APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam

Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam

Setahun penuh Farah dikhianati oleh kembaran tunangannya sendiri. Brama, pria yang ia cintai, diam-diam telah menikahi Kirana dan berniat merebut kornea mata Farah lewat kecelakaan rekayasa. Penderitaan Farah kian tragis saat dituduh membunuh kakek Brama hingga disekap di RSJ. Namun, mereka tidak menyadari identitas asli Farah sebagai Aurora Suryakancana, pewaris dinasti bisnis raksasa. Usai memalsukan kematiannya, ia kini bangkit untuk menuntut balas atas segala kezaliman mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudut Pandang Farah Maheswari:

"Brama?" Danu tergagap, wajahnya memucat saat melihat saudara kembarnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Kukira—"

"Aku tinggal di sini," potong Brama, mata dinginnya hanya tertuju padaku. Dia tidak melirik kembarannya sama sekali. Seolah-olah Danu tak lebih dari sepotong perabot.

"Dia mencoba menyerang Kirana," kata Brama, suaranya tanpa emosi.

"Dia yang menyerangku!" balasku, menunjuk darah yang menetes di pelipisku. "Dia gila! Dia harus minta maaf."

Luka di kepalaku berdenyut, rasa sakit yang dalam dan membakar. Tapi rasa malu lebih menyakitkan. Akulah yang berdarah, yang diserang, namun dia menatapku seolah akulah penjahatnya.

Tatapannya datar, tidak tergerak oleh pemandangan lukaku.

Sementara itu, Kirana telah ambruk ke lantai, tubuhnya bergetar karena isak tangis. "Kak, aku takut sekali," rengeknya, mengulurkan tangan dengan buta. "Aku mendengar suaranya, dan aku hanya... aku pikir dia akan menyakitimu. Maafkan aku, aku hanya mencoba melindungimu."

Ekspresi dingin Brama langsung meleleh. Dia berlutut di sampingnya, memeluknya dengan kelembutan yang membuat perutku mual. Dia menimangnya dengan lembut, membisikkan kata-kata penenang.

"Tidak apa-apa, Kirana. Aku di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu."

Aku memperhatikan mereka, tawa pahit naik di tenggorokanku. Aku ingat suatu waktu, bertahun-tahun yang lalu, ketika aku terpeleset dan jatuh dari tangga di rumah kami. Pergelangan kakiku terkilir parah, dan rasa sakitnya luar biasa. Brama hanya berdiri di puncak tangga, wajahnya tanpa ekspresi, dan menyuruhku untuk lebih berhati-hati sebelum memanggil kepala pelayan untuk membantuku.

Kelembutannya, perhatiannya, kehangatannya... tidak pernah untukku. Itu hanya untuk Kirana.

Aku tidak tahan melihatnya lagi. "Aku pergi," kataku, suaraku tercekat karena jijik.

Aku berbalik untuk pergi, tapi suara Brama menghentikanku. "Kau tidak akan ke mana-mana."

Dia sudah berdiri lagi, sosoknya yang tinggi menghalangi jalan keluar. Kirana masih menempel padanya, wajahnya terbenam di dadanya.

"Kau mendorong Kirana," katanya, suaranya geraman rendah. "Kau akan dihukum sesuai aturan keluarga Wijaya."

"Dihukum?" Aku menatapnya, tak percaya. "Aku yang terluka! Dia yang seharusnya dihukum!"

Kirana mengintip dari balik lengannya. "Kak, suruh dia berlutut di aula leluhur. Beri dia dua puluh cambukan. Dia perlu tahu tempatnya."

Darahku seakan membeku. "Kau tidak punya hak," desisku. "Aku bukan anggota keluargamu."

"Kau akan menjadi anggota keluarga bulan depan," kata Brama dengan dingin. "Itu sudah cukup dekat."

Danu, sang aktor sejati, melangkah maju dengan ekspresi pura-pura prihatin. Dia mengangkat buku sketsa kecil bersampul kulit usang yang selalu kubawa. Isinya adalah gambar-gambar pribadiku, sisa terakhir dari diriku sebagai seniman.

"Farah, minta maaf saja," desaknya, suaranya lembut. "Kau tahu betapa kau mencintai buku sketsamu. Eyang Wijaya memberimu cambuk ini sebagai hadiah pernikahan, simbol otoritas dalam keluarga. Jika kau tidak menerima hukuman, dia mungkin... akan menghancurkan ini."

Ancaman itu menggantung di udara, berat dan menyesakkan. Cambuk itu bukan hadiah; itu adalah alat kontrol. Dan buku sketsa itu... menyimpan sisa terakhir dari diriku. Brama tahu itu. Dia tahu itu satu-satunya hal yang kumiliki yang benar-benar milikku. Dia memberiku pilihan: harga diriku atau jiwaku.

Bahuku merosot kalah.

Mereka menyeretku ke aula leluhur, sebuah ruangan dingin dan gelap yang dipenuhi potret-potret almarhum keluarga Wijaya, mata lukisan mereka menatapku dengan penghakiman tanpa suara. Mereka memaksaku berlutut di lantai batu yang keras.

Lecutan pertama cambuk membelah udara dengan siulan ganas sebelum mendarat di punggungku. Rasa sakit yang tajam dan membakar menjalar ke seluruh tubuhku. Rasanya seperti kulitku dirobek. Aku menggigit bibirku keras-keras, menolak untuk berteriak, merasakan darahku sendiri.

Lecutan lain. Dan lagi. Rasa sakitnya luar biasa, api yang membakar yang melahapku. Gaun tipisku tidak memberikan perlindungan. Setiap pukulan mendarat dengan kekuatan brutal, merobek kain dan daging.

Setelah sepuluh cambukan, pria itu berhenti. Brama melangkah maju, wajahnya topeng yang tak terbaca.

"Apa kau mengakui kesalahanmu sekarang?" tanyanya, suaranya sedingin batu di bawah lututku.

Aku mengangkat kepalaku, tubuhku gemetar, punggungku kanvas penderitaan. Aku menatap matanya, mataku sendiri terbakar oleh pembangkangan.

"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun," desisku.

Rahangnya mengeras. "Lanjutkan," perintahnya pada pria dengan cambuk itu.

Cambukan dilanjutkan, lebih ganas dari sebelumnya. Rasa sakitnya tak tertahankan. Cedera punggung lama akibat jatuh dari tangga kambuh, rasa sakit yang dalam dan menyiksa bergabung dengan siksaan baru dari cambuk. Aku tidak tahan lagi.

"Tolong," mohonku, kata itu keluar dari tenggorokanku. "Berhenti... tolong, berhenti."

Tapi Brama bahkan tidak menatapku. Dia sudah berbalik, dengan lembut membimbing Kirana, yang masih menangis dengan artistik, keluar dari aula.

"Ayo pergi, Kirana," katanya lembut, suaranya sangat kontras dengan kekerasan yang baru saja diperintahkannya. "Aku akan mengantarmu kembali ke kamarmu."

Dia telah melamarku di rumah besar ini. Dia berlutut dan berjanji untuk melindungiku, untuk menghargaiku, untuk menjadi perisaiku melawan dunia. Dia telah menjanjikanku cinta seumur hidup.

Saat dia berjalan pergi, meninggalkanku berdarah di lantai, janjinya bergema di benakku, sebuah paduan suara yang kejam dan mengejek.

Dunia larut dalam pusaran rasa sakit. Hal terakhir yang kulihat sebelum aku kehilangan kesadaran adalah punggungnya yang menjauh, siluet pengkhianatan tertinggi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kembalinya Sang Mantan Istri yang Agung
9.5
Demi Hesti, Bram tega mengkhianati ketulusan istrinya. Di tengah duka wafatnya orang tua dan vonis kanker, sang istri didepak lewat fitnah keji hingga dipaksa bercerai. Demi bebas dari siksaan itu, ia memalsukan kematiannya lalu membuang identitas lamanya yang rapuh. Tiga tahun berselang, ia terlahir kembali sebagai Aurora Morgan, sosok wanita yang sangat berkuasa. Kini, ia datang kembali untuk membalas semua penderitaan dan penghinaan yang dahulu Bram lakukan padanya.
Sampul Novel Marrying With CEO
9.3
Kehidupan tenang Syafa Sidqyah, sekretaris muslimah berparas cantik yang penuh misteri, seketika terusik. Kehadiran sosok pendendam di tempat kerjanya, perusahaan Devan Putra Pramana, mengancam keselamatan Syafa. Saat berbagai rahasia masa lalu mulai tersingkap, ia justru terjebak dalam pernikahan tak terduga dengan bosnya sendiri. Mampukah ia menghadapi takdir rumit ini? Ikuti kisah penuh intrik antara ambisi sang CEO dan misteri yang menyelimuti mereka.
Sampul Novel Perangkap Tuan CEO
8.1
Terjebak dalam obsesi mendalam seorang CEO membuat jalan keluar sepenuhnya tertutup. Baginya, menguasai dirimu adalah kepatuhan mutlak yang tidak bisa ditawar. Sang miliarder menuntut penyerahan total atas raga, jiwa, hingga kebebasanmu tanpa celah. Di bawah dominasi kuatnya, kamu terkurung dalam kepemilikan sepihak yang menjauhkan siapa pun dari sisimu. Kini, setiap embusan napasmu sepenuhnya dikendalikan oleh sang penguasa yang hanya menginginkan dirimu seorang diri.
Sampul Novel Puncak Lelah Anak Tiri
8.7
Kehidupan dewasa Hanna dipenuhi cobaan berat. Saat berjuang keras mencari biaya medis untuk ibu kandungnya, ia justru dikhianati oleh kekasihnya yang ternyata menghamili kakak tirinya. Di ambang keputusasaan akibat luka hati yang mendalam, seorang pria misterius datang menawarkan pertolongan melalui sebuah pernikahan. Kini, Hanna dihadapkan pada pilihan sulit demi bertahan hidup. Akankah ia menerima tawaran tersebut?
Sampul Novel Skandal Cinta Dokter Annastacia
8.8
Hidup dokter bedah Annastacia Brighton mendadak rumit saat diperebutkan oleh bosnya, John Baldere, dan bintang pop terkenal, JC. Kendati sang ayah menjodohkannya dengan John, JC terus mendekati Annastacia hingga terjadi cinta satu malam. Berbekal rekaman rahasia aksi mereka, JC memeras Annastacia agar mau bersamanya. Ketegangan memuncak saat JC nekat menculik Annastacia di hari pernikahannya dengan John. Siapa yang akhirnya memenangkan hati sang dokter?
Sampul Novel Suamiku dan Selingkuhannya
8.5
Tiga hari setelah perayaan satu bulan anak mereka, Raka pamit melakukan perjalanan dinas dan meninggalkan istrinya mengurus bayi mereka sendirian. Namun, kebenaran pahit terungkap saat Indah, teman masa kecil Raka, mengunggah foto liburan keluarga bersama Raka. Alih-alih merasa bersalah, Raka justru memarahi istrinya karena mempertanyakan foto tersebut dengan dalih kasihan pada Indah yang merupakan ibu tunggal. Puncaknya, Indah memamerkan hadiah kalung emas dari Raka, memicu sang istri untuk mantap mengambil keputusan pergi.