APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kelahiran Kembali

Kelahiran Kembali

Dianggap bodoh dan lemah, nona keempat keluarga Lu tewas tragis di tengah saudara-saudaranya yang berbakat. Namun, takdir berubah saat jiwa pembunuh bayaran abad ke-21 merasuk ke raganya. Terjebak di zaman kuno yang penuh konflik kekaisaran, ia harus bertahan hidup dengan prinsip membunuh atau dibunuh. Di tengah intrik istana yang rumit dan berbahaya ini, sebuah kisah romansa yang sangat unik pun dimulai.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rumbai-rumbai cahaya, menerebos pintu kayu kuning keemasan. Menemani, dua orang di tengah halaman. Ukiran kayu yang cantik nan rumit, inilah keindahan. Tertata, buah dan bunga di meja. Aroma kantung bunga lavendel, terus menari di udara. Sungguh disayangkan, untuk keadaan saat ini, harus ada suara penuh minat. "Kamu harus segera mencari wanita, yang bisa mengamankan dan mengokohkan posisimu. Mengerti!" suara seorang wanita penuh keinginan. Sedikit menekankan kata menikah.

 Lelaki di depannya, tetap menunduk dan tidak mengiyakan ataupun menolak. Kedua tangan menyatu, diletakkan di depan dada. Sedikit bungkukan, guna memberi hormat lalu pamit keluar. 

Tepat baru 2 langkah, mencoba melirik ke belakang, memperlihatkan ujung dagu dan ekor mata. "Saya tidak memiliki waktu luang untuk itu," ucapan dingin nan datar. Menemani langkah kepergian Putra Mahkota. Wajahnya ikut mendatar, tidak ada garis senyum sedikitpun. Disertai tarikan alis, dia keluar sehabis menyapa Permaisuri kekaisaran. Sekaligus ibundanya sendiri.

Sang ibunda menarik napas dan menghembuskan napas dalam.  Dibarengi lontaran kekesalan di dalam hati. 'Dasar pria dingin ini! Jika bukan aku yang bekerja keras sampai di detik ini! Apa dia bisa bertahan di posisi sekarang? Ahh!' deruan napas, tetapi lebih merunjuk kedengusan kesal. Sambil memijat pelipis, benih mata bergerak kekanan-kekiri. Seperti memikirkan sesuatu, membuat lipatan di dahi.

---

"Kenapa Putra Mahkota harus dijodohkan dari klan Lu? Huh! Apa anakku tetap menikahi si 'sampah masyarakat' itu? Heh, menggelikan sekali, tidak habis pikir. Semua anak keluarga Lu menonjol dengan bakat masing-masing. Tapi--- kenapa harus perempuan satu itu, yang tidak memiliki bakat apapun? Baiklah, seandainya diangkat menjadi selir. Belum layak disandingkan terhadap Putraku. Tapi kekuatan dari klan Lu, tidak bisa dianggap remeh. Ssst," oceh wanita ini. Telunjuk kanan mengetuk meja.

---

Suara riuh gemuruh di dalam perut, membuat Xiao li hanya bisa menelan ludah kering. Angin malam begitu dingin, menusuk di Hanfu pudar nan kaku. Tidak ada arang, tidak ada alas. Hanya ada tumpukan jerami kering. Terdapat jerami kering, Xiao li tetap tersenyum, dia bisa tidur di atasnya. Rona merah di pipi masih membekas, akibat tamparan salah satu dayang milik kakak pertama.  

Tidak ada cahaya menemani di halaman ini. Tangan itu meraba, mau menenangkan diri dan mengistirahatkan tubuh lemahnya. Di detik ini, Xiao li tidak memikirkan pipi merah, dahi membengkak! Apalagi kedinginan yang melandanya. Direbahan pejaman mata, hanya memikirkan sang ibunda. "Aku harus bertahan, aku tidak mau membuat ibu khawatir!" sembari menutup kembali bola mata. Kelopak mata sudah tidak bisa terbuka, saking lemah dan tidak memiliki tenaga.

---*

Byurrr!

 Satu siraman air timba, membangunkan Xiao li. Dua dayang saling tertawa dan semakin mendekati Xiao li. Air dingin menyerbak ke seluruh badan, memaksa masuk ke mata, Dingin! Terpaksa, membuka kedua bola mata hitam, terkaget akan guyuran air. Dua dayang tidak mau menyentuh Xiao li, mereka menggunakan ujung sepatu. Semakin membangunkan Xiao li dari baringan. Cahaya pagi kian meninggi, menerawangi Xiao li di atas jerami.

"Cepat bangun! Sudah ditunggu oleh Putra Mahkota. Aku pikir, Putra Mahkota mau membatalkan pernikahan dengan sampah sepertimu!'' bentak salah satu dayang. Xiao li, padahal sudah membuka kelopak mata. Naas, tenaganya belum terkumpul sepenuhnya. Dia menggerakkan kedua tangan dan kaki. Kelambatan gadis itu untuk berdiri, membangkitkan rasa amarah dari dua dayang. Dia menyeretnya bangun, justru semakin membuat Xiao li terkejut.

"Bangun! Dasar lemah! Saya tidak mau menyentuh lama-lama tubuh bau ini!" begitu pedas ucapan dayang itu.

"Ayuk cepat jalan!" timpal sekali lagi dayang lebih kurus. Belum sepenuh hati kaki Xiao li berdiri, sudah di seret. Gadis ini, begitu patuh dibawa pergi mau menolak tidak ada tenaga. Xiao li menatap jalan, kakinya tersandung kerikil dan batu. Karena tidak berjalan dengan benar. 'Mau dibawa kemana lagi? Aku ingin sekali mengakhiri hidupku atau aku tidak bisa lagi membuka kelopak mataku. Aku ingin semua ini berakhir, tapi--- aku takut meninggalkan ibu sendirian,' batin Xiao li. Sekarang dia sudah berganti pakaian dan di seret lagi ke ruang tengah.

---

Tunas yang mengecil, langsung membesar dan membulat. Mengintip sudah ada tamu. Semua anak keluarga Lu berkumpul di ruang tengah. Ada seseorang mendekati Xiao li.

''Adik, ayo sini," lirih nona pertama, Lu an ran. Xiao li masih bingung, ada apa ini? Ain pekatnya menangkap seorang Pria duduk dengan tenang. Pria itu terus menyorotinya. Baru Xiao li sekilas meninjau, kembali menundukkan kepala. Malu dan takut. Tidak berani lagi menatap dan mengangkat wajah. Walau Xiao li sudah berganti pakaian. Tetap saja, dia tidak didandani seanggun nona pertama atau seglamor nona kelima. Memang nona keempat, tidak memiliki aksesoris atau peralatan untuk merias diri. Diberi jatah uang yang sedikit, oleh selir pertama. Ditambah uang sakunya, ditilap oleh dayangnya sendiri.

Hanfu yang dikenakan Xiao li sangat biasa saja. Tidak ada motif awan atau motif guguran bunga salju. Soalnya, model ini lagi ngetren di ibu kota. 'Mata itu terus menuju kepadaku, aku bisa melihat wajah Ibu yang gelisah. Siapa lelaki itu? Kenapa datang kesini, tetapi adaapa dengan mataku ini?' kata hati Xiao li. Dia terus mengejap-ngejapkan kedua bola mata. Maniknya berkunang-kunang, dari kemarin hingga sekarang. Belum merasakan sesuap makanan, masuk ke dalam mulut. Begitu lemas, lesu dan berjalan serampungan. Serasa, terhempas banteng akan tumbang. Dia berusaha mengumpulkan sisa energi, untuk tetap berdiri.

'Apa aku harus menikahi gadis itu, yang tidak berani menatap mataku?' monolog pria yang terus melonyok Xiao li dengan mata tajamnya.

''Cepat beri hormat kepada Putra Mahkota," suruh Ming bai sang ayah. Mendengar kata 'Putra Mahkota' pupil Xiao li bergoyang. 'A-ap--ppa Pu-putra Mahkota? Untuk apa dia datang ke sini?' Xiao li mendiam sejenak akan pemikiran itu, lantas memberi salam. Dia tahu, sudah bertunangan. Sayangnya, dari dulu hingga sekarang tidak pernah bertemu, kecuali di saat masih kecil. Pernikahan mereka, telah direncanakan oleh Kaisar terdahulu sejak kecil. "Sa-salam untuk Putra Mahkota, se--semoga harimu, ba-ba--haagia," salam gagap. Membuat semua orang keluarga Lu membuang wajah. Terkecuali, sang ibu yang menatap cemas putri tercinta.

Lu an ran memanfaatkan kesempatan, menunjukkan diri lebih bagus dari adiknya. "Maaf 'kan adik hamba Putra Mahkota, dia sedikit gugup saja. Maka dari itu ... Hamba akan menggantikannya memberi salam," pungkas An ran. Membungkukkan badan ke depan, tangan ditumpuk di bawah dada. Kaki sedikit menekuk, di tutup senyum. Sang ayah, tampak bangga akan prilaku putri pertamanya.

Tindakan itu, tidak berlaku bagi nona ketiga. ''Sihh! Aku ingin meninju mulut itu!'' gumam Ming yi. Tak terima An ran mencari muka.

"Adik, tenangkan dirimu, kita berada di mana?" balas sang kakak. Lu bing bin membisiki sang adik. Mereka cukup jauh dari Putra Mahkota.

Di ruang tengah, ada Lu ming bai dan Xiao meng. Kedua selir, tidak di sini guna menghormati Putra Mahkota. Malah semua anak Lu ming bai ada di sini. Putra Mahkota, datang kemari atas perintah sang Permaisuri. Agar membatalkan pernikahanya dengan nona keempat. Semisal, keluarga Lu menolak atau nona keempat menolak. Jalan satu-satunya menjadi selir Putra Mahkota. Membawa dekrit Kekaisaran, sang pengawal Putra Mahkota membacakan isi dekrit dengan tegas. 

Sebelumnya, Permaisuri meminta kepada Kaisar untuk membatalkan pernikahan anaknya. Berdalih, Xiao li si 'sampah masyarakat' tidak memenuhi kualifikasi sebagai Permaisuri masa depan. Dia membuat keributan, supaya membatalkan pernikahan anaknya. Kaisar pun menerima saran Permaisuri, sayangnya janda Ibu suri tidak tahu akan hal itu. 

Gulungan berwarna kuning keemasan, terbuat dari bahan paling bagus. Terlihat begitu indah dan megah, faktanya. Di dalamnya berisi hal sebaliknya. Baru pengawal membacakan salam pembuka. Xiao li yang berlutut tiba-tiba. 'Aku tidak mendengar jelas dan juga aku tidak bisa menahan ini lag--gi ak .…' hati Xiao li mulai mendiam. Indra penglihatan berkunang, mencoba mengambil alih kesadaran. Sedangkan, pengawal itu terus membaca isi dekrit. Sampai di tengah pembacaan dekrit.

"Jadi, nona Keempat dari keluarga Lu dan Putra Mahk--" 

Brakggh! 

"Xiao er!" 

Teriak Xiao meng sang ibu, membidik sang anak terbaring di lantai. Membuat pengawal berhenti membaca dekrit Kekaisaran, isinya pembatalan pernikahan. Putra Mahkota, menyaksikan keluarga ini bak menonton opera. Hingga bangkit dan memutuskan pergi dari sini.

Sedikit memberi wajah untuk Xiao li. "Sepertinya, keadaan tubuh Nona Keempat tidak cukup baik. Saya memutuskan menghentikan sampai di sini. Maka, tunda dulu hari ini, setelah kesehatan nona Keempat membaik, baru lanjutkan masalah ini. Tentunya, dengan pembatalan pernikahan!" tegas Putra Mahkota. Berjalan meninggalkan kediaman keluarga Lu. Nona pertama, An ran tidak mau kalah, dia menghantarkan kepergian Putra Mahkota.

Sang ibu memanggil tabib, tetapi Ming bai tampak mengeluarkan ekspresi ketidak kesukaannya. Sehari setelah kejadian ini. Putra Mahkota yang mengunjungi kediaman Lu dan membatalkan pernikahan. Serta merunjuk Xiao li bukan lagi tunangan Putra Mahkota. Rumor aneh menyebar ke seluruh penjuru. Orang-orang yang mengolok-olok Xiao li, sekarang lebih kejam lagi. Sudah hilang bayang-bayang tunangan Putra Mahkota, apalagi Permaisuri masa depan! Meski belum sepenuhnya dibatalkan oleh Putra Mahkota. Karena Xiao li belum menerima dekrit. Seharusnya, Xiao li masih tunangan Putra Mahkota. Walaupun dekrit itu sudah turun, tetapi belum dijalankan. Orang-orang tidak menganggap Xiao li sebagai tunangan Putra Mahkota dan calon istri masa depan Putra Mahkota! Memang dari dulu, tidak ada yang menganggap tinggi Xiao li.

---*

Keesokannya, ketika Xiao li keluar disuruh sang kakak. Sorot mata orang-orang di sekeliling, menertawai langkah kaki gadis ini. Dia hanya ditemani satu pelayan saja. Malah, dirinya sendiri yang kerepotan membawa belanjaan.

''Heh, lihat itu! Dia diputuskan oleh Putra Mahkota hahah!" tawa nyaring. Xiao li masih menunduk, tidak memperdulikan ucapan yang mengolok-olok dirinya.

Sepanjang jalan, Xiao li ditertawai dan di cemooh. Memilih jalan pulang yang sedikit sepi. Kaki itu berjalan tidak biasa, mulai digantikan larian kecil. Sudah jelas, Xiao li tidak bisa berlari dari kepungan para Pria entah dari mana ini. Netra hitamnya melesat takut, belanjaan berceceran di mana-mana. Pelayan tadi tidak terlihat, dirinya sekilas meninjau samar-samar. Menangkap, sedikit asing terhadap tempat ini. Akibat berlari sembarangan. Tubuh kurusnya gemetaran, mengintip di sekeliling sudah ada…*..*

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Demi ambisi pendidikan, Marlina kehilangan kehormatan hingga terbuang ke dunia gelap narkoba sebagai pengedar. Saat berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival justru menjebloskannya ke penjara. Di balik jeruji besi, ia memperdalam ilmu agama. Namun setelah bebas, penolakan keras masyarakat kembali menghadangnya. Kini, Marlina dihadapkan pada pilihan sulit: kembali ke jalan haram yang menjanjikan atau tetap teguh pada proses hijrahnya.
Sampul Novel Guru Untuk Nona Muda Nakal
8.2
Demi meloloskan diri dari kejaran sosok misterius, Dihan terpaksa bersembunyi. Di waktu yang sama, keluarga Rahadian tengah pusing mencari guru privat untuk mendidik dua putri mereka yang terkenal sangat nakal dan enggan belajar. Dihan akhirnya mengambil kesempatan itu walau harus menghadapi tantangan berat. Sanggupkah ia mengatasi kebandelan dua nona muda tersebut? Sementara itu, di balik kekacauan ini, misteri masa lalu Dihan perlahan mulai membayangi langkahnya kembali.
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Di dunia ini, kekuatan kultivasi hanya dikuasai oleh pemilik ikatan spiritual yang kuat, sementara mereka yang berakar fana ditakdirkan hidup biasa saja. Mo Wuji terperangkap dalam kasta fana tersebut karena keterbatasan bakatnya. Namun, ia menolak tunduk pada nasib yang tidak adil ini. Saksikan perjuangan keras Mo Wuji dalam menembus batas kemampuan dan melampaui takdir kelamnya demi membuktikan bahwa seorang manusia biasa juga bisa menjadi luar biasa.
Sampul Novel Legenda Tombak Halilintar
9.7
Riki, seorang pemain pemburu terlemah, mendapatkan Dragon Spear yang merupakan senjata legendaris tingkat tertinggi. Takdirnya pun berubah. Ia bertekad melindungi keluarganya dari hinaan dan berambisi menjadi legenda di dunia Sky Legend. Namun, ancaman besar yang tersembunyi di balik sistem gim kini mengintai bumi. Riki harus berjuang keras demi menjaga kehormatan keluarga, nama baik Indonesia, serta keselamatan dunia untuk meraih puncak kejayaan.
Sampul Novel PEDANG HALILINTAR
8.4
Dibesarkan guru abadi di Pulau Tengkorak, Jalu disiapkan menjadi petarung aliran hitam untuk menguasai dunia persilatan. Namun, takdirnya berubah setelah ia bertemu pertapa Gunung Pesagi yang menuntunnya ke jalan kebenaran. Konflik besar pecah saat sang guru bebas dari pengasingan dengan bantuan kekuatan iblis. Kini, demi melindungi kedamaian dunia, Jalu terpaksa bertarung hidup dan mati melawan sosok mentor yang telah membesarkannya.
Sampul Novel Axia : The Assassin Who Reincarnated Into The Princess of The Kingdom
8.3
Ma Axia, pembunuh legendaris Tiongkok berjuluk iblis berdarah dingin, tewas dikhianati organisasinya sendiri akibat perkara upah. Namun, jiwanya justru bertransmigrasi ke raga permaisuri Kerajaan Zhang yang terkenal lemah dan tidak berdaya. Berbekal memori serta keahlian bertarung dari masa lalunya, Axia harus menjalani takdir baru dalam tubuh wanita yang kerap dipandang sebelah mata. Mampukah sang pembunuh bayaran profesional menaklukkan dunia barunya ini?