APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kafan Hitam

Kafan Hitam

Kematian tragis Mbah Atim, sang penjaga makam yang jasadnya ditemukan tanpa kepala, mencekam Desa Ciboeh. Teror mistis mulai menghantui warga, mendorong pemuda lulusan pesantren bernama Rojali untuk menyelidiki misteri ini. Pencariannya justru mengungkap rahasia kelam masa lalu desa, kasus hilangnya warga, kelompok rahasia Kalong Hideung, hingga takdir pribadinya. Di tengah situasi genting tersebut, ia mendapat tawaran bantuan dari kekuatan gaib.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudah hampir tiga jam Rojali meninggalkan desa. Tiga orang warga yang ikut dalam pertemuan tadi mulai gelisah. Saat ini, mereka tengah duduk di sebuah pos ronda yang terletak tak jauh dari gerbang desa. Beberapa menit sekali, salah satu dari ketiganya akan menoleh ke arah jalan.

Awan hitam sudah menumpuk di langit desa. Angin juga tak malu-malu lagi merangkak di kulit. Meski begitu, kopi yang terhidang belum sempat penghuni pos ronda jamah. Pria-pria itu sama-sama diam.

“Kata istri saya, si Asep tidak mau keluar rumah sejak dia menemukan jasad Mbah Atim,” ucap Pak Yayat memulai obrolan.

“Pasti dia syok, Pak Yayat,” timpal Aep yang beberapa kali menelan ludah karena ingin mencicipi kopi. Ia merasa segan untuk menyeruputnya di saat seperti ini, apalagi kedua pria paruh baya di dekatnya tidak ada yang menyentuh minuman itu.

“Bagaimana kalau Ustaz Rojali tidak bisa bawa orang-orang pesantren ke desa?” tanya Pak Harun yang sejak tadi duduk di sudut pos ronda, “entah kenapa perasaan saya tidak enak sejak pagi tadi.”

“Sepertinya semua penduduk desa juga merasakan hal sama, Pak. Masalahnya orang yang meninggal adalah Mbah Atim yang misterius seperti kematiannya. Kita juga tidak tau ke depannya akan bagaimana,” balas Pak Yayat.

Aep akhirnya menyeruput habis kopinya. Meski masih sore, pria itu sudah berselimut sarung. “Lalu siapa yang akan jadi pengganti Mbah Atim, Pak?” tanyanya.

Pak Yayat menarik napas panjang. “Saya mah belum mikir ke sana, Ep.” Pria itu memandang langit-langit pos ronda yang dipenuhi sarang laba-laba. Hatinya terus gelisah semenjak mendengar kematian Mbah Atim.

Aep mundur ke sudut pos ronda. Ia menyandarkan punggung bersamaan dengan helaan napas beratnya. Sebenarnya, ia hanya ditunjuk untuk menggantikan tugas sang bapak yang sakit. Kalau saja bisa menolak, ia pasti memilih untuk tetap di rumah dibanding harus duduk dalam penantian dan ketakutan.

Sebagai seorang duda yang ditinggal mati oleh anak dan istrinya, Aep jatuh dalam kubangan kesedihan hampir berbulan-bulan, membuat hidupnya hambar hingga sekarang. Ia belum mau mencari pengganti sosok istri. Meski begitu, terkadang ia bermimpi berjumpa dengan keduanya.

Seperti sekarang, Aep mengucek mata berkali-kali untuk memastikan penglihatannya. Di seberang jalan, ia melihat istri dan anaknya tengah tersenyum dan melambaikan tangan. Berkali-kali pula Aep menggeleng hingga akhirnya sebuah senyum terbit dari bibir. Didekap rindu yang membuncah, pria itu segera turun dari pos ronda.

Saat hendak menyebrang jalan, perlahan bayangan anak istrinya memudar, berganti menjadi sosok pria tua yang kini jadi perbincangan seisi desa. Mbah Atim menatap dingin padanya. Aep dengan cepat mengalihkan pandangan. Tepat saat ia menoleh kembali, bayangan penjaga makam itu tiba-tiba menghilang.

“Kunaon ari (kenapa) kamu, Aep?” tanya Pak Yayat sembari menarik Aep mundur.

“Istigfar kamu, Ep.” Pak Harun mengingatkan.

Aep menatap pria tua di sampingnya bergantian. Ia tersadar ketika bokongnya mendarat di pos ronda. Pria itu dengan cepat menggosok mata, berkali-kali melihat seberang jalan yang kini tampak kosong dari kehadiran manusia.

“Kenapa kamu tiba-tiba lari ke tengah jalan atuh?” Pak Yayat menggeleng, tak habis pikir.

“Untung kamu tidak ketabrak mobil, Ep,” susul Pak Harun.

Aep menunduk sesaat. Deru napasnya serasa berat. Entah mengapa badannya juga terasa pegal dan ingin muntah secara bersamaan. “Saya ... lihat Mbah Atim di depan jalan,” jawabnya dengan wajah pucat.

Pak Yayat dan Pak Harun saling melempar tatap. Tak ada lagi yang berbicara setelah itu sampai sebuah mobil menepi di depan pos ronda.

“Assalamualaikum,” sapa seseorang yang duduk di kursi depan, “kami santri dari pesantren di kabupaten.”

Ketiga pria penghuni pos ronda itu serempak menjawab salam. Timbul segaris senyum saat mendengar kata pesantren. Syukurlah Ustaz Rojali berhasil membawa bantuan. Ada sekitar enam orang santri di dalam mobil, termasuk yang menyapa barusan.

Tak berselang lama, ambulans memasuki gerbang desa. Para santri dan juga ketiga pria itu mengikuti dari belakang. Jenazah Mbah Atim segera diturunkan dari ambulans saat tiba di masjid Cimenyan. Di belakang masjid sudah disiapkan peralatan untuk memandikan jenazah.

Tanpa takut, para santri lantas membawa jenazah ke belakang.

Pak Yayat yang sejak tadi tak melihat Rojali memberanikan diri bertanya, “Punteun, Ustaz Rojali masih di mana?”

“Motornya mogok,” jawab santri yang menyapa di mobil tadi.

Pak Yayat buru-buru berkumpul bersama kumpulan pria yang berdiri agak jauh dengan masjid. Entah mengapa ia merasa ada kejanggalan dari para santri itu. Meski begitu, ia tak berani bicara lebih lanjut.

Pak Yayat mendadak menegang ketika menoleh ke belakang masjid. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang saat mengingat perkataan Aep tadi. Ia jadi ragu, apakah ia harus menceritakan kalau ia juga melihat bayangan Mbah Atim yang kini tengah mengawasi proses pemandian jenazahnya, atau justru menutup mulut agar tak bersuara?

***

Hujan deras mengguyur Ciboeh sejak asar. Tak ada aktivitas yang tampak di sekitar kampung. Semua warga seolah kompak untuk tetap di rumah, mengunci pintu rapat-rapat. Biasanya, selepas waktu magrib, anak-anak akan ramai mengaji bersama Rojali di masjid. Bakda isya, sebagian warga akan berkunjung ke rumah tetangga yang memiliki televisi untuk menonton drama favorit.

Akan tetapi, malam ini terasa berbeda. Ciboeh laksana desa sunyi. Suara yang bisa didengar hanya suara ayam di bawah kolong rumah, nyanyian serangga yang bertengger di dahan pohon, pekik kodok sawah yang tengah berpesta dengan memakan anai-anai, juga suara penghuni rumah yang tengah berbisik-bisik.

Dari arah jembatan, Rojali tengah mengendarai sepeda motornya. Ia terpaksa menepi di pos ronda karena kendaraan itu tiba-tiba mogok. Helaan napasnya terdengar berat seiring dengan wajah yang tampak penat. Pakaiannya basah kuyup karena menerobos hujan.

Rojali memindai sekeliling, bermaksud meminta pertolongan. Beberapa kali ia menggosok tangan, lalu menempelkannya pada wajah. Ia kedinginan dengan kondisi perut kosong.

Rojali menyipit begitu melihat titik cahaya dari arah kampung. Dua buah kendaraan melewati tempatnya berteduh dengan kecepatan tinggi. Menyadari hal itu, Rojali tiba-tiba berdiri. Mobil polisi dan ambulans itu pasti baru saja mengantar jenazah Mbah Atim, pikirnya. Sayang, Rojali tak tahu kalau dua mobil tadi melaju tanpa sopir dan menghilang begitu melewati jembatan.

Menyadari hujan reda, Rojali segera menaiki motor kembali. Setelah percobaan beberapa kali, kendaraan roda dua itu kembali hidup. Sebelum ia melahap jalanan desa, ia sempat menoleh ke arah dua mobil tadi pergi. Syukurlah ia tak terlambat. Masih ada waktu hingga besok untuk menguburkan jenazah Mbah Atim. Lagi pula rekan-rekan santrinya masih dalam perjalanan.

Motor melintasi jalanan becek. Hati-hati sekali Rojali memacu kendaraan. Saat memasuki kampung Cigeutih, ia mendapati keheningan seperti saat pertengahan malam. Cimenyan ikut menyuguhkan pemandangan serupa. Tak ada aktivitas warga sejak ia memasuki jalanan kampung. Bahkan kucing yang seringkali ia lihat di teras masjid pun tak tampak.

Rojali memarkirkan motor di depan masjid. Tak ada tanda-tanda warga berkerumun. Saat mengecek belakang bangunan, peralatan pemandian jenazah masih di tempat semula. Bersamaan dengan motornya yang kembali melaju, sosok tanpa kepala yang mengamatinya sejak tadi tiba-tiba menghilang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ashes of Midgard
9.4
Rio terbangun dalam kegelapan tanpa memori apa pun, terkecuali namanya sendiri. Ia terdampar di Midgard, sebuah dunia fantasi abad pertengahan yang asing dan penuh bahaya. Demi bertahan hidup, Rio bersatu dengan orang-orang yang mengalami nasib serupa. Bersama-sama, mereka mendirikan kelompok tentara bayaran dan melatih kemampuan bertarung. Perjalanan penuh ketidakpastian pun dimulai bagi mereka yang bangkit dari abu demi mengukir takdir baru di tengah dunia yang kejam ini.
Sampul Novel Captain's Ravenge
9.4
Kapten Arya Bimantara bergegas pulang dari tugasnya di perbatasan Kalimantan begitu mendengar kabar kematian mendadak kembarannya, Aryo, dan sang istri. Tragedi ini terjadi tepat setelah mereka bertukar pesan terakhir. Setibanya di rumah, Arya merasakan ada hal yang tidak beres dari pemakaman tersebut. Penyelidikan pribadinya membongkar fakta keji bahwa mereka adalah korban pembunuhan berencana. Kini, sang kapten memulai misi perburuan demi membalas dendam kematian keluarganya.
Sampul Novel Intelijen Tampan
9.7
Carlo Bandarez, agen rahasia Rusia berparas menawan, selalu menutup hati dari wanita walau banyak yang memujanya. Namun, hatinya goyah setelah bertemu kembali dengan sahabat kecilnya, Claudia Rodriguez. Meski Carlo berusaha meredam gejolak asmara tersebut, cinta di antara mereka justru semakin membara. Kini, ia menghadapi dilema pelik ketika diperintahkan menyelidiki kasus kejahatan ayah Claudia, Samuel Rodriguez. Carlo pun harus memilih antara loyalitas tugas atau perasaan cintanya.
Sampul Novel Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai
9.8
Kehidupan jurnalis investigasi Eva Anindita hancur setelah putranya tewas tragis. Bukannya membela, sang suami, Jaksa David Adiwijaya, malah menjebloskan Eva ke penjara demi melindungi pelaku tabrak lari bernama Karin. Tiga tahun berlalu, Eva bebas dengan duka mendalam karena kehilangan anak keduanya di sel. Saat mengetahui David kini bahagia bersama Karin, amarah Eva tak terbendung. Ia siap membalas dendam atas segala pengkhianatan keji mereka.
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak
8.5
Di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim rekaman suara yang menghina trauma masa laluku beserta undangan pernikahan mereka. Ternyata, dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain untuk dinasti megah yang ia impikan. Namun, aku akan hadir di pesta pernikahan itu bukan untuk merestui, melainkan menghancurkan seluruh mimpinya hingga menjadi abu.
Sampul Novel Pengendali Sistem Terkuat
8.9
Di dunia yang mewajibkan kebangkitan kekuatan khusus saat anak berusia tujuh tahun, Martis justru dianggap cacat. Hingga berumur lima belas tahun, ia tidak memiliki kemampuan apa pun dan kerap dihina teman-temannya. Walau dicemooh, pemuda dari keluarga sederhana ini mendapat kasih sayang penuh dari orang tuanya yang selalu siap membelanya. Di tengah tekanan sosial yang berat, Martis terus memegang keyakinan teguh bahwa dirinya bukanlah sosok yang lemah.