumnya, Pradipa pernah berdebat hebat dengan orang tuanya karena aku. Dia bersikeras bahwa aku adalah orang asing, penghalang antara dia dan kebahagiaannya. Aku tahu, jauh di lubuk hati mereka, Mama dan Papa Pradipa selalu menganggapku sebagai putri mereka sendiri.

Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Aku ingin memberitahu mereka bahwa sebentar lagi, aku bukan lagi menantu mereka. Aku ingin menjelaskan bahwa kebahagiaan mereka adalah prioritas utamaku. Tapi kata-kataku tercekat di tenggorokan.

Aku menggenggam tangan Mama Pradipa, erat. "Terima kasih, Ma, Pa. Terima kasih atas segalanya."

Mama Pradipa tersenyum. "Kamu tidak perlu berterima kasih, sayang. Kamu sudah seperti putri kami sendiri. Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan kami." Ia mengusap pipiku lembut. "Kamu tahu, bagiku, kamu adalah istri terbaik untuk Pradipa. Dia pria yang beruntung bisa memilikimu."

Aku hanya terdiam, menggenggam tangannya erat, menahan semua emosi yang bergejolak di dalam diriku.

Sore harinya, aku tiba di teater sendirian, memegang tiket yang kami beli bersama. Pertunjukan berakhir, tirai ditutup, penonton mulai bubar, namun Pradipa tidak muncul. Ia mengingkari janjinya lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dari Omega yang Ditolak menjadi Ratu Raja Alpha
9.3
Menjelang Upacara Ikatan Suci, kebusukan Raditya terbongkar lewat pesan batin dari saudara angkatku, Eva. Selama aku dipaksa berpura-pura menjadi Omega yang penurut, Raditya asyik berselingkuh sementara orang tuanya merampas hasil kerjaku untuk diberikan kepada Eva. Mereka meremehkanku, tanpa menyadari identitasku yang sebenarnya sebagai pewaris sah kawanan terkuat di benua ini. Kini, aku telah menyiapkan siaran global untuk mempermalukan mereka semua di hari pernikahan kami.
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Terlahir dari keluarga miskin yang dikutuk iblis, Bima tumbuh di dekat Gunung Pengantin yang angker. Akibat melanggar pantangan di sana, ia kehilangan Alif, sahabatnya yang diculik menjadi budak gaib. Beranjak dewasa, Bima berjuang mematahkan kutukan leluhur bermodalkan kekuatan khodam warisan. Meski misi mistis itu berhasil, ia harus membayar harga mahal. Orang tuanya tewas mengenaskan dalam ritual gaib, meninggalkan Bima sendirian dalam kepedihan mendalam.
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel kerap disiksa keluarga istrinya, bahkan dipaksa menyantap sisa makanan di lantai. Tak tahan dihina terus-menerus oleh Shirley dan kerabatnya, ia nekat meminum formula rahasia warisan orang tuanya untuk mengakhiri hidup. Namun, ramuan itu justru membangkitkan kekuatan dahsyat yang terpendam. Kini, sang ahli obat yang dahulu direndahkan telah bangkit kembali. Bersiaplah menyaksikan aksi balas dendamnya demi membuat mereka semua bersujud memohon ampun.
Sampul Novel MERMAID AS ALPHA'S DESTINY
9.5
Demi menyelamatkan kaum werewolf dari kepunahan, Billy sang calon raja harus mencari Catalina, reinkarnasi putri duyung Althaia. Takdir menyatukan mereka di dunia modern, namun cinta mereka terhalang rintangan mematikan. Billy membutuhkan Catalina untuk mendapatkan kekuatan, tetapi hubungan fisik dapat merenggut nyawa Catalina jika ia terlambat kembali ke air. Di bawah ancaman vampir dan monster, keduanya harus berjuang bersatu demi klan tanpa saling mengorbankan.
Sampul Novel Pemalas Penantang Dewi
7.9
Akibat menentang perintah Dewi Aria, Ken sang Pahlawan dikutuk dan dibuang ke sarang monster. Lewat kecerdasannya, ia justru berhasil memanfaatkan kutukan itu sebagai kekuatan baru. Namun, Ken kembali terseret dalam perang besar antara manusia dan iblis. Konflik ini kian pelik saat ia mengetahui bahwa sang Raja Iblis adalah sahabat lamanya. Di tengah dilema dalam memilih pihak, Ken mulai menyusun rencana matang untuk membalas dendam kepada sang Dewi.
Sampul Novel PENDEKAR Sabda JAGAD
8.4
Jalu Sajiwo, pemuda yatim piatu, memulai perjalanan panjang demi menuntut keadilan bagi keluarganya. Dahulu, Sekte Rajawali Emas sangat perkasa sebelum fitnah keji para rival menghancurkan mereka. Di bawah kepemimpinan Ki Respati, ayah Jalu, sekte ini terus dihina dan ditindas. Kini, Jalu harus berjuang di tengah intrik, pengkhianatan, dan duel maut untuk membersihkan nama baik sekte serta membawa Rajawali Emas kembali ke puncak tertinggi dunia persilatan.