APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KhaRisma

KhaRisma

Perpisahan yang telah terjadi meninggalkan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski hubungan ini membawa rasa sakit dan kesedihan, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, jika saja waktu dapat berputar kembali, keinginan terbesarku hanyalah mengulang setiap detik berharga yang pernah kita lalui bersama.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kharis menyepak batu kerikil berukuran sedang. Dia kaget saat baru itu melayang mengenai sesuatu.

Mata Kharis membulat sempurna. Di depannya sebuah kaca pada salah satu toko pecah karena batu kerikil yang dia sepak.

Si empunya toko langsung keluar dengan muka kaget bercampur penasaran.

"Siapa yang berani memecahkan kaca tokoku?" teriaknya lantang.

Kharis merinding. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya dia yang berdiri di situ. Sudah pasti dia yang akan dituduh sebagai pelaku oleh si pemilik toko.

Pria dengan badan tinggi tegap, berkumis, dengan tatapan garang menatap sengit ke arah Kharis.

Kharis tidak berkutik. Dia tampak ketakutan. Wajah pria si pemilik toko terlihat sangat menakutkan. Kharis berusaha bergerak mundur dan hendak melarikan diri. Namun, pria tersebut dengan sigap menarik kerah baju Kharis.

"Mau pergi ke mana kau, hah!" teriak pria itu dengan garang.

Lantas dia menarik Kharis masuk ke dalam tokonya.

Perdebatan sengit terjadi di dalam toko. Kharis mencoba merayu, tapi usahanya gagal. Pria si pemilik toko tersebut meminta ganti rugi pada Kharis atau jika tidak, dia akan melaporkan Kharis ke Polisi.

Kharis akhirnya mengalah. Dia pun membayar ganti rugi pada si pemilik toko dengan jumlah yang dia inginkan. Dari pada Kharis diboyong ke kantor polisi dan berurusan dengan pihak berwajib. Apalagi jika sampai Kharis dipenjara, bisa-bisa masalah makin bertambah rumit. Belum lagi jika kedua orang tuanya mengetahui tentang hal itu. Semakin ruwet dan runyam.

Kharis melangkah dengan gontai keluar dari toko. Mukanya terlihat kusut, sama halnya seperti baju yang dia pakai. Kusut dan lusuh. Kharis begitu tidak bersemangat. Setelah melangkah sedikit jauh dari toko si pria garang yang kacanya tidak sengaja dia pecahkan. Umpatan demi umpatan terucap dari mulutnya.

"Benar-benar hari sial. Apa salah gue hari ini hingga gue mengalami kerugian. Uang gue 500 ribu melayang tidak jelas. Apes sekali gue hari ini." Kharis menepuk jidatnya sendiri, tapi ....

"Aaww!" teriaknya merasakan sakit tepat di memar yang ada di keningnya. "Ini semua gara-gara cewek sialan itu." Kharis berteriak seperti orang gila, hingga membuat pemuda tampan itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat.

"Kasihan, ya," celoteh seseorang yang lewat di depan Kharis.

"Ih, bajunya dekil banget." Tampak dua orang saling berbisik-bisik sambil melihat Kharis yang sedang menggaruk-garuk kepalanya.

"Pasti dia orang gila baru," ujar seseorang yang berpapasan dengan Kharis.

"Bisa jadi. Sekarang zaman susah, cari kerjaan saja sulit. Mungkin dia stres karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan," sambung yang lainnya.

Menyadari bahwa dirinya sedang jadi omongan banyak orang di tempat umum. Wajah Kharis langsung berubah.

"Apa lu lihat-lihat!" bentak Kharis pada seorang anak berumur lima tahun yang berdiri di depannya.

Namun, anak itu bukannya takut pada bentakan Kharis. Justru si anak memberikan sebungkus minuman yang baru dia beli pada Kharis.

"Ini untukmu. Kau terlihat sangat lelah. Kau pasti kehausan. Ini minumlah," celotehnya dengan tersenyum.

Setelah memberikan bungkusan es teh, si anak langsung pergi berlari meninggalkan Kharis yang bengong dibuatnya.

"Haiss, dia pikir gue ini orang gila!" umpatnya lagi. Kharis membuang sebungkus es teh di sebuah got kecil, lalu dia melangkah dan berhenti di sebuah kaca besar.

"Wah, orang gila yang sangat sombong. Beruntung ada anak kecil yang memberinya sebungkus es teh, tapi kenapa dibuang begitu saja. Orang gila yang benar-benar tidak tahu caranya bersyukur," kata seorang kakek-kakek yang melihatnya dan tidak sengaja Kharis mendengarnya.

Merasa pandangan orang-orang sekitar sangat aneh, Kharis berjalan menjauh dan meraupkan kedua tangannya ke wajahnya. Dia sadar kenapa orang-orang sekitar menatapnya aneh.

Kharis baru menyadari jika bajunya kotor dan dekil. Terlihat di wajahnya ada kotoran, tepatnya di pipi kanannya. Rambut yang basah dan acak-acakan. Sungguh penampilannya terlihat seperti orang gila. Pantas saja jika orang-orang yang berpapasan dengannya saling berbisik-bisik dan memandangnya dengan tatapan yang sangat aneh, bahkan ada yang menutup hidungnya.

"Aargh!" Kharis berteriak sambil mengacak-acak rambutnya. Kharis berteriak tanpa melihat keadaan sekitarnya.

Mendengar teriakan dari Kharis, orang-orang semakin menjauh dan menjaga jarak dari Kharis. Mereka menyangka dan berpikir jika Kharis akan mengamuk dan mengejar mereka.

"Sini, Nak. Nanti kalau orang gila itu mengamuk, kau bisa langsung diterkam," kata seorang wanita. Tangannya langsung menarik dan menggandeng anaknya. Dia berjalan menjauhi dari Kharis.

"Kenapa semakin banyak orang gila di Ibukota?" celetuk seorang wanita dengan membawa tas jinjing.

"Apa kita perlu menghubungi rumah sakit jiwa untuk menjemputnya?" sambung seorang pria.

Mendengar celotehan orang-orang Kharis menjadi bergidik ngeri. Otak dia langsung berputar, Kharis membayangkan dirinya dibawa ke rumah sakit jiwa dan berkumpul dengan orang-orang gila lainnya.

"Ah, tidak-tidak. Gue tidak mau dibawa ke rumah sakit jiwa." Kharis menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lebih baik gue buru-buru pulang dan membersihkan diri. Dari pada gue masih berdiri di sini dengan keadaan dekil dan bau. Bisa-bisa gue diangkut dan dibawa ke rumah sakit gila. Gue ini kan masih waras." Kharis segera melangkah pulang meninggalkan orang-orang yang sedang membully dirinya.

Beberapa orang yang hampir berpapasan dengan Kharis mendadak berlari bersembunyi. Bahkan ada beberapa yang tidak sengaja berlari masuk ke dalam rumah orang.

"Menepi dulu, ada orang gila mau lewat," ujarnya menarik anak perempuan di sampingnya.

"Kenapa jadi gue berasa seperti diolok-olok," lirih Kharis.

Kharis melangkah masuk ke dalam sebuah gang, akan tetapi di sana justru dia mendapatkan teriakan dari anak-anak kecil yang sedang bermain.

"Orang gila baru ... orang gila baru," teriak enam orang anak.

"Gue bukan orang gila," bentak Kharis yang merasa diejek.

"Woi ... lu kenapa bentak-bentak anak gue." Seorang pria mengacungkan gunting rumput pada Kharis. "Sini lu kalau ingin gue pangkas habis!"

Kharis langsung memegang anu nya. Dia langsung ngacir berlari meninggalkan tempat itu. Namun, tiba-tiba dia berhenti dan memperhatikan sekitar. Kharis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kenapa gue bisa berasa di sini lagi? Yaelah ... jangan bilang kalau gue kesasar." Kharis menepuk keningnya. "Rumah susun yang sangat membingungkan," gerutunya kembali melangkahkan kakinya sebelum ada lagi yang akan berteriak pada Kharis.

Kharis buru-buru mengambil langkah seribu saat si pemilik toko yang berwajah seram itu keluar dari dalam tokonya. Kharis memilih melewati jalan yang sepi.

"Gue capek ... gue ingin segera sampai di rumah. Semua jalan yang ada di komplek rumah susun ini sangat membingungkan. Bisa jadi gue hanya berputar-putar komplek," keluh Kharis.

"Kharis!" Sebuah panggilan membuat Kharis menoleh ke belakang dan mata Kharis berbinar-binar. "Gue pikir bukan elu hahaha ... lu kenapa? Dekil begitu, mana bau lagi. Penampilan lu sudah seperti tikus kecebur got," ledeknya.

"Sialan lu ... jangan meledek. Gue sedang emosi ini," rutuk Kharis.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dinikahi Kakaknya
9.3
Keisha didera nestapa saat Rafael, sang kekasih selama lima tahun, absen di hari pernikahan mereka. Demi menyelamatkan kehormatan keluarga Keisha dari kehancuran, Dion yang merupakan kakak kandung Rafael maju menggantikan posisi sang adik. Tanpa ada landasan cinta dan hampir tidak saling mengenal, Keisha terpaksa menyetujui pernikahan darurat ini. Kini, ia harus mengarungi bahtera rumah tangga yang tak pernah diduga. Akankah pernikahan tanpa rasa ini sanggup bertahan?
Sampul Novel Dosenku Suami Posesif
9.6
Kehidupan Belinda Zevaya sebagai mahasiswi akhir mendadak kacau saat laptop untuk menyusun skripsinya rusak, sementara ia sedang mengalami krisis keuangan. Situasinya kian rumit karena ia harus berhadapan dengan Arez Bernando, dosen pembimbingnya yang terkenal sangat kejam dan ditakuti. Namun secara mengejutkan, Arez menawarkan jalan keluar tak biasa. Ia meminta Belinda bekerja di rumah pribadinya agar laptop itu diperbaiki dan kelulusannya bisa segera dibantu.
Sampul Novel Hawa Nafsu Kekasihku
8.0
Kehidupan Affry jungkir balik setelah malam tak terduga membuatnya mengandung anak dari pria asing. Lelaki itu ternyata Liu Chaing He, manajer di perusahaan milik orang tua Affry. Demi melindungi nama baik keluarga, mereka pun terpaksa menikah. Namun, kepedihan Affry makin berat karena Chaing He rupanya masih mencintai wanita lain. Akankah pernikahan tanpa rasa cinta ini sanggup bertahan di bawah bayang-bayang masa lalu sang suami?
Sampul Novel Hubungan Terlarang Berkedok Belajar Berkemudi
8.1
Sesi belajar menyetir yang seharusnya biasa saja berubah menjadi situasi intim yang berbahaya. Saat berada di balik kemudi bersama ayah sahabatnya, sang protagonis diminta duduk di pangkuan pria tersebut. Guncangan jalanan bergelombang dan sentuhan fisik yang berdalih melatih konsentrasi segera memicu ketegangan sensual yang tak tertahankan. Ketika batas-batas mulai dilanggar, dia menyadari bahwa hubungan rahasia ini telah meluncur jauh di luar kendali mereka berdua.
Sampul Novel Jangan Sentuh Hatiku, Jika Tak Bisa Memiliki
9.6
Nayara, staf administrasi rupawan yang bersahaja di perusahaan besar Jakarta, terlibat hubungan rumit dengan Leonardo Arvandre. Pria itu merupakan miliarder muda blasteran Prancis-Indonesia sekaligus ahli waris tunggal Arvandre Global Corporation. Sejak pertemuan pertama mereka tiga tahun silam, benih asmara mulai tumbuh. Namun kini, keduanya justru terjebak di antara gejolak cinta, harga diri, serta sebuah rahasia besar yang belum terungkap.
Sampul Novel The Devil CEO
7.8
Ethand Girogino Alves memimpin Alves Corp dengan tangan besi dan ucapan yang selalu menusuk hati. Namun, keangkuhan sang CEO berjuluk iblis ini langsung mendapat tantangan sengit begitu ia bertemu Emma Liandra Jones. Di balik parasnya yang menawan, Emma adalah ahli teknologi informasi yang sangat cerdas. Ia menolak tunduk meski Ethand merendahkan harga dirinya. Pertarungan harga diri pun dimulai di kantor, di mana keteguhan Emma perlahan meruntuhkan keyakinan sang bos.