
Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam
Bab 2
"Kita harus bercerai dulu," kata Zafran, suaranya dingin tanpa kehangatan.
Dering tajam memenuhi telingaku, seolah-olah jiwaku sedang dicabik keluar dari tubuh.
Butuh waktu lama sebelum akhirnya aku bisa menemukan kembali suaraku.
"Jadi... itu yang ingin kamu sampaikan padaku?"
Zafran tidak berani menatap mataku. Dia hanya menghela napas panjang.
"Clara, aku tahu Halida bukan saudara kandungmu, tapi ayahmu sudah mengadopsinya. Dia sudah hidup bersamamu sejak lama. Dia bagian dari keluarga."
"Ini cuma formalitas. Memenuhi permintaan terakhirnya adalah hal yang benar untuk dilakukan."
"Lagipula, bahkan dengan uji klinis itu, waktunya tidak banyak. Setelah dia pergi, aku tetap akan jadi suamimu."
Sebelum aku sempat bereaksi, Olivia menghampiri dan menarik ujung lenganku. "Anggap saja ini seperti sebuah sandiwara, oke? Demi mimpinya Tante Halida."
Suara polos anak kecil itu menusuk hatiku bagai pisau.
Aku menatap ayah dan anak yang ada di depanku.
Pria ini, yang dulu pernah memelukku erat dan bersumpah akan mencintaiku selamanya.
Anak ini, yang dulu selalu meringkuk di pelukanku dan memanggilku Ibu.
Aku tidak pernah mengkhianati siapa pun. Tidak pernah menyakiti siapa pun.
Aku sudah berusaha sekuat tenaga jadi anak yang baik, adik yang baik, istri yang baik, ibu yang baik. Aku sudah memberikan segalanya untuk keluarga ini. Tidak ada yang perlu aku sesali.
Dan sekarang, orang-orang terdekatku justru bersatu untuk merampas segalanya dariku.
Cinta, keluarga, bagi mereka semua itu hanya sesuatu yang bisa diinjak sesuka hati.
Tapi saat ini, kalau Halida mau semuanya, biarlah.
Aku sudah tidak menginginkan apa pun lagi.
Bibirku kering pecah-pecah, tenggorokanku tercekat, tapi aku hanya mengangguk.
"Baiklah."
Zafran jelas tidak menyangka aku akan setuju begitu mudah. Sekilas ada bayangan terkejut, bahkan sedikit lega di matanya.
"Kamu serius?"
Tanpa membuang waktu, dia menarik sebuah map dari tas kerjanya dan menaruhnya di meja ruang tamu.
Dia memang sudah menyiapkan surat cerai dari awal.
Aku tertawa dengan nada mengejek.
Dokter Zafran Pratama, ahli bedah terbaik di kota ini...
Begitu tergesa ingin bercerai sampai tidak repot-repot lagi untuk berpura-pura.
Tanda tanganku untuk terakhir kalinya menggores kertas dan berhenti di samping miliknya.
Zafran menatapku menandatangani, wajahnya campuran rumit antara lega, rasa bersalah, dan secuil kebebasan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Clara," katanya dengan suara jernih. "Sayang, begitu Halida tiada, kita akan menikah lagi. Aku bersumpah akan menebus semuanya."
"Kamu sudah berubah. Kamu sekarang jauh lebih pengertian. Aku dulu terlalu egois, terlalu sibuk kerja, tidak pernah benar-benar menjagamu."
"Setelah semua ini selesai, aku akan memperbaikinya."
Olivia bertepuk tangan riang. "Ibu, kamu yang terbaik! Jadi sekarang aku boleh panggil Tante Halida Ibu juga, kan?"
Kalimat itu menghancurkan sisa tipis harapanku.
Aku tidak lagi punya ekspektasi apa pun pada keluarga ini.
Sekarang, yang tersisa hanyalah menunggu kematian dengan tenang.
Aku berdiri, berharap menemukan sedikit kedamaian dengan mencuci piring di dapur.
Tepat ketika aku menyalakan keran, setetes hangat jatuh di punggung tanganku.
Itu darah. Merah terang.
Aku menyentuh hidungku, dan jariku berlumur merah.
Dunia berputar. Gelombang pusing menghantamku, dan lantai menyambut tubuhku sebelum aku sempat meraih pegangan apa pun.
Dalam detik terakhir kesadaranku, wajah panik Zafran terlihat kabur di pandanganku.
Saat aku sadar kembali, bau debu menusuk hidung.
Aku masih terbaring di lantai dingin.
Alis Zafran berkerut, matanya berkilat jengkel.
"Clara, kamu melakukan ini lagi?"
"Mimisan, pingsan... bisakah kamu berhenti kekanak-kanakan? Kamu tidak perlu begini hanya untuk menghindari pekerjaan rumah."
Olivia mundur sambil mencubit hidungnya. "Ibu, kita semua tahu kamu pura-pura! Norak banget kamu niru-niru Tante Halida."
Zafran berlutut, sorot matanya penuh kekecewaan.
"Clara, menandatangani berkas-berkas ini tidak berarti aku tidak mencintaimu. Kamu tidak perlu membuat drama kecil seperti ini hanya untuk mengujiku."
Aku hanya diam, menyeka hidung dengan tisu.
Darah cepat berhenti.
Dan saat itu aku mengerti.
Obat penghilang rasa sakit tidak hanya menahan perih, tapi juga menghapusnya, membuatku terlihat sehat di luar.
Selama tiga hari ini, aku tampak seperti orang normal.
Bahkan jika gejala sesekali muncul, mereka akan menganggapnya sekadar ledakan emosional.
Obat ini jauh lebih manjur dari perkiraanku.
Begitu manjur, sampai mereka sama sekali tidak akan curiga.
"Aku sudah lihat hasil patologi kamu. Kamu baik-baik saja. Ayahmu dan kakakmu lagi bawa Halida jalan-jalan, aku mau jemput mereka sekarang."
Sekilas ekspresi Zafran sempat berubah, tapi lenyap secepat kilat.
Aku berusaha bangkit, lututku lemah tapi masih bisa menopang.
"Mungkin karena gula darah rendah. Aku baik-baik saja."
Aku membersihkan tanganku dan menatap Zafran.
"Kalau Halida sudah kembali..." ucapku dengan senyum dingin di bibir. "Aku akan memberikan vila ini padanya. Biar dia mati dengan bahagia."
Anda Mungkin Juga Suka





