APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kayungyun

Kayungyun

Fatih hidup berdampingan dengan entitas misterius yang bersemayam di tubuhnya sejak kecil. Seiring waktu, keberadaan sosok tak kasat mata yang ia sebut teman itu kian tak terkendali. Kini, teror supranatural tersebut tidak hanya mengacaukan hidup Fatih, tetapi juga mulai mengancam keselamatan orang-orang terdekatnya. Fatih harus berjuang menghadapi gangguan mistis agresif yang perlahan merusak realitas di sekitarnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Fadli dan Sapto menoleh ke belakang mereka. Mereka berdua sangat terkejut ketika melihat seorang pria tengah baya berjalan dengan terhuyung-huyung dan akhirnya terjatuh tak berdaya. Sepertinya dia pingsan.

"Siapa dia?"

"Itu tidak penting. Yang penting kita harus segera menolongnya."

Fatih memberikan Fatihah pada Fadli dan kemudian membawa pria yang pingsan itu ke dalam ruang terapi ruqyah. Beberapa orang sudah menunggu mereka.

"Ada apa, Ust?"

"Kami juga tidak tahu, Ust. Sepertinya pria ini butuh bantuan."

"Apa dia kerasukan?"

"Kita belum tahu, Ust. Kita bangunkan dulu saja."

Semua mematuhi perintah Sapto dan membangunkan pria itu dengan perlahan. Tak perlu waktu lama, sang pria pun membuka matanya dan tersengal. Dia nampak bingung dan memandang berkeliling dengan pandangan liar.

"Mana Sukesi?" tanya pria itu dengan dada naik turun, "mana Sukesi?"

Sapto tersenyum dan mendekati pria itu.

"Mohon maaf kalau boleh tahu, Bapak siapa, njih?" tanya Sapto perlahan.

Pria itu tidak langsung menjawab Sapto. Dia memandang Sapto dari atas ke bawah. Pria itu nampak ragu dan sangsi, sekaligus takut melihat Sapto yang bertubuh tinggi besar dan terlihat mengancam, walaupun wajahnya tersenyum.

"Saya Sasmito, Pak. Saya tadi mengejar Sukesi. Dia masuk ke sini, kan?" tanya pria bernama Sasmito itu dengan suara gemetar. Sekali lagi dia memandang berkeliling dan wajahnya berubah sangat ketakutan.

"Saya melihat Sukesi masuk ke sini! Saya mohon bawa saya ke Sukesi, Pak!"

Fatih tersenyum dan mengelus tangan Sasmito.

"Insya Allah nanti kami carikan Sukesi, Pak. Pak Sasmito tahu bapak di mana?" tanya Fatih perlahan. Sasmito menggeleng.

"Niki ting pundi, Pak? (Ini di mana, Pak?)" Sasmito menjawab dengan pertanyaan pada Fatih.

"Pak Sasmito ada di pesantren ruqyah Karang Pandan, Pak. Bapak dari mana?"

Sasmito mengerutkan keningnya mendengar jawaban Fatih.

"Karang Pandan? Jauh sekali. Saya dari Tintrim, Pak."

Semua terdiam mendengar jawaban Sasmito.

"Wau saking Tintrim nitih nopo, Pak? (Tadi dari Tintrim naik apa, Pak?)" tanya Sapto. Sasmito mengerutkan keningnya.

"Mlayu, Mas. Aku ora ngerti yen aku mlayu nganti Karang Pandan, (Lari, Mas. Aku tidak tahu kalau aku berlari sampai Karang Pandan,)" jawab Sasmito dengan bingung.

Semua orang juga bingung dan berpandangan takut. Berlari tadi kata Sasmito? Bukankah jarak Tintrim ke Karang Pandan itu jauh? Bahkan dengan kendaraan pun perjalanan dari Tintrim ke Karang Pandan membutuhkan waktu dua jam.

"Wau saking Tintrim jam pinten, Pak? (Tadi dari Tintrim jam berapa, Pak?)" tanya Sapto berusaha mencari celah dari pernytaan Sasmito tadi.

"Baru saja, kok. Tadi aku dan Sukesi bertengkar, lalu Sukesi berlari keluar rumah. Aku mengejarnya. Lalu Sukesi masuk ke sini, dan aku ikut masuk ...." Sasmito memandang berkeliling, dia nampak bingung dengan kalimat yang baru saja diucapkannya.

"Makanya aku capek, ya? Sepertinya aku lari dari Tintrim ke Karang Pandan, ya? La terus tadi Sukesi juga lari, kan?" tanya Sasmito dengan tak pasti.

"Sukesi itu siapa, Pak?" tanya Sapto lagi. Perlahan dia meminta Fatih bergeser dan kemudian Sapto menggenggam tangan Sasmito. Bibir Sapto komat kamit membaca taawudz dan Al Fatihah.

Sasmito menoleh ke arah Sapto dan tersenyum samar.

"Sukesi anak saya, Pak. Sukesi bilang dia hamil dengan temannya yang bernama Rendra. Makanya saya memarahi Sukesi dan kemudian Sukesi lari. Saya mengejarnya dan yah, saya sampai di sini. Bapak sedang apa? Baca mantra? Kenapa komat kamit seperti itu?" tanya Sasmito kepada Sapto.

Sapto tersenyum, dia menghentikan bacaannya dan mengelus pundak Sasmito.

"Sukesi itu seperti apa, Pak? Saya bantu carikan ya?" tanya Sapto perlahan dan penuh kasih sayang. Sasmito semringah. Dia mengangguk dan hendak membuka mulutnya ketika seseorang mendekati mereka.

"Saya Sukesi, Ust."

**

Rahman mendekati Fatih yang sedang sarapan. Fatih mendongak dan memandang Rahman dengan heran.

"Kenapa, Man?" tanya Fatih. Rahman tersenyum dan duduk di samping Fatih.

"Aku tadi malam ke kamarmu, karena mendengar suara seorang wanita menyanyikan lagi Jawa, Tih. Aku mengetuk pintu kamarmu dan karena lama tidak dibukakan pintu, aku membuka sendiri pintu kamarmu dan ... dan aku melihat siluet wanita di sana." Rahman pucat mengingat pengalamannya tadi malam, dia ingat bagaimana siluet wanita itu menggenggam tangannya dan nyaris menci umnya, seandainya dia tidak mundur dan menghindar. Ketika Rahman mundur dan keluar dari kamar Fatih seketika siluet hitam itu menghilang begitu saja dan Rahman langsung berlari ke dalam kamarnya.

Fatih membeliak tak percaya mendengar cerita Rahman. Wajah Fatih terlihat sangat tidak suka dengan tindakan Rahman, membuat Rahman agak takut.

"Maaf, ya, Tih. Aku tadi benar-benar penasaran dengan suara-suara aneh dari kamarmu," kata Rahman membela diri, kemudian dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan siluet itu. Fatih terdiam. Dia menghentikan sarapannya dan merenung.

"Kamu sering dengar suara apa saja dari kamarku, Man?" tanya Fatih perlahan. Rahman tersenyum.

"Seringnya suara wanita yang sedang nembang atau nyanyi lagu Jawa, Tih. Kadang juga suara gelodak yang cukup keras dan berulang," jawab Rahman, "aku benar-benar minta maaf, ya, Tih."

Fatih tersenyum dan mengangguk. Dia melepas kacamatanya dan mengusap matanya yang nampak lelah.

"Siluet wanita yang kamu lihat tadi adalah jin prewangan atau jin khodam milikku, Man. Namanya Kadita. Dia sering menampakkan diri dalam wujud kuntilanak atau sejenis itu. Aku kurang paham namanya apa, yang pasti dia selalu mengganggu waktu tidurku, waktu bangunku dan sekarang dia juga mengganggu sarapanku. Sudah, Kadita! Jangan ganggu aku lagi!" teriak Fatih sambil memandang ke samping Rahman.

Rahman menelan ludah dan bergeser dari posisi duduknya. Fatih tertawa melihat ketakutan Rahman.

"Kamu sekarang malah duduk tepat di samping Kadita, Man."

**

Semua menoleh ke arah seorang wanita berbaju serba merah yang berdiri di depan para ustadz dan Sasmito. Sasmito menjerit kaget dan berlari ke arah Sukesi.

"Sukesi! Kenapa kamu lari cepat sekali, Ndhuk? Kamu tadi lari dari Tintrim? Mana Rendra?" seru Sasmito terbata. Sukesi tersenyum. Dia merangkul Sasmito dan meminta Sasmito duduk lagi.

"Kesi tidak lari dari Tintrim, Pak." Sukesi tersenyum kepada semua orang yang sepertinya menunggu keterangan darinya.

"Bapak saya sudah lama mengalami gangguan jiwa, Ust. Dia dirawat oleh kakak saya di rumah samping pesantren. Sepertinya bapak berhasil melarikan diri. Saya ke sini juga karena kakak saya menelpon saya dan menanyakan tentang bapak."

Sukesi memandang ke arah bapaknya dengan welas asih. Sebulir air mata mengalir perlahan di pipi Sukesi.

"Bapak pulang, ya, Pak?"

Sasmito menggeleng.

"Jangan bohong Sukesi. Bukankah kakakmu sudah bunuh diri karena Rendra?"

**

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bermandikan Api: Kisah Reinkarnasi Seorang Putri
8.0
Putri Yun Shang terlahir kembali ke masa lalu saat dirinya masih berumur delapan tahun. Di balik raga kecilnya, ia memikul memori pahit dari masa depan tentang pengkhianatan sang suami, hilangnya buah hati tercinta, serta kekejaman kakak perempuannya. Berbekal kepedihan dan ingatan masa lalu, Yun Shang bertekad mengubah takdirnya. Ia menolak menjadi sosok lemah dan bersiap membalas dendam kepada semua orang yang dahulu menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel KUNYIT DARI SARANJANA
8.2
Lawen, pemuda Dayak Bakumpai, kini menjadi buronan paling dicari di kota gaib Saranjana. Tanpa tahu apa kesalahannya, ia terus diburu oleh Panglima tertinggi kerajaan. Ancaman bagi nyawanya kian nyata setelah Raja Saranjana menggelar sayembara besar. Siapa pun yang berhasil menangkap Lawen dijanjikan hadiah luar biasa, mulai dari separuh wilayah kekuasaan hingga takhta untuk menikahi sang putri raja. Lawen harus berjuang bertahan hidup di tengah kepungan seluruh isi kota.
Sampul Novel Misi pangeran mermaid
8.2
Tirta, pangeran duyung berumur enam belas tahun, mengemban tugas penting ke daratan demi memenuhi ramalan kuno berusia seratus tahun. Ditemani kakaknya, Natasya, ia harus beradaptasi di dunia manusia. Namun, rencana itu terusik saat Tirta terpikat oleh Bella pada pertemuan pertama mereka. Kini, ia dihadapkan pada rintangan perbedaan dunia yang sulit ditembus. Bisakah jalinan asmara ini bertahan di kala misi besar mengancam takdir mereka?
Sampul Novel My Perfect Empress
8.2
Putri Kerajaan TangXin, Xin Fahrani, kerap dicemooh rakyatnya sendiri karena sifatnya yang sombong, berbadan gemuk, serta bermakeup tebal. Walau bergelimang harta dan kuasa, ia sadar statusnya tak berarti setelah cintanya ditolak mentah-mentah di depan umum oleh pria idamannya. Hancur dan terhina karena harga dirinya diinjak-injak, Fahrani enggan terus-menerus menjadi bahan tertawaan. Ia pun bertekad bangkit untuk membalas dendam atas rasa malu yang telah ia rasakan.
Sampul Novel PUTRI GANDARI
8.0
Wafatnya Raja Singaraja memaksa Putri Gandari memikul tanggung jawab kepemimpinan yang sangat besar. Walau sempat didera keraguan dan rasa takut yang mendalam, ia akhirnya berhasil bangkit. Dengan tekad membara, Gandari resmi naik takhta demi meneruskan takhta sang ayah. Ia pun berjanji akan memimpin pemerintahan secara bijak serta melindungi seluruh rakyatnya sebagai penguasa baru yang tangguh di masa depan.
Sampul Novel TAMPAN TAPI REPTIL
8.2
Bone, manusia ular yang dibesarkan oleh dukun sakti berkuasa, memendam cinta mendalam pada gadis manusia biasa bernama Abigail. Namun, perbedaan wujud dan asal-usul mereka menjadi rintangan terbesar bagi perasaan tulus yang ia miliki. Di tengah perbedaan kodrat yang nyata, mampukah takdir menyatukan asmara mereka, ataukah identitas reptil Bone justru akan memupus harapan cinta itu untuk selamanya?