APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jerat Cinta Chef Impoten

Jerat Cinta Chef Impoten

Di balik ketampanan dan kesempurnaan fisiknya, Bara, seorang pria berusia awal tiga puluhan, menyembunyikan rahasia besar tentang disfungsi ereksi yang mengancam harga dirinya. Namun, sebuah perubahan tak terduga pada kondisi Bara yang sebelumnya tidak berdaya berhasil mengejutkan Zoya. Akankah Bara mampu memulihkan aset masa depannya tersebut demi meraih kebahagiaan sejati? Simak perjuangan Bara melewati rintangan dan konflik asmara yang manis ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Suara berisik alat dapur sudah menjadi makanan sehari-hari seorang Chef. Wajan, spatula, merupakan alat tempurnya. Semua itu adalah rutinitas seorang, Bara Kalandra.

“Pesanan meja nomor 1 dan 4, done!” seru salah satu pelayan bernama Alvin.

Keadaan dapur masih riuh, karena waktu menunjukkan jam makan siang. Peluh yang membasahi wajah Bara, terlihat menarik hampir bagi seluruh wanita. Dengan lengan yang terlihat kokoh saat memegang alat masaknya. Membuat pria itu semakin terlihat seksi bagi kaum hawa.

Memiliki tubuh tegap, kekar dengan tinggi 180 cm, dan jangan lupa wajahnya yang turunan Jerman itu, menambah nilai tambah baginya. Akan tetapi, sampai sekarang, tidak pernah sekalipun dia terlihat menggandeng seorang wanita, kecuali sang sahabat, ibu atau kakak perempuannya.

Tidak ada yang berani bertanya langsung mengenai hal pribadi itu, karena Bara merupakan sosok yang dingin, tak tersentuh. Dia hanya bicara seperlunya, kecuali dengan ibu, kakaknya dan satu sahabatnya, Zoya Caroline.

“Lo pulang ke mana tadi malam?” tanya Zoya penasaran, begitu Bara keluar dari ruang ganti.

Zoya adalah pemilik restoran tempat Bara bekerja. Bukan hal baru bagi para staf melihat Bara dan Zoya yang lengket satu sama lain, meskipun Zoya yang paling banyak berbicara dan menempel pada pria dingin itu.

“Apartemen.” Bara menyahut seadanya.

“Gue boleh nginep di sana? Di rumah gak ada orang, males sendirian,” ucap Zoya dengan penuh harap.

“Hmm.”

Seperti itu kira-kira percakapan Zoya dan Bara sehari-hari. Bara mengenal Zoya sedari kecil, maka dari itu Bara bisa berbicara banyak dengan Zoya. Apalagi Zoya seorang yang ramah, dan sedikit bar-bar. Jauh sekali dari namanya yang sangat anggun.

***

“Tadi malem, mama lo telefon gue. Nanyain anak bujangnya yang gak pulang,” ucap Zoya begitu sampai di apartemen Bara.

“Gue males pulang.” Bara menjawab sembari terus melangkahkan kakinya ke arah kamarnya. Tidak terlalu peduli dengan pertanyaan sahabatnya itu.

“Kenapa?”

“Ujung-ujungnya disuruh nikah.”

“Ya nikah aja kalo gitu,” sahut Zoya dengan membuka seluruh pakaiannya, menyisakan bra dan celana dalamnya saja.

Mereka berdua memang sudah terbiasa seperti itu, dan tidak pernah terjadi apa-apa di keduanya. Bahkan, wajah Bara tidak menunjukkan ekspresi apa pun, datar dan lempeng.

“Gak segampang itu, Zoy!” balas Bara sedikit mengerang.

“Apa karena ... itu?” tanya Zoya hati-hati namun matanya tidak urung melihat ke area privasi Bara.

“Lo udah tau itu!”

“Lo gak ada niatan, sih,” balas Zoya, sedikit menyalahkan pria itu.

Bara merotasikan kedua bola matanya kesal dan malas secara bersamaan. “Udah lah, gue capek! Mau tidur.”

Bara pun memasuki kamarnya, membuka semua yang melekat di badannya untuk mandi, dan beristirahat. Dia begitu lelah, baik fisik dan batinnya.

Mengingat dia yang memiliki keanehan, membuat Bara mengerang frustrasi di bawah guyuran air. Sebenarnya, miliknya bisa terbangun, waktu menonton video dewasa. Akan tetapi, tak seberapa lama sudah lemas, lunglai, bahkan sebelum dia mengeluarkan hasratnya.

Dia telah periksa ke dokter beberapa kali di tempat yang berbeda, tetapi semua hasilnya menunjukkan tidak ada yang salah dan keanehan di dalam tubuhnya, alias normal dan sehat. Itu semakin membuat Bara bingung dan frustrasi memikirkan solusi untuk masa depannya.

***

“Eh! Kebangun, Bar?” sapa Zoya sedikit kaget, begitu melihat Bara keluar kamar.

Bara juga cukup terkejut melihat sahabatnya yang masih belum tidur itu. Namun, dia sangat bisa mengontrol ekspresinya. Dia hanya mengangguk singkat. “Haus.”

“Bokser udah buluk, masih lo pakek aja,” ledek Zoya yang malah fokus dengan bokser yang dipakai sahabatnya itu.

Bara memang hanya memakai bokser saat keluar dari kamarnya, karena Bara suka memakai bokser saja saat tidur. Hal itu memang sudah biasa. Bahkan, mereka hampir tela*njang, dan dilihat satu sama lain. Terlihat sangat di luar nalar, bukan? Hubungan persahabatan di antara keduanya.

“Udah terlanjur nyaman, jadi sayang,” sahut Bara acuh.

Zoya yang sudah terbiasa dengan sikap acuh sahabatnya itu. Ia hanya menghela nafas lelah. Kemudian, dia pamit untuk pergi. “Gue mau keluar bentar lagi.”

“Kemana? Udah malem juga!” Bara memicingkan matanya tajam.

“Cari duda kaya raya, atau brondong juga boleh,” jawab Zoya asal sembari memasang heels miliknya.

“Gila!” sembur Bara tanpa pikir panjang.

Zoya terkekeh geli melihat reaksi sahabatnya itu. Hingga dentingan suara bel, mengalihkan atensi mereka berdua.

“Itu pasti temen gue.” Zoya pun tersenyum lebar dan antusias. Padahal hari sudah malam.

“Jangan sering gonta-ganti pasangan, Zoy!” tegur Bara lembut.

“Habisnya lo gak mau, sih!” sahut Zoya sambi lalu. Kemudian, dia pun memutuskan segera pergi. Sebelum temannya semakin lama menunggunya.

“Dah lah! Gue bisa jaga diri, Bar! Gue berangkat dulu. Bye Bara,” pamit Zoya segera menghampiri temannya.

Bara menghela napasnya melihat kelakuan sahabatnya itu. Menjadi anak tunggal yang sering di tinggal kedua orang tuanya bekerja, membuat Zoya lepas kontrol dan kendali.

Untungnya, sampai saat ini, Zoya masih bisa Bara tangani. Masih di dalam garis batasnya. Semoga saja tidak sampai keluar, karena Bara tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.

***

Pagi-pagi buta, Bara dikejutkan oleh gedoran pintu yang brutal. Bisa dipastikan itu adalah Zoya. Entah kali ini dia datang dengan siapa? Masih dalam keadaan sadar atau malah seperti biasanya, teler.

Buru-buru Bara memakai celana training yang tergantung di pintu, dan juga kaos oblongnya. Karena, gedoran pada pintu apartemennya itu tak kunjung berhenti, sampai akhirnya, Bara membukanya.

Tepat sekali dugaannya, Zoya datang dalam keadaan mabuk, bersama temannya. Beruntung, kali ini temannya seorang wanita, dengan pakaian yang kurang lebih sama dengan yang di pakai Zoya. Baju minim bahan, yang memperlihatkan sedikit belahan dadanya, dan juga kaki jenjangnya yang mulus.

“Lo ngerepotin gue terus!” sungut Bara namun tetap memapah Zoya ke dalam salah satu kamar yang ada di apartemennya.

“Makasih, udah bawa Zoya pulang,” ucap Bara kepada teman Zoya tanpa basa-basi.

“Gak ada yang gratis di dunia ini, Tampan,” jawab wanita itu dengan mengerlingkan matanya.

Bara hanya menatap datar wanita yang katanya, teman dari sahabatnya itu. Menunggu apa yang akan dia minta darinya.

“Gimana ... kalau kita bersenang-senang?” bisiknya sensual tepat di telinga Bara. “Mumpung masih pagi dan ... keadaan sepi,” lanjutnya dengan nada sensual.

Tanpa menunggu lama, wanita itu memulai aksinya. Meniup area tengkuk Bara, dan tidak lupa tangannya mulai nakal bermain-main di perut pria itu, dan semakin terus turun ke area privasi Bara. Mengelusnya dari luar.

Bara hanya diam, bukan karena dia menikmatinya. Hanya saja, dia ingin tahu, seberapa mampunya wanita di hadapannya ini menggodanya. Tentunya sama satu hal lagi. Dia ingin menguji dirinya sendiri.

Cukup lama wanita itu menggoda Bara, namun tak ada perubahan yang pasti dengan tubuh Bara. Wanita itu pun kesal karena tak ada reaksi apa pun dari tubuh Bara. Begitu pula dengan Bara yang muak akan dirinya yang tidak berhasrat.

“Pergilah!” usir Bara membuat wanita itu mendengus tak suka.

“Brengsek!” umpat wanita itu marah.

“Lo kurang menarik minat gue!”

Lontaran kalimat yang keluar dari mulut Bara membuat wanita itu semakin kesal, merasa terhina dan berlalu pergi keluar dari unit apartemen Bara dengan cepat.

Brak!

Mendengar pintu yang tertutup kasar membuat Bara menghela napas lelah. Dia muak dengan dirinya sendiri. Dengan mengurai rambutnya ke belakang. Pria itu kembali mengerang frustrasi.

“Mau sampai kapan kamu tidur, little Bara?” monolognya dengan menatap prihatin akan aset masa depannya. Sepertinya, Bara mulai kehilangan akal sehatnya.

Lagi-lagi helaan napas panjang yang Bara keluarkan, karena dia masih harus mengurus sahabat satu-satunya itu. Eh tidak, masih ada Dion yang juga sahabat dari mereka.

Bara menggelengkan kepalanya, melihat posisi tidur Zoya yang sangat urakan. Rambut acak-acakan, kaki yang terbuka lebar memperlihatkan dalaman yang dipakai wanita itu. Belum lagi belahan dadanya yang terlihat menyembul.

“Ada untungnya juga sih, gue aneh. Kalo enggak, lo udah gue jebol sejak dulu, Zoy,” gumam Bara dan mulai membuka high heels Zoya.

Pria mana yang akan tahan, jika melihat pemandangan Zoya yang seperti sekarang dan hampir setiap hari Bara melihatnya. Kecuali, memang pria itu gay atau punya kelainan seperti Bara.

Bara membenarkan posisi tidur Zoya dan menyelimuti wanita itu hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah. Mengatur suhu AC agar tidak terlalu dingin atau pun panas. Kemudian, pria itu memutuskan hendak keluar dari kamar itu. Tetapi, suara Zoya yang terusik dari tidurnya membuat Bara cukup tersentak.

“Gue suka sama lo, Bar.”

*

*

*

Hai salam kenal saya author baru

Mohon dukungannya dan semoga kalian suka :)

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Getaran Hasrat Cinta
8.8
Clara terpaksa menjadi madam demi menggantikan sang ibu. Kehidupan kelam ini ia jalani sejak James merebut kesuciannya lewat transaksi mahal. Dipenuhi rasa benci, Clara bersumpah akan menghancurkan hidup lelaki itu sebagai balas dendam atas takdir buruknya. Namun, rencana tersebut diuji saat James kembali hadir sebagai pelanggannya. Di tengah gemerlap dunia malam, pertarungan sengit antara harga diri, dendam, dan hasrat yang membara pun tidak lagi terhindarkan.
Sampul Novel Luka Tak Terbantahkan Seorang Istri
8.6
Kehamilan kedua setelah tujuh tahun menikah harusnya jadi berkah. Namun, duniaku runtuh saat memergoki Brama, suamiku, diam-diam punya keluarga lain bersama Kania—wanita yang dulu membuatku keguguran—dan anak mereka. Kejamnya, Brama yang terhasut dusta Kania tega menyuruh orang menculikku. Tanpa sadar bahwa korban adalah istrinya sendiri, dia menyiksaku dengan keji hingga aku kembali kehilangan janin yang kukandung.
Sampul Novel Perangkap Cinta CEO
7.9
Dulu dirundung karena obesitas di SMA Woodstone Private, Aidan Orlando Caesar menyimpan luka dalam akibat jebakan Malikha Swan, gadis yang disukainya. Dua belas tahun berselang, Aidan kembali sebagai CEO tampan dengan rupa yang tak lagi dikenali. Ia bertekad menuntut balas kepada setiap orang yang pernah menyakitinya, terutama Malikha. Kini, sebuah perangkap asmara mulai ia bentangkan demi menuntaskan dendam masa lalu yang membara.
Sampul Novel SCHOOL DIARY
8.0
Dijuluki Miss Bad Luck karena asmaranya selalu berujung sial, Kana memutuskan menyerah dalam mencari cinta. Ia bertekad menutup rapat hatinya demi menghindari kemalangan yang terus berulang. Namun, pertahanan Kana goyah ketika seorang pemuda asing mendadak muncul di hadapannya. Sambil membawa martabak keju kesukaan Kana, cowok itu mengajukan kesepakatan unik: jika Kana menerima makanan tersebut, mereka berdua otomatis resmi menjadi sepasang kekasih detik itu juga.
Sampul Novel Suamiku yang Lumpuh Adalah Taipan Misterius
7.9
Lana, gadis desa yang tumbuh bersama neneknya, mendadak dibawa pulang oleh keluarga Rahayu. Bukannya disambut hangat, ia malah dipaksa menjadi pengantin pengganti bagi Saras untuk menikahi Jehan, pria lumpuh dari keluarga Sahid yang di ambang kehancuran. Demi sang nenek, Lana menerima pernikahan ini. Di malam pertama, ia dan Jehan sepakat berpisah dalam dua tahun. Namun, mampukah Lana menjaga rahasia identitasnya dari sang suami? Di saat pria lain mengejarnya, siapakah yang akan memenangkan hatinya?
Sampul Novel Takdir yang Sulit Ditempuh
8.2
Kehadiran ibu baru dan putrinya memicu kebencian mendalam dari sang kakak tiri dalam novel modern Takdir yang Sulit Ditempuh. Pria itu menganggap mereka sebagai perusak keharmonisan keluarganya. Sikap dingin, cacian kejam, hingga harapan agar adiknya mati terus dilontarkan setiap hari. Namun, saat maut benar-benar menjemput gadis itu, penyesalan hebat justru melanda dirinya. Ia menangisi perpisahan mereka dan memohon kepulangannya, meski segalanya telah terlambat karena kematian telah memisahkan mereka selamanya.