APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KISAH PANAS STEWART RANZO

KISAH PANAS STEWART RANZO

Ikuti perjalanan hidup Ranzo, seorang pria menawan yang tengah beranjak dewasa di tengah gejolak emosi dan hasrat yang membara. Demi menemukan cinta sejati, ia terlibat dalam serangkaian hubungan asmara dan pengalaman intim yang mendebarkan bersama berbagai wanita unik. Setiap babak baru menghadirkan tantangan tersendiri bagi dirinya. Akankah ia berhasil melewati rumitnya intrik romansa ini? Simak kisah fiksi dewasa yang mengupas tuntas pencarian jati diri yang penuh lika-liku.
Bab
Bagikan

Bab 1

My name Ranzo Steward. Aku berasal dari keluarga yang cukup berada, ayahku bekerja sebagai Arsitek di Jakarta sedangkan ibuku bekerja sebagai wanita karir di salah satu perusahaan asuransi di Jakarta.

Aku memiliki seorang kakak bernama Ranty Steward. Dia seorang wanita yang cerdas, dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Hubunganku dengan kakakku tidak benar-benar dekat, aku jarang sekali ngobrol dengan dia bahkan hanya sekedar membahas tentang keluarga kami. Bisa dibilang kita punya kehidupan masing-masing.

Berbeda 180 derajat dengannya, aku adalah seorang murid yang kurang di bidang akademik, katakanlah bodoh. Sebenarnya aku bukan pemalas, aku sudah berusaha belajar dengan tekun, namun semua pelajaran itu tidak ada yang masuk ke otak sedikitpun. Jadi aku memutuskan untuk pasrah dan menerima kenyataan ini.

Tetapi dibalik kekurangan itu aku memiliki kelebihan yaitu di bidang non-akademik, olahraga dan beladiri menjadi keunggulan ku, saat aku masih SMP aku menjuarai hampir di semua cabang olahraga hingga beladiri.

Itulah mengapa aku bisa masuk ke SMA yang cukup favorit di Jakarta, di sana aku hanya dijadikan sebagai lumbung prestasi untuk sekolah ini, aku tak pernah benar-benar dianggap siswa oleh sebagian guru yang anti terhadap siswa bodoh, fu*k this school!.

***

Bel sekolah berbunyi saat aku berada di warung belakang sekolah sedang menyantap sarapanku. Aku memang tidak biasa sarapan di rumah, ibuku terlalu sibuk untuk memasak di pagi hari sedangkan subuh saja ibuku sudah berangkat ke ke kantor.

Pemilik warung itu adalah ibu dari salah satu teman sekolahku namanya Ririn, bukan teman sekelas tapi karena aku sudah menjadi langganan di warung itu aku pun cukup akrab dengan dia karena dia juga ikut membantu ibunya berjualan di pagi hari saat akan berangkat sekolah, saat istirahat dan setelah pulang sekolah.

Karena dia anak dari pemilik warung kecil di belakang sekolah, dia sering menjadi bahan bulian oleh anak-anak sekolah yang sok kaya dan berkuasa, namun aku selalu membela dan melindungi dia dari anak-anak itu.

"Ran, udah bel tuh masuk yuk!" ajak Ririn untuk bergegas masuk ke sekolah.

"Yuk," balasku singkat.

Seharusnya untuk memasuki sekolah kita harus memutar dan melewati gerbang depan karena gerbang belakang sekolah hanya berupa pintu teralis yang digembok untuk menghindari siswa terlambat yang memasuki sekolah.

Namun karena terlalu jauh kalau harus memutar maka kita biasanya memanjat tembok yang tingginya kisaran 2 meter.

"Udah siap belum?" tanya Ririn memastikan.

"Udah yuk." Aku bersiap-siap membantunya naik dengan mengangkat kakinya agar dia bisa menjangkau puncak tembok itu, terkadang momen itu aku manfaatkan untuk mengintip isi dalam roknya, namun entah dia sadar atau tidak sekarang dia selalu memakai celana pendek di dalam rok SMA-nya.

Setelah berhasil menjangkau tembok itu lalu dia melompat ke arah seberang. Setelah dia menghilang aku pun lalu melompat dengan hanya sekali tumpuan pada tangan kananku aku langsung melewati tembok itu.

Namun naas ternyata Ririn masih berada dibalik tembok tepat di bawahku dan aku tidak bisa menghindar sehingga aku mendarat di atas tubuhnya.

Brukkkk...

"Aduh!!!" Ririn memekik merasakan beban yang amat berat menimpa tubuhnya. Kami berdua ambruk dia dengan posisi terlentang, aku menindihnya dan dada kami saling menempel erat.

Sejenak mata kami bertemu, dadanya terasa kenyal mengganjal dadaku, wajahnya memerah nafasnya memburu, aku merasakan adikku mengeras di balik celana panjangku, tiba-tiba dia berontak.

"Ah, Ranzo minggir!" pekik Ririn.

"Eh, sorry rin, gue gak tau kalo lo masih di situ," ucapku meminta maaf.

"Iya udah, tapi badan lo minggir berat tau."

Aku tersadar kalau kami masih berada di posisi yang sama. Untung saja tidak ada yang melihat, kalau ada pasti akan jadi masalah.

Aku pun membantunya untuk bangun, wajahnya sudah seperti kepiting rebus, sekilas dia melirik ke bagian depan celanaku melihat apa yang tadi mengganjal lalu ia berpaling.

Dia tampak berjalan sambil membersihkan seragamnya yang sedikit kotor karena terjatuh tadi, kami pun berpisah di koridor sekolah karena memang kita berbeda kelas.

Aku pun menuju ke ruang kelasku, setibanya di sana aku melihat teman sekelasku sudah datang semua, aku datang paling akhir.

Aku langsung menuju ke mejaku yang letaknya berada di pojok kanan depan, tepat berada di depan meja guru. Bukan karena aku rajin tapi karena aku terlambat saat hari pertama masuk sekolah, jadi aku kebagian duduk di bangku yang laknat itu.

"Ranzo!" sambut teman sebangkuku yang bernama Lisa.

Nasibnya sama sepertiku, kami sama-sama terlambat dihari pertama masuk ke sekolah sehingga kita jadi teman sebangku. Awalnya kami sangat canggung karena aku baru pertama kali sebangku dengan perempuan.

Tapi seiring berjalannya waktu kami pun semakin akrab, bahkan aku diam-diam mulai menyukainya tapi aku belum berani untuk menyatakan cinta kepadanya.

"Apa?" jawabku singkat.

"Lu udah ngerjain pr matematika belum?" tanyanya.

"Emang kalo gue jawab udah lu percaya?" jawabku sambil cengengesan.

"Nih," ucapnya sambil memberikan pr yang sudah ia kerjakan.

"Thanks banget ya, lu emang sahabat gue yang terbaik." Tanpa banyak urusan aku pun langsung menyalin semua jawaban pr nya.

Sudah jadi rutinitas kalau aku selalu mencontek semua tugas sekolah dari dia, meskipun hampir semua jawabannya salah tapi itu lebih baik daripada tidak mengerjakan sama sekali.

Tapi aku tidak mendapatkannya secara gratis, dia sering meminta tolong padaku untuk menjadi tukang ojeknya yang mengantarkan dia kemanapun dia mau, aku tidak keberatan justru aku senang karena bisa selalu dekat dengan dia.

"Ran!" panggil Lisa yang tepat berada di sampingku.

"Apa?"

"Nanti pulang sekolah temenin gue ya."

"Kemana?" tanyaku masih sambil menyalin tugasnya.

"Ke tempat temennya kakak gue," jawab Lisa.

Aku berhenti sejenak lalu menatapnya, aneh sekali dia tiba-tiba minta diantarkan ke tempat teman kakaknya namun aku tidak ambil pusing, aku kembali melanjutkan tugas yang aku hentikan tadi.

"Emang ada urusan apa?"

"Udah nanti lu bakalan tau deh." Lisa kemudian membetulkan duduknya karena tiba-tiba gurunya datang.

Aku yang sedang menyalin tugasnya pun langsung mengerahkan kemampuanku, aku mengerjakan tugas dengan mataku menatap kearah guru yang datang memberi salam, aku melakukannya sampai selesai.

***

Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung berjalan ke tempat parkir, menyalakan motorku dan menuju ke gerbang sekolah. Di sana sudah ada Lisa yang menungguku karena memang kita ada janji sepulang sekolah.

"Yuk, mau pulang dulu?" tawarku padanya.

"Gak usah, kita gas aja langsung."

"Ya udah."

Setelah Lisa naik ke atas motorku aku pun langsung memacu motorku dengan arahan darinya.

Dia mengarahkan kami ke sebuah kafe dekat dengan kampus kakakku. Setelah aku memarkirkan motorku aku lalu menyusul Lisa yang sudah lebih dulu masuk ke kafe itu. Di sana sebagian besar diisi oleh mahasiswa yang sedang nongkrong. Kita menuju ke sebuah meja, di sana sudah ada 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang aku tebak mereka adalah mahasiswa di kampus tempat kakakku kuliah itu.

"Halo kak!" sapa Lisa kepada mereka.

"Halo Lis, sini duduk!" jawab salah satu laki-laki itu.

"Makasih." Lisa kemudian duduk tepat di depan lelaki itu.

"Ini kak, temenku yang aku ceritain kemarin, namanya Ranzo," ucap Lisa memperkenalkanku kepadanya.

"Ran, ini namanya kak Dimas, yang tadi aku ceritain."

Dimas lalu berdiri dan menyodorkan tangannya.

"Dimas," jawabnya singkat.

Aku kemudian menjabat tangannya dan menjawab, "Ranzo."

Sejenak Dimas melihatku dari atas kepala sampai kaki, aku sedikit heran dengan apa yang dia lakukan. Sepertinya dia sedang menginginkan sesuatu dariku.

"Lu beneran anak SMA temennya Lisa?" tanya Dimas kepadaku.

"Lha iya, emang kenapa?"

"Lu gak kaya anak SMA, haha." ucap dimas sambil tertawa.

"Masa iya? emang muka gue boros banget ya?"

"Enggak, bukan muka lu yang boros, tapi badan lu yang kegedean, haha." Dimas kembali tertawa.

"Tapi bagus deh, jadi lu gak ketahuan kalo lu masih anak SMA," ucapnya lagi semakin membuatku curiga.

"Sebenernya ada apa sih? kalian ada perlu apa sama gue?" tanyaku dengan suara yang agak tinggi, aku kemudian menatap ke arah Lisa karena dialah yang membawaku kesini.

Lisa hanya menunduk tidak berani menatapku, ekspresinya cemas mungkin takut aku akan marah pada dirinya.

"Loh emang Lisa belum sama lu?" Dimas balik bertanya.

Aku hanya menggelengkan kepala.

"Jadi gini, minggu depan hari sabtu kita ada POM (Pekan Olahraga Mahasiswa) dan kita mewakili universitas kita di cabor basket." ucap Dimas menjelaskan.

"Tapi dari hasil tahun-tahun sebelumnya, tim kita selalu kena bantai sama lawan lain yang lebih kuat," lanjutnya.

"Dan kemarin Lisa bilang sama gue kalo dia punya temen yang jago basket, dan kita tertarik make lu buat memperkuat tim kita."

Aku mengerti sekarang apa yang mereka inginkan, tetapi aku masih marah dengan Lisa karena dia tidak memberi tahuku dari awal.

"Gimana? lu mau kan?" tawar Dimas kepadaku.

Aku masih diam, belum memberi keputusan. Dimas melihat keraguanku menerima tawarannya.

"Gak usah khawatir kalo masalah duit, kita akan bayar 1 juta kalo lu mau ikut, kita yakin kalo Lisa gak akan bohong soal skill lu."

Aku masih terdiam.

"Kalo sampe final gue tambahin 2 juta lagi," lanjutnya.

Aku belum bergeming.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dokter, Aku Cinta Kamu
8.0
Kehidupan Raka, dokter spesialis penyakit dalam, berubah sejak mengoperasi usus buntu Dea. Gadis itu terobsesi mendekatinya, bahkan nekat mengaku sebagai pacarnya di depan orang tua Raka. Awalnya Raka merasa risi, namun semua berubah ketika Dea bertunangan dengan pria bernama Rafa. Kehilangan Dea membuat Raka menyadari perasaan cintanya. Begitu mengetahui pertunangan Dea telah batal, kini giliran Raka yang berjuang mengejar kembali hati gadis itu.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Namun, takdir membawanya bertemu Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket tanpa sengaja. Kini, Daiva berada di persimpangan asmara saat kedua pria itu mulai memperebutkan cintanya. Siapakah yang akan Daiva pilih sebagai pendamping hidupnya di tengah bayang-bayang masa lalu yang kelam?
Sampul Novel Hati Alpha yang Terlambat
7.9
Demi Timothy Oliver, Vanessa Price rela mendonorkan sumsum tulangnya. Namun, pengorbanan itu justru dibalas dengan kekejaman Timothy yang ingin membalas dendam demi ibu tirinya, Bryanna. Selama empat tahun Vanessa hidup dalam siksaan, hingga ia dinyatakan tewas di reruntuhan tambang. Penyesalan Timothy baru datang saat menemukan jasad Vanessa bersama bukti kehamilan. Kini, Vanessa bangkit kembali untuk menuntut balas atas kehancuran hidup dan kariernya.
Sampul Novel Mendadak Menjadi Permaisuri ke 6
9.1
Terbangun di tubuh permaisuri abad ke-17 yang diceraikan Pangeran Keenam karena wanita lain, seorang dokter genius masa kini tidak tenggelam dalam kesedihan. Ia memilih fokus merintis karier medis berbekal pengetahuan modern. Keahliannya yang luar biasa sukses memikat hati rakyat hingga sang Kaisar. Meski sempat menutup diri dari cinta, takdir menyeretnya ke dalam dilema emosional antara perasaan terlarang dan sebuah pengorbanan besar yang harus ia putuskan.
Sampul Novel Mertua Hiperseks
8.1
Dua tahun membina rumah tangga, Anita terpaksa tinggal bersama orang tua Andre demi merawat sang ibu mertua yang lumpuh akibat stroke. Keputusan ini justru membawa Anita ke dalam mimpi buruk saat menyadari ayah mertuanya, Wijaya, menderita hiperseks. Kenyataan pahit terungkap bahwa Lola, adik iparnya, telah dilecehkan oleh Wijaya. Kini, Anita menjadi sasaran berikutnya. Diintai tatapan penuh nafsu dan teror kamar yang disusupi, mampukah ia selamat dari jerat sang mertua?
Sampul Novel Terjebak Pernikahan Salah
8.4
Hera Altezza harus menjalani pernikahan paksa tanpa rasa cinta dengan Jayden Xavier. Sikap manis Jayden rupanya cuma kedok demi membalas dendam, sebab ia menuduh Hera merusak hubungannya dengan Elena Darwin. Di tengah siksaan batin akibat dikhianati sang suami, sosok Haidar Pratama datang menawarkan pertolongan. Akan tetapi, bantuan Haidar meminta tebusan besar yang berkaitan erat dengan masa lalu Hera. Kini, ia terjebak di antara kepedihan dan keputusan pelik demi meraih kebebasan.