APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jangan Pernah Mengkhianatiku

Jangan Pernah Mengkhianatiku

Arvella Siregar kabur dari kekejaman Rivan, suaminya, lalu tersesat di hutan hingga diselamatkan oleh Kael Mahendra yang misterius. Di sana, ia bergabung dengan kelompok ahli untuk belajar bertahan hidup dan melatih ketangguhannya. Arvella akhirnya menemukan fakta bahwa kematian orang tuanya merupakan konspirasi jahat, bukan kecelakaan biasa. Bersama Kael, ia bersiap keluar dari hutan untuk menuntut balas sekaligus mengungkap asal-usulnya meski nyawa taruhannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Arvella terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di seluruh tubuhnya. Tubuhnya lelah, baju lusuh menempel pada kulitnya yang berjerawat dan berdarah di beberapa bagian. Suara hujan yang menimpa daun-daun hutan terdengar begitu keras, namun itu lebih ringan dibandingkan suara hatinya yang berdegup kencang karena ketakutan. Malam itu, ia lari dari rumah yang dulu menjadi tempat ia merasa aman, tapi kini hanyalah penjara yang menelan nyawanya sedikit demi sedikit.

Rivan-suaminya-telah membuat hidupnya menderita selama bertahun-tahun. Tidak ada yang tersisa dari rasa aman atau cinta dalam rumah itu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu seperti cambuk, setiap tatapan adalah hukuman, dan setiap sentuhan hanyalah pengingat bahwa ia hanyalah boneka dalam kehidupan orang lain. Arvella masih ingat malam itu: hujan deras mengguyur kota, Rivan mabuk dan marah karena cemburu, dan ia menerima pukulan yang membuat ia terkapar di lantai dingin rumah mewah yang kini terasa seperti kuburan.

Ia tidak bisa menahan lagi. Tubuhnya gemetar saat ia memutuskan untuk kabur. Dalam kegelapan malam, Arvella berlari tanpa arah, sepatu yang basah membuatnya tergelincir di jalanan licin, tapi rasa takut dan kemarahannya lebih besar daripada rasa sakit. Ia tidak peduli jika hujan membasahi tubuhnya, jika darah mengalir dari luka-lukanya, yang penting ia harus keluar dari belenggu yang mengekangnya.

Hutan belantara itu muncul tiba-tiba di pinggiran kota. Ia tidak pernah menyangka akan berakhir di sini-tempat asing, sunyi, dan penuh rahasia. Pepohonan tinggi menjulang seperti tembok alam yang menutupinya dari dunia yang kejam itu. Aroma tanah basah dan daun yang membusuk menguar di udara, bercampur dengan aroma hujan. Setiap langkah membawa luka baru, tapi rasa lega sesaat mengalir dalam dadanya karena ia berhasil lepas dari Rivan.

Arvella jatuh di bawah pohon besar, terengah-engah. Matanya menatap gelapnya hutan yang semakin pekat. "Aku harus bertahan... aku harus kuat..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan dan angin. Namun, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk bergerak lagi. Ia menutup mata, berharap semoga esok hari ia masih bisa bangun.

Suara ranting patah terdengar dari kejauhan. Arvella tersentak, langsung meraba-raba benda tajam untuk bertahan. Namun, siapa pun itu, ia tidak bisa melihat dengan jelas. Dari balik bayangan pepohonan, seorang lelaki muncul. Tinggi, tegap, dengan tatapan tajam yang seakan menembus kegelapan. Tubuhnya berotot, dan gerakannya luwes, seolah ia memang milik hutan ini. Lelaki itu berhenti beberapa langkah dari Arvella, menatapnya dengan campuran rasa ingin tahu dan kehati-hatian.

"Tenang... aku tidak akan menyakitimu," ucap lelaki itu pelan, tapi cukup jelas terdengar di telinga Arvella.

Arvella menelan ludah, tubuhnya menegang. "Si... siapa kamu?" suaranya serak, hampir pecah.

Lelaki itu tersenyum tipis, sedikit aneh tapi menenangkan. "Namaku Kael. Kamu... kenapa ada di sini sendirian?"

"Aku... aku kabur... dari rumahku," jawab Arvella, suaranya nyaris berbisik. Ia merasa malu, meneteskan air mata tanpa sadar. "Aku... disiksa... suamiku..."

Kael menatapnya dengan serius, lalu melangkah lebih dekat. Namun, ia tetap menjaga jarak. "Kamu tidak bisa tinggal di sini sendirian. Malam ini dingin, dan hutan ini... tidak ramah bagi yang lemah."

Arvella menahan napasnya. Ada rasa takut bercampur rasa lega. Ia tidak tahu apakah bisa mempercayai orang ini, tapi sesuatu dalam tatapan Kael membuat hatinya sedikit tenang. Ia pun mengangguk perlahan. Kael mengangkat alisnya, kemudian menarikkan tangan untuk membantu Arvella berdiri. Meski tubuhnya lemah, Arvella mencoba berdiri dengan bantuan lelaki itu.

Mereka berjalan melalui pepohonan yang basah, akar yang menonjol, dan tanah licin yang membuat langkah mereka susah. Kael memandu Arvella dengan hati-hati, menenangkan setiap langkahnya. Suara hujan mulai mereda saat mereka masuk lebih dalam ke hutan. Di tengah gelap, Kael menyalakan api kecil menggunakan alat yang ia bawa. Api itu hangat, membuat tubuh Arvella sedikit menggigil lega.

"Malam ini kamu aman," kata Kael, menatap Arvella. "Besok, kita akan mencari tempat yang lebih aman. Tapi sekarang, kamu perlu istirahat. Tubuhmu terlalu lelah."

Arvella menatap api yang menari-nari, menghangatkan tubuhnya yang dingin. "Terima kasih... Kael..." suara itu hampir berbisik, tapi terasa penuh rasa syukur. Ia merasakan sesuatu yang aneh-untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa aman.

Hari-hari berikutnya di hutan menjadi pelajaran keras bagi Arvella. Kael mengajarinya cara bertahan hidup: memanfaatkan alam, mencari makanan, membuat jebakan sederhana untuk menangkap hewan kecil, dan memahami tanda-tanda alam. Arvella belajar lebih cepat dari yang ia kira, meski tubuhnya masih sering lelah. Setiap luka yang sembuh adalah bukti kekuatan barunya, setiap napas yang berhasil diambil adalah kemenangan kecil atas trauma masa lalunya.

Tidak hanya itu, Arvella juga mulai mengenal Kael lebih dalam. Lelaki itu pendiam, namun bijaksana. Ia tidak banyak bicara tentang masa lalunya, tapi caranya melindungi dan menuntun Arvella membuat hatinya perlahan terbuka. Ia mulai merasakan perasaan yang aneh-perasaan yang selama ini asing baginya, karena semua hubungannya sebelumnya hanyalah penderitaan dan pengkhianatan.

Suatu sore, ketika mereka duduk di tepi sungai kecil, Arvella menatap wajah Kael yang terpancar cahaya senja. "Kael... kenapa kamu menolongku?" tanyanya, suaranya lembut.

Kael tersenyum tipis, menatap arus sungai. "Karena aku melihat kamu... berbeda. Ada sesuatu dalam dirimu yang tidak boleh hilang begitu saja. Kamu... kuat, Arvella. Hanya saja kamu belum percaya pada dirimu sendiri."

Arvella menelan ludah, mencoba menyembunyikan rasa haru. Kata-kata itu seolah menyalakan api kecil di hatinya, api yang selama ini terkubur oleh penderitaan. Ia ingin mempercayai Kael, ingin belajar dari lelaki ini, ingin menjadi tangguh-bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk menghadapi dunia yang menunggu di luar hutan.

Waktu terus berjalan, dan Arvella mulai mengenali hutan sebagai rumah sementara. Ia belajar membaca jejak binatang, memanfaatkan buah-buahan liar, bahkan belajar menahan rasa lapar dan dingin. Namun, di balik semua pembelajaran itu, pikirannya tidak pernah jauh dari masa lalunya. Bayangan Rivan, malam-malam penuh teror, dan luka yang masih terasa setiap kali ia mengingat rumah itu selalu menghantui.

Tapi ada sesuatu yang berubah dalam dirinya: rasa takut itu mulai digantikan oleh kemarahan yang membara. Kemarahan yang ia simpan selama bertahun-tahun kini menjadi bahan bakar untuk bertahan hidup. Ia ingin mencari jawaban-mengapa semua ini terjadi? Mengapa keluarganya hancur begitu saja? Dan siapa sebenarnya yang bertanggung jawab?

Sementara itu, Kael tetap berada di sisinya, menjadi teman, pelindung, dan tanpa disadari, seseorang yang perlahan mencuri hatinya. Arvella merasa campur aduk: takut kehilangan lelaki ini, takut menghadapi dunia luar, tapi juga merasa ada kekuatan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri.

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang menembus celah-celah pepohonan, Arvella menatap langit gelap dan berbisik pada dirinya sendiri, "Aku akan bertahan... Aku akan menjadi kuat... dan suatu hari, aku akan menemukan kebenaran. Siapa pun yang membuat hidupku hancur... mereka akan menanggung akibatnya."

Hutan belantara mungkin adalah tempat persembunyian yang keras, tapi bagi Arvella, ini adalah awal dari perjalanan panjangnya. Perjalanan untuk menemukan dirinya sendiri, menghadapi trauma yang menahan langkahnya, dan bersiap untuk menghadapi dunia yang penuh tipu daya dan bahaya di luar sana. Bersama Kael, ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya fisik, tapi juga hati dan tekad yang tidak mudah dipatahkan.

Arvella menutup mata malam itu dengan perasaan yang aneh: takut, tapi juga penuh harapan. Ia tidak tahu apa yang menunggu esok hari, tapi satu hal yang pasti-ia tidak akan membiarkan dirinya hancur lagi. Kali ini, ia akan menulis nasibnya sendiri, meski harus melewati jalan yang penuh duri dan kegelapan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel Berpura-pura Amnesia Membuatnya Kehilangan Segalanya
8.1
Pasangan beta-ku, Kyan, mendadak hilang ingatan usai diserang serigala liar. Dia melupakan kehamilanku dan justru berpaling pada Gamma Evelyn. Setelah dihina sebagai kasta rendah, aku memutuskan ikatan kami. Namun, saat aku bersiap mendampingi Raja Alpha, Kyan kembali dengan penyesalan mendalam dan menanyakan anak kami. Dengan dingin, aku menegaskan janin itu telah tiada lalu pergi memulai hidup baru.
Sampul Novel Dikhianati oleh Alpha-ku, Bangkit sebagai Luna
9.7
Bertahun-tahun mengabdi pada sang Alpha, aku justru dikhianati demi ambisi kekuasaannya dengan wanita lain. Darahku ditumbalkan untuk ritual politik, lalu ia menolakku dengan kejam di depan seluruh kawanan. Usai difitnah dan disiksa, aku menolak jadi simpanannya dan memilih kabur. Kini, aku telah bangkit menjadi Luna bagi Alpha sejati. Namun, obsesi mantan pasanganku belum usai; ia kembali menjebakku dan berbisik dingin memaksaku untuk pulang bersamanya.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Niat Laras menyelamatkan diri dari rumah justru berujung petaka ketika ia dan ketiga anaknya diculik sopir travel. Di tempat penyekapan yang kejam, ia harus kehilangan salah satu buah hatinya. Tragedi memilukan ini menyalut dendam mendalam, memicu tekadnya membongkar dalang serta motif di balik aksi keji ini. Kini, Laras harus berjuang demi menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa sekaligus meloloskan diri dari ancaman maut yang mengintai.
Sampul Novel Keturunan Terakhir!
9.5
Zha, pemimpin mafia Legion Of Death berjuluk Gadis Pecinta Asap, bertekad membalas kematian ayahnya dengan memburu sisa keturunan Klan Jangkar Perak. Berbekal petunjuk tato jangkar, misinya berubah drastis setelah sebuah peluru mengungkap adanya chip manipulasi di tubuhnya sejak bayi. Begitu chip itu dilepas, tato jangkar justru muncul di kulitnya. Zha kini menghadapi kenyataan pahit tentang siapa pewaris sejati yang dicarinya.
Sampul Novel Omega-nya yang Terbuang, Kehancuran Raja Alpha
9.1
Lima belas tahun mendampingi Baskara Adijaya, sang Alpha mematikan, hancur begitu saja saat aku menyadari pengkhianatannya. Aroma wanita lain dan pesan vulgar dari asistennya, Jasmine, membongkar perselingkuhan mereka. Akibat ikatan yang tercemar, kondisi 'Penolakan Jiwa' menyerangku, diperparah klaim kehamilan Jasmine. Kini, aku melepaskan peran sebagai penenang monster di dalam dirinya. Tanpa menuntut harta, aku memilih bebas dan bersiap meruntuhkan dunianya.