APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kasih Sayang Terselubung: Istri Sang CEO Adalah Aku

Kasih Sayang Terselubung: Istri Sang CEO Adalah Aku

Demi kesembuhan sang ibu, Evelyn rela menjalin hubungan rahasia dengan atasannya, Brian. Meski awalnya meremehkan, Brian mulai jatuh hati tanpa menyadari bahwa asistennya itu adalah istri sah yang ia lupakan. Saat Evelyn memutuskan pergi dan meminta perceraian, kebenaran masa lalu akhirnya terungkap. Kini, Evelyn telah bangkit menjadi CEO sukses. Brian yang penuh penyesalan harus berjuang keras memenangkan kembali hati sang istri dengan segala cara.
Bab
Bagikan

Bab 2

Vivi tersenyum, wajahnya dihiasi dua lesung pipi.

Evelyn terkejut. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa Vivi akan menghargai kemampuan profesionalnya hingga menawarkan diri untuk menjalin pertemanan dengannya.

Namun, motif di balik tawaran Vivi membingungkan Evelyn.

Melihat keraguan Evelyn, Vivi bertanya, "Apakah kamu tidak bersedia?"

"Oh, tentu saja saya bersedia." Evelyn, yang menutupi keengganannya dengan senyuman sopan, mengambil ponselnya. "Saya akan menambahkan Anda sekarang," ucapnya, tanpa melihat alasan untuk menolak.

Vivi dengan cepat mengetuk WhatsApp, dan mereka segera menambahkan satu sama lain sebagai kontak.

Sebelum Vivi dapat berkata lebih banyak, Evelyn menyadari ketidakhadiran Brian. Dia mengingatkan Vivi, dengan mengatakan, "Nona Vivi, jangan biarkan Pak Brian menunggu terlalu lama. Sebaiknya kita keluar sekarang."

"Baiklah." Vivi setuju, lalu mulai berjalan dengan langkah cepat.

Jalanan hampir kosong pada tengah malam saat mereka masuk ke dalam mobil Mercedes Benz hitam.

Brian dan Vivi duduk di belakang, sementara Evelyn duduk di kursi pengemudi.

Pandangan Evelyn tertuju pada jalan di depan, meskipun fokusnya goyah. Gumaman lembut dari Brian dan Vivi memenuhi telinganya.

Mereka terdengar seperti pasangan muda yang saling jatuh cinta, juga seperti pasangan suami istri dengan hubungan yang sangat baik sedang membicarakan kehidupan sehari-hari mereka.

Mendengar mereka berbicara sudah cukup menenangkan bagi Evelyn, itu berarti mereka hanya berbicara, tidak lebih.

Namun setelah hening sejenak, Evelyn tiba-tiba berpikir bahwa Brian dan Vivi mungkin sedang berciuman.

Dia melirik ke kaca spion untuk melihat sekilas ke arah kursi belakang.

Brian tampak ceria, senyumnya terlihat jelas saat dia duduk dengan jari-jarinya terjalin di atas kaki yang disilangkan.

Vivi mencondongkan tubuh ke arah Brian, hampir menutup jarak di antara mereka, seolah-olah ingin berada dalam pelukan pria itu.

Sepertinya mereka telah menghentikan pembicaraan mereka, mungkin terhanyut dalam kenangan masa lalu.

Sebelum Evelyn dapat berpikir lebih jauh, dia bertemu dengan tatapan Brian.

Mata pria itu memesona, dan dia segera mengalihkan tatapannya ke arah lain.

Sambil berdeham, Evelyn berkata, "Kita akan segera sampai di kediaman Keluarga Wiradi, Pak Brian. Apakah sebaiknya saya menyetir ke dalam atau berhenti di pintu kompleks?"

Dia segera menyesali pertanyaannya yang terburu-buru.

Rumah Keluarga Wiradi berada di Kompleks Vila Mentari, dan jika berjalan kaki jaraknya cukup jauh dari pintu kompleks ke vila terdekat. Evelyn ragu Brian ingin Vivi berjalan kaki dengan barang bawaannya.

"Brian, kenapa kamu mengantarkanku ke rumahku?" Vivi tiba-tiba menyadari bahwa mereka telah sampai di kediaman keluarganya. Dia menggigit bibir dan menyuarakan keengganannya. "Aku belum mau pulang ke rumah."

"Kamu sudah bertahun-tahun tidak pulang. Ini waktunya untuk reuni keluarga," ucap Brian. Kemudian, dia menatap mata Evelyn dan berkata, "Berhentilah di pintu kompleks."

Keheningan yang pekat menyelimuti mobil itu.

Setelah mereka berhenti, Evelyn keluar dari mobil dengan cepat dan membuka pintu belakang.

"Kita sudah sampai, Pak Brian, Nona Vivi," ucapnya sebelum mengambil koper Vivi dari bagasi. Saat dia melakukannya, dia melihat sesosok tubuh mendekat.

Mengenakan satu set pakaian olahraga, pria itu bergerak ke arah mereka di bawah cahaya bulan.

Kiran Wiradi, yang dua tahun lebih tua dari Brian, mengelola urusan Keluarga Wiradi dan terkenal di Onda.

Seringnya Brian dan Evelyn bertemu membuat Evelyn juga sering bertemu dengan Kiran.

Sikapnya yang lembut dan tatapan matanya yang menawan memberikan kesan buaya darat.

Namun, Evelyn sadar akan bahaya yang mengintai bagi mereka yang menyinggung Kiran. Dia jauh dari kata tidak berbahaya.

Vivi, sebagai adik perempuan yang disayanginya, memiliki tempat khusus dalam Keluarga Wiradi.

Evelyn menyapanya, "Halo, Tuan Muda Kiran."

Sambil membalas sapaan Evelyn dengan anggukan, Kiran memeluk Vivi dengan hangat.

"Kamu pergi selama enam tahun lamanya. Tidakkah kamu senang karena kamu sudah kembali?" ucap Kiran pada Vivi.

Melihat kakaknya membuat Vivi senang, tetapi dia merasa tidak senang dengan keputusan Brian yang mendadak untuk mengantarnya pulang ke rumah.

Kali ini, dia kembali untuk berdamai dengannya. Dia telah memilih Brian daripada keluarganya sendiri untuk membuat pria itu bahagia.

"Akulah yang meminta Brian untuk mengantarmu pulang. Ayah dan Ibu sudah menantikan kepulanganmu," jelas Kiran. "Perjalananmu bersama Brian masih panjang. Tidak perlu terburu-buru."

Mendengar kata-kata Kiran, Vivi merasa sedikit lega. Dia tersenyum dan melirik ke arah Brian. "Aku berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Brian, tapi karena sekarang aku sudah berada di sini, sepertinya lebih tepat jika aku pulang ke rumah lebih dulu."

Reaksi Brian sangat tenang, ekspresi di wajahnya tidak terbaca. Dia dengan santai memasukkan tangannya ke dalam saku, bersandar pada mobil, dan memberikan anggukan sederhana.

"Kurasa sudah waktunya aku pergi," ucapnya.

Evelyn, yang menangkap isyarat ini, segera bergerak untuk membukakan pintu untuknya. Brian berbalik dan masuk ke dalam mobil. Namun, ketika Evelyn hendak menutup pintu di belakangnya, Vivi menginterupsi, mencondongkan tubuh untuk berbicara lebih banyak dengan Brian.

"Brian, aku berencana untuk mengunjungi Nenek Soraya di Mansion Dewata besok pagi," ucap Vivi.

Cahaya di dalam mobil redup, dan Evelyn hampir tidak dapat melihat kontur yang jelas dari wajah samping Brian melalui jendela.

Brian sedikit membuka bibir untuk menjawab, "Oke."

Puas dengan jawabannya, Vivi melangkah mundur untuk bergabung kembali dengan Kiran, sambil melambaikan tangan ke arah Brian.

Setelah menutup pintu, Evelyn pamit pada Kiran dan Vivi dengan sopan. "Tuan Muda Kiran, Nona Vivi, sampai jumpa."

Dia kemudian berputar ke sisi pengemudi mobil, duduk, dan melaju dengan santai, yang menyangkal beban di hatinya.

Mereka masih perlu kembali ke Grup Puncak, disebabkan oleh jadwal Brian, yang mencakup rapat online internasional yang menuntut kehadirannya. Sebagai asistennya, tugas Evelyn membuatnya harus berada di sisi Brian hampir setiap saat.

Akibatnya, pada pukul dua pagi, dia mendapati dirinya menunggu hingga rapat Brian berakhir.

Brian memanggil dan berkata dengan suara yang jelas dan menyenangkan, "Masuk."

Perintahnya singkat. Dia tidak perlu mengonfirmasi kehadirannya. Tiga tahun telah memupuk pemahaman tanpa perlu bicara di antara mereka, komunikasi yang sempurna dalam konteks pribadi dan profesional.

Evelyn, dengan surat perjanjian perceraian di tangan, berjalan masuk ke dalam kantor. Sebelum dia sempat berbalik, sebuah tangan yang kuat menariknya ke dalam pelukan.

Brian menciumnya pada detik berikutnya, dan tangan pria itu bergerak dengan gelisah di tubuhnya.

Tertegun selama beberapa detik, Evelyn bergerak mundur untuk menghindari bibirnya, keterkejutan terlihat di matanya.

"Ada apa?" Brian bertanya, suaranya hampir serak karena gairah yang terlihat jelas.

Sambil menggigit bibir, Evelyn memberikan surat perjanjian perceraian kepadanya. "Pak Brian, ini surat perjanjian perceraian Anda. Apakah Anda perlu merevisinya?"

Brian menarik napas dalam-dalam, meletakkan surat perjanjian itu di atas meja tanpa melihatnya, dan berbalik menatapnya.

"Evelyn, kamu tidak terlihat seperti dirimu sendiri hari ini," ucapnya.

Evelyn tidak tahu apakah komentarnya itu karena dia telah memperhatikan mereka di dalam mobil atau karena situasi saat ini. Dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan senyum tegang. "Pak Brian, ini sudah larut. Haruskah saya mengantar Anda pulang untuk beristirahat? Anda harus berada di Mansion Dewata besok pagi, ingat?"

"Sudah terlalu malam untuk pulang sekarang. Mari kita menginap di sini malam ini," ucap Brian sambil melihat ke arah ruang istirahat.

Waktu Evelyn di ruang istirahat tidak pernah lebih dari tiga jam setiap kali Brian membutuhkan kehadirannya. Setelah kebutuhan Brian terpuaskan, Evelyn akan mengenakan pakaiannya dan pergi.

Satu-satunya kesempatan dia tinggal lebih lama dari durasi ini adalah ketika kelemahan pada kakinya memaksanya untuk beristirahat di ranjang selama beberapa waktu.

Ini adalah pertama kalinya Brian mengajaknya menginap.

Ini juga merupakan kali pertama dia menolak Brian. "Pak Brian, melakukan tindakan seperti itu tidak pantas, apalagi ...."

Vivi telah kembali.

Namun sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Brian menyela, "Apakah kamu menolak permintaanku?"

Evelyn mengerutkan alis. Bukankah seharusnya dia menolaknya?

Sebagai istrinya, dia akan segera bercerai. Bagaimana mungkin dia bisa terus hidup seperti seorang wanita simpanan?

Terlebih lagi, jika Brian ingin ditemani oleh wanita, mengapa dia tidak meminta Vivi untuk tinggal, terutama mengingat Vivi yang jelas bersedia?

Namun, bukan tempatnya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Terlepas dari kebingungannya dalam hati, Evelyn terpaksa menahan diri.

"Pak Brian, saya punya komitmen di rumah," ucap Vivi, kata-katanya merupakan penolakan yang sopan tetapi jelas.

Brian menundukkan kepalanya, menyandarkannya ke bahu Evelyn, napas pria itu terasa hangat di tulang selangkanya, menimbulkan sensasi geli.

"Kalau begitu, antar aku ke Vila Taman Barat dalam perjalanan pulang. Besok, bawalah surat perjanjian perceraian dan jemput aku untuk pergi ke Mansion Dewata," gumam Brian, napasnya membelai leher Evelyn. Kemudian, dia menegakkan tubuh, berjalan kembali ke mejanya, mengambil jasnya, dan pergi.

Evelyn tetap diam sambil mengikutinya keluar. Mengaku ada urusan yang harus diselesaikan di rumah bukanlah alasan yang tepat.

Setelah mengantar Brian, dia tiba di apartemennya dalam waktu sepuluh menit.

Apartemennya berbentuk dupleks. Ukurannya sederhana, tetapi terdiri dari dua tingkat, dengan harga sekitar empat miliar rupiah karena lokasinya yang strategis.

Brian telah memberikannya sebagai hadiah ulang tahun pada tahun sebelumnya, pada suatu malam ketika mereka sedang bermesraan.

Sekembalinya ke rumah, dia meletakkan tas dan kunci mobilnya, menyalakan lampu, dan naik ke lantai dua. Di sana, dia mengambil buku nikah dan dokumen yang diperlukan dari laci nakas sebelum kembali ke lantai bawah untuk memasukkannya ke dalam tasnya.

Jika Soraya Dirsan, nenek Brian, menyetujui Vivi dan Brian untuk rujuk besok, langkah selanjutnya adalah menyelesaikan perceraiannya dengan Brian.

Dia tahu bahwa dia tidak akan memiliki kesempatan untuk kembali untuk mengambil dokumen-dokumen itu besok.

Mengungkapkan identitasnya sebagai istri Brian akan mengakhiri perannya sebagai asistennya.

Dia merenungkan bagaimana cara mengungkapkan pada Brian besok bahwa dia adalah istri yang telah dilupakannya.

Akankah Brian percaya bahwa niatnya hanya bekerja untuknya?

Karena ketidakmampuan Brian untuk mengenalinya dan kebutuhannya yang mendesak akan pekerjaan itu, Evelyn menyembunyikan identitasnya.

Belakangan, mengetahui bahwa Brian tidak menyukai tipu daya, membuat keadaan menjadi semakin rumit.

Evelyn merasa terlalu takut untuk memberitahukan hal tersebut.

Namun sekarang, dia tidak punya pilihan lain selain berharap bahwa dia tidak akan berada dalam situasi yang buruk besok.

Tersesat dalam pikirannya, dia akhirnya terlelap di sofa. Alarm yang disetel untuk pukul enam pagi membangunkannya.

Melirik ke arah jam, dia bergegas bersiap-siap, merias wajahnya dengan cermat, meskipun riasannya tidak dapat menyembunyikan kantong hitam di bawah matanya.

Dia merebus dua butir telur dan menghangatkan sebotol susu untuk sarapannya. Dia selesai makan sebelum berangkat ke Vila Taman Barat.

Meskipun tidak memiliki nafsu makan, dia memaksakan diri untuk mengisi perutnya. Mengetahui bahwa surat perjanjian perceraian akan menandai dimulainya pencarian pekerjaannya yang baru, dia membutuhkan energi pagi ini.

Brian yang terlihat lelah menaiki mobil dan langsung memejamkan mata, menambah suasana hati Evelyn yang sudah muram semakin sesak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Sejak kecil, Iris diadopsi oleh keluarga Stewart dan tumbuh menjadi kekasih rahasia dari pamannya, Vincent. Di balik reputasi playboy-nya, CEO itu bersikap sangat dingin pada Iris. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak Vincent demi pernikahan bisnis. Ingin lepas dari penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun di hari pernikahan, Vincent justru datang bersimpuh dan memohon agar Iris tidak pergi.
Sampul Novel Cinta Wanita Malam
9.8
Kehidupan Sania di SMA Brawijaya mendadak gempar sejak Gevan, kakak kelas idola, menjemputnya di kos. Namun, ketenangan Sania di kelas XI IPS 2 seketika terusik oleh kehadiran Bara, siswa baru yang sangat dingin. Pertemuan perdana mereka langsung memicu ketegangan saat Bara mengungkap dusta Sania di hadapan guru. Kini, Sania terjebak di antara pesona hangat Gevan dan sikap sinis Bara yang penuh misteri.
Sampul Novel Gairah Isteri Kedua
8.4
Demi sebuah alasan besar, Ellea terpaksa mengambil keputusan berat untuk menjadi istri kedua Anderson. Menikah dengan CEO muda yang sangat berkuasa itu menyeret Ellea ke dalam rumah tangga yang penuh misteri. Apa yang sebenarnya mendasari kesediaannya menerima peran tersebut? Ikuti kisah cinta penuh konflik ini saat Ellea berjuang menghadapi kenyataan pahit di balik statusnya sebagai wanita kedua dalam kehidupan sang konglomerat kaya raya.
Sampul Novel Kelahiran Kembali Pebisnis Wanita Terbaik di Kampus
7.9
Dulu ia hancur karena dikhianati dan dihina hingga kehilangan keluarga, lalu tewas tragis saat muda. Namun, kesempatan kedua datang ketika ia terbangun di masa lalu, dua belas tahun sebelum tragedi itu terjadi. Bertekad mengubah takdir kelam, ia bangkit dengan kekuatan baru. Di sekolah, ia memang terlihat seperti murid penyendiri yang biasa saja. Namun di balik itu, ia diam-diam mendirikan kerajaan bisnis raksasa demi membalas dendam dan meraih kesuksesan.
Sampul Novel Terjebak Cinta Mantan Buron
9.3
La Rossa, pembunuh bayaran andal, mendapat tugas mengeksekusi pewaris tunggal SKYLINE yang dikenal lumpuh dan idiot. Tak disangka, sang target ternyata menyembunyikan jati diri aslinya yang sangat berbahaya. Bukannya berhasil membunuh, La Rossa malah terjebak dan disandera oleh pria misterius itu di tempat persembunyiannya. Kini, ia dihadapkan pada dilema besar: mencari jalan untuk kabur atau justru selamanya terjerat dalam pelukan mantan buronan tersebut.
Sampul Novel Ternyata Jatuh Keperangkap Pelatihku
9.2
Ketampanan sang pelatih di tepi kolam renang seketika mencuri perhatianku, memicu ketertarikan yang begitu mendalam. Aku sangat mendambakan momen kedekatan dan kontak fisik dengannya. Namun, begitu keinginan tersebut akhirnya menjadi kenyataan, sebuah realitas tak terduga mulai terungkap. Aku baru menyadari bahwa semua interaksi ini bukanlah kebetulan belaka, melainkan sebuah jebakan matang yang membuatku kini sepenuhnya jatuh dan terperangkap di dalam cengkeraman manis sang pelatih.