APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kelahiran yang Menghancurkan

Kelahiran yang Menghancurkan

Dalam novel modern bernuansa mafia ini, Alexander Santoso tega menyekap istrinya yang hamil tua, Alana, di ruang bawah tanah steril. Demi mengamankan warisan Teluk Barat Jaya untuk anak mendiang kakaknya, Alexander menyuntikkan obat penunda kontraksi pada Alana agar anak Elisa lahir lebih dulu. Meski Alana memohon demi keselamatan bayinya dan membantah tuduhan mementingkan harta, Alexander tetap mengabaikannya. Penyesalan mendalam baru datang setelah Alexander mendapati Alana dan anak mereka telah tiada akibat keputusannya yang kejam.
Bab
Bagikan

Bab 1

Saat usia kehamilanku sembilan bulan, aku sudah ada di penghujung masa kehamilan, tubuhku terasa berat dengan bayi yang bisa lahir kapan saja.

Tapi suamiku, Alexander Santoso, wakil kepala keluarga, justru mengurungku. Dia menahanku di sebuah ruang medis bawah tanah yang dingin dan steril, lalu menyuntikkan obat penahan kontraksi.

Saat aku berteriak kesakitan, dia menatapku dengan dingin dan berkata aku harus menahannya.

Karena pada saat yang sama, istri almarhum kakaknya, Elisa juga diperkirakan akan melahirkan.

Sebuah sumpah darah yang pernah dia buat dengan mendiang kakaknya menyatakan bahwa anak laki-laki sulung akan mewarisi wilayah keluarga di Teluk Barat Jaya yang begitu menguntungkan.

"Warisan itu milik anak Elisa," katanya.

"Davin sudah tiada, dia benar-benar sendirian dan tak punya apa-apa. Seluruh cintaku tetap untukmu, Alana. Aku hanya butuh dia melahirkan dengan selamat. Setelah itu, barulah giliranmu."

Obat itu membuat tubuhku terus-menerus tersiksa. Aku memohon padanya untuk membawaku ke rumah sakit.

Dia justru mencekik leherku, memaksaku menatap mata dinginnya.

"Berhenti berpura-pura! Aku tahu kau baik-baik saja. Kau cuma berusaha merebut warisan itu."

"Untuk mendahului Elisa, kau rela melakukan apa saja."

Wajahku pucat, tubuhku bergetar hebat. Dengan sisa tenaga, aku berbisik lirih, "Bayinya akan lahir... aku tidak peduli soal warisan. Aku hanya mencintaimu, dan aku ingin anak kita lahir dengan selamat!"

Dia mencibir. "Kalau kau memang sesuci itu, kalau kau benar mencintaiku, kau tak akan pernah memaksa Elisa menandatangani perjanjian pranikah yang membuat anaknya kehilangan hak warisan."

"Jangan khawatir, aku akan kembali padamu setelah dia melahirkan. Bagaimanapun, kau mengandung darah dagingku."

Sepanjang malam, dia berjaga di depan ruang bersalin Elisa.

Baru setelah melihat bayi itu di pelukan Elisa, dia teringat padaku.

Dia akhirnya menyuruh tangan kanannya, Raka untuk membebaskanku. Tapi ketika Raka menelepon, suaranya gemetar.

"Bos... nyonya dan bayinya... mereka sudah tidak ada."

Di saat itu juga, Alexander hancur.

Dengan perut yang sangat besar, aku menyeret diriku di lantai, merangkak menuju pintu baja yang berat itu.

Tepat saat pintu itu menutup dengan dentuman keras yang mengguncang, jariku terjepit di kusen.

Aku mendengar suara tulang yang patah, renyah dan mengerikan.

Rasa sakit baru menghantam, menenggelamkan siksaan obat dalam tubuhku. Aku menjerit sekuat tenaga, teriakan melengking merobek tenggorokanku.

Tapi pikiran Alexander hanya tertuju pada Elisa. Tangisku sama sekali tak terdengar olehnya.

Tiba-tiba, cairan hangat merembes turun. Aku tahu ketubanku sudah pecah.

Ketakutan yang dingin dan mutlak menelan seluruh diriku.

Satu-satunya cahaya hanyalah kilau hijau redup dari lampu darurat di atas pintu.

Aku berusaha menenangkan diri, menghantam pintu dengan tinju lemahku, berteriak minta tolong.

Tapi ini ruang operasi pribadi milik Alexander yang terisolasi, kedap suara, tanpa jendela.

Tidak ada seorang pun yang bisa mendengar rintihanku yang makin melemah.

Bayiku menendang keras-keras, seakan berusaha melepaskan diri dari penjara dingin ini.

Tubuhku basah kuyup, entah karena keringat atau darah.

Racun dari obat penahan kontraksi itu terus menyedot tenagaku, mencuri hidupku detik demi detik.

Dengan sisa kekuatan terakhir, aku menjerit sekali lagi, putus asa.

Akhirnya, kudengar langkah kaki di luar.

"Tolong aku!" Aku menjerit, suara serak. "Aku terkunci di ruang operasi! Aku mau melahirkan!"

Aku ulangi lagi dan lagi, yakin pertolongan sudah datang.

Tapi suara yang menjawab membuat darahku membeku, penuh kebencian sadis.

"Wah, Alana. Lihat dirimu yang menyedihkan. Alexander seharusnya sudah mengajarkanmu cara patuh sejak lama."

Itu suara Gianna, adiknya Alexander.

Aku memejamkan mata, berusaha menahan suara agar tetap tenang. "Gianna, kumohon... lepaskan aku. Bayinya mau keluar. Aku tak kuat lagi."

Gianna membuka pintu, menatapku dari atas dengan wajah penuh jijik.

Sesaat aku sempat berharap dia akan menolongku.

Namun di detik berikutnya, kakinya menghantam tulang rusukku. Nafasku seketika terhenti, bintik-bintik gelap mulai berputar di pandanganku.

Suaranya setajam pisau cukur.

"Melepaskanmu? Supaya kau merusak persalinan Elisa? Tetap di situ, Alana. Alexander menyuruhku mengawasi."

"Kau tidak pantas jadi istri Alexander. Dia ingin kau tetap di sini, merenungkan kesalahanmu. Alexander sudah cukup terbebani tanpa kau bikin masalah."

"Anak Elisa lah yang akan jadi pewaris keluarga ini. Trik murahanmu tidak akan mengubah kenyataan."

Kontraksi berikutnya menghancurkan tubuhku, membuat jeritan meluncur paksa dari bibirku.

Air mata mengalir deras. Aku terisak, terengah-engah.

"Anakku tidak akan ikut dalam urusan keluarga... aku akan menyerahkan semuanya! Tolong, sampaikan pada Alexander. Biarkan aku pergi. Aku akan lenyap dari keluarga ini, takkan menoleh lagi. Aku bersumpah."

Teriakanku hanya membuat Gianna makin marah.

Dia menyeringai jijik. "Perempuan murahan. Kau kira bisa merayu siapa dengan tangisan itu? Menyedihkan."

Dia menekan tombol radio komunikasi, menghubungi Alexander.

Siksaan dari obat dan rasa sakit melahirkan itu mencabik jiwaku sampai hampir hancur.

"Tenang saja, Alexander, jangan khawatir. Aku akan terus mengawasinya," jawab Gianna.

Saat mendengar suara Alexander, secercah harapan menyala di dadaku. Dia pasti peduli. Dia pasti peduli pada anak kami.

Aku menjerit sekuat tenaga, "Alexander! Bayinya mau lahir! Sekarang! Kumohon, suruh Gianna bawa aku ke rumah sakit! Tolong!"

Suara tangisku parau, bergetar tanpa kendali.

Gianna ragu. Aku mendengarnya berbisik ke radio komunikasi, "Alexander, aku mulai percaya ini sungguhan. Dia berteriak seperti itu, aku tidak percaya dia sedang berpura-pura. Mungkin sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, dia adalah satu-satunya anakmu. Kalau sampai terjadi sesuatu..."

Alexander terdiam beberapa detik, seolah mempertimbangkan.

Lalu suaranya melunak. "Baiklah, kalau begitu bawa saja dia..."

Namun tiba-tiba, suara lembut menggoda terdengar dari ujung sana.

"Alexander, sayang, aku haus. Bisa ambilkan aku sampanye? Dokter bilang aku harus rileks supaya kuat melahirkan pangeran kecil kita."

"Oh, Alana sedang melahirkan? Itu bukan apa-apa, sayang. Sama sekali tidak sakit. Sejujurnya, aku merasa seperti bisa berlatih maraton. Alana itu perempuan kuat, dia akan baik-baik saja."

Tentu saja Elisa tak merasakan sakit itu.

Seluruh tim medis keluarga dan fasilitas mewah dialihkan hanya untuknya. Dia diperlakukan bak ratu.

Beberapa kata dari Elisa saja sudah cukup untuk mengubah segalanya. Untuk mengubah pikiran Alexander.

Suaranya kembali membeku.

"Tidak ada yang akan terjadi. Dia cuma berpura-pura. Kalau kau sampai tertipu, kau hanya akan terlihat bodoh."

Sambungan mati.

Tersengat oleh hardikan Alexander, Gianna melampiaskan amarahnya padaku.

Dia merogoh kotak kulit dan mengeluarkan seekor ular, lalu melangkah mendekat ke arahku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Ceo Bastard
7.9
Nica harus menjalani kenyataan pahit saat terjebak dalam cengkeraman Dave, seorang miliarder kejam yang tidak mengenal belas kasihan. Setiap tangisan dan rasa sakit yang dialami Nica justru menjadi kepuasan tersendiri bagi Dave, yang terus memperlakukannya dengan semena-mena. Di bawah dominasi kekuasaan sang miliarder, Nica tidak berdaya dan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu. Hubungan penuh paksaan ini pun meninggalkan trauma mendalam yang merenggut kebebasannya.
Sampul Novel Liang Hangat Sang Penari
8.7
Kehidupan Lisnawati, janda muda berumur 16 tahun, hancur setelah suaminya, Komar, tewas dibegal. Demi bertahan hidup, biduan dangdut keliling yang berparas menawan ini direkrut Tante Shinta ke dunia malam. Lisna pun menjadi primadona dan memikat Budi Hendrajit, pengusaha kaya raya. Hubungan benci tapi cinta pun terjalin di antara mereka. Meski Budi sangat terobsesi untuk menikahi Lisna, rencana tersebut terhalang oleh restu ibunya yang menolak keras latar belakang sang biduan.
Sampul Novel MAWAR EMAS SANG PEWARIS
9.2
Sebagai pewaris tunggal bisnis keluarganya, Lily terjebak perjodohan bisnis demi menguasai pasar global. Pernikahan tanpa cinta itu murni demi kekuasaan. Namun, segalanya rumit ketika Lily jatuh hati pada asisten pribadinya sendiri. Pemuda cerdas itu hidup dalam kemiskinan, memicu dilema besar dalam diri Lily. Kini, ia harus memilih antara menunaikan tanggung jawab warisan keluarga atau mengejar cinta tulusnya.
Sampul Novel Menantu Hina Ternyata Kaya Raya
8.5
Randi kerap direndahkan dan diperlakukan buruk oleh mertuanya yang buta akan jati dirinya. Di balik kesederhanaannya, ia sebenarnya adalah seorang miliarder dengan kekayaan melimpah yang tak terduga. Ketika status aslinya perlahan terbongkar, akankah kebencian keluarga sang istri berubah menjadi penyesalan mendalam? Simak perjuangan menantu yang tertindas ini membuktikan kuasa dan harta melimpah miliknya.
Sampul Novel MENGGODA CEO KEJAM
8.3
Kepergian sang ibu menyisakan luka bagi Reaneta Alisha, terlebih saat tahu ayahnya berselingkuh dengan gadis sebayanya. Dipicu amarah, Rea berniat merebut Logan Asher Maverick, miliarder kaku yang dipuja oleh selingkuhan ayahnya itu. Namun, memikat Logan rupanya tidak semudah bayangannya. Begitu rencana terselubung Rea terendus, situasi pun berbalik menjadi penuh ancaman dari Logan yang murka. Kini, taktik godaan Rea justru berisiko menghancurkan dirinya sendiri.
Sampul Novel Papa Baru Untuk Anakku
8.5
Lily rela menjalani kawin kontrak dengan Keenan demi sang anak yang merindukan figur ayah. Di sisi lain, Keenan juga butuh istri formalitas demi mendapatkan warisan bisnis keluarganya. Meski awalnya Keenan menegaskan hubungan mereka tanpa rasa, cinta perlahan tumbuh di antara keduanya. Namun, masa lalu yang mendadak kembali datang kini mengancam masa depan mereka. Akankah pernikahan ini bertahan saat kenyataan sulit mulai menguji komitmen mereka?