
Kehilangan Kendali Atas Kegilaanku
Bab 2
Ini adalah pertama kalinya aku melakukannya saat kelas berlangsung. Aku tahu ini salah, tetapi aku tidak bisa menghentikan diriku.
Semakin aku merasa ini berbahaya, semakin besar keinginan untuk mencobanya lagi.
Dorongan ini begitu kuat hingga aku mulai terobsesi dengan sensasi yang melanggar batas itu.
Akhirnya, aku membuat keputusan yang gila dan nekat, aku ingin mencoba menjadi seperti perempuan-perempuan di video itu.
Saat sampai di bawah apartemen, aku tidak langsung menggunakan lift. Sebaliknya, aku masuk ke tangga darurat.
Pintu besi tertutup perlahan, meninggalkan gelapnya malam yang sunyi di lorong itu.
Suara samar dari rumah tetangga terdengar, membuatku ragu.
Bagaimana kalau ketahuan?
Dan ... dan bagaimana jika ada pria yang menemukanku di sini, mungkinkah dia memperkosaku?
Di tangga yang tidak jauh dari rumahku ini ... mungkinkah dia memaksaku dengan kasar ...
Saat pikiranku terus melayang, bayangan tentang diriku yang ditindih oleh seorang pria kuat tiba-tiba muncul di benakku.
Hal itu memunculkan perasaan aneh yang bercampur dengan getaran kuat yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Wajahku memanas, tubuhku mulai lemas dan tak bertenaga, tetapi pikiranku tak bisa berhenti membayangkan.
Semakin aku mencoba menahan, semakin kuat dorongan dalam tubuhku. Akhirnya, aku tak tahan lagi. Dengan perlahan, aku mengangkat rok pendekku.
Aku terengah-engah, merasa ada sesuatu di udara yang berubah. Sensasi itu semakin merangsang sarafku yang sensitif, membuat tubuhku kembali bergetar. Sebuah perasaan campuran antara kegembiraan yang tak terduga dan rasa bersalah menjalar seperti aliran listrik, hingga tanpa sadar aku merapatkan kedua kakiku.
Akhirnya, aku mengerti apa yang dimaksud sahabatku dengan sensasi menantang.
Baiklah, kalau begitu kita mulai ...
Sambil memeluk pakaian di tanganku, aku melangkah maju, satu langkah, dua langkah, tiga langkah.
Ketika aku menyadari sudah melewati tiga lantai tanpa ada yang memperhatikan, keberanianku semakin besar. Aku melepaskan tanganku yang semula menutupi dada, lalu berjalan dengan dada terbuka, merasa semakin percaya diri.
Aku terus melangkah hingga tiba di depan pintu rumahku. Dengan jantung berdegup kencang, aku buru-buru mengenakan kembali roknya, memasukkan pakaian dalamku ke dalam tas dan memastikan semuanya tampak normal sebelum membuka pintu dan masuk ke rumah.
Saat mandi, jantungku masih berdetak kencang.
Mengingat apa yang baru saja kulakukan, aku tak bisa menahan keinginan untuk meredakan gejolak tubuhku. Entah kenapa, aku tak pernah mencapai puncaknya.
Akhirnya, aku menyelesiakan mandiku dengan tergesa-gesa dan kembali ke kamar. Dari laci meja samping ranjang, aku mengeluarkan sebuah mainan kecil yang selama ini kusimpan.
Aku membuka jendela, duduk dengan kaki terbuka menghadap langit malam yang sepi, lalu menekan tombol pada mainan itu.
Di malam yang sejuk, aku berjalan melintasi sebuah jalan yang tak ada jalan kembali.
Namun, entah kenapa, rasanya juga cukup nikmat.
Anda Mungkin Juga Suka





