APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma

Jodoh Pilihan Oma

Kehidupan Dion berbalik arah setelah menolong Kayla dari ancaman bahaya bersama Nenek Melati. Kagum akan ketegaran Kayla, sang nenek bertekad menjodohkan mereka. Rencana ini ditentang keras oleh Bu Ratna yang lebih memilih Amara, sosok ambisius pengejar status, untuk Dion. Demi menyingkirkan Kayla, Amara merancang intrik licik untuk membongkar masa lalu kelam sang rival. Kini, Dion harus berjuang menghadapi tekanan keluarga dan konspirasi jahat demi melindungi cintanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan harinya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar Kayla. Ia membuka matanya perlahan, merasa asing dengan kenyamanan tempat tidur di sekitarnya. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat di mana ia berada. Setelah sekian lama tidur di tempat yang tidak layak, pagi ini terasa seperti mimpi.

Kayla duduk di tepi tempat tidur, memandangi taman kecil yang tampak dari jendela kamarnya. Hijaunya pepohonan dan bunga-bunga yang mekar seolah menyambutnya dengan hangat. Tapi, rasa syukur yang mulai mengisi hatinya itu segera diselimuti kecemasan. Ia sadar bahwa ia bukan bagian dari rumah ini, dan ia tidak tahu berapa lama bisa bertahan di sini tanpa membawa masalah.

Pintu kamar diketuk pelan.

"Kayla? Kamu sudah bangun?" Suara lembut Nenek Melati terdengar dari balik pintu.

Kayla segera berdiri dan membuka pintu. "Iya, Bu, saya sudah bangun."

Nenek Melati tersenyum lebar. "Panggil aku Nenek saja, Nak. Tidak usah sungkan. Ayo, turun. Sarapan sudah siap. Kamu pasti lapar."

Kayla mengangguk dengan ragu. "Baik, Nek."

Ketika mereka turun ke ruang makan, aroma harum roti panggang dan telur goreng langsung menyerbu hidung Kayla. Dion sudah duduk di meja makan, mengenakan kemeja putih dan celana bahan, siap berangkat kerja. Ia menatap sekilas ke arah Kayla tetapi tidak mengatakan apa-apa.

"Duduklah," kata Nenek Melati sambil menarik kursi untuk Kayla.

Kayla menurut. Ia merasa canggung di antara suasana hangat ini, tetapi ia tidak bisa menyangkal bahwa perutnya memang lapar.

"Terima kasih," ucap Kayla pelan sambil mengambil sepotong roti.

Dion, yang sedang menyeruput kopinya, akhirnya membuka suara. "Apa rencanamu setelah ini, Kayla?"

Pertanyaan itu membuat Kayla menghentikan gerakannya. Ia menunduk, merasa bingung. "Saya... saya belum tahu. Mungkin saya harus pergi agar tidak merepotkan kalian."

Nenek Melati langsung menyela. "Tidak perlu bicara seperti itu. Kamu tidak merepotkan siapa pun di sini, Kayla. Tinggallah selama kamu mau."

"Tapi, Nek..." Kayla mencoba membantah.

"Nenek tidak mau dengar alasan apa pun," kata Nenek Melati tegas. "Kamu aman di sini, dan itu yang terpenting."

Dion mendesah pelan. Ia tahu bahwa keputusan neneknya tidak bisa diganggu gugat. Tapi ada sesuatu yang mengusik pikirannya, dan itu membuatnya tetap waspada terhadap Kayla.

Setelah sarapan selesai, Dion berdiri dari kursinya. "Aku harus pergi. Ada rapat pagi ini."

Nenek Melati mengangguk. "Hati-hati di jalan, Dion. Jangan lupa makan siang."

Dion hanya mengangguk, lalu melirik Kayla sekilas sebelum meninggalkan ruangan. Gadis itu tampak gugup di bawah tatapannya, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Perkenalan dengan Lingkungan Baru

Setelah Dion pergi, Nenek Melati membawa Kayla ke taman belakang. Mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon besar, menikmati udara pagi yang segar.

"Kayla," Nenek Melati memulai, "aku ingin kamu tahu bahwa rumah ini adalah tempat yang penuh kasih. Jangan takut atau merasa terbebani. Aku percaya, Tuhan membawa kamu ke sini untuk sebuah alasan."

Mata Kayla berkaca-kaca. "Terima kasih, Nek. Saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa."

"Tidak perlu berkata apa-apa. Yang penting, kamu harus mulai membangun kembali hidupmu. Kalau kamu mau, aku bisa membantu mencari pekerjaan atau hal lain yang kamu butuhkan."

Kayla hanya bisa mengangguk. Perhatian yang diberikan Nenek Melati benar-benar tulus, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, tidak semua orang menyambut Kayla dengan hangat. Ketika mereka kembali ke rumah, seseorang mengetuk pintu depan dengan keras. Kayla yang baru saja selesai membantu Nenek Melati di dapur langsung merasa tegang.

"Nenek, siapa itu?" tanya Kayla dengan nada gugup.

"Oh, itu pasti Riska, tetangga sebelah," jawab Nenek Melati santai sambil berjalan menuju pintu.

Ketika pintu terbuka, seorang wanita paruh baya dengan penampilan rapi dan ekspresi penasaran masuk ke dalam. Ia membawa sekeranjang buah-buahan.

"Selamat pagi, Melati. Aku dengar kamu punya tamu baru," kata Riska dengan nada sedikit menyindir sambil melirik Kayla yang berdiri di dekat dapur.

"Oh, ini Kayla," kata Nenek Melati sambil tersenyum lebar. "Dia akan tinggal di sini sementara waktu."

Riska mendekati Kayla, matanya mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu dari mana, Nak?" tanyanya dengan nada manis yang terdengar dipaksakan.

Kayla merasa tidak nyaman di bawah tatapan tajam itu. "Saya... saya baru pindah ke sini, Bu," jawabnya singkat.

"Ah, begitu," gumam Riska sambil tersenyum tipis. Ia berbalik ke arah Nenek Melati. "Kamu ini memang selalu baik hati, Melati. Tapi ingat, kebaikan juga ada batasnya."

Nenek Melati menatap Riska dengan tajam. "Aku tahu apa yang aku lakukan, Riska. Dan aku tidak butuh nasihat tentang siapa yang boleh atau tidak boleh tinggal di rumahku."

Riska tertawa kecil. "Baiklah, aku hanya mengingatkan." Setelah itu, ia pamit dengan senyuman tipis yang membuat Kayla merasa semakin tidak nyaman.

Pertemuan Tak Terduga

Di sore hari, ketika Kayla sedang menyiram bunga di taman depan, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Kayla mengenali mobil itu sebagai milik Dion. Ia berdiri kaku, tidak tahu harus berbuat apa.

Dion keluar dari mobil dengan kemeja yang sedikit kusut. Ia membawa beberapa berkas di tangan, tampak lelah. Ketika ia melihat Kayla, matanya sedikit melembut.

"Kamu sedang apa di sini?" tanya Dion sambil berjalan mendekat.

"Sedang membantu Nenek menyiram bunga," jawab Kayla pelan.

Dion mengangguk. "Baiklah. Jangan terlalu lama di luar, udara mulai dingin."

Kayla hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dion masuk ke rumah, tetapi sebelum menutup pintu, ia sempat melirik Kayla lagi. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya sulit untuk tidak memperhatikan.

Di dalam rumah, Nenek Melati menyambut Dion dengan senyuman hangat. "Kamu sudah pulang, Dion. Bagaimana harimu?"

"Lelah, Nek," jawab Dion sambil duduk di sofa.

Nenek Melati menuangkan secangkir teh untuknya. "Istirahatlah dulu. Oh, aku hampir lupa, besok kita harus pergi ke pasar untuk membeli beberapa barang. Kayla akan ikut dengan kita."

Dion menatap neneknya dengan alis terangkat. "Kenapa harus dia ikut?"

"Supaya dia tahu lingkungan sekitar. Lagipula, aku tidak bisa membawa barang belanjaan sendirian," jawab Nenek Melati santai.

Dion menghela napas. "Baiklah."

Malam itu, di bawah langit yang mulai gelap, kehidupan baru Kayla di rumah ini perlahan-lahan mulai terbentuk. Tapi di balik kedamaian yang tampak, ada konflik-konflik kecil yang mulai mengintai.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan
9.0
Acara realitas Jack Harper, seorang ahli bertahan hidup, berubah menjadi bencana setelah ledakan misterius. Ia terdampar di pulau terasing yang dipenuhi reruntuhan kuno serta suku berbahaya. Bersama sekelompok selebritas, Jack harus memimpin perjuangan untuk lolos dari maut. Namun, bahaya terbesar datang dari Mei Ling, kontestan yang menyimpan dendam dan berniat membunuhnya. Di tengah konspirasi dan pengkhianatan, Jack harus bertarung demi mengungkap kebenaran.
Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Jagat raya dikejutkan oleh aksi para gigolo kaya nan rupawan yang memperebutkan kasih sayang seorang gadis desa yang serba kekurangan. Di balik kepolosan wajahnya, perempuan tersebut rupanya seorang pembunuh kejam yang telah melukai mereka. Anehnya, para pria ini malah merasa bangga jika harus tewas di tangan sang gadis. Mengapa mereka justru memuja sosok yang mengancam nyawa tersebut? Inilah kisah cinta penuh laga tentang obsesi luar biasa yang sulit dinalar publik.
Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun Clarissa bertahan di kerasnya dunia malam Jakarta demi menjaga dirinya. Namun, ketenangannya terusik oleh Arga, pelanggan tetap yang sangat terobsesi padanya. Meski Clarissa benci pria dan terus menghindar, kuasa Arga membuatnya tak berkutik. Di sisi lain, perjuangan Arga meluluhkan Clarissa terhalang penolakan keras saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa akhirnya takluk pada pria yang kini terus membayangi hidupnya itu?
Sampul Novel Dekapan Gairah Mafia Kejam
9.7
Isabella Moretti didera nestapa usai Lorenzo Ricciardi, bos mafia kejam, membantai orang tuanya. Bukannya dieksekusi, ia malah disekap sebagai tawanan pribadi sang penguasa kegelapan. Di balik kebengisan Lorenzo, kehangatan yang tak terduga perlahan melunakkan hati Isabella hingga memicu gairah di balik dendam. Dilema kian memuncak saat Isabella mengandung anak Lorenzo. Kini ia bimbang antara menuntaskan utang darah keluarganya atau tunduk pada cinta sang iblis.
Sampul Novel Hot Love - Birahi Anak Yakuza
8.2
Kenzo, pewaris tunggal pemimpin Yakuza, menolak dijodohkan demi mengejar perempuan Rusia misterius yang ditemuinya di kafe. Penolakan ini memicu konflik besar hingga Kenzo tertembak, lalu diselamatkan oleh Alena, wanita yang ia cintai. Namun, hilangnya Alena membuat Kenzo frustrasi dan mengacau di Hong Kong hingga menyulut perang gangster. Saat melarikan diri bersama kakak angkatnya, Sakura, Kenzo tak tahu bahwa Alena sebenarnya adalah anak dari calon mertuanya sendiri.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris yang kental akan dunia persilatan dan mistis, Wisaka bertekad mengungkap misteri kematian tragis para pengantin baru. Para suami tewas setelah malam pertama, sedangkan para istri diperkosa hingga bungkam. Demi mencari kebenaran, Wisaka pun mempelajari ilmu kanuragan. Namun, ia harus menghadapi hadangan bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar sebagai manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?