APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KECELAKAAN SEMPURNA

KECELAKAAN SEMPURNA

Demi membiayai pengobatan kanker sang ibu, Qarletta Averly yang berumur 21 tahun melamar sebagai fotografer di Heston Corporation. Namun, harapan Arlett pupus setelah berurusan dengan sang CEO, Carl Heston. Sebuah kecelakaan fatal justru menyeretnya ke dalam skandal besar yang telah direncanakan oleh Carl. Kini, Arlett terjebak dalam pusaran masalah rumit bersama pria berkuasa tersebut, yang membuat seluruh kehidupannya berubah total.
Bab
Bagikan

Bab 3

NEW YORK CITI 13.08; HESTON SKYSCRAPER 22ND FLOOR

"I really do hope we can get a good result from this new project, Sir," ucap sebuah suara bariton terdengar menggelegar di dalam ruangan kosong itu. Tak ada siapa pun yang menghuni Tentu, selain dirinya sendiri.

Di atas sofa hitam besar, duduklah Carl Heston yang sedang berbicara di telepon dengan salah satu rekan kerja barunya, membicarakan proyek besar mereka yang akan datang sembari meminum sebotol whiskey yang ditaruhnya di atas nakas hitam yang berwarna senada dengan sofanya.

Ruangan itu adalah ruangan pribadi Carl Heston yang dia bangun untuk dirinya sendiri, kalau saja suatu kali dia merasa sangat jenuh berada terus menerus di dalam ruang kerjanya, bekerja sepanjang hari.

Tapi hari ini, bukan karena jenuhlah dia mengunjungi ruang istirahatnya. Dia baru saja menyelesaikan rapatnya di lantai 22 dan dia terlalu malas bergerak untuk kembali pergi sampai ke kantornya di lantai teratas, lantai 61.

Dan beginilah sekarang Carl, berbicara dengan rekan kerjanya sembari bersantai di atas sofa dan berkali kali menggerutu kesal menatap dasi merah yang dibencinya bertengger longgar di atas dada bidangnya.

Dasi itu tidak berdosa, hanya saja Carl ingin menyalahkannya karena dia merasa dası sialan itu selalu membawanya kepada kesialan.

Sebebas itulah orang tampan itu

"Of course, I do too. Thank you for accepting my offer, Sir. I'll be confirming about the further contract on our next meeting," kata seorang laki-laki paruh baya dari seberang telepon, jelas terdengar bangga bisa menjalin kerja sama dengan seorang Carl Heston, salah satu orang terkaya di dunia sekarang ini.

"Thank you. Until next time."

Dan dengan begitu panggilan mereka terputus. Carl mengecek ponselnya terakhir kali dan melihat ratusan bahkan ribuan email atau pesan yang dikirim kepadanya perihal pekerjaan. Itu semua sudah biasa. Tapi apa yang membuat Carl tidak suka adalah ketika dia melihat sebuah pesan tertulis di atas ponselnya dari sekretarisnya mengatakan kepadanya kalau dia masih memiliki jadwal meeting lagi setelah ini.

Tanpa ragu-ragu, Carl langsung menekan sebuah kontak di ponselnya lalu menempelkannya di telinganya sekali lagi. "Ray, di mana kau sekarang? Aku harus menghadiri sebuah meeting penting yang tak aku sukai. Aku tidak akan datang. Ayo pergi minum dengan yang lainnya."

"Crazy as always, Carl. Aku berada di kantor juga. Pas sekali aku sedang menghindari seorang client yang ingin bertemu denganku sejak dua bulan yang lalu," ucap Ray sembari menghela nafas berat.

Carl tidak memiliki pilihan lain selain menggeleng gemas mendengar betapa tidak acuhnya temannya itu. Padahal dia yakin client yang datang mengejar Ray itu adalah seseorang yang sebenarnya sangat penting.

"Let's meet up in the usual bar. Be there in an hour. Bye!"

Carl menatap ponselnya sekali lagi setelah Ray mematikan panggilan teleponnya. Dia tersenyum sekilas sebelum mengambil seluruh barang-barangnya dan bangkit berdiri dan hendak pergi keluar dari ruangan kerjanya.

Tapi sebelum dia bisa menuju pintu, tiba-tiba pintu coklat besar ruang istirahatnya itu terlebih dahulu dibuka oleh seseorang dari luar. Dan dari balik daun pintu muncullah sosok seorang perempuan yang sedang membawa tas kamera besar. Terlihat benar-benar kelelahan seakan telah melakukan maraton 10 kilometer sembari membawa tas berat seperti apa yang dibawanya sekarang.

Dia sangat kelelahan bahkan kepalanya tertunduk ke lantai tanpa memiliki tenaga untuk dinaikkan dan dia harus berhenti sebentar untuk menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal.

"Permisi, apakah ini ruangan seleksi fotografi?" tanya wanita itu parau.

Carl menaikkan sebelah alisnya bingung.

"Kau sepertinya keliru, Nona. Seleksi fotografi itu ada di lantai 21 dan kau sekarang sedang berada di lantai 22," kata Carl tersenyum miring.

Carl menganggap Arlett konyol bisa melakukan kesalahan bodoh seperti ini. Dan sebaliknya Arlett mengernyit dahinya tidak suka, menyadari kekeliruannya.

"Kalau kau mau, aku bisa menyuruh salah satu orang di sini untuk mengantarmu sampai lantai 21 sembari membantumu membawa tas besar itu."

Wanita itu menggeleng sekali. "Tidak. Terima kasih, Sir." Arlett berucap sembari membungkuk. "Thank you for the information. Saya pamit."

Dan dengan begitu wanita itu berjalan membalik hendak pergi kembali keluar dari ruangan, tanpa berbasa basi lagi sedikit pun.

Namun sebelumnya, dia memberanikan diri untuk menatap ke arah laki-laki yang baru saja membantunya itu.

Namun betapa kagetnya Carl dibuat ketika perempuan yang terlihat sudah sangat kelelahan itu tiba-tiba membanting tas kameranya ke lantai dan dengan tiba-tiba pula menatap Carl geram.

Dengan langkah cepat dia mendatangi Carl lalu langsung menarik dasi Carl hingga laki-laki itu menunduk, ditarik dibuatnya. Dia menatap Carl tajam dan sebaliknya. Carl menatapnya bingung. Mereka beradu tatap beberapa detik sampai akhirnya wanita itu mulai berbicara.

"Mengapa semua dasi hari ini digunakan dengan acak-acakan dan sangat buruk rupa sehingga aku harus mengalami hari buruk karenanya!?" tanya Arlett kesal.

Dasi!?

Kemudian Arlett membenarkan dası Carl yang longgar dengan kasar sehingga hampir mencekiknya, lalu merapikannya secepat kilat.

"Sir, lain kali kalau kau memang ingin menggunakan dasi di dadamu, tolong gunakannya dengan rapi dan benar! Kalau tidak, tidak perlu dipakai sekalian!"

Carl dibuat tercengang oleh perlakuan tiba-tiba perempuan itu. Dan tanpa aba-aba selanjutnya, dia langsung berjalan menghampiri pintu, mengambil barang-barangnya lalu pergi keluar dari ruangan itu sembari membanting daun pintu di belakangnya dengan keras, meninggalkan Carl yang masih terdiam speechless seorang diri.

Hah?!

Setelah kepergian gadis yang nyasar masuk ke dalam ruangan miliknya membutuhkan Carl masih diam mematung di tempat dengan tatapan matanya menatap kearah pintu tersebut.

Carl benar-benar dibuat bingung oleh sikap perempuan tersebut. Baru kali ini ada seorang gadis yang berani terang-terangan memberikan nasehat padanya sembari membenarkan dasinya yang memang dia sengaja membuat longgar.

Sementara disisi lain dimana Arlett yang saat ini benar-benar lelah karena menaiki lantai 1 menuju lantai 21 sehingga berakhir tiba di lantai 22. Dan sekarang dia harus kembali turun ke lantai 21 karena dia sudah kelebihan satu lantai dan berakhir salah masuk ruangan.

Hari ini hidupnya benar-benar sial. Bahkan setiap dia melihat laki-laki yang memakai dasi acak-acakan, emosinya langsung naik. Dan dengan keberanian tinggi dia berani memberikan nasehat bahkan memarahi para laki-laki yang tidak memakai dasi dengan benar.

Setelah beberapa menit melampiaskan kekesalannya dengan seseorang yang sama sekali tidak dia kenal membuat Arlett kini sudah tampak baik. Dia berjalan menuju lift. Tujuannya adalah untuk ke lantai 21 tempat seleksi fotografi. Dia harus segera sampai disana.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Guru Untuk Nona Muda Nakal
8.2
Demi meloloskan diri dari kejaran sosok misterius, Dihan terpaksa bersembunyi. Di waktu yang sama, keluarga Rahadian tengah pusing mencari guru privat untuk mendidik dua putri mereka yang terkenal sangat nakal dan enggan belajar. Dihan akhirnya mengambil kesempatan itu walau harus menghadapi tantangan berat. Sanggupkah ia mengatasi kebandelan dua nona muda tersebut? Sementara itu, di balik kekacauan ini, misteri masa lalu Dihan perlahan mulai membayangi langkahnya kembali.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang diambang kehancuran, Yasmin, gadis berusia 20 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Situasi memanas ketika Galih memberikan pilihan sulit antara Anggara atau anak sambungnya, Vira. Keraguan Yasmin yang sangat menyayangi Vira memicu kemarahan Galih. Akhirnya, Galih menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan seluruh harapan pernikahan mereka.
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak
8.5
Di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim rekaman suara yang menghina trauma masa laluku beserta undangan pernikahan mereka. Ternyata, dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain untuk dinasti megah yang ia impikan. Namun, aku akan hadir di pesta pernikahan itu bukan untuk merestui, melainkan menghancurkan seluruh mimpinya hingga menjadi abu.
Sampul Novel Satu-PD176
9.5
Sinta dan putrinya terdesak oleh serangan musuh Leo, suaminya. Di tengah bahaya, pengawal dari Leo justru melarikan diri. Sinta mencoba menghubungi suaminya berkali-kali tanpa hasil, hingga Yosan sang kakak datang menyelamatkan. Ketika panggilan ke-99 akhirnya dijawab, Leo malah mengampuni si pengawal walau putri mereka telah tewas. Kecewa berat atas pengkhianatan ini, Sinta yang merupakan pengusaha senjata terbesar memilih bercerai dan memutus seluruh pasokan senjata untuk Leo.
Sampul Novel Siasat Cantik Sang Perawat
9.3
Sebuah ketidaksengajaan memalukan terjadi saat aku menjalani prosedur pengangkatan kulit di area khusus, membuat bagian vitalku terekspos tanpa sengaja. Sejak peristiwa medis itu, perhatian para perawat di rumah sakit mulai tertuju padaku lewat tatapan-tatapan rahasia. Namun, tidak ada yang seberani sosok perawat satu ini, yang nekat mendatangi dan mengetuk pintu bangsalku secara langsung di tengah keheningan larut malam.
Sampul Novel The Love Triangle
9.3
Clara, seorang staf kontrak berparas menawan, sekian lama mencintai bosnya yang keras kepala dan perfeksionis, Rio. Sayangnya, perasaan itu tak pernah direspons. Segalanya berubah saat Brian, sahabat karib Rio, pulang ke tanah air. Kedekatan Clara dengan Brian menumbuhkan cinta baru yang membuat Clara melupakan Rio. Menyaksikan romansa mereka, Rio didera cemburu buta. Akankah ia terlambat menyadari hatinya, ataukah hubungan persahabatan dengan Brian yang akan hancur?