APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KIRANI SI WANITA MALAM

KIRANI SI WANITA MALAM

Kirani, seorang istri muda, terpaksa menempuh jalan kelam sebagai wanita malam demi menopang kondisi finansial dan menghidupi keluarga suaminya. Kisah ini mengupas tuntas pergolakan batin serta perjuangan beratnya dalam menjalani profesi rahasia tersebut di tengah ikatan pernikahan. Sebuah drama modern yang menyoroti pengorbanan, impitan ekonomi, serta rahasia gelap yang menyelimuti kehidupan rumah tangganya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Vin, mungkin nggak istrimu itu masuk dalam bak sampah ini?" tanya Bu Uli sambil menendang bak sampah besar yang terbuat dari besi itu dengan kaki kanannya.

Mendengar pertanyaan Bu Uli, jantung Kirani berdegup kencang, keringat dingin mengalir tanpa diminta. Dalam hatinya tak putus berdoa agar terbebas dari kejaran suami dan ibu mertuanya.

"Nggak mungkin lah Bu, bak ini tinggi, nggak mungkin istri sialan itu bisa naik, apalagi tadi kelihatan lembek gitu, mana mungkin ada tenaganya," jawab Davin sambil melongokkan kepalanya ke dalam kontainer besar tersebut, lalu dengan cepat ditariknya kembali, keadaannya gelap dan tak tahan dengan bau sampah yang menyengat.

"Mungkin dia sembunyi di belakang perumahan Bu!" ucap Davin lagi sambil mengibas-ibaskan telapak tangannya yang tak sengaja memegang sampah basah.

"Tunggu apa lagi, cepat ke sana! Cari sampai ketemu!" hardik Bu Uli keras, sambil mendorong tubuh Davin hingga hampir jatuh tersungkur.

"Duuuh, kenapa malah ibu yang marah sih? Coba kalau ibu nggak ceroboh, nggak mungkin ..."

"Sudah ... sudah, cepat cari lagi, ibu nggak mau besok malu karena nggak ada uang buat bayar arisan!" Bu Uli memangkas kalimat Davin dengan kasar, tak sedikitpun dia merasa bersalah.

Davin mendengus kesal, dengan langkah malas dia beranjak meninggalkan tempat itu dan Bu Uli mengikutinya, mulutnya tak berhenti mengumpat dan mengomel.

Kirani menghela nafas lega saat suara Davin dan Bu Uli tak terdengar lagi. Dengan hati-hati wanita berwajah teduh itu melihat keadaan di sekitarnya.

"Sudah aman, aku harus keluar dari sini, secepatnya, sebelum ada orang datang," gumam Kirani lirih.

Dengan segenap tenaga yang ada, Kirani keluar dari kontainer besar itu. Rasa sakit dan lapar ditahannya, bau sampah yang menempel di badan diabaikannya. Yang dia pikir hanyalah cepat pergi dan selamat dari kejaran keluarga suaminya.

Di depan sebuah rumah bercat kuning gading, dengan ragu Kirani mengetuk pintu rumah itu.

Tok tok tok!

"Kirani!" seru Mawar terkejut, bola matanya membulat saat melihat kondisi Kirani yang memprihatinkan.

Mawar adalah sahabat terbaik bagi Kirani. Dengan Mawarlah Kirani selalu berkeluh kesah tentang hidupnya, dan Mawar selalu menolong setiap Kirani mengeluh masalah keuangan.

Dengan wajah penuh lebam dan sedikit darah kering tersisa di ujung bibirnya, serta pakaian yang kotor dengan bau menyengat, membuat Mawar terkejut dan hampir tak percaya.

"Kamu kenapa Ran? Siapa yang membuatmu begini?" Mawar memberondong Kirani dengan banyak pertanyaan.

"Aku ... aku ..."

Brugh!

"Raniii!" Mawar menjerit histeris saat tubuh Kirani roboh dan dia tak sempat menopangnya.

"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Galih dengan suara parau, matanya tampak sembab karena mengantuk, Galih adalah suami Mawar yang memang tak suka diganggu kalau sedang tidur.

"To-tolong Bang!" ucap Mawar dengan panik.

"Siapa dia? Kenapa malam-malam mengganggu ketenangan orang?" tanya Galih ketus, lelaki berusia tiga puluh tahun itu membalikkan badannya tanpa memperdulikan Mawar kerepotan mengangkat tubuh Kirani.

"Alhamdulilah, akhirnya kamu sadar juga," ucap Mawar dengan perasaan lega. Dengan cepat diambilnya gelas berisi air yang sudah disiapkan dari tadi.

"War ...,"

"Sudah, jangan ngomong dulu, tenangkan pikiran dan pulihkan tenagamu dulu," kata Mawar sambil menyodorkan mie rebus telur.

Kirani tak segera menyambutnya, dia justru menatap Mawar dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu kenapa Ran? Aku tahu kamu pasti lapar kan?" ucap Mawar dengan penuh perhatian.

"Maafkan aku War, aku selalu merepotkanmu," ucap Kirani dengan lirih, tangis yang dari tadi ditahannya akhirnya meledak.

"Nggak, aku nggak merasa repot, cepat dimakan nanti keburu dingin!" ucap Mawar cepat dan memaksa Kirani untuk segera makan.

"Terima kasih War," ucap Kirani sambil meraih mangkok yang berada di meja kecil.

Kirani menyantap mie itu dengan lahap, rasa perih di bibirnya bekas tamparan mertuanya tadi tak setara dengan rasa perih hatinya.

"Ran... boleh aku tanya?" tanya Mawar dengan hati-hati.

"Nggak usah kamu tanya, aku pasti cerita War, tapi nggak sekarang," sahut Kirani cepat.

"Baiklah, kamu mungkin capek, kamu istirahatlah, tapi maaf hanya beralaskan karpet lusuh."

"Nggak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup, sekali lagi terim...,"

"Siapa yang mengizinkannya untuk tinggal di sini? Ini rumahku, bukan yayasan untuk menampung orang yang nggak jelas asal usulnya!"

Kirani tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Galih tiba-tiba datang, dengan wajah yang sangar.

"Abang! Kirani ini sahabatku!" sahut Mawar dengan mata melotot ke arah suaminya.

Kirani yang baru saja mau merebahkan tubuhnya, bergegas bangun dan berdiri, dia tak mau sahabatnya ribut dengan suaminya karena dirinya.

"Mau dia sahabatmu, atau siapa kek, yang jelas aku nggak suka ada orang asing numpang di rumahku!" sahut Galih dengan ketus.

"Ini rumahku! Rumah peninggalan orang tuaku, jadi aku juga berhak untuk mengizinkan sahabatku tinggal di sini!" sahut Mawar dengan suara keras.

"Kamu lupa? Berapa banyak hutang bapakmu yang belum dibayar?" Galih berkata dengan senyum sinis tersungging di bibir hitamnya.

"Kasihan dia Bang! Tolonglah untuk malam ini saja dia tidur di sini!" pinta Mawar dengan lirih, ditahannya tangan Kirani yang hendak keluar dari kamarnya, dia merasa kalah kalau suaminya menyinggung soal hutang-hutang bapaknya.

"Baik, dia boleh tidur di sini malam ini, atau selamanya, tapi ada syaratnya!" ucap Galih tegas, ditatapnya wajah Kirani dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Syarat?" tanya Mawar sambil menatap wajah suaminya, kemudian beralih menatap Kirani yang kebetulan juga sedang menatapnya dengan tatapan sayu.

"Tanya temanmu itu, sanggup nggak?" ucap Galih kasar.

"Sya-syaratnya ap-apa Bang?" Kirani memberanikan diri bertanya kepada Galih.

"Kamu harus mau melayaniku!" jawab Galih dengan enteng, tanpa memikirkan perasaan Mawar, istrinya yang sontak melotot ke arahnya.

Plak!

"Gila kamu Bang!" seru Mawar keras, setelah menampar pipi kanan suaminya dengan keras.

"Aku nggak setuju!" seru Mawar lagi, dengan emosi yang meluap, lalu pandangannya beralih ke arah Kirani yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk, jari-jemarinya sibuk memilin ujung pakaian yang dipakainya.

"Aku nggak butuh persetujuanmu!" bentak Galih keras.

"Ran, kamu mau?" tanya Mawar kepada Kirani dengan suara keras.

Kirani tak menjawab pertanyaan  Mawar, hujan lebat dan gelapnya malam, tak ada tempat tujuan dan kondisi badan yang sakit membuatnya bingung.

"Diam itu tandanya setuju, iya kan cantik?" Galih bertanya sambil tersenyum sinis, kemudian beranjak pergi ke kamar mandi.

Sejak pertama melihat wajah Kirani tadi, Galih terpesona, walau pun penuh luka dan lebam, baginya tak mengurangi kecantikan wajah sahabat istrinya itu.

"Ran ... jawab! Kamu mau menerima tawaran suamiku?" tanya Mawar sambil mengguncang tubuh Kirani, hatinya mulai kesal, perasaan cemburunya mulai hadir melihat sahabatnya yang hanya diam membisu.

"A ... aku ... aku .... "

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CANDU CINTA CEO AROGAN
9.7
Erlan Levin, CEO sukses asal Jakarta, selalu menolak tekanan keluarganya untuk segera membina rumah tangga. Namun, takdirnya berubah drastis setelah ia kedapatan berada di kamar yang sama dengan seorang gadis asing. Demi menutupi rasa malu, Erlan terpaksa menikahi perempuan yang justru sangat disukai oleh keluarganya tersebut. Kini, sang istri harus berjuang keras meluluhkan hati dingin Erlan. Akankah pernikahan paksa ini menumbuhkan cinta, atau ia hanya akan diabaikan selamanya?
Sampul Novel Cinta Pertamaku, Suami Orang
8.9
Nisa, seorang lulusan pesantren, goyah oleh bujuk rayu Dani hingga terlibat hubungan terlarang. Padahal, pria yang menjadi cinta pertamanya itu sudah berstatus sebagai suami Rika. Meski Rika telah memperingatkannya dengan keras untuk pergi, Nisa enggan mundur karena merasa Dani harus bertanggung jawab atas hatinya. Kini ia dirundung dilema besar: menyudahi perselingkuhan ini atau tetap egois mengejar kebahagiaan di atas penderitaan wanita lain.
Sampul Novel Gairah Perempuan Bergaun Merah
8.8
Ruby, wanita paruh tiga puluhan bertubuh molek dengan segudang pengalaman cinta, kini terjerat obsesi yang membutakan nurani. Logika dan kewarasannya runtuh demi mengejar sosok terlarang. Ia nekat menerjang segala batasan tabu demi meraih cinta yang seharusnya tidak pernah ia miliki.
Sampul Novel Jadi Suamiku Ya, Om?
9.2
Nindya begitu berambisi mendapatkan Andy, guru sekolahnya yang juga sahabat sang ayah, walaupun Andy telah berpacaran dengan Raya. Desakan untuk menikah terus dilancarkan Nindya demi menjadi istri masa depannya. Bagi Andy, gadis itu hanyalah anak kecil yang mengusik hidupnya, sedangkan Raya menaruh kebencian mendalam. Perseteruan sengit pun pecah antara Raya yang emosional dan Nindya yang lihai berpura-pura menjadi korban. Siapakah yang akhirnya dipilih oleh Andy?
Sampul Novel MY Nerdy Wife
9.7
Paras menawan justru menjadi sumber malapetaka bagi Arcella Shameera Caluella. Atas desakan ibunya, ia terpaksa menyamar sebagai gadis culun demi meredam rasa cemburu buta sang kakak, Vanessa. Meski begitu, Vanessa tetap berambisi merusak hidupnya dengan merebut Zale dan Auriga, pria-pria yang dicintai Arcella. Lewat siasat licik, Vanessa bahkan berhasil menjebak adiknya dalam pertunangan dengan pria berhati kejam. Mampukah Arcella bertahan dari siksaan kakaknya?
Sampul Novel Perceraian & Kesuksesan Amara
8.9
Tiga tahun Siska Amara terjebak pernikahan semu dengan Rafael Prabowo, mengorbankan keluarga dan kariernya demi cinta. Setelah resmi bercerai, ia memilih bangkit dan menata hidup baru. Siska berhasil membuktikan kekuatannya dengan menjadi desainer ternama sekaligus investor sukses yang disegani. Ketika Rafael kembali hadir membawa penyesalan dan memohon kesempatan kedua di saat dirinya berada di puncak kejayaan, Siska dengan tenang menganggap mantan suaminya itu tak lebih dari orang asing.