
Kaca yang Pecah
Bab 3
“Oh iya, aku lupa memberitahumu, dia tidak jadi nikah dengan pacarnya yang sebelumnya. Baru-baru ini mulai berkencan dengan orang lain.”
Suwanto berbohong tanpa rasa malu, akhirnya aku pun menyerah.
Sudah jelas hasil akhirnya.
Setelah aku bujuk, Suwanto yang selalu menemaniku setiap hari akhirnya pergi bekerja.
Aku takut jika setiap hari aku melihat dia memakai topeng dan berada di hadapanku, aku tidak bisa menahan diri dan membongkar kebohongannya.
Aku ingin pergi, tapi aku masih kekurangan motivasi untuk melakukannya.
Atau mungkin karena masakan ibu mertuaku tidak sesuai seleraku, jadi aku mengalami mual hamil yang parah.
Baik pagi ataupun malam hari, aku menghabiskan sebagian besar waktu dengan muntah di toilet.
“Jennifer, saatnya makan!”
Begitu duduk, perutku mulai mual lagi.
Setelah akhirnya tenang di kamar mandi, aku mendengar Suwanto mengeluh pada ibunya.
“Ibu, bisakah memasak sesuatu yang berbeda? Jennifer tidak suka masakan-masakan ini.”
Memang benar, makanan yang dimasak ibunya tidak sesuai seleraku.
Mungkin karena bertahun-tahun ini aku sudah terbiasa makan makanan buatan Suwanto.
Setelah bertahun-tahun menikah, tidak peduli sesibuk apa pun pekerjaannya, dia akan selalu memasak untukku.
Dia ingat dengan jelas apa saja makanan yang aku suka atau tidak.
Sungguh konyol, seorang pria sebaik ini bahkan bisa memiliki seorang wanita simpanan dan anak di luar sana.
“Anak kurang ajar, jangan dikasih hati minta jantung, jika bukan demi cucu laki-laki tertuaku, aku tidak akan melayaninya.”
Haha, seperti dugaanku.
“Ibu, Jennifer sudah hamil, kenapa ibu masih tidak suka padanya?”
“Hmph, kalau saja dia tidak terus-terusan menempel padamu, apakah cucu perempuanku akan terlantar di luar sana?”
Cucu perempuan?
Ketika aku mendengar dua kata itu, hatiku tiba-tiba menegang.
Seluruh tubuhku terjatuh ke tanah seperti balon yang tertusuk jarum.
Ternyata mereka semua mengetahuinya dan menyembunyikannya dariku.
Haha, tidak heran…
Tidak heran dia terus mengatakan bahwa aku sedang mengandung cucu laki-laki tertuanya.
Tidak heran sebelumnya setiap kali datang menemuiku selalu membawakan masakan yang terasa sangat asam.
Ternyata, dia ingin aku melahirkan anak laki-laki?
Haha, rencana yang bagus!
Aku berdiri dan hendak pergi, tapi ujung bajuku tidak sengaja menjatuhkan gelas di sampingku.
Suwanto segera memberi isyarat kepada ibu mertuaku untuk diam, melihat mataku yang memerah, dia pun panik.
“Jennifer, apa saja yang kamu dengar barusan?”
Nada suaranya tampak tenang, tetapi jarinya tidak bisa berhenti gemetar.
Anda Mungkin Juga Suka





