APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku

Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku

Selama dua tahun, Nina menjalani pernikahan kontrak dengan suami misterius yang tak pernah ia temui. Suatu malam, sebuah kekeliruan fatal membuatnya salah masuk kamar dan menyerahkan kesucian kepada pria asing. Akibat pelanggaran ini, ia terancam denda besar dan memutuskan untuk meminta cerai. Namun, saat menyerahkan berkas perceraian, Nina syok mendapati bahwa suaminya ternyata adalah pria yang sama yang menghabiskan malam bersamanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hari Jumat malam, pukul delapan.

Sebuah perjamuan sedang diadakan di Hotel Four Seasons Garden. Pesta itu tidak hanya dipenuhi dengan suasana yang mewah, tetapi suasana ceria juga terlihat saat orang-orang bersulang dan mengobrol dengan gembira mengenai acara tersebut.

Nina Kusuma melihat papan nama di hotel itu dengan wajah cemberut, "Sudah pasti yang ini."

Tapi, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengerutkan alisnya. Tidak mudah untuk masuk ke dalam tempat ini tanpa sebuah undangan. Apa yang akan Nina katakan? Bersamaan dengan Nina yang khawatir, seseorang dengan sosok tubuh ramping lewat di depannya. Orang itu adalah Isabella Baskara, teman Nina di sekolah.

"Isabella," sapa Nina, sambil melambai padanya. Seolah dirinya terkejut, Isabella berbalik, mengedipkan mata dengan kaget saat dia melihat siapa orang yang memanggilnya, "Mengapa kamu ada di sini?"

Isabella mendekat, mengernyitkan wajahnya saat dia tidak mencium aroma dari Parfum Feromon, parfum yang dia berikan kepada Nina, "Kenapa kamu tidak menggunakan parfum pemberian dariku?"

"Ada hal mendesak yang harus kulakukan. Itulah alasanku tidak menggunakannya." Sejujurnya, masalah sebenarnya adalah karena Nina tidak terbiasa menggunakan parfum. Dia melihat ke arah kerumunan orang, "Ngomong-ngomong, apa kamu bisa membawaku ke dalam?"

"Tentu saja aku bisa." Isabella tersenyum polos seakan ada sesuatu yang melintas di pandangannya.

Dia mengambil parfum dari sakunya dan menyemprotkan parfum tersebut ke seluruh bagian tubuh Nina.

Nina terbatuk, lalu dengan sengaja mencubit hidungnya, "Aku alergi terhadap parfum," dia menjelaskan pada Isabella, sambil melambaikan tangan ke udara.

Tanpa memberikannya waktu untuk berpikir, Isabella menariknya ke dalam hotel dan mendorongnya ke dalam lift.

Sesaat setelah Nina sudah pergi, terlihat senyum yang terulas di bibir Isabella.

Untungnya, hari ini dia membawa parfum tersebut. Parfum itu memang hal yang berguna untuk waktu seperti ini. Tidak peduli seberapa polos atau suci seorang wanita, dia akan terlihat menantang bagi para pria saat dirinya berada di bawah pengaruh parfum tersebut. Tidak peduli seberapa teguh pendirian seorang pria, dia akan tertarik oleh aroma parfum tersebut.

Ada ratusan pria di dalam pesta pada hari itu. Isabella tersenyum memikirkan hal itu, 'Semoga berhasil, Nina. Demi kebaikanmu, aku harap kamu tidak meniduri orang yang jelek.'

Nina tiba di lantai 20 di mana hanya ada dua kamar kelas VIP teratas. Dia mengetuk ruangan di sebelah kiri, seorang pria menawan dengan wanita genit di sebelahnya lalu membuka pintu ruangan itu.

Nina mundur ke belakang sambil tertatih dan mengerutkan alisnya.

Sepertinya dia salah mengetuk pintu.

Nina membuang muka dengan rasa malu, "Maaf. Kamu dapat melanjutkan kegiatanmu."

Begitu dia berbalik, pria itu menghentikannya, "Tunggu, apa kamu sedang mencari Tuan John?"

Pria itu melihat Nina dari atas ke bawah. Nina terlihat bersih dan polos. John Hermawan mungkin tidak akan mengusir wanita ini seperti yang pernah dia lakukan pada orang lain di masa lalu.

Baru saja James Hermawan menelepon John dan mengatakan padanya bahwa dia berencana untuk memberinya kejutan. Dia tidak menyangka wanita tersebut akan dikirim padanya secepat ini.

"John ada di dalam." Sebelum Nina bisa paham apa yang dimaksud oleh pria tersebut, dia sudah mendorongnya masuk dan menutup pintu.

Nina terhuyung-huyung ke dalam ruangan suite, bahkan hampir terjatuh ke lantai. Saat pintu di belakangnya tertutup, matanya yang sayu melihat sekeliling ruangan tempatnya berada.

Ketika Nina mendengar ada suara langkah kaki yang mendekatinya, dia berbalik badan. Seorang pria tinggi dan tampan melihatnya. Walaupun seumur hidupnya Nina sudah pernah bertemu dengan banyak pria, tapi tidak ada pria yang bisa menandingi ketampanan pria di hadapannya.

Tubuh bagian atasnya sangat bagus dan kuat. Kulitnya yang putih dan otot-ototnya yang kekar sangat menarik perhatian, terutama ketika tetesan air mengalir melalui lekukan otot perutnya. Nina menelan ludahnya sendiri.

"Apa kamu sudah cukup melihat-lihat?" kata pria itu dengan dingin, membuat Nina kembali tersadar pada kenyataan. Ingat akan pekerjaannya, Nina mengingatkan dirinya sendiri dan meminta maaf dengan berlebihan, "Maaf. Mungkin aku masuk ke ruangan yang salah."

Di dalam dunia ini, hanya ada dua macam orang yang akan memasuki ruangan yang salah. Antara mereka bodoh atau manipulatif. Pria itu berpikir bahwa wanita ini adalah orang yang manipulatif.

John menatapnya. Dia memiliki wajah yang cantik, kulitnya putih dan hidungnya mancung.

Kulitnya yang seperti porselen berwarna merah muda terang, matanya yang besar tampak polos dan naif. Ada sesuatu tentang Nina yang membuat pria ini langsung tertarik padanya.

Bibir pria itu melengkung ke atas.

"Tidak, kamu tidak salah masuk ruangan." Seharusnya wanita ini adalah kejutan yang James katakan padanya.

John sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Wanita-wanita yang sebelumnya diberikan oleh James biasanya langsung diusir keluar olehnya. Sebenarnya, John sudah sangat terbiasa dengan mereka sehingga John merasa biasa aja saat melihat mereka.

Melihat wanita di depannya yang juga berusia sekitar 20 tahun, sepantaran dengan usia James, John tahu bahwa dia harus bersikap baik untuk saat ini.

"Sudah berapa lama kamu melakukan hal seperti ini?" ucap John seolah-olah dia sedang memarahi keponakannya, James.

Dengan ekspresi kebingungan di wajahnya, Nina mengerutkan keningnya, "Ini merupakan pertama kali bagiku," katanya dengan jujur.

Dulu, biasanya Nina hanya menangani kasus-kasus yang dibahas di ruang guru. Ini adalah pertama kalinya Nina berada di lapangan untuk menyelidiki.

Dikatakan bahwa ada dua kasus bunuh diri yang akan ditutup di kantor polisi. Namun, Nina selalu merasa bahwa kasus tersebut bukan hanya sekadar bunuh diri. Bahkan, dia datang ke sini untuk menghubungkan dua kasus tersebut. Bagian dari dirinya merasa bahwa kedua korban kasus tersebut memiliki hubungan, dan Nina ingin mengetahui lebih banyak petunjuk yang menunjukkan hubungan kedua korban.

Selama seminggu terakhir, Nina telah menghampiri ke hotel-hotel terdekat, berharap menemukan beberapa petunjuk untuk membuktikan dugaannya.

"Pertama kalinya bagimu? Jadi kamu hanya punya teorinya saja?" John lalu duduk.

Dia kemudian mengambil segelas anggur dan memutuskan untuk meminumnya.

Nina secara tidak sengaja melirik John, dia merasakan bahwa dirinya tidak bisa melepaskan pandangan darinya, "Aku sudah mempelajari teori itu selama dua tahun."

"Oh? Benarkah?" John mencibir, seolah-olah dia baru saja mendengar sebuah lelucon.

'Apa mereka benar-benar mengajarkan teori untuk pekerjaan macam ini? Apa tujuan mereka mengajarkan itu? Untuk mencari seorang pria lalu mempraktikkan teori tersebut?'

"Jangan meremehkanku," bentaknya pada John. Nina baru saja mau balik badan dan pergi saat dia mendengar suara John.

"Apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu layak untuk dihormati? Berapa banyak uang yang mereka berikan padamu?" John menyalakan sebatang rokok dan mengepulkan asap. John benar-benar tidak bisa menemukan alasan bagi wanita untuk masuk ke pekerjaan seperti ini dan tidak dibayar.

John menyilangkan tangannya di depan dada.

"Tidak ada," kata Nina dengan dingin.

Tidak ada?

Nina adalah wanita paling cantik yang pernah John lihat.

Padahal, dalam lingkup pekerjaan seperti ini, wanita seperti ini bisa bernilai puluhan ribu dolar.

Melihat Nina akan pergi, John mengerutkan keningnya, "Apa aku berkata kalau kamu boleh pergi?"

Dengan jentikan jari pada rokoknya, api kecil berbentuk bola itu menjadi semakin menyala. Tidak ada yang bisa datang dan pergi dengan sesuka hati mereka di tempat John.

Nina berhenti saat jantungnya berdegup kencang, "Dengarkan aku, pekerjaan kami tidak bisa dinilai dari uang. Kamu harus tahu seberapa bahaya hal ini, terutama mengenai kasus ini. Dalam ruang yang tertutup seperti itu, seseorang bisa mati jika aku tidak melakukan pekerjaanku dengan benar. Aku harus pergi sekarang."

Seseorang bisa mati?

Tanpa sadar John melirik ke bawah. Apa dirinya benar-benar mengerikan seperti itu?

Mata Nina melotot, seolah menyadari maksud dari tanggapan John.

Pria ini pasti salah mengira dirinya...

Pipinya memerah.

"Kamu! Dasar tidak tahu malu!" kata Nina dengan marah sambil menunjuk pria itu.

John hanya diam tanpa ekspresi. Bagaimana bisa Nina memanggilnya tidak tahu malu padahal dia adalah bosnya untuk malam ini?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Jauh di Luar Jangkauanmu
9.5
Pengorbanan Delia selama sepuluh tahun untuk mantan suaminya berujung sia-sia hingga perceraian menjadi jalan keluar. Tiga bulan setelah berpisah, ia terlahir kembali menjadi sosok mengagumkan: CEO merek terkenal, desainer ternama, sekaligus pemilik tambang sukses. Ketika keluarga sang mantan memohonnya untuk kembali, Delia yang kini dicintai oleh Caius yang sangat berkuasa hanya memandang mereka dengan rendah. Bagi Delia, mereka tak lagi selevel karena kini ia berada jauh di luar jangkauan.
Sampul Novel Amarah Dan Cinta
9.5
Yasnina harus menelan kepahitan karena cinta tulusnya pada Devan selalu bertepuk sebelah tangan. Kabar rencana pernikahan Devan menjadi hantaman keras yang menghancurkan perasaannya. Dipicu oleh kemarahan dan rasa kecewa, Yasnina mengambil langkah nekat dengan menjebak Devan dalam sebuah malam intim menjelang hari bahagianya. Akankah nekatnya tindakan ini berhasil menumbuhkan cinta Devan, atau justru memicu kebencian mendalam yang akan mengusirnya selamanya?
Sampul Novel ANAK CEO TAMPAN
8.1
Akibat jebakan keji sang mantan suami, Candice terpaksa melewati malam bersama seorang lelaki asing. Empat tahun berselang, ia pulang ke tanah air membawa putra kecilnya yang sangat cerdas dan tampan. Siapa sangka, takdir justru mendekatkannya kembali dengan ayah kandung sang anak. Di kala hasrat membalas dendam kepada perusak hidupnya berkobar, mampukah Candice meraih akhir bahagia bersama keluarga barunya?
Sampul Novel Dua Sahabat yang Bercerai
8.2
Mely dan Winda menikah dengan dua bersaudara dari Keluarga Wicaksono yang kaya raya. Hari pernikahan berubah menjadi petaka saat suami Mely, Riko, pergi demi menolong mantan kekasihnya. Kepergian Riko memicu serangan jantung fatal pada nenek Mely hingga meninggal dunia. Merasa dikhianati dan diabaikan, Mely memutuskan untuk berpisah. Keputusan ini didukung oleh Winda yang juga memilih menggugat cerai suaminya, menyisakan penyesalan mendalam bagi kedua pria Wicaksono tersebut.
Sampul Novel Tiga Hari Terakhirku sebagai Wanita Sempurna
8.1
Divonis hanya memiliki sisa hidup 72 jam, Sofie Barnes memilih menelan pil yang mempercepat kematiannya setelah sang suami, Tommy Harper, memberikan kuota pengobatan kritis kepada Anna Wilson. Di sisa waktunya, Sofie secara tak terduga menyerahkan saham triliunan rupiah, galeri seni, hingga hak asuh putrinya kepada Anna. Perubahan sikap patuh ini membuat Tommy memujinya sebagai sosok istri yang sempurna. Namun, di balik kebaikan palsu itu, Sofie sedang merancang skenario balas dendam terakhir yang mematikan melalui kematiannya sendiri.
Sampul Novel Tipu Daya Pacar Ibuku
8.4
Setelah suaminya meninggal, seorang wanita kembali tinggal bersama ibunya dan mendapati sang ibu sudah memiliki pacar baru. Suatu hari, pacar ibunya mengalami cedera mata akibat percikan las listrik. Pria itu memintanya meneteskan susu ke matanya. Saat membantu, kehangatan tubuh pria tersebut membuat tubuhnya gemetar. Kejadian ini membuatnya menyadari reaksi fisik yang aneh dan tak terkendali, di mana payudaranya selalu meneteskan susu setiap kali ia berada di hadapan pacar ibunya.