APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel "KALA" Buah Cinta Terlarang

"KALA" Buah Cinta Terlarang

Tuduhan meracuni mertua menghancurkan pernikahan Kayli dan Gala. Saat berjuang memulihkan nama baiknya, Kayli justru menemukan kegelapan dalam dirinya sendiri. Rentetan peristiwa aneh membuatnya ragu akan kesadarannya saat tragedi terjadi. Apakah ia mengidap kepribadian ganda, atau ada sosok mistis yang merasuki raganya? Teka-teki ini semakin membingungkan ketika Zael, sahabat lamanya, tiba-tiba memanggilnya dengan nama Kala.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Apa maksud Paman bilang gitu?" tanya Zara dengan suara bergetar.

Namun Alan malah melirik ke arah Kayli tanpa mengatakan apapun.

"Oh ... Gitu ya. Lu hasut Paman ternyata!" tuduh Zara.

Sembari mengangguk-anggukkan wajahnya, Zara melotot ke arah Kayli. Namun Kayli seolah tak paham apa yang Zara maksudkan. Kayli justru malah melirik Alan seolah ingin tahu apa maksudnya. Alan yang mengerti kebingungan Kayli, segera membuka suara.

"Tutup mulutmu Zara!" bentak Alan.

"Pikiran busukmu itu sudah mendarah daging! Bahkan disaat seperti ini kau tidak belajar. Padahal hanya Iparmu ini yang selalu ada, tapi ...." Alan menggantung ucapannya.

Awan lantas menghela nafas lemah seolah meredam emosinya, dan merasa ucapannya hanya akan membuang waktu dengan susah payah. Ia pun lalu mendekat ke arah Didah. Ia tak mau ambil pusing menyikapi sikap kekanakkan Zara.

"Masa bodoh lah dengan pikiranmu itu!" gerundelnya.

"Didah, ini ulahmu sendiri yang selalu bermulut pedas. Kata-katamu sendirilah yang menghukum dirimu. Bahkan seandainya dokter pun, mungkin tak akan sanggup mengembalikan kesehatanmu seperti sebelumnya," ujar Alan dengan suara berat.

"Paman! Apa sih maksud Paman! Kalo gak mau bantu, yaudah pergi aja!" bentak Zara.

Sambil menjauhkan pria paruh baya itu dari ibunya, ia menatap tajam ke arah Alan. Zara merasa terganggu dengan ucapan sang paman yang seolah tahu apa yang terjadi dengan Ibunya. Sifat aslinya pun muncul kembali kala menyadari bahwa Alan pun tak berniat untuk memberinya bantuan. Sikap ramah tamahnya seketika berubah kembali menjadi garang dan ketus. Namun tanpa mengacuhkan Zara, Alan mendekat ke arah Didah lantas meraihnya.

"Kayli, bantu Paman mengangkat mertuamu," ajak Alan kepada Kayli.

"Mau dibawa kemana Ibu?! Biar aku panggil Bah Sana aja sendiri! Jangan ada yang bawa Ibu kemana-mana!" bentak Zara sambil berlari keluar.

"Ku peringatkan kalian! Jangan ada yang berani bawa Ibu kemana-mana!" ancamnya sebelum akhirnya menghilang dari penglihatan Kayli dan Alan.

"Za ... ra ... Zara ... Za ... putriku!"

Tiba-tiba saja Didah terdengar meracau dengan suara lirih. Gegas Kayli segera menghampirinya lalu mendekatkan telinga ke wajahnya lantaran suara Didah yang sangat lemah, bahkan hampir tak terdengar. Alan yang berada di sana, mendecih saat melihat kondisi Didah. Tak sedikit pun tersirat rasa simpati di wajah pria itu.

"Ini aku Bu. Kayli. Ada apa Bu?" tanyanya.

"Ma ... na Za ... ra?" katanya terputus-putus.

"Kau sudah sadar Didah? Ini aku. Alan," ujar Alan. Ia buru-buru mendekat seolah sudah menanti kesadaran Didah.

"Alan? Kau kah itu?" tanya Didah dengan suara bergetar lalu meraba-raba udara seperti orang buta.

"Alan! Apa itu kau? Benar kau?" ulang Didah, kini dengan ekspresi ketakutan.

"Gelap! Kenapa gelap semuanya tidak terlihat!" teriaknya dengan panik.

"Diamlah Didah. Tak ada gunanya kau berteriak begitu! Inilah yang dulu istriku rasakan!" bentak Alan.

"Bagaimana rasanya?" tanya Alan kini sambil menyeringai.

Melihat cara Alan memperlakukan Didah, Kayli pun tercengang. Rasa takut seketika menjalar di seluruh tubuhnya. Terlebih kala ia melihat riak wajah Alan yang berbeda dari biasanya.

"Paman ...." katanya hampir berbisik.

"Iya Kayli. Wanita inilah-" ucapan Alan terhenti oleh teriakan Didah.

"Tidak!" jerit Didah secara tiba-tiba, seolah tak sadar, ia juga membentur-benturkan kepalanya ke dinding.

"Aku tak ingin berakhir seperti dia! Dia yang bodoh! Aku tak jahat! Aku tidak melakukannya! Dia sendiri yang bodoh!" teriak Didah lagi.

"Kau naif! Kau sendiri sama saja Alan! Kau juga tidak benar-benar mencintainya kan! Makanya kau juga ikut bersalah!" tambahnya.

"Diam!" bentak Alan sambil membekap mulut Didah sekuat tenaga dengan penuh emosi.

"Sejak mengetahui kebusukanmu, aku selalu membenci mulut kotormu yang usil ini! Kuharap aku punya keberanian untuk membu-"

"Paman! Hentikan. Aku tahu Paman orang yang baik, Paman sangat baik pada Bang Gala, padaku juga. Ingatlah kami berdua paman," bujuk Kayli tiba-tiba.

Kayli mencoba meluluhkan Alan yang seolah sedang dipuncak emosi. Entah apa pun yang membuatnya seperti itu. Yang pasti Kayli merasa tak heran, karna menurutnya, Didah memang selalu menyakiti perasaan orang lain.

"Jadi ternyata kau yang melakukan ini padaku Alan! Padahal kau tahu betul aku melakukan semuanya demi dirimu!" tuduh Didah membuat Alan kembali emosi saat mendengarnya.

"Apa? Untuk apa aku mengotori tanganku? Hahaha! Cih! Aku sama sekali tak melakukan apa pun!" decih Alan dengan ekspresi merasa jijik.

"Siapa lagi kalo bukan kau!" seru Didah.

Mendengar tuduhan kukuh sang kakak, Alan mendekatkan wajahnya ke arah Didah. Lalu berbisik. Hampir tak terdengar sama sekali jika saja Kayli tidak dengan sengaja menajamkan indra pendengarnya karena saking penasarannya.

"Ini ulah adik Iparmu. Inilah karmamu," bisik Alan diakhiri tawa kecil lalu menutup mulutnya saat menyadari Kayli tengah memperhatikannya.

"Tidak!" teriak Didah.

"Tidak mungkin! Risda sudah mati! Dia tak bisa membalaskan dendamnya padaku!" teriaknya lagi dengan ketakutan.

"Alan selamatkanlah aku! Kumohon Alan aku tahu kau dendam padaku, maafkanlah aku! Tolong aku Alan!" raung Didah sembari menggapai-gapai udara mencari Alan.

"Paman, aku mohon bantulah ibu. Aku tak bisa melakukannya sendiri. Kumohon paman." Kayli memelas dengan suara yang teramat memilukan.

"Bagaimana pun juga, beliau adalah kakak paman," lirih Kayli. Ia sungguh tak tahan melihat kondisi sang mertua yang mengkhawatirkan.

"Ya, Kayli. Sebaiknya kita bawa ibu mertuamu ini ke rumah sakit sebelum anak bodohnya kembali. Ayo!" Setelah menghela nafas beberapa kali, Alan pun meluluh. ia segera meraih lengan Didah dengan agak kasar lalu menyeretnya.

"Bantu aku memapahnya," pinta Alan.

"Baik paman."

Kayli yang tengah melongo segera mendekat lalu meraih tangan Didah yang masih terus menggapai-gapai dengan pandangan kosong. ia terus meronta mencoba melepaskan diri dari mereka sambil menceracau tak karuan. Mengabaikan dorongan dan tepisan tangan Didah, Alan dan Kayli terus memapahnya menuju ke arah luar.

"Paman, sepertinya Ibu mau muntah lagi," kata Kayli yang merasakan tubuh Didah mengejang kuat lalu menggeram, dan benar saja. Sedetik kemudian Didah memuntahkan kembali cairan merah kental tepat di halaman rumah.

"Alan ... Panggilkan putramu ... Panggilkan Rendy. Tolong aku, hanya dia yang bisa menolongku," pinta Didah dengan lirih dan terputus-putus.

Alan mendesah lalu mendudukkan Didah di kursi panjang halaman rumah.

"Benar Paman! Rendy kan mahasiswa kedokteran! Mungkin dia bisa membantu Ibu untuk penanganan sementara! Nanti saat Bang Gala pulang, kita panggil dokter untuk rawat ibu di rumah!" usul Kayli seolah teringatkan.

"Dia bahkan tak sudi mendengar namanya, bagaimana bisa aku membujuknya." Alan bergumam lemah, bahkan Kayli pun tak mendengarnya.

Di saat keheningan menyelimuti ruang, tetiba sebuah mobil yang melesat dengan cepat berhenti tepat di halaman rumah.

"Bang Gala!" seru Kayli sumringah.

Dengan tergesa, pria berusia 23 tahun itu turun dari dalam mobil lantas berlari berhambur menghampiri Kayli. Alis tebalnya tertaut dengan ekspresi wajah penuh kecemasan. Wajah tampannya yang tegas terlihat lusuh akibat kelelahan. Sepertinya ia baru saja mengebut sepanjang perjalanan. Terlihat dari nafasnya yang tersengal-sengal.

"Ibu kenapa!" tanya Gala setengah berteriak.

Gala melirik Kayli, Alan, dan sang Ibu secara bergantian. Namun bukannya menjawab, Kayli malah menarik lengan sang suami lalu memintanya untuk membawa sang Ibu segera.

"Ayo bawa Ibu ke rumah sakit Bang! Sepertinya Ibu keracunan!" seru Kayli tanpa babibu.

Gala mengangguk lalu meraih sang Ibu lantas memapahnya ke dalam mobil dibantu oleh Alan. Kayli yang mengekori mereka langsung duduk di bangku belakang lalu dengan sigap menyandarkan kepala sang mertua ke bahunya dengan perlahan, diapit oleh Alan di sisi lainnya. Tanpa menunggu apapun lagi, Gala segera mengambil kemudi lantas melajukannya.

Namun saat mobil hendak melaju tiba-tiba Zara datang dengan seorang pria paruh baya menghalangi jalan tepat di depan mobil yang hendak melesat.

Ckit!

Gala menginjak rem sekuat tenaga saat melihat Zara membentangkan lengannya di depan mobil yang ia tumpangi.

"Berhenti!" teriak Zara sembari membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

"Zara! Apa-apaan kau ini?" tanya Bang setengah jengkel.

"Bang! Jangan bawa Ibu kemana-mana. Biar Bah Sana obatin ibu!" kukuhnya.

"Zara kamu jangan halangi jalan! Bang lagi buru-buru!" geram Gala sembari menyeka keringat di wajahnya yang terlihat mengucur dari dahi hingga lehernya.

"Gala! Aku yakin Ibumu mendapat suatu kiriman yang tak baik. Biar aku coba melihatnya dulu," ucap pria tua yang tak lain adalah Sana, sang dukun tersohor di desa mereka.

"Biarkan Bah Sana melihat dulu Ibu Mas!" kukuh Zara.

"Gala. Tak akan beres jika terus mengulur waktu. Sebaiknya biarkan saja pria itu masuk. Sambil bawa Ibumu ke rumah sakit," usul Alan menengahi.

"Benar Mas! Aku juga ikut! Biar wanita itu keluar saja!" ucap Zara sambil menunjuk Kayli yang sejak tadi menyimak percakapan mereka.

"Zara! Jangan kurang ajar kamu sama istri Abang!" bentak Gala membela sang istri.

"Sudahlah Bang. Yang penting Ibu sembuh. Biar aku tunggu di rumah saja. Biar cepat juga," kata Kayli mengalah.

"Lagipula malas kalo harus semobil dengan Zara kalo lagi kumat sifat kekanakkannya," tambah Kayli setengah bergumam.

"Yasudah, cepat naik!" titah Gala. Dengan wajah tak enak hati, ia membiarkan Kayli turun dari mobilnya.

"Sayang, kamu tunggu di rumah ya. Nanti Abang kabari kalo sudah di rumah sakit. Jangan banyak pikiran," ucap Gala lembut.

Kayli pun mengangguk dengan senyuman. Sementara Kayli turun perlahan, Zara langsung merangsek masuk hingga menyenggol bahu Kayli cukup keras. Dengan sengaja.

"Aw!" ringis Kayli.

"Kayli, Bang berangkat dulu," pamit Gala.

Tanpa mengalihkan lagi pandangannya pada Kayli, Gala pun langsung ngebut. Bahkan ia tak sempat melihat Kayli melambaikan tangan. Dengan perasaan hampa, Kayli menarik lengannya yang terambang di udara, ke belakang punggungnga.

"Hati-hati Bang!"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arimbi
8.7
Akibat insiden di perkemahan desa, Hanna terpaksa menikah dengan Sultan. Namun setelah pindah ke kota, sikap Sultan yang semula lembut berubah drastis. Hanna justru dikurung dalam rumah dan dikekang aturan ketat tanpa diakui sebagai istri sah. Sultan rupanya sangat terobsesi menjadikan Hanna sebagai pengganti sosok Arimbi, cinta pertamanya yang mengalami gangguan jiwa. Di bawah bayang-bayang masa lalu sang suami, Hanna kini harus menghadapi tekanan mental berat yang menghancurkan masa depannya.
Sampul Novel (bukan) Telepati Cinta
8.3
Hyura Anastasya sangat terobsesi menemukan reinkarnasi Fino lewat buku kuno milik kakeknya. Namun, misi ini justru merusak hubungan dengan sahabat serta cinta sejatinya. Di tengah konflik, hadirlah arwah pria yang menyimpan kunci misteri hidupnya. Mengandalkan kekuatan telepati uniknya, Hyura harus menuntaskan teka-teki besar ini. Sanggupkah ia menyelesaikannya saat kemampuan telepati tersebut justru tak berfungsi untuk urusan asmara?
Sampul Novel Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
9.1
Dersik kembali ke Desa Mangpusu demi menuntaskan dendam masa lalu. Meski puluhan tahun berlalu, parasnya tetap awet muda dan memikat. Sunarni, sang mantan majikan yang didera rasa bersalah, kini tak berdaya saat keluarganya dihabisi satu demi satu. Di tengah teror Begu Ganjang yang mencekam, seorang dukun sakti bernama Surya curiga bahwa Dersik adalah mantan kekasihnya. Rumitnya, putra Sunarni malah jatuh hati pada sosok misterius yang berniat menghancurkan mereka.
Sampul Novel Ganti Rugi Nyawa Putriku
9.6
Setelah tewas terbakar akibat aksi balas dendam suaminya yang murka atas kematian sang mantan kekasih dalam kecelakaan pesawat, seorang ibu mendapat kesempatan kedua. Ia terbangun tepat di hari putri mereka mengalami serangan jantung. Namun kali ini, sang suami yang bekerja di menara kontrol bandara sengaja memutus komunikasi dengannya. Ketika pria itu menyadari keputusan egoisnya justru merenggut nyawa putri kandung mereka sendiri, penyesalan mendalam mulai menghancurkan akal sehatnya.
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Kamila tersulut cemburu saat melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri. Demi merebut cinta, ia nekat mengamalkan Ajian Jaran Goyang dari Nyai Winarsih, sosok tua misterius yang awet muda. Tanpa disadari, tindakan Kamila justru menyeretnya masuk ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, kini mengancam nyawa mereka demi sebuah hubungan yang dipaksakan.
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan di desa meski kandungannya berisiko tinggi. Saat aku mencoba membawanya ke rumah sakit demi keselamatan, ia malah menuduhku memicu kelahiran prematur bayinya yang lemah. Kebencian itu membuatnya tega meracuniku hingga tewas. Namun, takdir membawaku kembali ke masa lalu, tepat di momen ia meminta saran. Kali ini, aku memilih bungkam dan membiarkannya menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tanganku.