APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel  Kerudung Pembalasan

Kerudung Pembalasan

Kehidupan Ana hancur seketika setelah menyaksikan perselingkuhan Javier dengan sahabat dekatnya sendiri. Pengkhianatan kejam itu menghancurkan seluruh rencana masa depan mereka. Namun, di tengah rasa sakit, Ana menolak terpuruk. Ia bangkit dari kepalsuan tersebut demi menata ulang hidup dan jati dirinya. Saat Javier datang memohon dimaafkan, Ana menyadari bahwa harga diri dan mencintai diri sendiri adalah segalanya. Mampukah ia merelakan masa lalu demi menyambut cinta baru yang jauh lebih tulus?
Bab
Bagikan

Bab 3

Keheningan yang mengikuti kepergian Ana dari ruangan terasa seperti kawat tegang, dipenuhi energi yang hampir tak mampu ditangani Ana. Saat Clara perlahan bangkit dari tempat tidur, ruangan itu terasa semakin menyempit, menjadi semakin sesak. Kata-kata yang menggantung di udara tak cukup untuk menjembatani jurang antara kedua wanita itu. Ana berdiri, dadanya sesak karena rasa sakit dan kebingungan, matanya bertemu dengan mata Clara.

Clara, di sisi lain, memiliki tatapan kosong seseorang yang tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan yang tak dapat diperbaiki. Ada sesuatu di matanya yang tampak seperti campuran penyesalan dan ketakutan, seolah-olah bayangannya sendiri adalah bayangan orang asing. Tetapi sekeras apa pun Ana mencoba menganalisisnya, tak ada yang bisa meredakan gejolak yang membakar di dalam dirinya. Rasa sakit pengkhianatan masih begitu nyata, begitu segar, sehingga setiap upaya untuk memahami terasa benar-benar asing baginya.

Clara membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi kata-katanya tak pernah sepenuhnya terbentuk. Suaranya bergetar, seolah-olah dia sedang mencari cara yang tepat untuk mengekspresikan dirinya, sesuatu yang dapat membatalkan kesalahan yang tak dapat diperbaiki. Namun, Ana, yang diliputi amarah dan kesedihan, tidak membutuhkan penjelasan. Ia tidak ingin mendengarnya.

"Aku tidak menginginkan penjelasanmu." Kata-kata itu keluar dari mulut Ana dengan kecepatan dan kekasaran yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Jantungnya berdebar kencang, dan amarah memaksanya untuk menjaga jarak, untuk mencegah Clara memiliki kesempatan untuk meminta maaf, untuk membenarkan hal yang tidak dapat dibenarkan.

Namun, Clara tidak berhenti. Matanya, yang berkaca-kaca, tampak memohon pengertian, tetapi kekerasan situasi tidak memberi ruang untuk apa pun selain amarah pengkhianatan. Dengan desahan, Clara melangkah mendekati Ana, tetapi alih-alih mendekat, ia malah memprovokasi reaksi sebaliknya. Ana secara naluriah mundur, satu langkah, lalu langkah lainnya, hingga tumitnya menyentuh tepi pintu. Ia tidak ingin berada di dekat Clara. Tidak sekarang. Tidak setelah apa yang telah dilihatnya. Tidak setelah apa yang telah dilakukan Clara padanya.

"Apa yang kau ingin aku katakan?" tanya Ana, suaranya bergetar, tetapi penuh dengan penghinaan. "Aku minta maaf? Aku menyesalinya? Aku tahu, aku salah. Tapi kumohon mengerti, itu bukan salahku. Javier membujukku, memanipulasiku. Dia tahu kau mencintainya dan..." Kata-kata Clara menggantung di udara, tetapi gagal menembus cangkang amarah yang menyelimuti hati Ana. Bayangan Javier dan Clara berpelukan di tempat tidur tetap terbayang jelas di benaknya, dan mendengar pembenaran Clara hanya semakin memicu amarahnya. Gagasan bahwa sahabatnya menyalahkan Javier atas tindakannya sendiri sungguh tak tertahankan.

"Cukup!" teriak Ana, suaranya tercekat karena amarah. Dia tidak tahan lagi. Dia tidak ingin mendengar alasan lagi, upaya lagi untuk menebus apa yang tak termaafkan. Amarah, frustrasi, rasa sakit-semuanya tumpah ruah dalam teriakan itu.

Clara tampak hancur mendengar kata-kata itu. Bukan dengan kekuatan pengkhianatan yang dirasakan Ana, tetapi dengan kerentanan yang belum pernah dilihat Ana sebelumnya. Pada saat itu, Clara bukan lagi wanita yang dengannya ia berbagi tawa, rahasia, dan kenangan seumur hidup. Sekarang, ia tampak kecil, hancur, kewalahan oleh beban perbuatannya. Seolah-olah hati nuraninya sendiri melahapnya dari dalam.

Dengan bahu terkulai dan mata yang dipenuhi air mata, Clara ambruk ke tempat tidur. Ia memeluk dirinya sendiri seolah mencoba mengumpulkan kekuatannya, tetapi rasa sakit akibat situasi itu meng overwhelmingnya. Ana memperhatikannya dalam diam, terpecah antara amarah dan kebingungan. Setiap bagian dari dirinya ingin merasakan belas kasihan kepada wanita yang pernah menjadi temannya, tetapi penderitaan yang telah ia sebabkan membuatnya tidak mampu merasa iba. Clara menangis, tetapi bagi Ana, air mata itu tidak dapat menghapus apa yang telah ia lihat, apa yang telah ia alami di rumahnya sendiri, di tempat tidurnya sendiri.

"Bagaimana bisa kau melakukan ini?" bisik Ana, kata-katanya bergetar karena putus asa. Setetes air mata mengalir di pipinya, diikuti oleh derasnya rasa sakit. Itu adalah rasa sakit yang tidak dapat ia proses, sensasi robekan yang membuatnya sesak napas. Bagaimana ia bisa sampai pada titik ini? Bagaimana ia bisa begitu buta? Bagaimana mungkin Clara, sahabatnya, melakukan ini padanya?

Clara mendongak, matanya bersinar dengan kesedihan yang menusuk udara di antara mereka. Itu adalah kesedihan seseorang yang tidak lagi tahu bagaimana untuk kembali, seseorang yang terjebak dalam jaring kebohongan dan penyesalan.

"Aku bersumpah aku tidak pernah menginginkan ini terjadi," kata Clara lembut, seolah mencoba menjangkau Ana dengan ketulusan yang, pada saat itu, tampak sia-sia. "Tapi dia memanipulasiku, Ana. Dia bilang dia sangat mencintaimu, tapi dia tidak bisa melanjutkan semuanya..."

Ana menatapnya, matanya dipenuhi rasa sakit. Apakah Clara benar-benar berpikir itu bisa membenarkan apa yang telah dilakukannya? Apakah dia berpikir ucapan "Maaf" sederhana bisa menghapus bayangannya, telanjang di tempat tidur Javier, mengkhianati persahabatan yang telah mereka jalin selama bertahun-tahun? Tidak, Ana, dia tidak bisa lagi mempercayai apa pun yang dikatakan Clara. Kata-kata itu terasa hampa, seolah-olah tidak memiliki bobot atau nilai di hadapan besarnya apa yang telah terjadi.

"Pergi," kata Ana tegas, suaranya berubah dingin dan tajam. Dia tidak bisa tinggal di sana lebih lama lagi, menatap Clara yang, betapapun hancurnya dia saat itu, tidak lagi memiliki tempat dalam hidupnya. Pengkhianatan itu bukan hanya dari Javier; Clara telah melewati batas yang tidak bisa diperbaiki.

Clara menatapnya sejenak lagi, wajahnya mencerminkan campuran penyesalan dan kebingungan, seolah mencoba menemukan alasan untuk tinggal, untuk menjelaskan dirinya sekali lagi. Tetapi tidak ada yang bisa dia katakan yang akan mengubah kenyataan dari apa yang telah dialami Ana. Kata-kata tak mampu memperbaiki kerusakan, tak mampu menghapus rasa sakit akibat pengkhianatan. Setelah keheningan yang panjang, Clara bangkit dari tempat tidur, langkahnya goyah, dan meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu tertutup perlahan di belakangnya, tetapi bayangan kesedihan yang berat masih menyelimuti ruangan itu.

Ana ditinggalkan sendirian, diam, menghadapi gema kebohongan, janji yang dilanggar, dan mimpi yang hancur. Jantungnya masih berdebar kencang di dadanya, tetapi kini ada kejelasan yang dingin di dalam dirinya. Dia bukan lagi orang yang sama yang memasuki ruangan itu. Kepercayaan, persahabatan, cinta-semuanya tampak lenyap begitu saja, seperti asap, seperti sesuatu yang tidak pernah nyata.

Dengan desahan, Ana kembali berbaring di tempat tidur. Dia menutup matanya, mencoba memadamkan bayangan-bayangan yang menghantuinya, mencoba memblokir rasa sakit yang masih membakar di dalam dirinya. Tetapi dalam keheningan itu, dalam kesendirian itu, dia mulai memahami sesuatu yang mendasar: dia tidak bisa lagi hidup di dunia kebohongan, dia tidak bisa lagi berpegang pada sesuatu yang tidak pernah ada. Proses penyembuhan akan dimulai tepat saat ia menerima kenyataan bahwa orang-orang yang ia percayai tidak lagi ada, setidaknya tidak seperti yang ia kenal.

Angin bertiup lembut dari jendela yang terbuka, membawa serta janji masa depan yang tidak pasti, tetapi juga kesempatan untuk memulai kembali. Meskipun jalan di depan panjang dan menyakitkan, Ana tahu ia harus menempuhnya, untuk dirinya sendiri. Pengkhianatan telah merampas begitu banyak darinya, tetapi sebagian dirinya masih berjuang untuk bertahan hidup, untuk sembuh. Dan dengan pikiran itu, Ana menutup matanya, siap untuk apa pun yang akan datang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Yang Kau Balas Dengan Surat Cerai!
9.1
Saat menyiapkan makan malam, Amara dikejutkan oleh permintaan cerai suaminya, Damien Crowhurst. Meski mencintai Damien sejak awal perjodohan akibat kebangkrutan keluarganya, Amara sepakat berpisah dan menerima kompensasi besar. Sikap tenangnya membuat Damien dan Selene Marquette, wanita baru yang menghinanya, terkejut. Usai empat tahun terjebak dalam pernikahan dingin, Amara memilih pergi ke apartemen kecil demi merasakan kebebasan yang nyata.
Sampul Novel Gairah Nakal Ayah Temanku
8.8
Novel romansa modern ini menyajikan kisah khusus dewasa dengan konflik emosional yang rumit dan menantang. Pembaca diharapkan bijak serta cukup umur saat mengikuti dinamika hubungan yang penuh gejolak di dalamnya. Menampilkan narasi yang berani dan eksplisit, buku ini menuntut kedewasaan sikap untuk memahami setiap ketegangan yang ada. Sebuah pilihan bacaan yang sangat cocok bagi para pencinta literasi romantis matang.
Sampul Novel Kubalas Kesombongan Ipar Dan Mertuaku
9.0
Menikahi pria dari keluarga kaya justru menjadi awal penderitaanku. Mertua dan ipar yang licik memperlakukanku layaknya budak, bahkan terus menghina latar belakangku yang hanya lulusan SMA. Namun, aku menolak untuk terus ditindas. Setelah berhasil menemukan jalan menuju kesuksesan finansial yang luar biasa, kini saatnya aku bangkit. Aku siap membalas setiap perlakuan buruk mereka dan membungkam kesombongan keluarga suamiku dengan keberhasilanku.
Sampul Novel Pesona Janda Anak Satu
8.9
Diusir dan diceraikan suami usai melahirkan anak laki-laki membuat hidup Laila hancur. Tragisnya, sang putra juga tak diakui keluarga suaminya meski berstatus pewaris. Tiga tahun berlalu, Laila bertransformasi menjadi wanita mandiri yang enggan membuka hati untuk cinta baru. Namun, keteguhannya goyah saat Malik, mantan kekasihnya, datang kembali demi mendapatkan cintanya. Akankah Laila menerima Malik atau tetap memilih hidup sendiri?
Sampul Novel Takdir Perjanjian Pernikahan
8.8
Marsha dan William terpaksa menikah demi perjodohan, meski masing-masing mencintai orang lain. Awalnya menolak, takdir menyeret mereka ke dalam rumah tangga yang diwarnai kebencian dan perselisihan tiada akhir. Namun seiring waktu, perasaan cinta yang tak terduga mulai tumbuh di antara keduanya. Saat hati Marsha mulai goyah, William justru masih terjebak bayang masa lalu. Mampukah dua jiwa yang terluka ini bersatu dalam kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Terjebak Pesona Nathan
9.7
Davina memendam cinta pada Nathan Evano sejak lama, namun terpaksa bungkam karena merasa tak sepadan. Setelah satu dekade berpisah, takdir mempertemukan mereka lagi dalam misteri besar. Nathan telah berubah dan kini berkecimpung di dunia intelijen yang penuh rahasia. Perubahan ini membuat Davina bimbang dan curiga. Apakah pria asing ini adalah sahabat masa kecilnya, ataukah orang lain yang menyamar? Kisah cinta penuh teka-teki dan ketegangan pun dimulai.