
Jebakan Bidadari Rumah Sakit
Bab 2
Dari reaksinya ini, aku tahu kalau misi ‘godaanku’ sudah mulai berhasil.
Soalnya, aku justru khawatir jika dia diam saja. Lebih baik dia diam-diam mempunyai pikiran padaku.
Lagian, aku juga tidak bisa menolak pria seganteng Marto.
Aku tidak sengaja melihat tubuhnya yang kekar dan berotot … Bagus sekali! Kayaknya dia dapat membuatku tergoyah.
Aku menelan ludah. Setelah basa-basi dengannya, aku memulai rencanaku .
“Aduh, hari ini kakiku sakit karena jalan kaki ke rumah sakit. Pakai sepatu hak tinggi memang nggak nyaman.”
Aku pura-pura ngomong sendiri, lalu melepaskan sepatu hak tinggi dan menyandarkan kakiku di atas ranjang.
Sinar matahari menerpa, di balik stoking tipis yang nyaris transparan ini terlihat sangat jelas jari-jari kaki dan betisku.
“Kau nggak keberatan, ‘kan?”
“Nggak apa-apa, kau yang lebih capek.”
Suara Marto menelan ludah terdengar sangat jelas.
Aku pun membungkuk dan berpura-pura memijat betisku.
Aku tahu dia bisa melihat payudaraku dengan jelas dari sudut pandangnya.
Napas Marto semakin berat, bahkan layar laptop di ranjangnya pun terhenti di satu gambar.
Melihat Marto yang mudah malu, aku jadi ingin menggodanya.
Kupeluk lengan Marto dengan kedua tangan dan membiarkan tubuh lembutku menempel di badannya.
Bahkan karena terlalu erat, bentuk badanku sampai berubah.
“Tubuhmu bagus sekali. Sekalipun demam, otot lenganmu masih sekuat ini,” ucapku dengan kagum.
Memang tubuhnya sangat bagus. Sentuhan otot-ototnya … bikin orang terus mengkhayal.
Aku meletakkan kakiku sedemikian rupa hingga nyaris menyentuh paha Marto untuk menciptakan kontak yang disengaja tapi terkesan tidak sengaja.
Marto merespon dengan baik terhadap perbuatanku.
Dari sudut pandangku, aku melihat Marto sengaja meggeser mousenya mendekati pahanya sendiri.
“Mousenya licin sekali.”
Sambil berbicara, Marto menggerakkan tangan kirinya ke samping mouse.
Pada detik berikutnya, kakiku terasa panas. Itu tangannya.
Aku pun pura-pura biasa saja, lalu mengusap telapak tangannya dengan jari kakiku.
Tangan besarnya menyusuri punggung kakiku dengan santai. Setiap sentuhannya terasa geli hingga aku pun menggeliat.
Saat tangannya melewati paha dan mendekati bagian intimku, aku langsung menarik kakiku.
Kebetulan sekali, stoking tipisku tersangkut pada mouse. Aku pun menariknya kuat-kuat, dan membuat stokingku robek.
Anda Mungkin Juga Suka





