APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jatuh Bangun sang Pengacara Cantik

Jatuh Bangun sang Pengacara Cantik

Setelah delapan tahun bersama, Kaivan justru ingin menyingkirkan Adeline, cinta pertamanya. Lelah bertahan selama tiga tahun penuh penderitaan, Adeline akhirnya memilih pergi dan melangkah maju. Kaivan yang angkuh mengira Adeline hanya berpura-pura dan akan memohon untuk kembali. Namun, ia justru mendapati kabar pernikahan Adeline dengan pria lain. Saat melihat Adeline bersiap melangkah ke altar, penyesalan mendalam menghantam Kaivan hingga ia memohon di hari pernikahan sang mantan.
Bab
Bagikan

Bab 7

Adeline terbangun oleh suara pintu terbuka di dini hari. Dia melihat jam beker di samping tempat tidur yang menunjukkan pukul 2.16.

Kaivan bergerak sangat pelan, seolah-olah takut membangunkan Adeline. Yang tidak dia ketahui adalah, sejak Adeline tahu dia berselingkuh, kualitas tidur Adeline menjadi sangat buruk dan dia akan terbangun hanya dengan suara sekecil apa pun.

Namun, sudah tidak ada Adeline di dalam hati Kaivan. Jadi, bagaimana mungkin dia mengetahui hal sekecil ini?

Kebetulan, Adeline tidak ingin menghadapi Kaivan sekarang. Dia pun memejamkan mata dan berpura-pura tidur.

Kaivan membuka lemari, mengambil piamanya, dan pergi mandi. Setelahnya, terdengar suara air yang berangsur-angsur menetes di kamar mandi. Tak lama kemudian, suara air itu berhenti. Pintu kamar mandi terbuka dan terdengar suara langkah kaki datang dari jauh sebelum berhenti di samping tempat tidur.

Meskipun punggungnya menghadap Kaivan, Adeline bisa merasakan Kaivan mengangkat selimut dan berbaring miring. Saat sisi lain ranjang ikut tenggelam, kamar yang gelap ini menjadi sunyi. Begitu sunyi hingga mereka bisa mendengar napas pelan satu sama lain.

Adeline tidak lagi mengantuk dan tidak berhenti menghitung domba dalam benaknya. Dulu, ketika dia tak bisa tidur di malam hari, Kaivan akan membacakan cerita untuk membujuknya tidur. Sesekali, dia juga akan bercerita tentang masa depan.

Kaivan berkata bahwa setelah bisnisnya berhasil, dia akan membawa Adeline pindah ke apartemen dengan kaca jendela yang besar, pernikahan mereka akan digelar di pinggir pantai Maldiva, dan mereka akan memiliki dua anak di masa depan. Paling bagus apabila anak mereka adalah sepasang anak laki-laki dan perempuan ....

Pada saat itu, mereka sangat miskin dan harus tidur berdesakan di ranjang kecil di ruang bawah tanah. Namun, ada banyak hal yang bisa mereka bicarakan. Tidak seperti sekarang, mereka tidak memiliki topik pembicaraan, sedangkan hati mereka juga tidak sejalan lagi meskipun mereka masih tidur di ranjang yang sama.

Jika dipikir-pikir, ini sungguh menyedihkan.

Adeline tidak tahu kapan dirinya tertidur. Ketika dia bangun, waktunya sudah hampir pukul delapan.

Mobil Adeline sedang diperbaiki sehingga dia hanya bisa naik MRT untuk pergi dan pulang bekerja selama seminggu ini. Perjalanan dari rumah ke firma hukum memakan waktu 45 menit. Biasanya, dia bangun pukul 7.20. Hari ini, entah kenapa alarmnya tidak berbunyi.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Adeline keluar dari kamar dan melihat Kaivan yang mengenakan setelan jas sedang duduk sarapan di meja makan. Dia pun tercengang. Dia tidak ingat kapan terakhir kali Kaivan sarapan di rumah.

Melihat Adeline berdiri terpaku di sana, Kaivan berinisiatif untuk berkata, "Ayo sarapan."

Di atas meja, terdapat cakwe dan susu kedelai. Ini merupakan kombinasi favorit Adeline dulu.

Setiap kali mereka bertengkar dulu, Kaivan akan bangun pagi keesokan harinya untuk membuat cakwe dan susu kedelai. Setelah itu, dia akan membangunkan Adeline untuk sarapan.

Cakwe yang dibuatnya berbeda bentuk dengan cakwe panjang yang dijual di luar. Yang dia buat semuanya berbentuk hati. Setiap kali melihat cakwe berbentuk hati itu, amarah Adeline akan langsung hilang.

Namun, sejak berselingkuh, Kaivan tidak pernah melakukannya lagi. Sebab, setelah bertengkar, dia biasanya akan membanting pintu dan meninggalkan Adeline sendirian sampai Adeline berinisiatif untuk mengajak berdamai.

Adeline mengira Kaivan sudah lama melupakan hal ini. Ternyata, Kaivan tidak melupakannya. Hanya saja, dia terlalu malas untuk menghiburnya seperti dulu.

Hal yang paling mudah berubah di dunia ini sebenarnya adalah hati manusia.

"Nggak deh, aku sudah hampir terlambat masuk kerja."

"Aku akan mengantarmu pergi seusai makan."

Adeline terdiam dan merasa ragu untuk sejenak. Kemudian, dia berbalik dan berjalan menuju ruang makan. Begitu dia duduk, Kaivan meletakkan cakwe berbentuk hati di piringnya.

"Sudah lama aku nggak membuatnya. Cobalah dan lihat apa keterampilan memasakku menurun atau nggak."

Adeline menunduk dan menatap cakwe di piringnya sejenak sebelum mengambil dan menggigitnya. Cakwe itu terasa lembut dan rasanya masih sama. Hanya saja, karena pola makannya yang tidak teratur selama beberapa tahun terakhir, lambungnya menjadi lemah. Makanan seperti ini terlalu berminyak untuknya.

Melihat Adeline meletakkan cakwe itu setelah hanya satu gigitan, Kaivan pun mengerutkan kening. "Rasanya aneh, ya?"

Adeline menggeleng. "Nggak, enak kok. Tapi, aku nggak suka makan makanan yang berminyak lagi sekarang."

Tangan Kaivan yang memegang garpu mengerat dan seluruh ruang makan menjadi hening. Setelah beberapa saat, dia meletakkan garpunya.

"Jangan makan kalau terlalu berminyak. Aku akan antar kamu ke kantor dan belikan sedikit makanan untukmu dalam perjalanan nanti."

"Oke."

Baru saja mereka tiba di tempat parkir bawah tanah, ponsel Kaivan mulai berdering. Dia menolak panggilan itu beberapa kali, tetapi orang yang menelepon sangat gigih dan tidak berhenti menelepon. Adeline bahkan tidak perlu melihat untuk tahu bahwa itu adalah Lesya.

"Angkatlah, mungkin ada sesuatu yang mendesak."

Kaivan menoleh untuk melirik Adeline dan mengerutkan kening. Namun, Adeline tidak menatapnya, melainkan hanya menunduk menatap ujung sepatunya.

Ponsel masih berdering dan Kaivan akhirnya menjawabnya.

Terdengar isak tangis pelan dan suara perempuan yang terputus-putus dari ujung telepon, tetapi Adeline tidak mendengarnya dengan jelas. Namun, setelah mengakhiri panggilan telepon, raut wajah Kaivan menjadi jauh lebih buruk.

"Sudah terjadi sesuatu pada Lesya. Kamu naik taksi saja sendiri. Aku nggak mengantarmu lagi."

Setelah mengatakan itu dan tanpa menunggu Adeline menjawab, Kaivan berjalan cepat menuju mobilnya. Baginya, Adeline yang memakan cakwe buatannya pagi ini setara dengan sudah memaafkan perkataannya semalam. Wajar saja dia tidak ingin lanjut membuang-buang waktu untuk Adeline.

Melihat punggung Kaivan yang menghilang dengan cepat dari pandangan, di luar dugaan, Adeline malah merasa tenang. Ternyata ketika seseorang sudah tidak menaruh ekspektasi terhadap orang lain, dia tidak akan merasa terlalu sedih.

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.16 ketika taksi yang ditumpangi Adeline tiba di lantai bawah firma hukum. Begitu melangkah masuk, Adeline menyadari rekan-rekannya menatapnya dengan iba. Mungkin karena mereka semua tahu apa yang terjadi di restoran semalam.

Adeline menunduk dan berjalan ke meja kerjanya tanpa ekspresi. Kemudian, dia duduk dan mulai bekerja. Tepat setelah memproses sebuah berkas, ponselnya berbunyi dan Carissa mengirimkan sebuah foto. Tepatnya, itu adalah foto Kaivan yang sedang duduk di samping tempat tidur dan menyuapi Lesya makan bubur.

Meskipun foto itu hanya menunjukkan samping wajah Kaivan, dapat dilihat bahwa dia sedang tersenyum dan menatap Lesya dengan penuh kasih sayang. Lesya juga menatapnya dan cinta di matanya hampir meluap. Cahaya matahari dari jendela menyinari mereka sehingga suasananya terlihat hangat dan harmonis.

Kaivan tidak punya waktu untuk mengantar Adeline ke tempat kerja, tetapi punya waktu untuk pergi ke rumah sakit demi menemani wanita lain dan menyuapinya bubur. Sebenarnya, mudah untuk mengetahui apakah Kaivan mencintai seseorang atau tidak. Hanya saja, Adeline selalu menolak untuk mengakuinya dan memilih untuk mempertahankan kedamaian seperti ini.

Jari-jari Adeline yang memegang ponsel mengerat. Setelah waktu yang cukup lama, dia baru membalas pesan Carissa.

[ Pengambilan fotonya bagus juga. ]

Layar menunjukkan bahwa Carissa mengetik cukup lama, tetapi akhirnya hanya mengirim elipsis.

Adeline tidak membalas lagi. Dia membalikkan ponselnya di atas meja dan mulai bekerja. Saat hendak menulis materi, rekan kerja di meja sebelahnya tiba-tiba berseru, "Bu Adeline, cepat lihat X!"

Gerakan Adeline yang sedang mengetik di keyboard terhenti sejenak. Dia menoleh dan bertanya, "Ada apa?"

Rekan kerja itu terlihat agak serbasalah. Dia menjawab, "Kamu akan tahu begitu melihatnya."

Adeline mengambil ponselnya, lalu membuka X. Pencarian populer yang menduduki peringkat pertama pun muncul di layarnya.

[ Romansa Presdir Nusa Tech ]

Setelah mengklik tautan itu, yang keluar adalah foto Kaivan yang sedang menyuapi Lesya makan bubur, seperti yang baru saja dikirim Carissa. Komentar-komentar di bawahnya penuh dengan ucapan selamat.

[ Perpaduan pria tampan dan wanita cantik sungguh memanjakan mata! ]

[ Gadis itu sekretarisnya Pak Kaivan. Hubungan mereka benar-benar mirip novel presdir mendominasi yang jatuh cinta pada orang awam! ]

[ Kapan cinta semanis ini akan datang padaku? Aku juga butuh presdir mendominasi untuk menyuapiku makan bubur waktu aku sakit! ]

...

Sangat jelas bahwa semua orang mengira Lesya adalah pacar Kaivan.

Kaivan tidak pernah mempublikasikan hubungannya dengan Adeline ke dunia luar. Selama beberapa tahun terakhir, selain teman-teman dekat Kaivan, hanya sedikit orang yang tahu bahwa mereka bersama. Jadi, di mata orang lain, dia selalu adalah seorang pria lajang ideal.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ngaku-ngaku Jadi Istri Konglomerat
9.5
Tekanan sosial untuk segera berpasangan membuat Kejora Salsabila, seorang wanita karier berusia 27 tahun, merasa sangat terbebani. Akibat terlalu fokus bekerja, kehidupan pribadinya terabaikan hingga ia terperosok ke dalam masalah rumit. Di tengah keputusasaan tersebut, Kejora mengambil keputusan nekat demi jalan pintas. Kini, ia berjuang keras mencari seseorang yang dapat menyelamatkannya dari keterpurukan dan membantunya menata kembali hidupnya.
Sampul Novel Nona Kesayangan Dua Pria Tampan
9.4
Demi menggagalkan pernikahan paksa dengan Arash, pria yang amat dibencinya, Elma mengambil langkah ekstrem. Ia merelakan kesuciannya kepada Kai demi menghindari takdir kelam tersebut. Namun, keputusan nekat itu justru menyeret Elma ke dalam pusaran konflik yang lebih rumit. Hubungan rahasia dengan Kai menciptakan dilema cinta segitiga yang membara di antara mereka bertiga. Siapakah pria yang akhirnya akan dipilih Elma sebagai pendamping hidupnya?
Sampul Novel Perihnya Jalan Taubatku
7.8
Karier gemilang Bramasta sebagai gitaris band ternama hancur seketika akibat jeratan kasus narkoba yang menjebloskannya ke penjara. Di tengah keterpurukan itu, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa istri tercintanya, Widi, bersama sang mertua, Hartono, adalah pihak yang melaporkannya ke polisi. Setelah bebas, Bramasta kini menghadapi perjuangan berat untuk membangun kembali kejayaannya yang sirna sekaligus merebut kembali kepercayaan dari keluarganya.
Sampul Novel Titik Noda
8.9
Kehancuran rumah tangga dimulai saat suami mengaku khilaf atas pengkhianatannya. Hati sang istri hancur karena sosok yang mereka bantu biayai sekolahnya justru menjadi perusak pernikahan mereka. Niat tulus mengangkat derajat orang lain malah berbuah penderitaan mendalam. Terinspirasi dari kisah nyata, novel ini menyoroti hukum tabur tuai yang nyata terjadi. Mampukah sang istri menemukan hikmah di balik ujian berat yang kini meremukkan mahligai pernikahannya?
Sampul Novel Waktu Tak Bisa Menjaga Cinta
8.3
Sepuluh tahun menjalin hubungan, aku selalu dikesampingkan oleh Rama demi Sinta. Mulai dari merawat ibunya saat aku sendiri demam, menghadapi tekanan kerja sendirian, hingga momen paling hancur saat ibuku berpulang—Rama justru memilih mendampingi Sinta di hari kelulusannya dengan ponsel yang sengaja dimatikan. Batas sabarku habis dan aku memutuskan untuk pergi. Namun, setelah pengorbananku selesai, Rama justru menangis dan memohon kesempatan kedua yang tidak akan pernah sama lagi.
Sampul Novel Wanita Pilihan Suamiku
9.4
Kehidupan Aliyah runtuh setelah kecelakaan tragis merenggut calon bayinya hingga keguguran. Saat berjuang memulihkan luka fisik dan batinnya, ia justru dihadapkan pada kenyataan pahit dari masa lalu Arif. Kehadiran seorang wanita yang mengklaim suaminya sebagai ayah dari anaknya mengguncang pernikahan mereka. Kini, Aliyah didera kebimbangan besar. Haruskah ia bertahan demi mahligai rumah tangganya, atau memilih pergi melangkah pergi meninggalkan semuanya?