
Kehidupan Baru di Usia 60 Tahun
Bab 3
Sahabatku mematikan kompor, lalu berkacak pinggang dan menyuruhku menjawab panggilan.
"Ibu! Kenapa kamu nggak antar Levin ke sekolah? Gurunya meneleponku! Gimana bisa kamu lupa soal ini! Sekolah sangat penting! Gimana bisa kamu membuat kesalahan seperti ini!"
Aku membuka mulut dan hendak menjelaskan, tetapi sahabatku tiba-tiba merebut ponselku.
"Cih! Ayahmu sudah mati ya! Dia nggak bisa antar cucunya ke sekolah? Semua-semua mau ibumu! Kamu kira ibumu pembantu? Pembantu sekalipun digaji! Memangnya apa yang kamu kasih ke dia? Dasar nggak tahu malu! Ibumu nggak mau tinggal sama kalian lagi! Terserah kalian siapa yang mau mengerjakan pekerjaan rumah!"
Sahabatku sudah mau berusia 60 tahun, tetapi dia masih sangat galak saat marah. Dia terlihat lebih berenergi daripadaku.
Makiannya itu membuat kekesalanku sirna. Air mataku menetes. Aku menepuk-nepuk sahabatku dan berkata, "Ayo makan, aku sudah lapar."
Tanpa perlu aku bicara panjang lebar, sahabatku ini bisa memahamiku. Aku berniat tinggal di tempatnya untuk sementara waktu, tetapi aku tidak membawa apa pun.
Sahabatku bilang tinggal beli yang baru saja. Namun, aku sudah terbiasa hidup hemat. Aku merasa lebih baik aku pulang untuk mengambil pakaian.
Sahabatku lantas mengemudikan mobil untuk mengantarku pulang. Begitu masuk, aku langsung melihat mereka sekeluarga sedang makan makanan yang dipesan dari luar.
Cucuku tampak sangat senang. "Ini jauh lebih enak dari masakan Nenek!"
Sahabatku terkekeh-kekeh sinis. Sikapnya tampak angkuh saat menyergah, "Makan saja setiap hari kalau suka! Siapa pula yang mau masak untukmu!"
"Bibi Tania, Levin masih kecil. Ngapain kamu bicara segalak ini padanya? Lagian, makanan ini memang lebih enak daripada masakan ibuku kok!" bela putraku.
Aku mengernyit dengan kesal. "Nggak masalah kalau kamu melawanku. Kenapa kamu melawan Tania juga? Tania lebih senior darimu! Di mana sopan santunmu!"
Suamiku merasa kesal melihatku menegur putranya. Dia membanting sendoknya, lalu memekik, "Sudah, sudah! Kamu mau tinggal di rumah orang lain, 'kan? Pergi sana! Kamu kira kami nggak bisa hidup tanpamu? Kalau memang hebat, jangan pulang lagi! Sombong sekali! Kamu kira kamu siapa?"
Sahabatku menunjuk suamiku dan hendak maju untuk memukulnya. Sejak pensiun, dia memang segalak ini.
Aku khawatir dia benar-benar memukul orang. Aku buru-buru menghalanginya supaya tidak terjadi masalah.
Mereka sekeluarga sepertinya sangat yakin aku akan kembali. Tidak ada seorang pun yang menghalangiku. Semuanya menatapku berkemas seolah-olah ini adalah pertunjukan yang sangat seru.
Sahabatku pun membantuku. Sahabatku membantuku memilih barang-barang yang diperlukan. Kemudian, dia membawaku keluar. Aku memang tidak ingin mengurus keluarga ini lagi.
Bersama sahabatku, kami bisa masak bersama atau makan di luar bersama. Saat senggang, kami ke taman untuk olahraga. Aku merasa ini adalah momen paling bahagia dalam hidupku.
Segera, uang pensiunku ditransfer ke rekeningku. Jumlahnya 18 juta.
Sahabatku melihat layar ponselku, lalu menepuk bahuku dan berseru, "Hore! Gajian! Kamu harus bawa aku jalan-jalan!"
Aku mengangguk dengan senang hati. Namun, sebelum kami memutuskan mau pergi ke mana, ponselku berdering. Putraku yang meneleponku.
Sahabatku mengerlingkan matanya. "Kamu sudah mau 60 tahun. Kamu nggak mungkin nggak tahu dia mencarimu karena mengincar uangmu, 'kan?"
Putraku memang tahu kapan uang pensiunku ditransfer ke rekeningku. Namun, aku masih memiliki sedikit harapan di dalam hatiku.
"Ibu, kamu sudah pergi begitu lama. Kamu nggak mau pulang?"
"Kita bicarakan nanti saja. Aku sangat senang belakangan ini. Ada urusan? Kalau nggak ada, aku tutup telepon," balasku dengan dingin.
Begitu mendengarnya, putraku langsung panik. "Sebentar, Ibu! Belakangan ini kami kurang uang. Aku dan istriku belum gajian. Hari ini kamu dapat uang pensiunmu, kan? Apa boleh ...."
Sebelum putraku menyelesaikan ucapannya, sahabatku sontak merebut ponselku. "Nggak boleh! Dasar nggak tahu terima kasih! Kamu cuma ingat ibumu kalau butuh uang? Sebelumnya ke mana saja kamu? Kamu kira kami bodoh? Jangan ganggu kami!"
Panggilan berakhir. Sahabatku memelototiku tanpa mengatakan apa pun. Aku pun tidak bisa menahan tawaku. "Aku nggak berniat kasih mereka uang kok! Ayo, kita pergi makan enak!"
Dengan demikian, kami pergi bersenang-senang. Kami minum-minum, lalu menyanyikan lagu lama di jalan. Banyak orang yang merekam kami dan memposting video kami di internet.
Namun, kami berdua tidak peduli. Kami cuma ingin bersenang-senang.
Aku mengira kehidupanku akan terus seperti ini. Siapa sangka, keesokan pagi, putraku meneleponku lagi.
"Ibu, Ayah diopname karena strok. Dokter bilang waktunya sudah nggak banyak lagi. Cepat pulang. Jenguk Ayah."
Anda Mungkin Juga Suka





