APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Suami Membagi Cinta

Ketika Suami Membagi Cinta

Enam tahun membina rumah tangga karena kesalahan masa lalu, Arunika Selvara harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya, Davin Albrecht, menaruh hati pada Selina. Keretakan pernikahan mereka kian nyata saat putri mereka, Mireya, mulai lebih dekat dengan Selina. Meski mencintai wanita lain, Davin menolak bercerai. Di tengah rasa sakit, Arunika memilih pasrah dan menarik diri. Namun, keputusan Arunika untuk menjauh justru menyadarkan Davin bahwa ia tidak bisa hidup tanpa istrinya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hujan turun dengan deras di luar jendela, menimbulkan suara gemuruh yang bercampur dengan dentingan air mengenai atap rumah. Dari balik tirai tipis, Arunika Selvara menatap kosong ke arah gelap malam. Cangkir teh hangat di tangannya sudah lama dingin, uapnya lenyap sejak ia biarkan tanpa disentuh.

Di ruang tamu yang luas itu, hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar. Rumah sebesar ini seharusnya ramai dengan tawa dan obrolan keluarga, tapi malam itu yang tersisa hanyalah kesunyian.

Pintu depan tiba-tiba terbuka. Suara langkah sepatu bergema. Seorang pria tinggi dengan jas yang masih melekat di tubuhnya masuk dengan wajah tanpa ekspresi.

"Sudah larut," ucap Arunika pelan, hampir tanpa suara.

Davin Albrecht tidak langsung menjawab. Ia melepas jasnya, menggantung di dekat pintu, lalu berjalan melewati Arunika tanpa menoleh. Bau parfum asing yang samar tercium saat ia lewat, menusuk indera Arunika dengan getir yang sulit dijelaskan.

"Papa!" suara riang terdengar dari tangga. Mireya, gadis kecil berusia lima tahun, berlari turun dengan piyama bergambar kelinci. Matanya berbinar, seakan baru saja mendapat hadiah besar hanya karena ayahnya pulang.

Davin berhenti. Senyum tipis, jarang sekali muncul, terbit di wajahnya. Ia berjongkok, meraih Mireya dalam pelukan. "Sayang, sudah tidur?" tanyanya.

"Aku tunggu Papa pulang. Mama bilang Papa sibuk, tapi aku ingin kasih lihat gambaranku." Mireya menunjukkan kertas berwarna yang digenggamnya erat.

Arunika hanya bisa memperhatikan dari jauh. Senyum Mireya, tawa kecilnya, dan pelukan erat itu bukan untuknya. Hatinya menghangat sekaligus perih.

Davin menatap gambar itu. "Indah sekali. Kamu memang pintar."

Mireya tertawa kecil. "Aku gambar Papa, Mama, dan aku. Lihat, di sini kita bertiga pegang tangan."

Arunika menelan ludah. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat sederhana itu. Gambar keluarga kecil yang tampak sempurna, meski kenyataan begitu jauh dari itu.

"Cantik sekali." Davin mengacak lembut rambut putrinya. "Sekarang, waktunya tidur. Papa antar, ya?"

"Boleh, Papa!" Mireya melompat kegirangan.

Arunika ingin ikut bicara, ingin mengatakan bahwa ia yang seharusnya menemani anaknya tidur. Tapi tatapan dingin Davin saat ia hendak membuka mulut membuatnya mengurungkan niat. Ia hanya duduk diam, memeluk cangkir kosong yang sejak tadi tidak berguna.

Langkah kaki mereka berdua naik ke lantai atas, meninggalkan Arunika sendirian di ruang tamu. Hanya dentuman hujan yang kembali mengisi ruang.

Beberapa menit kemudian, Davin turun lagi. Wajahnya datar, dingin, seolah senyum tadi hanyalah topeng untuk putri mereka.

"Kamu belum tidur?" suaranya terdengar datar, nyaris seperti pertanyaan basa-basi.

Arunika menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke luar jendela. "Tidak bisa tidur."

Davin duduk di sofa seberang, mengambil tablet dari tasnya, langsung menatap layar. Tidak ada kelanjutan obrolan. Tidak ada pertanyaan lebih jauh.

Arunika menghela napas. "Kamu makan?"

"Sudah." Jawaban singkat.

"Dengan siapa?" Pertanyaan itu lolos begitu saja, meski ia tahu risikonya.

Tatapan Davin terangkat dari layar. Mata abu-abunya menusuk, dingin, penuh peringatan. "Apa gunanya kamu tahu?"

Arunika terdiam. Lidahnya kelu. Ia ingin marah, ingin menuntut, ingin menjerit bahwa ia tahu ada wanita lain bernama Selina yang kini menjadi bagian hidup Davin. Tapi ia menahan diri. Sudah terlalu sering ia melawan, dan hasilnya hanya luka baru.

"Aku hanya... khawatir," jawabnya pelan.

Davin tidak menanggapi. Ia kembali menatap layar, seolah Arunika hanyalah bayangan tak berarti.

Arunika menunduk. Tangannya gemetar memegang cangkir. Ia ingin sekali menanyakan apa Selina lebih baik darinya, apa Selina yang mampu membuat Davin tersenyum dengan tulus. Tapi suara itu terjebak di tenggorokan.

Keesokan paginya, rumah kembali sunyi. Davin berangkat lebih awal, seperti biasa. Mireya masih tertidur pulas, memeluk boneka kelinci kesayangannya.

Arunika berdiri di dapur, menyiapkan sarapan yang ia tahu tidak akan disentuh suaminya. Ia melakukannya bukan karena berharap Davin akan berubah pikiran, tapi lebih sebagai rutinitas yang sudah mendarah daging.

Saat ia tengah menuangkan susu untuk Mireya, telepon rumah berdering. Arunika mengangkat.

"Halo?"

"Arunika? Ini Clara."

Hatinya langsung terhentak. Nama itu seperti pisau. Clara Selina-wanita yang selama ini hanya ia dengar lewat bisik-bisik dan kabar samar, kini menyebut namanya secara langsung.

"Kenapa meneleponku?" suara Arunika bergetar.

"Aku hanya ingin bicara baik-baik. Tentang Davin."

Arunika menggenggam gagang telepon lebih erat. "Aku tidak perlu mendengar apa pun darimu."

"Tapi kamu harus tahu," suara Selina terdengar tenang, terlalu tenang. "Dia mencintaiku."

Arunika memejamkan mata. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Kata-kata itu seperti racun yang meresap dalam darahnya.

"Jangan hubungi aku lagi," ucapnya, lalu menutup telepon dengan tangan gemetar.

Tubuhnya bersandar pada dinding dapur. Napasnya berat, seperti baru saja kehilangan udara. Ia ingin berteriak, tapi yang keluar hanyalah isakan tertahan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti bayangan. Davin semakin jarang pulang tepat waktu. Saat pulang pun, perhatiannya hanya untuk Mireya. Arunika merasa posisinya di rumah ini semakin menghilang.

Malam itu, saat Davin baru saja tiba, Arunika memberanikan diri bicara.

"Kita bisa bicara sebentar?" suaranya pelan.

"Besok. Aku lelah." Davin menanggalkan jas, berjalan ke arah tangga.

"Davin!" suara Arunika meninggi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Pria itu berhenti, menoleh dengan sorot tajam. "Apa?"

"Apa kamu masih ingin pernikahan ini? Atau kamu hanya menunggu aku yang menyerah?"

Keheningan panjang menyusul. Davin menatapnya lama, lalu berkata, "Kalau kamu mau pergi, pintunya selalu terbuka."

Arunika terdiam. Dadanya seperti diremas. Bukan hanya dingin, tapi juga kejam.

"Kalau bukan karena Mireya..." Davin menggantung kalimatnya, lalu berbalik naik ke atas.

Arunika berdiri mematung. Air matanya jatuh begitu saja. Ternyata, ia benar-benar hanyalah bayangan yang dipertahankan demi anak.

Malam itu, Arunika duduk di kamar Mireya, memandang putrinya yang tertidur pulas. Gadis kecil itu tersenyum dalam tidurnya, seperti tidak ada dunia yang lebih indah dari mimpinya.

Arunika mengusap rambut Mireya, membisikkan, "Mama akan selalu ada di sini. Untukmu. Apa pun yang terjadi."

Tapi jauh di lubuk hatinya, ia bertanya-tanya: sampai kapan ia bisa bertahan? Sampai kapan ia bisa pura-pura kuat, sementara hatinya hancur sedikit demi sedikit?

Dan justru di saat itu, di tengah keputusasaan, sebuah perasaan asing muncul. Ia sadar-di balik semua kebekuan ini, Davin belum benar-benar melepasnya. Ia masih bertahan, entah dengan alasan apa.

Dan itulah yang paling menyakitkan. Karena jika Davin benar-benar ingin pergi, mungkin rasa sakitnya tidak akan serumit ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Abang Duda Kesayangan
9.5
Pertemuan tak sengaja dengan seorang duda menawan setelah Dilara Aysila Airene menolong seorang nenek di jalan menjadi awal dari segalanya. Terpikat oleh ketampanan sang pria, Dilara jatuh cinta dan bertekad merebut hatinya. Demi menarik perhatian sang idaman, ia meluncurkan berbagai rayuan hingga aksi konyol. Akankah misi cinta Dilara ini berakhir manis atau justru menghadapi rintangan? Ikuti perjuangan unik gadis ini dalam mengejar cinta sang duda.
Sampul Novel Calon Istriku Gadis Matre
8.8
Hubungan asmara Revan dan Nayla yang direstui orang tua kini siap menuju pernikahan. Namun, ketulusan Revan hancur seketika saat Nayla berkhianat, membuatnya nekat membatalkan rencana sakral tersebut. Di tengah keputusasaan, Nayla menangis tersedu-sedu dan memohon agar sang kekasih tidak pergi. Ia mengaku sedang hamil anak Revan, berharap janin di dalam kandungannya dapat melunakkan hati Revan agar tetap bersedia menikahinya.
Sampul Novel Dipaksa Menikah
9.6
Demian Dewantara merasa sangat tidak beruntung karena dipaksa menikahi Hana Anindya Prayoga. Ia menuduh Hana menerima perjodohan ini demi ketampanannya, padahal Hana pun membenci situasi tersebut. Hana merasa terperangkap dalam pernikahan tanpa rasa cinta akibat manipulasi ayahnya, Guntoro Prayoga. Meski awalnya saling muak dalam ikatan demi bisnis ini, sebuah kejadian tak disangka perlahan meluluhkan kebencian mereka dan mengubahnya menjadi cinta.
Sampul Novel Gadis Penakluk Hati Tuan Muda Tampan
8.5
Demi takhta, Arkana menikahi Yasmin lewat perjanjian formal. Meski kesal dengan sikap kekanak-kanakan istrinya, Arkana diam-diam tetap menjalin cinta dengan kekasih lamanya. Setelah delapan bulan, ia memilih bercerai demi sang pacar. Namun, Arkana tidak menyadari bahwa hubungan fisik mereka telah mengubah segalanya. Yasmin ternyata menyembunyikan kehamilannya. Terkejut mengetahui hal itu, Arkana pun menuntut rujuk demi darah dagingnya yang kini dikandung Yasmin.
Sampul Novel GAIRAH LIAR PLAYBOY TAJIR
8.0
Leon Indrajaya, pewaris takhta bisnis properti yang kaya, menyembunyikan trauma masa kecil di balik tabiat dingin dan temperamentalnya. Demi menyembuhkan luka batin itu, sang ayah memaksanya menjalani terapi dengan psikiater menawan bernama Evita Caroline. Meski menyadari bahwa Evita telah bertunangan dengan CEO Young Entertainment, Belvin Alexander, Leon justru terobsesi padanya. Akankah ia nekat merebut Evita dan memicu perang besar antarkeluarga konglomerat?
Sampul Novel Istri Yang Diacuhkan
8.3
Arvin berniat menceraikan Gina, mengabaikan kehadiran putri mereka, Darcy. Pernikahan ini rupanya cuma kedok balas dendam Arvin kepada Felysia, sang mantan pacar yang ternyata kakak kandung Gina sendiri. Walau Gina sudah berjuang keras mempertahankan rumah tangga mereka, pengkhianatan Arvin yang berselingkuh dengan Felysia di belakangnya merusak segalanya. Akhirnya, demi menyembunyikan kepedihan ini, mereka sepakat bercerai saat Darcy berusia tiga tahun.