APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jovan, Birahi Anak Panti

Jovan, Birahi Anak Panti

Membangun biduk rumah tangga rupanya tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Dulu, dalam benak saya, pernikahan hanyalah soal menyatukan dua orang dan saling memenuhi kebutuhan lahir batin secara simpel. Namun, realitas menyuguhkan kerumitan lain yang mewarnai perjalanan ini. Kisah nyata ini menceritakan perjuangan kami sebagai pasutri muda berumur dua puluh dua tahun, yang harus menghadapi berbagai ujian berat demi mempertahankan komitmen.
Bab
Bagikan

Bab 2

Satu bulan telah berlalu. Tania sudah mulai menguasai petikan gitar untuk lagu-lagu sederhana. Bukan hanya Tania, beberapa temannya pun ada yang ikutan belajar, karena kami selalu belajar di sekitaran kampus.

Hubunganku dengan Tania sudah semakin dekat dan lekat. Namun aku tetap menjaga diri dan besikap wajar, walau terkadang sikap Tania agak berlebihan, yang tak jarang membuatku jadi serba salah. Bukan tak menyukainya, namun tak ingin dia gagal menjadi istri dari lelaki pilihan orang tuanya. Hampir semua temannya sudah tahu perihal perjodohan Tania dengan seserang.

“Fan, anter gue ke mall bentar!” ucap Tania ketika mobilnya yang kukendarai akan keluar dari pelataran kampus. Tania mengajakku ke rumahnya hari ini.

“Mau beli apaan sih, perasaan shooping mulu? Baru dapat kiriman dari ‘Yayang’ ya? hehehe, ” tanyaku iseng.

“Apaan sih lu! Gue punya duit sendiri, ngapain ngerin dia. Ya, pengen aja belanja, Fan. Kali aja lu juga mau belanja buat di kostan, hehehe.” Tania menjawab tak acuh sambil terkekeh.

“Ahsyiap! Jadi ceritanya gua mau ditraktir lagi nih?” Aku nyengir kuda, malu hati teralu sering ditraktir.

“Dasar cowok matre!” sergahnya sambil tersenyum kecut. Matanya tetap fokus pada layar ponselnya. Sepertinya dia sedang meminta izin pada calon suaminya. Atau mungkin mengubungi seseorang janjian ketemu di mall.

Tania sudah dijodohkan dengan seorang pengusaha muda dari Jakarta. Tetapi dia merasa tidak cocok dan selalu marah jika aku bertanya tentang sosok itu. Bahkan fotonya pun tak pernah dia tunjukan padaku. Namun jika teman segangnya yang bertanya, dia bisa menjawabnya dengan santai.

Tak usah bertanya mau belanja di mall mana. Seingatku, Tania belum pernah belanja di mall lain. Sudah beberapa kali mengantarnya belanja, hanya memang baru kali ini tanpa direcokin pasukan geng rempongnya. Biasanya aku hanya jadi sopir pribadi yang mingkem di belakang kemudi. Aku bisa bawa mobil pun diajari Tania.

Beberapa menit berikutnya, mobil sudah terparkir di baseman mall. Tadinya aku akan menunggu di parkiran, tapi Tania memaksaku untuk menemaninya. Walau agak canggung, aku pun menuruti permintaan tuan putri. Baru kali ini jalan berdua dengannya di tengah keramian selain kampus.

‘Hah!’ Hatiku berseru kaget, saat dengan santainya, Tania mengapit sebelah lenganku saat kami melangkah masuk ke dalam mall.

Sebagai lelaki yang bukan kekasihnya, tentu saja aku merasa rikuh dan canggung. Tetapi Tania terkesan sangat santai. Aku pun berusaha menguasai diri dan bersikap wajar agar Tania merasa nyaman dan tidak tersinggung perasaanya.

Deg!

Jantungku kembali tersentak keras.

Entah sengaja atau tidak, beberapa kali dada Tania yang kenyal menyentuh lenganku. Aku berusaha menghindar dengan sedikit menarik tanganku. Namun sepertinya Tania sengaja melakukan itu. Sambil terus melangkah melihat-lihat barang yang hendak dibelinya, dia kian merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Ya, sudahlah. Anggap saja rezki anak soleh.

Sebagai lelaki normal, tentu tidak perlu dijelaskan bagaimana desiran darah di tubuhku, degup jantungku dan terutama rudal dalam celanaku. Mana gak pake celana dalam lagi. Untung saja baju kemejaku dikeluarkan, hingga tonjolan besar di selangkangan bisa dengan sempurna disembunyikan.

“Asik juga jalan berdua sama lu, Fan,” ucap Tania cuek, sementara aku megap-megap menahan napas. “Duh, biasa aja kali, gak usah tegang gini!” ledek Tania seraya kembali mencubit manja pinggangku.

Sepertinya Tania sangat menyadari keteganganku. Ingin rasanya aku mengingatkan dia, jika aku bukan calon suaminya. Namun aku pun tak kuasa untuk mengucapkannya. Entah mengapa, justru aku merasakan jika momen ini terlalu indah untuk dilewatkan. Belum tentu bisa terulang kembali.

Aku tidak pernah secara khusus belanja di mall, selain tak punya uang, juga tidak betah berlama-lama dalam keramaian. Namun kali ini suasananya terasa sangat berbeda. Aku benar-benar menikmati artinya healing and shooping. Aku bakan tidak canggung berjalan di tengah keramaian.

“Coba ya dia bisa kaya elu gini. Nganter belanja santai aja, gak usah ngomel-ngomel kaya emak-emak. Sepertinya dia harus banyak belajar jadi cowok jantan sama lu, Fan.” ucap Tania memujiku dan merendahkan calon suaminya.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Bingung antara senang, bangga dan horny. Pikiran mesumku bahkan sudah terbang kemana-mana.

Sambil menunggu Tania memilih pakaian yang hendak dibelinya, aku memaksimalkan kesempatan langka itu untuk bisa lebih jelas memperhatikan setiap lekuk tubuhnya yang sangat seksi. Dalam balutan celana jeans ketat yang dipakainya, pinggul dan pantat Tania makin aduhai. Apalagi celana dalamnya tercetak.

“Hah, bengong aja!” sergah Tania sambil menepuk pinggangku.

“Eh, i…iya…ya, eh ada apa Tan, siapa yang ganggu kamu? Serahkan kepadaku!” jawabku gelagapan sambil memasang kuda-kuda siaga penuh.

“Hahahaha, dasar! Anter gue ke kamar pas! Takut ada yang ngintip!” ucapnya sambil menarik tanganku menuju kamar pas.

“Fan, tolong pegangin tas gue, and jangan coba-coba dibuka. Banyak rahasia soalnya, hehehe.”

“Siap Nyonyah!”

“And, lu juga jangan pergi, tetap di deket sini, gue takut ada yang ngintip, oke!” ucapnya sambil masuk ke kamar pas dengan membawa satu stel pakaian yang hendak dicobanya.

Lagi dan lagi pikiran mesumku meronta. Membayangkan Tania dalam keadaan setengah telanjang saat mencoba pakainnya. Pantatnya yang besar serta buah dadanya yang membusung, kian lincah menari liar dalam benakku.

‘Astaga!’ sergahku dalam hati. Mengapa akhir-akhir ini aku jadi selalu berpikiran kotor padanya. Ada apa denganku? Mengapa aku tega membayangkan hal terjorok atas Tania?

“Fan!” panggil Tania dari dalam kamar pas.

“Ya,” jawabku sambil nekad melongokkan kepala ke dalam kamar pas, setelah menyibakan tirainya.

Deg!

Jantungku seketika terasa berhenti berdetak.

Dalam kamar pas itu, keadaan Tania benar-benar sedang setengah telanjang, hanya bra dan celana dalam warna cream yang menutupi tubuh indahnya.

Rupanya setelah mencoba baju dan celana yang hendak dibelinya, dia belum memakai kembali pakaiannya. Keindahan yang sangat merangsang itu, benar-benar terpampang nyata di depan mataku.

"Ih Arfan, malah bengong, kaya yang gak pernah lihat cewek telanjang aja, hehehe!” goda Tania pelan, sambil tersenyum penuh arti.

“Eh, o iya.. eeh.. iya, maaf..,” balasku gelagapan sambil kembali menarik kepalaku keluar dari kamar pas.

“Loh kok malah keluar. Fan? Gue minta tolong dong, tukerin baju yang ini ke salesnya, ganti sama ukuran yang lebih besar satu level, kayaknya yang ini kekecilan banget deh," ucapnya sambil menyodorkan pakaian yang hendak ditukarnya.

Dengan tegesa-gesa aku mendatangi salah seorang sales untuk menukarkan pakaian tadi. Si kaludian dalam celanaku semakin berontak dan menggila. Rudalku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, hingga terpaksa harus melipir diantara elatase pakaian, untuk membetulkan posisinya yang agak menyamping.

Saat aku kembali ke kamar pas, Tania telah memakai kembali celana panjang hitamnya, namun bagian atasnya tetap terbuka dengan bebas. Bahkan dia tidak menyuruhku pergi atau menarik kembali kepala ke luar.

Dengan santainya sambil tersenyum dia menatapku setelah memakai pakaian yang kusodorkan untuk dicobanya. "Fan, menurut lu, gue pantes gak pake model ginian?" tanyanya meminta pendapatku.

"Ee.. ee i..iya bagus… sek..seksi banget, Tan!" jawabku gelagapan.

"Hus! Dimintai pendapat pantes apa kagak, kok malah bilang seksi sih. Seksi apaan coba?" canda Tania dengan tawa genitnya.

"Ee.. maksud gu..gua, dengan pakaian itu, lu keliatan makin cantik and super seksi, bagus banget, pantes banget pokoknya!" jawabku masih gelagapan.

Mataku benar-benar nyaris tak bisa berkedip menikmati kemewahan buah dadanya dalam balutan kaos pink ketat yang sedang dicobanya.

Entah karena pujianku atau memang baju itu sesuai dengan seleranya, Tania pun membelinya, disamping beberapa stel pakain lainnya. Dia juga menawariku untuk memilih pakaian yang kuinginkan. Aku tahu diri, hanya mengambil sekotak celana dalam harga murah berisi 3 pcs.

“Ngeborong daleman, Mas, hihihi,” bisik Tania meledekku saat memasukan sekotak sempak dalam keranjang belanjaannya.

"Mumpung ada yang nraktir, hehehe,” balasku sambil cengengesan.

“Perasaan lu jarang pake sempak deh!” ucap Tania sambil mencubit pinggangku tetapi tidak sakit.

“Hah! sotoy lu!” sergahku dengan kulit wajah yang mendadak terasa panas. Rupanya dia sering memperhatikan kebiasaan burukku yang tak berdaleman. Walau sebenarnya tidak setiap hari tak bersempak.

“Kalau pun iya, gak masalah, kok. Emang gue juga suka males pake daleman, terutama kalau lagi di rumah. Berasa kurang bebas aja, hihihih!” Jawaban Tania makin membuat mataku terbelalak dan kehabisan kata-kata.

“Sekarang lu pake daleman gak, Fan?” godanya makin menggila.

“Pake lah!” elakku berdusta. Sejak kapan calon bini orang ini jadi agak eror.

“Beneran?” goda Tania yang sontak membuatku makin gelagapan.

“Pa…pake Tan, mass sih mesti gue liatin! Lu ngapain sih, jadi aneh gini, ah!” Aku pura-pura kesal.

“Hahaha, lu yang aneh, Fan. Dari tadi tegang amat, terus jalan lu juga agak aneh, singkang-singkang gimana gitu. Ada apa coba?” Tania terus menggodaku dan matanya tetap tertuju pada selangkangaku, hingga tak sadar tanganku menyilang di sana.

“Hehehe, percuma ditutupin juga, dari tadi juga udah keliatan kok kalau….” Tania berbisik lirih sambil kembali mengapit lenganku, lalu berjalan menuju kasir.

Setelah Tania membayar semua belanjaannya, kami pun melangkah menuruni eskalator menuju parkiran. Lagi dan lagi Tania semakin ketat merapatkan tubuhnya ke tubuhku, padahal aku sangat kerepotan menentang belanjaannya.

Rudalku yang sudah entah seperti apa ketegangannya, kian tak bisa dikendalikan, terlebih saat Tania mengalihkan pegangannya pada pinggangku. Napas dan langkahku terasa semakin berat. Parkiran yang kami tuju pun terasa begitu jauh, hingga suhu tubuhku meningkat tajam dan mulai berkeringat.

Sekian menit berikutnya, aku dan Tania sudah duduk berdampingan dalam mobilnya yang suasana terasa remang-remang. Selain karena area parkiran yang agak gelap, kaca mobilnya emang gelap menghadirkan atmosfir syahdu, romantis, berbau mesum.

Entahlah! Aku benar-benar mati kutu atas sikap aneh dan super nekadnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BERBAGI RANJANG DENGAN KAKAK TIRI
8.2
Pernikahan Kenanga hancur setelah Dion, sang suami, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah kepedihan akibat poligami tersebut, masa lalu Kenanga kembali hadir lewat sosok Devano. Sahabat kecilnya itu datang untuk memperjuangkan cinta lama yang dipendamnya. Kini, Kenanga dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan dalam rumah tangga yang retak atau membuka hati bagi ketulusan Devano.
Sampul Novel Dimanjakan oleh Taipan yang Menyendiri
8.4
Corinna hampir kehilangan nyawa akibat kekejaman ayah dan ibu tirinya. Beruntung, takdir mempertemukannya dengan Andres, pewaris paling berkuasa di Kota Driyver yang terkenal dingin. Setelah Corinna menyelamatkan hidupnya, kesepakatan bisnis di antara mereka perlahan tumbuh menjadi kisah cinta yang mengguncang publik. Banyak orang terkejut melihat bagaimana taipan penyendiri yang tak berperasaan itu kini berubah drastis menjadi sosok pria yang sangat bucin.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Mr. Harrison & Passionette
9.1
Kehidupan tenang Passionette Dayanira, gadis baik yang selalu dibanding-bandingkan dengan kembaran liarnya, Jessica, hancur seketika. Pertemuan tak sengaja dengan Anthony Donnell Harrison di parkiran kampus menjadi awal petaka. Tatapan mengintimidasi dari pria dingin tersebut menyeret Dayanira ke dalam perangkap manipulatif yang sangat rapi. Terjebak dalam jerat kelicikan sosok yang dijuluki Iblis Bijaksana ini, kini hanya maut yang dapat membebaskannya.
Sampul Novel My Posesif Ceo
7.8
Demi mempertahankan pekerjaannya, seorang karyawan terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan atasannya yang keras kepala. Kesepakatan rahasia ini hanya berlaku sementara, tepatnya hingga kekasih sang CEO yang bernama Celine menyelesaikan studinya di luar negeri. Namun, saat menjalani hari-hari sebagai istri pura-pura di bawah ancaman pemecatan, situasi mulai berubah. Akankah dilema pernikahan sandiwara ini justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga di antara mereka?
Sampul Novel Petualangan Gairah Kenikmatan
8.0
Akibat sebuah kejadian tidak terduga, Randy dan Ririn terjatuh hingga tubuh mereka saling berhimpitan sangat dekat. Dalam posisi intim tersebut, Randy dapat merasakan embusan napas dan detak jantung Ririn yang kian cepat. Sentuhan fisik itu seketika menyulut gairah membara yang sulit dikendalikan oleh keduanya. Di tengah ketegangan asmara yang kian memuncak, Ririn akhirnya terbawa suasana dan meminta Randy untuk segera menyatukan perasaan cinta mereka.