APKDock Logo
Sampul Novel Jodoh Tak Akan Tertukar

Jodoh Tak Akan Tertukar

8.5 / 10.0
Demi menjaga kesehatan jantung ibunya yang sangat pemilih soal status sosial, Aldi terpaksa merahasiakan jalinan asmaranya dengan Sella selama enam tahun. Puncaknya, mereka nekat menikah siri tanpa restu. Keadaan kian rumit saat sang ibu menjodohkan Aldi dengan Lisa. Terjebak dalam kelicikan Lisa, Aldi akhirnya terpaksa menikah lagi. Kini, Sella harus menelan pil pahit kehidupan, bertahan sebagai istri siri yang tersisih di tengah badai rumah tangga suaminya.

Jodoh Tak Akan Tertukar Bab 1

Bab 1

"Ada yang perlu ditanyakan lagi, Bu?" tanya Aldi ramah kepada pasien seorang ibu paruh baya di hadapannya.

"Gak, Dokter. Saya langsung sembuh lho ini. Sudah ketemu Dokter Aldil. Ngomong - ngomong, dokter sudah punya pacar belum? Mau saya kenalkan sama anak bungsu saya," ucap Bu Faridah tertawa kecil.

Aldi seketika melirik ke arah gadis pujaan hatinya yang berada tepat di belakang kursi Bu Faridah.

"Sudah, Bu. Saya sudah punya calon isteri," sahut Aldi tersenyum. Diliriknya, Sella yang tersipu malu mendengar jawaban sang kekasih.

"Oke deh kalau gitu. Saya permisi dulu, ya, Dokter Aldi" pamit Bu Faridah beranjak dari duduknya dibantu oleh seorang perawat.

"Terima kasih, Suster Sella. Kalau Suster Sella bagaiamana? Cantik begini, mau saya jadikan menantu. Untuk anak sulung saya," goda Bu Faridah.

"Kebetulan saya juga sudah punya calon suami, Bu," sahut Sella tersenyum ramah.

"Wah, sayang banget, ya. Kalian berdua hati - hati 'lho. Bisa cinlok nanti. Sering kerja berdua," goda Bu Faridah yang berhasil membuat Aldi dan Sella menelah ludah.

Sepulangnya Bu Faridah sebagai pasien terakhir. Aldi segera memberikan kode kepada Sella untuk membuka handphonenya. Sella hanya tersenyum tanda mengerti.

"Aku tunggu di depan minimarket belakang rumah sakit, sayang," Sella membaca isi pesan Aldi dalam hati.

"Suster Sella, saya duluan, ya," ucap Aldi tersenyum mesra. Sella melemparkan senyum manis ke arah Aldi.

Selesai berganti pakaian, Sella segera menghampiri mobil sedan mewah yang parkir tepat depan minimarket. Sella segera memasuki mobil dengan cepat karena takut kalau ada rekan kerja mereka berdua yang melihatnya. Aldi segera tancap gas menuju sebuah restoran tempat mereka biasa berkencan.

"Sayang, kita go public aja, yuk. Aku tuh capek kucing - kucingan begini. Hampir dua tahun 'lho kita backstreet," Aldi menggenggam erat telapak tangan Sella.

"Aku takut sama Mama kamu, Yank. Kamu tahu sendiri beliau bagaimana. Mama kamu itu kalau datang ke rumah sakit selalu wanti - wanti buat cari tahu siapa cewek yang dekat sama kamu. Bibit bobot bebetnya dipertanyakan. Lah, aku cuma anak panti asuhan. Sudah jelas di blacklist jadi menantu Mama kamu," sahut Sella tertawa kecil.

"Ya sampai kapan kita backstreet? Kita tuh sudah sama sama dewasa. Aku usia 27 tahun kamu juga sudah 25 tahun. Sudah pas untuk menikah. Aku mau jujur sama Mama. Kalaupun harus dipecat jadi anak," gerutu Aldi.

"Aku gak mau kalau kamu begitu, sayang. Kamu harus ngerti juga, Mama kamu masih sangat terpukul dengan kepergian Kak Tami - kakak kamu. Saat ini, anaknya cuma kamu, sayang. Wajar, kalau Mama kamu memilih wanita terbaik untuk jadi isteri anaknya kelak," ucap Sella lembut.

"Aku tahu tapi, aku gak mau nikah kalau bukan sama kamu," ujar Aldi menghentikan mobilnya dipinggir jalan.

"Iya, sayang. Nanti kita pikirkan lagi untuk bisa dapatkan restu dari Mama kamu. Semoga Mama kamu bisa terima aku nantinya," Sella tersenyum ke arah Aldi yang mulai memandangi secara lekat.

"Astagfirullahaladziim," ucap Sella seketika saat wajah Aldi semakin mendekat ke wajahnya.

"Maaf, sayang. Aku hampir aja khilaf," ucap Aldi merasa kikuk. Pasalnya, selama tiga tahun mereka menjalin kasih. Aldi dan Sella sangat membuat batasan. Bahkan sekedar mengec*p kening atau pipi.

"Iya, sayang. Ya sudah, kita lanjut jalan aja," ucap Sella dengan wajah yang memerah karena malu.

*****

Dirumah, Bu Indri belum tidur dan menunggu di sofa ruang tamu. Kebiasaan yang selalu dilakukannya hampir setiap hari. Menunggu anaknya pulang bekerja dari rumah sakit.

"Aldi, Mama mau bicara," ujar Bu Indri serius.

"Bicara apa, Ma? Apa gak bisa besok pagi? Aldi ngantuk banget," sahut Aldi malas. Dia sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan sang ibu.

"Ini penting banget. Besok, kamu temani Mama, ya. Ke rumah Tante Nina. Kebetulan, besok ada arisan di rumahnya sekalian penyambutan kedatangan Lisa anaknya Tante Nina yang baru selesai kuliah di London," ajak Bu Indri bersemangat.

"Aldi besok ada janji, Ma. Aldi mau pergi futsal sama Damar. Papa libur juga 'kan, Ma?" tolak Aldi malas.

"Papa gak bisa. Besok Papa mau ada ketemu klien penting. Kamu futsalnya diundur aja, ya. Masa kamu tega biarin Mama pergi sendirian," pinta Bu Indri memelas.

"Ya 'kan ada si Opik, Ma," Aldi tetap menolak.

"Opik besok libur. Dia mau ngajak anaknya ke dokter gigi. Kasihan juga dia setiap hari supirin, Mama,"

"Itu 'kan memang tugas dia, Ma. Dia 'kan supir Mama,"

"Ya sudah, Mama sendirian saja. Andai Tami masih ada ---" ucap Bu Indri dengan ekspresi kesal bercampur sedih.

"Oke, Ma. Besok Aldi temani," ujar Aldi akhirnya menyanggupi permintaan Mama dengan hati kesal.

Usai, sedikit perdebatannya dengan sang ibu. Aldi menelepon Sella dan membatalkan janji temu mereka besok.

"Sayang, maaf besok kita batal pergi. Mama barusan minta temani aku ke acara arisan di rumah temannya," ujar Aldi dengan lirih.

"Ya sudah gak apa - apa, sayang. Kamu temani Mama saja. Aku gak apa - apa 'kok," ucap Sella lembut.

"Beneran?" tanya Aldi memastikan.

"Iya beneran, sayang. Kamu gak usah khawatir. Aku juga rencananya mau ke panti asuhan ketemu Bu Rani. Sudah lama juga aku gak kesana," Sella terdengar bersemangat.

"Kamu tuh bikin aku makin sayang tahu gak? Kenapa gak pernah marah? Gak pernah protes? Selalu pengertian. Jangan - jangan kamu itu beneran bidadari, ya?" gombal Aldi.

"Gombal banget sih ini cowok. Ya, aku gak mau buang energi buat ngambek - ngambek. Buat apa? Aku tuh kepengen awet muda jadi gak mau marah," sahut Sella tertawa.

"Makasih, sayang. Kamu itu sangat pengertian. Kalau boleh jujur. Aku lelah sama sikap Mama. Mama itu kalau minta sesuatu pasti maksa dan ujung - ujungnya bawa nama almarhum Kak Tami. Itu bikin aku gak tega," ujar Aldi terdengar sedih.

"Gak apa - apa, sayang. Kamu beruntung masih punya orang tua yang lengkap dan sangat sayang sama kamu. Aku aja iri 'lho. Kamu tahu gak? Aku itu setiap hari membayangkan seandainya orang tuaku masih ada. Aku gak akan dibesarkan di panti asuhan. Tapi, ya aku ikhlas aja. Memang nasib hidup aku begini. Hidup sebatang kara. Makanya, kamu itu harus bersyukur masih punya orang tua," ucap Sella dengan tegar.

"Kamu punya aku, sayang. Jangan bilang sebatang kara. Aku janji akan selalu ada buat kamu," ucap Aldi tulus.

Aldi dan Sella larut dalam obrolan mereka di telepon. Aldi selalu merasa bahagia saat bisa ngobrol dengan gadis yang dicintainya. Sella begitu pengertian dan sikapnya yang dewasa. Bahkan di tempat kerja, banyak orang yang merasa nyaman berada di dekat Sella. Termasuk para karyawan laki - laki yang menyukai Sella. Gadis cantik berkulit cerah, hidung mancung, bibir mungil, dan bermata indah.

Aldi seringkali terbakar cemburu jika ada laki - laki yang mencoba mendekati Sella.

"Yank, besok di rumah Bu Rina ada Sandi?" tanya Aldi terdengar sedikit kesal.

"Aku gak tahu sih. Enggak ada kayaknya. Sandi 'kan sekarang tinggal di Palembang. Dia dapar beasiswa kuliah di sana. Kenapa emangnya? Kamu kangen?" ledek Sella.

"Ya enggaklah. Aku cuma takut aja. Nanti dia curi - curi kesempatan dekati kamu lagi," gerutu Aldi.

Sella tertawa mengingat saat dulu Aldi dan Sandi berkelahi. Kala itu, Sandi datang ke rumah sakit untuk berpura - pura menjadi kekasih Sella demi menghindari godaan para karyawan genit yang seringkali menggoda Sella. Namun, Aldi malah terbakar cemburu dibuatnya. Sandi yang seumuran dengannya juga memiliki paras tak kalah tampan darinya. Aldi menyuruh Sandi menjauhi Sella padahal dia sendiri yang meminta Sella mencari pacar pengganti. Akhirnya, Sandi dan Aldi terlibat sedikit cekcok.

"Ya sudahlah, sayang. Sandi itu sudah mau nikah 'lho tiga bulan lagi. Kamu gak perlu over thinking sama Sandi," ucap Aldi tertawa.

"Sandi udah mau nikah? Kita kapan?" goda Aldi manja.

"Kita nunggu restu dulu, Sayang," goda Sella tertawa.

*****

Bu Rina yang sedang serius membaca buku dikejutkan dengan kedatangan Sella. Bu Rina sangat dekat dengan Sella dan sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.

"Ibu!" Sella berlari kecil ke arah ibu paruh baya berhijab yang duduk di halaman panti asuhan cahaya.

"Sella?" Bu Rina segera meraih tubuh ramping Sella dan memeluknya erat.

"Ibu, apa kabar? Sella kangen banget sama ibu," Sella tersenyum dan menciumi telapak tangan Bu Rina dengan sayang.

"Alhamdulillah baik, sayang. Kamu lagi libur? Pantes saja kemaren itu banyak kupu - kupu hinggap di sini. Ternyata mau ada tamu jauh," ujar Bu Rina tersenyum riang.

"Iya, Bu. Maaf, ya, Bu. Sella baru sempat mampir ke sini. Karena bulan ini Sella cuma dapat libur sedikit," ucap Sella seraya memberikan buah tangan yang dibawanya.

"Iya, Sella. Ibu ngerti kok. Ini kamu gak perlu repot - repot bawa buah tangan segala. Kamu bisa datang ke sini saja ibu sudah sangat senang. Apalagi perjalanan kamu itu jauh. Kita masuk ke rumah ibu, yuk," ajak Bu Rina yang diangguki Sella.

"Gak jauh 'kok, Bu. hanya dua jam dari Jakarta ke Bandung,"

Bu Rina dan Sella melepas rindu dengan membicarakan masa lalu Sella saat berada di panti. Bu Rina sangat terharu melihat Sella yang kini telah dewasa dan menjadi gadis cantik juga baik.

Terlintas bayangan saat pertama kali Sella datang ke panti asuhan. Sella saat itu berusia satu tahun. Sedang tertidur dengan sepucuk surat di samping tubuhnya. Nasha diletakkan di teras panti asuhan.

Namanya Sella Anita usia satu tahun. Orang tuanya meninggal dunia satu minggu lalu. Ayahnya bernama Satria. Ibunya bernama Indah. Kami sebagai kerabatnya gak mampu merawat dia. Kami titip Sella - (isi surat yang dibaca Bu Rina kala itu).

Bu Rina sebagai pengurus panti asuhan sangat menyayangi Sella yang memang sangat baik sejak kecil. Kini gadis cantik itu sudah berusia 25 tahun.

*****

Di rumah Tante Nina, Aldi merasa sangat canggung karena hanya dia anak muda yang ada di acara arisan tersebut.

"Ma, aku tinggal, ya. Nanti kalau Mama sudah selesai arisan chat aku aja. Nanti aku jemput," pinta Aldi.

"Arisannya sebentar doank 'kok. Kita ketemu dulu sama Tante Nina dan anaknya. Biar kamu kenal. Anaknya itu baru lulus kuliah di London. Cantik banget 'lho dia," ujar Bu Indri menahan Aldi.

"Jeung Indri," panggil Bu Nina yang sangat modis sama seperti Bu Indri.

"Jeung Nina. Apa kabar?" Bu Indri terlihat sangat sumringah.

"Lisa! Kesini, sayang. Ada Tante Indri," panggil Bu Nina ke arah gadis cantik berkulit putih bersih dengan pakaian cukup terbuka.

"Ini Aldi, ya?" sapa Bu Nina sumringah.

"Iya, Tante," sahut Aldi tersenyum.

Bu Nina dan Bu Indri saling mengenalkan anak mereka masing - masing. Terlihat wajah bahagia Lisa kala memandangi wajah tampan Aldi.

"Pangeranku semakin tampan aja, Aldi," gumam Lisa dalam hati dengan senyum manis di sudut bibirnya.

Aldi hanya tersenyum simpul dan memalingkan wajahnya ke arah lain karena risih dengan pakaian Lisa yang sedikit terbuka.

Bu Indri dan Bu Nina sengaja meninggalkan anak - anak mereka supaya bisa mengobrol berdua. Lisa sangat menyukainya berbeda dengan Aldi yang terlihat gelisah.

"Duh, ngapain sih, Ma. Pake ninggalin aku sama cewek kayak begini. Bikin dosa aja," gerutu Aldi dalam hati.

"Aldi, kamu ingat aku gak?" tanya Lisa mendekati Aldi.

"Emang kita pernah ketemu, ya?" tanya Aldi tanpa melihat ke arah Lisa.

"Aku itu adik kelas kamu waktu SD. Sudah lama banget sih memang. Pasti kamu udah lupa," Lisa tersenyum melihat wajah Aldi yang terlihat canggung.

"Oh gitu. Iya sih udah lama banget, ya?" sahut Aldi sekedarnya. Aldi yang merasa sangat tidak nyaman akhirnya pamit meninggalkan Lisa dan menyusul sang ibu untuk pamit pulang dengan alasan ada panggilan darurat dari rumah sakit.

"Ya sudah, Mama pulang naik taksi aja nanti. Kamu hati - hati, ya. Kabari Mama," ucap Bu Indri.

*****

Sella yang sedang melepas rindu dengan Bu Rina betah berlama - lama di sana. Sampai dia dikejutkan dengan kehadiran sosok yang sangat dikenalnya.

"Aldi?" Sella terlihat kaget dengan senyum sumringah melihat pujaan hatinya ada di depan mata.

"Nak Aldi," sapa Bu Rina ramah. Aldi sering mengantar Sella sehingga Bu Rina juga sangat mengenalnya.

"Bagaimana kabarnya, Bu?" Aldi menyalami telapak tangan Bu Rina dengan sopan.

"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana? Kata Sella ada acara keluarga? Kok tahunya nyusul kesini?" tanya Bu Rina heran.

"Iya, Bu. Acaranya sebentar saya langsung kesini. Gak tega kalau Sella pulang sendirian. Karena saya tahu dia kalau main ke sini pasti pulangnya malam," ucap Aldi melirik ke arah Sella yang tersipu malu.

"Kita makan dulu, yuk," ajak Bu Rina. Mereka bertiga makan bersama dengan suasana ceria dan kekeluargaan.

*****

Lanjut Membaca

Daftar Isi Jodoh Tak Akan Tertukar

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisi besarnya, William, putra seorang bos mafia kejam, siap melakukan apa saja. Namun, sebuah pengkhianatan merenggut nyawa sang ayah, Ferdinand. Rosemary yang merupakan istri Ferdinand akhirnya mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Di tengah duka, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi oleh seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhir menyelesaikan segalanya.
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Alena Adriani Quensyah didera kemalangan setelah orang tuanya menjadikan dirinya jaminan utang pada mafia kejam. Kini ia terkurung dalam kehidupan bak penjara, sembari terus dihantui oleh trauma masa lalu yang begitu kelam. Di tengah penderitaan ini, Alena bertekad mencari tahu alasan mengapa orang tuanya tega meninggalkannya dalam bahaya. Mampukah ia bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
9.5
Nadia terpaksa menerima tawaran licik Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, untuk menjadi ibu pengganti demi biaya pengobatan sang adik. Namun, setelah adiknya wafat, kepedihan mendalam mendorong Nadia melarikan diri dalam kondisi mengandung anak Reza. Di tengah pelarian dari kejaran Satria dan bayang-bayang kebenaran yang mulai tersingkap, mampukah Nadia bertahan menyembunyikan diri dari takdir serta pusaran intrik kekuasaan keluarga konglomerat tersebut?
Sampul Novel SETETES DARAH SUCI
8.6
Legenda kuno meramalkan lahirnya seorang gadis dengan darah suci yang membawa mukjizat. Setetes darahnya berkhasiat memberikan keabadian, kekuatan tak tertandingi, serta mencegah kepunahan klan. Saat kelahirannya yang diiringi awan hitam di malam purnama dan suhu dingin ekstrem, seisi jagat raya berpesta. Kini, hidupnya terancam bahaya besar karena setiap makhluk di alam semesta berambisi memburu dan merebut darah suci di dalam tubuhnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan