APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jerat Cinta Sang CEO

Jerat Cinta Sang CEO

Pasca diusir oleh sang ayah, Emma Karina terpaksa menyepakati pernikahan kontrak dengan Ethan Marvino, seorang CEO yang menguasai bisnis di Bali. Hidup Emma pun berubah di bawah pengawasan ketat sang suami yang sangat protektif. Namun, pernikahan mereka yang penuh batasan mulai goyah ketika Emma tanpa sengaja membongkar rahasia besar yang selama ini disimpan rapat oleh Ethan. Kini, kelangsungan hubungan mereka berada di ujung tanduk setelah kebenaran terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 1

Emma Karina, seorang anak yang tinggal bersama sang ayah di kabupaten Gianyar, Bali dan hanya ayahnya yang dia punya di dunia ini. Emma baru menempuh pendidikan sebagai mahasiswa semester dua di Universitas Jaya Sakti. Emma seorang perempuan yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa pun yang dia temui. Emma mempunyai sahabat bernama Sintia. Mereka berdua bersahabat semenjak di bangku sekolah menengah atas. Emma dan Sintia selalu terbuka satu sama lain mengenai apa pun.

Emma tinggal di sebuah rumah sederhana dengan sang ayah yang suka mabuk-mabukan tanpa ada keinginan untuk bekerja. Setiap hari, Emma yang berusaha untuk bekerja paruh waktu demi untuk membiayai kesehariannya sendiri. Emma berkuliah dengan beasiswa yang dia dapatkan karena kepintarannya. Ayah Emma, Marshel, selalu saja meminta uang kepada Emma untuk membeli minuman keras. Terkadang, Emma juga mendapatkan pukulan jika sang ayah sedang marah atau karena tidak diberi uang oleh Emma.

"Mana minuman buat Papa?" tanya Marshel ketika Emma baru saja pulang dari tempat kerjanya.

"Tidak ada, Pa," jawab Emma sambil menunduk.

Satu tamparan melayang di pipi Emma. Dengan menahan perih, Emma memegangi pipinya yang memerah. Emma beranjak menuju kamarnya dan mengunci pintunya. Tubuh Emma langsung luruh jatuh ke lantai. Dia meratapi nasibnya yang terus diperlakukan tidak adil oleh ayahnya sendiri.

Emma merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang nyaman. Dia mencoba menutup matanya, supaya bisa istirahat dan menunggu pagi datang untuk menjalani aktivitasnya lagi. Setiap hari hanya seperti itu kehidupan seorang Emma.

*****

"Emma!" teriak Marshel saat dia tidak menemukan sarapan di atas meja makannya. Emma pergi pagi-pagi sekali untuk menghindari ayahnya yang setiap hari kerjaannya hanya mabuk-mabukan saja.

Emma menuju ke kampusnya dengan berjalan kaki karena dia tidak ingin membuang waktu dan uangnya untuk naik bus. Emma selalu dihadapkan dengan permasalahan keuangan karena dia harus menghidupi dirinya sendiri. Emma berpapasan dengan Ardian saat baru saja masuk gerbang kampusnya.

"Em, kamu jalan kaki?" tanya Ardian, kating kampus Emma di Universitas Jaya Sakti.

"Iya, Kak. Udah biasa juga," jawab Emma sambil tersenyum ramah.

"Nih, undangan buat kamu. Jangan lupa datang ke acara ulang tahun aku nanti malam. Sintia juga udah aku kasih undangannya." Ardian memberikan sebuah kertas undangan pada Emma.

"Sepertinya aku tidak bisa datang, Kak. Aku harus bekerja nanti malam." Emma merasa tidak enak hati karena tidak bisa memenuhi undangan dari Ardian.

"Ijin satu hari, aku akan membayar dendanya untuk itu. Bagaimana?" Ardian berusaha untuk membujuk Emma supaya datang ke acara pestanya.

"Baiklah, yang penting aku masih ada pemasukan." Emma tersenyum manis saat dirinya merasa senang karena sesuatu. Ardian terpana melihat senyuman Emma.

Ardian melajukan motornya ke tempat parkir kampus, sedangkan Emma masuk ke kelasnya dan mencari keberadaan Sintia, sahabatnya. Emma masih belum melihat Sintia di dalam kelas. Dia menempati tempat duduk di tengah kelas karena dia tidak ingin terlalu mencolok di depan dosen.

"Em, apa kamu mau datang ke pesta Kak Ardian?" Sintia yang baru saja datang, langsung menanyakan tentang undangan dari Ardian.

"Sepertinya aku nggak bisa, Sin. Aku harus bekerja nanti malam." Emma mencoba membohongi Sintia.

"Ayolah, Em. Satu hari aja berhenti bekerja. Aku akan membelikan kamu makan siang hari ini." Sintia memang sangat mengetahui keadaan keuangan Emma. Satu hari saja Emma tidak bekerja, dia tidak bisa makan keesokan harinya.

"Makan siang selama satu minggu?" tanya Emma sambil tersenyum lebar.

"Satu minggu, satu bulan juga boleh. Pokoknya kamu harus ikut ke pesta Ardian." Sintia sedikit memaksa Emma.

"Oke, setuju. Satu bulan makan siang gratis dari Sintia!" seru Emma sambil terkekeh geli.

"Nanti pulang dari kampus, kamu ikut aku ke salon." Sintia tersenyum penuh arti memikirkan akan menyulap Emma yang biasa menjadi luar biasa.

"Terserah kamu aja, Sin." Emma pasrah dengan apa yang akan dilakukan Sintia pada dirinya.

***

Emma telah selesai kuliah hari ini pada pukul  14.00 WITA. Sintia mengajak Emma makan siang terlebih dahulu di kafe depan kampus. Sintia memang berasal dari keluarga yang berada. Dia tidak pernah menjelekkan Emma yang hanya mempunyai seorang ayah yang tidak berguna. Sintia juga selalu mendukung Emma dalam hal apa pun.

"Setelah makan, kita ke butik dulu cari gaun terus ke salon. Aku mau kamu dandan yang cantik, Em. Kak Ardian pasti punya banyak teman untuk kita lirik." Sintia menyarankan suatu hal yang membuat Emma menggelengkan kepalanya.

"Itu kamu, Sintia. Aku nggak ada waktu untuk hal seperti itu." Emma tersenyum kecut.

"Emma sayang, kamu itu masih muda. Jangan terlalu sibuk dengan semua masalah hidup. Satu kali aja lepaskan semuanya dan menikmati masa-masa indah kita." Sintia memeluk Emma dari samping.

"Baiklah, hari ini aku akan mengikuti apa pun yang kamu mau." Emma akhirnya memutuskan akan mengikuti apa yang dikatakan Sintia. Dia memang sangat membutuhkan hiburan untuk semua masalah yang dihadapinya dalam hidup.

***

"Bos, sudah waktunya pergi ke pesta," ucap seorang asisten pribadi pada bosnya.

"Jam berapa pesta Ardian, Raka? Bukannya jam delapan? Ini masih jam tujuh." Ethan, sang bos yang masih sibuk dengan pekerjaannya, menatap tajam ke arah asisten pribadinya, Raka.

"Aku harus beli kado dulu, Bos. Aku lupa karena kerjaan yang kamu kasih buat aku." Raka menggerutu langsung di hadapan Ethan.

"Apa kamu mau aku potong gajinya?" Ethan berbicara dengan nada rendah.

"Maaf, Bos. Ampuni aku," ucap Raka sambil terkekeh. Raka tahu bahwa ucapan Ethan terkadang tidak bisa diganggu gugat.

"Telepon saja Pricillia untuk menyiapkan kadonya." Ethan kembali fokus pada layar di depannya. Raka keluar ruangan Ethan dan menghubungi Pricillia, sekretaris Ethan.

Ethan Mavirno, seorang CEO muda yang terkenal dingin dan sangat tegas dengan segala bentuk kecurangan. Ethan tidak pernah memaafkan orang-orang yang bersalah padanya. Dia terkenal begitu kejam. Ethan akan pergi ke pesta Ardian, adik dari Raka.

Emma dan Sintia telah sampai di tempat acara pesta Ardian yaitu hotel bintang lima di kabupaten Gianyar. Emma sedikit gugup karena Sintia telah merubahnya menjadi seperti orang lain. Emma sendiri sampai tidak percaya saat berkaca. Dia sangat berbeda dari biasanya. Sintia tersenyum bangga telah membuat Emma terlihat sempurna.

"Akhirnya kamu datang juga, Em. Aku pikir kamu tidak jadi datang." Ardian memeluk Emma untuk berterima kasih.

"Aku udah janji, Kak. Pasti aku akan tepati itu." Emma tersenyum. "Selamat ulang tahun, Kak."

"Makasih, Em. Silakan menikmati pestanya." Ardian tersenyum kagum saat melihat penampilan Emma. Sintia tahu bahwa Ardian sedikit menyukai sahabatnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant vs Crazy
9.6
Bertahan hidup di dunia nyata sangatlah berat bagi Nesta. Berbekal ijazah SMA, gadis mungil ini akhirnya mendapat angin segar saat diterima bekerja sebagai office girl di PT Taruna. Sialnya, di hari pertama kerja, ia langsung dipecat oleh atasannya yang sangat sombong. Demi mendapatkan uang halal untuk menyambung hidup, Nesta menolak tunduk. Ia pun menyiapkan rencana gila untuk menghadapi sang bos angkuh agar tetap bisa bekerja di sana.
Sampul Novel Brave Heart
8.7
Kecelakaan tragis membuat fisik Seruni Arkadewi cacat. Kemalangan tak berhenti di situ; sang kekasih berkhianat dengan sahabatnya, dan ayah tirinya tega menjualnya kepada pria tua kaya. Menolak menyerah pada nasib, Seruni memilih melarikan diri demi membuktikan bahwa ia mampu mandiri. Langkahnya ini dinilai konyol oleh Antonio Brata Kesuma, konglomerat yang sangat antipati pada kelemahan fisik. Namun, kegigihan Seruni yang menolak belas kasihan perlahan menantang pandangan Antonio.
Sampul Novel HARLEIN
9.8
Sebagai pewaris takhta Kerajaan Fortania, Harlein meyakini cinta tak mengenal kasta. Namun, Anggara Mahesa justru mundur karena merasa status sosial mereka terlalu timpang. Saat Anggara memilih menjauh demi kebaikan bersama, sang putri menuntut perjuangan yang seimbang. Kini, Harlein mulai lelah mengemis perhatian di tengah penolakan yang ada. Sanggupkah ia mempertahankan perasaannya ketika sang kekasih justru memilih untuk menyerah?
Sampul Novel Ketika Dunia Hancur, Ia Memilih Wanita Lain
8.9
Saat putri kecilnya berjuang melewati masa kritis di ICU, Calla harus menghadapi kenyataan pahit sendirian. Ares, suaminya, justru pergi demi menyambut kepulangan cinta pertamanya, Lyanna. Di kala Calla meratapi kepergian sang buah hati yang mengembuskan napas terakhir, Ares malah asyik berdansa di pesta bersama Lyanna. Kebahagiaan sesaat itu harus dibayar sangat mahal oleh Ares, karena ia telah kehilangan kepercayaan Calla serta keutuhan keluarganya untuk selamanya.
Sampul Novel Pemilik Rumah yang Cantik
9.3
Tinggal berseberangan dengan pemilik rumah yang cantik membuat hidup seorang penyewa berubah. Awalnya, wanita itu tampak dingin dan menjaga jarak. Namun, sebuah momen sederhana saat menyapu tangga mulai mencairkan suasana hingga mereka menjadi akrab. Keakraban itu membawanya mendapat undangan untuk berkunjung ke rumah sang pemilik. Keingintahuan berujung pada aksi nekat bersembunyi di dalam lemari, di mana ia menyaksikan interaksi intim antara wanita itu dan suaminya secara langsung.
Sampul Novel Perjuangan Dua Sahabat
8.2
Persahabatan erat antara dua pria kini terancam hancur akibat pesona seorang wanita. Sandi telah berusaha keras mengingatkan sahabatnya tentang bahaya yang mengintai hubungan mereka, namun peringatan tersebut sama sekali tidak dihiraukan. Terjebak dalam ego dan bara asmara, kesetiaan mereka pun benar-benar diuji. Mampukah keduanya menyelamatkan ikatan persaudaraan ini? Simak pergulatan batin dan dilema emosional yang menguji loyalitas sejati mereka.