APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kalung Pengkhianatan, Selma Pemenangnya

Kalung Pengkhianatan, Selma Pemenangnya

Delapan tahun pengabdianku sia-sia karena Zaki selalu mengutamakan Selma, adik angkatnya, hingga rencana pernikahan kami batal dua belas kali. Puncaknya, dia meninggalkanku di altar, dan Selma memakai kalung cinta kami. Aku pun pergi ke Bali untuk bangkit dan sukses menjadi arsitek. Kini, saat aku telah berhasil, Zaki kembali muncul dalam hidupku. Namun, dia datang bukan sebagai kekasih, melainkan pelamar kerja di perusahaan yang kupimpin.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kinasih POV:

Zaki menarik lenganku, menyeretku keluar dari ruangan Pak Budi. Cengkeramannya begitu kuat hingga aku merasa pergelangan tanganku akan memar. Dia tidak peduli dengan tatapan mata rekan-rekan kerja kami yang mengikuti kami dengan rasa ingin tahu dan kaget.

"Ada apa denganmu, Kinasih?" Zaki membentak saat kami tiba di lorong yang sepi. "Kenapa kamu tiba-tiba mengundurkan diri? Apa kamu sudah gila?"

Aku menatapnya, mencoba melepaskan tanganku. "Lepaskan aku, Zaki. Ini tidak ada hubungannya denganmu."

"Tidak ada hubungannya denganku?" Dia tertawa hambar. "Segala sesuatu dalam hidupmu ada hubungannya denganku! Kita akan menikah! Kamu tidak bisa tiba-tiba berhenti bekerja tanpa persetujuanku!"

"Persetujuanmu?" aku mengulang, suaraku dingin. "Sejak kapan kamu peduli dengan pekerjaanku? Atau keputusanku?"

Zaki terdiam, matanya menyala. "Aku peduli! Tentu saja aku peduli! Ada apa denganmu? Apa ini tentang kemarin? Tentang Selma?"

"Oh, jadi kamu masih ingat 'kemarin' itu?" aku membalas, nadaku penuh sindiran. "Aku pikir kamu sudah lupa, mengingat betapa sibuknya kamu mengurus Selma."

Zaki menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Kinasih, kamu tahu kan Selma itu adik angkatku. Dia tidak punya siapa-siapa. Dia sangat ketakutan kemarin. Serangan paniknya kambuh karena kliennya membatalkan proyek. Dia sangat rapuh, Kinasih. Apa aku salah kalau aku peduli padanya? Apa aku salah kalau aku ingin melindunginya?"

Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dulu, kata-kata itu akan membuatku merasa bersalah, merasa kejam karena cemburu pada adik angkatnya yang sebatang kara. Tapi sekarang, tidak lagi.

"Kamu tahu, Zaki, aku tidak pernah melarangmu peduli pada Selma," kataku, suaraku datar. "Bahkan aku memahami kondisi Selma. Tapi sepertinya kamu lupa bahwa kamu punya tunangan yang juga butuh perhatian. Tunangan yang kamu tinggalkan di depan penghulu. Untuk ke-12 kalinya."

Wajah Zaki memucat. Dia tahu aku benar. Dia tahu dia keterlaluan.

"Aku… aku minta maaf, Kinasih," bisiknya, suaranya melembut. "Aku tahu aku salah. Aku janji, kali ini aku akan menebusnya. Kita akan segera menikah. Kamu bisa bekerja di mana pun kamu mau, Sayang."

"Aku sudah menemukan pekerjaan baru," kataku, senyum tipis terukir di bibirku. "Di Bali. Proyek resor mewah yang dulu aku tolak."

Mata Zaki terbelalak. Wajahnya langsung berubah muram. "Apa? Bali? Kamu tidak bisa pergi, Kinasih! Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan Selma? Dia pasti akan sangat sedih jika kamu pergi. Dia sudah terbiasa dengan kehadiranmu."

Dunia di sekitarku terasa berputar. Harapan yang sejenak timbul, kini hancur berkeping-keping. Dia masih saja sama. Demi Selma. Selalu demi Selma.

"Jadi, aku harus mengorbankan impianku lagi, demi Selma?" tanyaku, suaraku menipis.

"Bukan mengorbankan, Sayang," Zaki mencoba meyakinkan, tangannya menggenggam tanganku lagi. "Ini hanya sementara. Setelah Selma stabil, kita bisa memikirkan ini lagi. Aku janji, kita akan membangun rumah impian kita di Bali, bersama. Tapi tidak sekarang, Kinasih. Selma butuh kita."

Aku menatap tangannya yang menggenggamku. Cincin tunangan yang dia berikan padaku delapan tahun lalu, kini tidak ada di jariku. Dia tidak menyadarinya. Dia tidak menyadari apa-apa.

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku lelah. Sangat lelah.

Zaki salah mengartikan diamku. Dia tersenyum, mengira aku sudah melunak. "Makan malam nanti? Di restoran favorit kita? Kita akan membicarakan semuanya."

Aku mengangguk. "Baiklah."

Zaki tersenyum lebar, lalu mendekat, mencoba menciumku. Tapi aku menoleh, menolaknya. Sebuah janji tidak akan lagi mengikatku.

"Nanti malam, ya," katanya, masih dengan senyumnya.

Aku hanya mengangguk, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kantor. Zaki masih berdiri di sana, menatapku, mungkin bertanya-tanya mengapa aku begitu tenang. Tapi aku tidak lagi peduli dengan apa yang dia pikirkan.

Aku menunggu di lobi kantor, berniat pulang. Tiba-tiba, suara Selma terdengar dari belakangku.

"Kak Kinasih?"

Aku menoleh. Selma berdiri di sana, wajahnya tampak lelah, tapi matanya berbinar licik.

"Ada apa, Selma?" tanyaku, nadaku datar.

"Aku… aku hanya ingin berterima kasih atas pengertianmu kemarin," katanya, suaranya terdengar manis, tapi aku tahu itu hanya topeng. "Kak Zaki bilang, kamu sangat pengertian. Kamu menyuruhnya untuk menjagaku."

Aku tersenyum tipis. "Dia memang harus menjagamu, Selma. Itu tanggung jawabnya."

Selma mendekat, menggenggam tanganku. "Kak Kinasih memang baik sekali. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu bagaimana."

Aku menarik tanganku pelan. "Tidak perlu membalas apa-apa."

"Tapi Kak Kinasih…" Selma menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Aku baru saja bertemu dengan klien pentingku. Dan mereka… mereka mengancam akan membatalkan proyek. Aku sangat takut. Bagaimana kalau aku tidak punya pekerjaan lagi?"

Aku tahu ini hanya sandiwara untuk membuat Zaki merasa bersalah. Dan aku tahu Zaki akan membatalkan makan malam kami demi Selma. Lagi.

"Lalu?" tanyaku, mengangkat alis.

Selma menatapku, seolah terkejut dengan ketidakpedulianku. "Aku… aku hanya ingin tahu. Apa Kak Zaki bisa membantuku? Dia kan pengacara hebat."

Aku tersenyum, lalu menoleh ke samping. Dan di sana, berdiri Zaki, menatap kami berdua.

Selma langsung melepaskan tanganku, wajahnya pucat. "Kak Zaki!"

Zaki menatap kami berdua, matanya penuh tanya. "Ada apa?"

Selma langsung menghampiri Zaki, memeluk lengannya. "Kak Zaki, aku takut sekali. Klienku mengancam akan membatalkan proyek. Aku tidak tahu harus bagaimana."

Zaki mengusap rambut Selma, menenangkannya. Matanya melirik ke arahku, seolah meminta izin.

Aku hanya tersenyum. "Tentu saja kamu harus membantunya, Zaki. Dia butuh kamu."

Zaki menatapku, sedikit terkejut dengan reaksiku. Dia mungkin mengharapkan aku akan marah, atau cemburu. Tapi tidak ada. Hanya ketenangan yang dingin.

"Kinasih…"

"Pergilah, Zaki. Selma butuh kamu," kataku, suaraku mantap.

Zaki ragu-ragu, lalu mengangguk. "Baiklah. Aku akan mengurus Selma dulu. Kamu pulang duluan saja, ya. Aku akan menyusul."

Aku hanya mengangguk. Zaki berbalik, membawa Selma pergi. Selma melirikku, senyum kemenangannya tak bisa disembunyikan.

"Kak Kinasih, kamu baik sekali," katanya, suaranya manis sekali. Lalu, dia menyentuh liontin kalungnya. "Wah, kalungmu cantik sekali. Mirip dengan punyaku. Kak Zaki yang memberikannya padaku."

Jantungku mencelos. Liontin itu… liontin yang sama dengan yang kupakai. Liontin perak berbentuk kunci yang Zaki berikan padaku saat kami pertama kali berpacaran. Dia bilang itu adalah kunci hatinya. Dia berjanji akan selalu memakainya, dan memintaku juga memakainya, sebagai simbol cinta kami yang tak terpisahkan.

Aku menatap kalung di leherku, lalu beralih ke kalung di leher Selma. Sama persis. Bahkan detail ukiran di belakangnya pun sama.

Tanganku gemetar. Bukan karena marah, tapi karena kesadaran yang menusuk.

Aku melepas kalungku, air mata mengalir tanpa kusadari. Kalung itu terasa dingin di telapak tanganku, seperti sisa-sisa cinta yang telah lama mati.

Aku menyerahkan kalungku pada Selma. "Ambullah. Biar kalung kalian kembar. Seperti cinta kalian."

Selma menatapku, wajahnya terkejut. Dia tidak menyangka aku akan bereaksi seperti ini. Dia mengambil kalung itu, tatapan bingung dan sedikit ketakutan di matanya.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya berbalik, berjalan pergi, meninggalkan Selma yang masih berdiri terpaku di sana. Hatiku terasa hampa, tapi ada rasa lega yang aneh. Beban berat telah terangkat dari pundakku.

Malam itu, Zaki menjemputku di apartemen untuk makan malam. Dia tampak ceria, seolah tidak terjadi apa-apa siang tadi.

"Maafkan aku, Sayang," katanya, mencium keningku. "Selma benar-benar butuh aku. Tapi sekarang aku di sini. Kita bisa menghabiskan waktu berdua."

Aku hanya tersenyum tipis.

Zaki menatapku, lalu keningnya berkerut. "Kinasih, kenapa kamu tidak memakai kalungmu?"

Aku menatapnya, lalu ke arah lehernya. Dia juga tidak memakainya.

"Aku… aku kehilangan itu," kataku, mencoba menahan senyum miris. "Mungkin jatuh di jalan."

Zaki terlihat panik. "Apa? Jatuh? Astaga, aku akan mencarinya besok! Kita harus menemukannya! Itu kan hadiah dariku!"

"Tidak perlu," kataku, tersenyum lebih lebar. "Aku juga kehilangan punyaku. Jadi, kita impas."

Zaki menatapku bingung. "Kehilangan juga? Oh, kalau begitu, aku akan membelikan kita yang baru! Yang lebih indah!"

Aku hanya mengangguk. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikhianati Sahabat Kecil, Aku Menikahi CEO Mandul
8.9
Setelah tewas mengenaskan akibat dikhianati oleh kakaknya sendiri dan ditinggalkan oleh pria yang ia cintai, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun di hari penentuan pernikahan mereka kembali. Alih-alih memperebutkan Zony yang ternyata diam-diam mencintai kakaknya, ia memutuskan untuk mengambil langkah berbeda. Tanpa ragu, ia menerima lamaran Gunawan, seorang CEO yang dikenal tidak bisa memiliki keturunan. Keputusan ini mengubah segalanya, hingga membuat mantan kekasihnya bersujud memohon penyesalan.
Sampul Novel Gairah Liar Sang Dokter
8.7
Akibat obsesinya pada Sakha, Jena nekat menjebak dokter tampan itu ke dalam pernikahan siri yang membara. Namun, nasib buruk menimpa Jena saat ia dituduh membunuh kakak iparnya hingga harus mendekam di penjara dalam keadaan mengandung. Waktu berlalu, dan kasih sayang Jena kini telah menguap menjadi kebencian mendalam. Pertemuan tak terduga kembali terjadi di sebuah hotel VVIP tempat Jena kini menyambung hidup sebagai penari. Akankah dendam berkuasa, ataukah rasa lama kembali hadir?
Sampul Novel Hancur Karena Janji Palsu Suamiku
9.2
Ananda tulus merawat Prabu yang lumpuh hingga sembuh, tetapi dibalas pengkhianatan lewat perselingkuhan suaminya dengan Safira. Penderitaan kian berat saat Asma, adik Ananda, dilecehkan kakak Safira. Prabu enggan menolong hingga Asma nekat mengakhiri hidup. Kekejaman Safira memuncak saat ia merusak makam Asma demi kucingnya. Meski Prabu akhirnya menyesal dan menghancurkan Safira, semua terlambat. Ananda dengan dingin menolak mentah-mentah permohonan maaf suaminya.
Sampul Novel Istriku Hamil Anak Siapa?
9.0
Kesedihan melanda sang istri yang keguguran dan divonis mandul seumur hidup. Sambil menangis, ia meminta suaminya mencari wanita lain demi keturunan. Sang suami memeluknya hangat dan berjanji bahwa anak bukanlah segalanya. Namun, di balik punggung sang istri, ia justru menyeringai puas. Obat aborsi tradisional yang dibelinya dari desa terbukti manjur dan bekerja cepat, melenyapkan janin yang sejak awal ia ketahui bukanlah darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Kain Basahan Basah di Kamar Mandi
8.4
Rusly nekat membawa selingkuhannya ke rumah, mengkhianati pernikahan kami tanpa memedulikan perasaanku lagi. Tindakan kurang ajar ini membuatku sadar bahwa cinta dan kehadiranku tak lagi dihargai olehnya. Namun, dia sangat keliru jika mengira keheninganku adalah tanda menyerah. Aku tidak akan membiarkan harga diriku diinjak-injak begitu saja. Sebuah rencana pembalasan yang setimpal telah kusiapkan. Di balik diamku, kehancuran besar kini tengah menanti Rusly dan kekasih gelapnya.
Sampul Novel Luka Abadi, Cinta Tak Berarti
9.3
Dunia sang protagonis hancur saat mengetahui anak angkatnya adalah hasil perselingkuhan suaminya, Yobel, dengan adiknya sendiri, bahkan didukung orang tuanya. Di tengah pengkhianatan ini, Yobel justru menolak cerai dan memohon ampun. Berpura-pura percaya, ia memberi Yobel waktu tujuh hari untuk membuktikan cinta. Namun, semua orang tidak menyadari bahwa sang istri sebenarnya telah meninggal tujuh hari lalu. Malaikat kematian hanya memberinya waktu singkat untuk kembali sebelum polisi meminta mereka mengidentifikasi jasadnya.