APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Karma Manis untuk Tuan yang Sombong

Karma Manis untuk Tuan yang Sombong

Skandal tak terduga dengan Arjuna Adiwangsa, anak majikannya, menghancurkan pertunangan pria itu dengan Valerie dan menyeret Arunika Kinanti dalam kebencian mendalam. Meski sempat melarikan diri, Kinanti akhirnya ditemukan dalam keadaan mengandung. Demi menjaga reputasi, Arjuna terpaksa menikahi Kinanti dengan kesepakatan kejam: bercerai setelah bayinya lahir dan Kinanti harus pergi tanpa sang anak. Kini, ia terjebak dalam pernikahan dingin penuh penderitaan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Matahari baru saja naik, tapi hawa di pasar sudah mulai menyengat. Kinanti mengelap keringat yang bercucuran di pelipisnya dengan ujung daster yang sudah kusam. Bau sisa sayuran busuk dan amis ikan jadi makanan sehari-harinya sekarang. Dia baru saja selesai mencuci tiga tumpuk piring besar di warung Bu Siti, tapi rasa mual di perutnya benar-benar nggak bisa diajak kompromi pagi ini.

"Kin, kamu istirahat dulu aja. Muka kamu udah kayak kertas putih, pucat banget," tegur Bu Siti sambil menuangkan teh manis hangat ke gelas plastik.

Kinanti tersenyum tipis, mencoba terlihat kuat. "Nggak apa-apa, Bu. Dikit lagi selesai kok."

"Jangan dipaksa, Nduk. Inget, kamu itu lagi isi. Badanmu itu bukan cuma buat kamu sendiri sekarang," bisik Bu Siti pelan, takut kedengaran pelanggan lain.

Mendengar kata "isi", jantung Kinanti serasa diremas. Rahasia itu memang nggak bisa dia simpan sendiri dari Bu Siti yang sudah seperti ibunya sendiri di perantauan ini. Dua garis merah itu benar-benar mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Sekarang, setiap kali dia mau menyerah, dia selalu teringat ada nyawa kecil yang bergantung padanya.

Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran mewah di pusat Jakarta, Arjuna Adiwangsa sedang menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Di depannya ada tumpukan laporan keuangan, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Sudah hampir sebulan Kinanti menghilang tanpa jejak.

"Gimana? Ada perkembangan?" tanya Arjuna saat asisten pribadinya, Bayu, masuk ke ruangan.

Bayu menggeleng pelan. "Kami sudah cek semua terminal dan stasiun di Jakarta, Pak. Nggak ada nama dia di daftar manifes. Tapi ada informasi dari salah satu sopir bus jurusan Jawa Barat. Dia bilang sempat lihat gadis dengan ciri-ciri seperti Kinanti turun di sebuah kota kecil di perbatasan."

Arjuna berdiri tegak. Kursi kerjanya berderit keras. "Kirim lokasinya sekarang. Saya sendiri yang ke sana."

"Tapi Pak, siang ini ada rapat dengan dewan komisaris..."

"Batalkan! Urusan ini lebih penting," potong Arjuna ketus.

Dia menyambar kunci mobilnya. Rasa marah, penasaran, dan dendam bercampur jadi satu. Sebulan ini dia hidup seperti orang gila. Valerie memblokir semua akses komunikasinya. Orang tuanya setiap hari menanyakan keberadaan Kinanti. Dan yang paling parah, Arjuna sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk soal kejadian di kamar itu. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang gadis yang selama ini dia beri tumpangan.

Perjalanan menuju kota kecil itu memakan waktu empat jam. Sepanjang jalan, Arjuna cuma bisa memaki dalam hati. Dia membayangkan akan menemukan Kinanti sedang hidup senang dengan uang hasil "menjebak" dirinya. Dia membayangkan Kinanti akan tertawa puas karena berhasil membuat hidupnya hancur.

Begitu sampai di alamat yang diberikan, Arjuna harus turun dari mobil mewahnya karena jalanan terlalu sempit dan becek. Sepatu pantofel mahalnya kini kotor terkena lumpur. Dia berjalan melewati gang-gang sempit dengan wajah masam, menarik perhatian banyak orang pasar.

"Mana ada orang kaya masuk sini," bisik orang-orang, tapi Arjuna nggak peduli.

Dia berhenti di depan sebuah warung makan kecil yang terlihat sangat sederhana. Di sana, di sudut belakang warung dekat tempat cuci piring, dia melihat seorang gadis sedang jongkok. Gadis itu memakai daster longgar yang warnanya sudah pudar, rambutnya diikat asal-asalan, dan tangannya penuh busa sabun.

Itu Kinanti.

Darah Arjuna mendidih. Dia berjalan mendekat dengan langkah lebar yang mengintimidasi.

"Jadi di sini tempat persembunyian kamu?" suara Arjuna menggelegar di tengah bisingnya pasar.

Kinanti tersentak. Piring plastik yang sedang dia pegang terlepas dan jatuh ke lantai semen dengan suara klontang yang nyaring. Dia mendongak, matanya membelalak lebar melihat sosok tinggi besar yang berdiri di depannya dengan tatapan membunuh.

"Mas... Mas Arjuna?" suara Kinanti bergetar hebat.

"Hebat ya kamu. Bisa akting jadi orang susah lagi setelah bikin kekacauan di rumah saya," sindir Arjuna. Dia mencengkeram lengan Kinanti dan memaksanya berdiri.

"Lepas, Mas... sakit," rintih Kinanti.

"Sakit? Kamu pikir perasaan saya nggak sakit? Kamu pikir hidup saya nggak hancur karena ulah kamu?!" Arjuna membentak tepat di depan wajah Kinanti.

Bu Siti yang melihat itu langsung keluar dari dapur. "Eh, Mas siapa ya? Jangan kasar-kasar sama Kinanti!"

Arjuna menatap Bu Siti dengan pandangan menghina. "Ibu nggak usah ikut campur. Urusan saya sama cewek licik ini belum selesai."

"Aku nggak licik, Mas... aku cuma mau pergi supaya Mas nggak marah lagi," tangis Kinanti pecah. Dia mencoba melepaskan cengkeraman Arjuna, tapi tenaga pria itu jauh lebih kuat.

"Pergi? Kamu kabur supaya saya yang disalahin orang tua saya, kan? Supaya semua orang mikir saya cowok brengsek yang buang kamu setelah pake kamu?" Arjuna menarik Kinanti menuju ke arah mobilnya yang terparkir jauh di depan.

Orang-orang pasar mulai berkumpul menonton drama itu. Kinanti merasa sangat malu. Dia diseret seperti binatang. Tenaganya habis karena dia memang belum makan apa-apa sejak pagi.

"Mas, tolong... dengerin aku dulu," pinta Kinanti dengan napas tersengal.

"Nggak ada yang perlu didengerin lagi! Kita balik ke Jakarta sekarang. Kamu harus jelasin ke Valerie, kamu harus bersihin nama saya!"

Saat sampai di pinggir jalan raya, Kinanti mendadak berhenti. Dia merasa kepalanya berputar hebat. Perutnya terasa melilit, rasa mual yang tadi dia tahan kini memuncak. Dia melepaskan tangan Arjuna dengan sisa kekuatannya, lalu berjongkok di pinggir jalan dan muntah-muntah hebat.

Arjuna berdiri mematung. Dia menatap Kinanti dengan rasa jijik sekaligus bingung. "Nggak usah akting mual di depan saya. Saya nggak bakal kasihan."

Kinanti tidak menjawab. Dia hanya terus memuntahkan cairan bening karena perutnya memang kosong. Wajahnya yang semula pucat kini berubah jadi putih pasi, nyaris membiru. Setelah muntahnya berhenti, Kinanti mencoba berdiri, tapi matanya mendadak gelap.

Bruk!

Tubuh kecil Kinanti ambruk di atas aspal.

Arjuna tersentak. Refleks, dia menangkap kepala Kinanti sebelum menghantam tanah. "Kinanti? Hei! Bangun! Jangan main-main kamu!"

Dia menepuk-nepuk pipi Kinanti, tapi tidak ada reaksi. Napas gadis itu pendek-pendek. Orang-orang mulai mengerumuni mereka, berteriak-teriak menyuruh Arjuna membawa Kinanti ke klinik terdekat.

Dengan perasaan campur aduk antara panik dan marah, Arjuna menggendong Kinanti ke dalam mobilnya. Dia tidak peduli lagi jok mobil mewahnya terkena noda dari daster kotor Kinanti. Dia langsung memacu mobilnya menuju klinik kesehatan yang dia lewati tadi.

Di dalam klinik yang sederhana, Arjuna mondar-mandir di depan ruang periksa. Pikirannya kacau. Dia benci mengakui kalau dia merasa sedikit takut melihat Kinanti pingsan seperti itu. "Pasti dia cuma pura-pura," batinnya berkali-kali mencoba menyangkal.

Sepuluh menit kemudian, seorang dokter paruh baya keluar.

"Keluarganya?" tanya dokter itu.

Arjuna ragu sejenak. "Iya, saya... suaminya," bohongnya agar bisa mendapat informasi.

Dokter itu menghela napas panjang. "Lain kali tolong diperhatikan nutrisi istrinya, Pak. Dia kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Gula darahnya sangat rendah. Ini berbahaya buat janinnya."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Arjuna. Dia merasa seperti tersambar petir di siang bolong. "Janin? Maksud dokter?"

Dokter itu menatap Arjuna dengan heran. "Lho, Bapak belum tahu? Istri Bapak sedang hamil. Usianya sekitar enam sampai tujuh minggu. Kondisinya sangat lemah sekarang."

Arjuna mundur selangkah sampai punggungnya menabrak dinding. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat dia hampir kecelakaan tadi. Kata-kata dokter itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Hamil. Anak.

Pria itu langsung masuk ke dalam ruangan tempat Kinanti dibaringkan. Kinanti sudah sadar, tapi matanya terlihat sangat kosong menatap langit-langit klinik. Begitu melihat Arjuna masuk, dia langsung memalingkan wajah, air matanya mengalir di sudut mata.

"Benar itu?" suara Arjuna bergetar, kali ini bukan karena marah, tapi karena syok yang mendalam.

Kinanti tidak menjawab. Dia hanya terisak pelan.

Arjuna mendekati ranjang, suaranya naik satu oktav. "Jawab aku, Kinanti! Itu anak siapa?!"

Kinanti menoleh, menatap Arjuna dengan tatapan yang sangat menyedihkan. "Mas tanya anak siapa? Setelah apa yang Mas lakuin malam itu... Mas masih tega tanya itu anak siapa?"

Arjuna terdiam seribu bahasa. Logikanya mencoba menolak kenyataan itu, tapi hatinya tahu bahwa hanya dia yang menyentuh Kinanti malam itu. Skenario yang dia susun di kepalanya-bahwa Kinanti hanya ingin menjebaknya demi uang-kini terasa goyah saat melihat kondisi Kinanti yang sangat menderita.

"Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja nggak minum obat pencegah atau apa pun supaya ini terjadi?" tuduh Arjuna lagi, mencoba mempertahankan egonya yang hancur.

"Aku nggak tahu apa-apa, Mas! Aku cuma gadis kampung yang bodoh! Aku bahkan nggak tahu gimana caranya beli obat kayak gitu!" teriak Kinanti dengan sisa tenaganya. "Kalau aku mau jebak Mas, kenapa aku harus lari? Kenapa aku harus kerja jadi buruh cuci piring di sini? Aku bisa tinggal di rumah Mas dan minta uang banyak!"

Skak mat. Arjuna tidak bisa menjawab. Logika Kinanti benar. Kalau memang tujuannya harta, Kinanti tidak akan berakhir di pasar kumuh sebagai pembantu warung.

Arjuna duduk di kursi di samping ranjang, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Hidupnya benar-benar sudah berakhir. Rencananya dengan Valerie, kariernya, kebebasannya-semuanya terkunci di dalam perut gadis yang sangat dia benci ini.

"Nasi sudah jadi bubur," gumam Arjuna pahit.

Dia berdiri, menatap Kinanti dengan sorot mata yang dingin dan penuh kebencian yang baru. "Oke. Kamu menang. Kita balik ke Jakarta sekarang juga. Kita bakal nikah. Tapi jangan harap kamu bakal dapat cinta atau kebahagiaan dari aku."

Kinanti menatapnya nanar. "Aku nggak minta dinikahi, Mas. Biar aku urus anak ini sendiri."

"Nggak! Nama baik Adiwangsa nggak boleh tercemar. Kamu akan jadi istri aku secara hukum, tapi itu cuma status," Arjuna mendekatkan wajahnya ke Kinanti, memberikan ancaman yang akan mengubah hidup Kinanti selamanya. "Begitu anak itu lahir, kamu harus pergi. Kita cerai, dan anak itu jadi urusan keluarga aku. Kamu nggak punya hak seujung kuku pun atas anak itu nanti. Paham?!"

Kinanti merasa jantungnya berhenti berdetak. Ini lebih kejam daripada diusir. Arjuna ingin mengambil bagian dari dirinya, lalu membuangnya seperti sampah. Tapi dalam kondisinya yang lemah dan tidak punya siapa-siapa, Kinanti hanya bisa mengangguk pelan sambil memeluk perutnya yang kini menjadi satu-satunya alasan dia harus bertahan hidup di tengah badai kebencian pria di depannya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Kepergian Mbah Tini mendorong Amara meninggalkan Solo menuju Jakarta. Selain ingin menghapus cap anak haram, ia bertekad menemukan ayah kandungnya. Amara lalu bekerja merawat Arya, cucu pengusaha kaya Hadi Pratama yang kurang mendapat perhatian. Di rumah itu, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang masih terpukul akibat dikhianati istrinya. Sembari mengasuh sang bayi dan memulihkan trauma Fathir, Amara terus mencari asal-usul dirinya di tengah keluarga yang retak.
Sampul Novel Alexa
9.2
Alexandra Delacroix Adams, gadis tomboy dari keluarga terpandang, harus menjalani hukuman setahun di Desa Pelem sebagai Jamilah. Ia terpaksa memakai kebaya dan berusaha mendobrak patriarki di sana. Langkahnya ditentang oleh Jenggala Buana Sagara, petani modern yang menganggap remeh perempuan kota. Meski dituduh memicu kekacauan, Alexa tidak menyerah untuk memandirikan ekonomi para wanita desa.
Sampul Novel GREET'S WILDEST DREAM
9.3
Greet yang minder dengan fisiknya tak menyangka akan bersua lagi dengan cinta lamanya, Tristian Delmar. Sempat terpisah akibat salah paham saat kuliah, kini takdir menempatkan mereka sebagai bos dan karyawan. Hubungan ini makin pelik karena Luna, sahabat Greet, rupanya merupakan calon tunangan Tristian. Terjebak dilema batin dan rasa yang belum padam, akankah Greet berani mengakui perasaannya, atau justru merelakan Tristian demi sang sahabat?
Sampul Novel My Prince Fauzan
8.2
Fauzan Arsyad, putra mahkota Kerajaan Arab yang rupawan dan pebisnis sukses di usia muda, terikat aturan ketat istana. Sebagai calon raja, ia dilarang mencintai gadis biasa demi jodoh pilihan kerajaan. Sikap lembutnya menyembunyikan sisi dingin untuk menjauhkan diri dari para wanita pemuja. Kini, publik menanti siapakah yang akan melamar sang pangeran. Akankah takdir membawanya bersanding dengan seorang putri bangsawan, atau justru gadis dari kalangan biasa?
Sampul Novel Perjalanan Menuju Cinta Sejati
9.7
Tujuh tahun mendampingi Handi Wenas tanpa kejelasan status, harapan pernikahan sirna saat miliarder itu memilih menikahi putri konglomerat Barata. Demi pernikahan ini, Handi membuang gelang manik-manik cendananya ke loteng sebelah yang kemudian terbakar. Sang wanita nekat menerobos api demi menyelamatkan gelang tersebut. Publik pun terenyuh saat netizen mengungkap bahwa gelang itu didapatkannya dengan penuh perjuangan, berlutut di bawah guyuran hujan deras di Candi Dharma.
Sampul Novel Perpisahan ke-99
9.5
Sembilan puluh sembilan kali Bima Wiratama menggoreskan luka di hatiku. Hubungan kami sebagai pasangan populer di SMA Tunas Bangsa hancur, begitu pula rencana kuliah bersama di UI setelah ia berpaling kepada Catalina. Puncaknya, di pesta kelulusan, Bima tega membiarkanku tenggelam demi menolong Catalina. Usai ia memutuskan hubungan dengan dingin, aku tersadar. Aku memilih pergi jauh, membatalkan rencana lama, dan mengambil kuliah di UGM demi memulai hidup baru.