APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jangan Cintai Bosmu!

Jangan Cintai Bosmu!

Insiden tumpahan iced latte pada jas Arga Narendra Wijaya menjadi awal petaka bagi Naura, staf pemasaran di Jakarta. Arga yang angkuh ternyata CEO barunya, dan ia sengaja menekan Naura dengan menyuruhnya mencuci jas tersebut demi menunjukkan kuasa. Enggan tunduk begitu saja, Naura memilih melawan. Di tengah benturan ego mereka, misteri masa lalu kelam sang bos perlahan terkuak. Kini, Naura dilematis antara menjaga harga dirinya atau menyingkap tabir rahasia Arga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Siang itu, matahari bersinar terik, seolah ikut memanaskan suasana di dalam gedung PT Adhi Jaya Gemilang. Setelah insiden di aula, Naura kembali ke mejanya dengan perasaan campur aduk. Ia masih memegang jas Arga, yang kini menjadi simbol pembalasan dendam bos barunya. Karyawan lain sesekali meliriknya dengan tatapan ingin tahu, beberapa bahkan berbisik-bisik, membuat Naura semakin merasa tidak nyaman. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya, namun pikirannya terus melayang pada Arga dan jas kotornya.

Sementara itu, di lantai eksekutif, Arga Narendra Wijaya duduk di balik meja kerjanya yang luas, menghadap jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Jemarinya sibuk mengetik di layar laptop, menyelesaikan beberapa urusan penting yang tertunda. Namun, konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka perlahan.

Seorang wanita berambut panjang dengan gaun ketat berwarna merah menyala melangkah masuk. Luna namanya, sekretaris pribadi Arga yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris Pak Wijaya. Pakaiannya yang minim dan potongan rendah di bagian dada sengaja ia kenakan untuk menonjolkan lekuk tubuhnya. Rok mininya yang ketat memperlihatkan kaki jenjangnya, dan setiap langkahnya terasa seperti sebuah tarian menggoda. Di tangannya, segepok dokumen terjepit erat.

"Permisi, Pak Arga," sapa Luna dengan suara yang dibuat-buat manja. Ia berjalan mendekat ke meja kerja Arga, pinggulnya bergoyang sensual. "Saya membawa beberapa dokumen penting yang perlu Bapak tanda tangani."

Arga meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada layar laptopnya. "Letakkan saja di sana, Luna."

Luna tersenyum tipis. Ia menata dokumen di atas meja Arga, namun tangannya sengaja menyentuh punggung tangan Arga saat meletakkan pena. "Ini dokumen-dokumen penting, Pak. Bapak harus membacanya dengan teliti."

Arga menarik tangannya dengan cepat, merasa risih. Ia mendongak, menatap Luna dengan tatapan datar. "Saya tahu, Luna. Saya akan membacanya. Ada lagi?"

Luna tidak menyerah. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping kursi Arga, begitu dekat hingga Arga bisa merasakan aroma parfumnya yang menyengat. Jarak sedekat itu membuat payudaranya yang menyembul dari balik gaun merahnya semakin terlihat jelas. Dengan berani, Luna mengusap lengan Arga pelan, seolah sedang membersihkan sesuatu.

"Bagaimana kalau kita makan siang bersama, Pak? Di kantin karyawan sudah ada makanan favorit Bapak, lho," goda Luna, suaranya kini terdengar seperti bisikan di telinga Arga. "Saya bisa menemani Bapak, sekalian kita bisa membicarakan beberapa hal penting tentang jadwal Bapak sore ini."

Arga menghela napas panjang. Matanya menatap Luna dengan pandangan jijik yang tak bisa ia sembunyikan. Ia tidak suka dengan wanita yang terlalu agresif, apalagi yang mencoba memanfaatkan posisi untuk menggodanya seperti ini. Ia merasa tidak nyaman dan risih dengan sentuhan Luna.

"Saya tidak lapar, Luna," kata Arga dingin. "Dan saya tidak butuh ditemani. Silakan Anda keluar dari ruangan saya sekarang juga. Saya banyak pekerjaan."

Wajah Luna langsung berubah masam. Senyum manisnya menghilang digantikan cemberut. Ia menarik tangannya dari lengan Arga, merasa harga dirinya tercoreng. Ia sudah berusaha keras untuk mendapatkan perhatian Arga, bahkan sejak Arga masih sering berkunjung ke kantor ayahnya. Namun, Arga selalu menolaknya mentah-mentah.

"Baik, Pak," jawab Luna sinis. Ia membalikkan badan dengan hentakan kaki yang cukup keras, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah yang penuh kekesalan. Pintu ruangan Arga ia tutup dengan sedikit membanting.

Arga mengusap wajahnya. Ia tidak mengerti mengapa Pak Wijaya membiarkan Luna menjadi sekretaris pribadinya selama ini. Ia merasa tidak nyaman bekerja dengan seseorang yang perilakunya seperti Luna. Arga meraih telepon interkomnya dan menekan salah satu tombol.

"Tolong sambungkan saya dengan bagian HRD," perintah Arga tanpa basa-basi.

Tak lama kemudian, sebuah suara menjawab dari seberang. "Baik, Pak Arga. Ada yang bisa kami bantu?"

"Katakan pada kepala HRD untuk datang ke ruangan saya sekarang juga," ujar Arga.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Arga diketuk pelan. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, Pak Anwar, kepala HRD perusahaan, masuk ke dalam ruangan. Ia terlihat sedikit gugup, mengingat ini adalah kali pertama ia dipanggil langsung oleh CEO baru.

"Ada apa, Pak Arga? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Anwar sopan.

Arga menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah, Pak Anwar. Saya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."

Pak Anwar duduk, menunggu instruksi dari Arga.

"Begini, Pak Anwar," Arga memulai, suaranya tenang namun tegas. "Saya ingin Anda segera mengganti posisi sekretaris saya."

Pak Anwar sedikit terkejut. "Maaf, Pak Arga? Maksud Bapak... Luna?"

"Betul. Saya tidak suka dengan cara kerjanya," jawab Arga singkat. Ia tidak ingin menjelaskan detail tentang perilaku Luna yang menggodanya. "Saya ingin Anda mencari pengganti yang lebih profesional. Dan saya sudah punya kandidatnya."

Pak Anwar mengerutkan keningnya. "Oh ya? Siapa, Pak Arga?"

Arga terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan sedikit keraguan. Ia sebenarnya tidak terlalu mengingat nama lengkap wanita yang ia tabrak tadi pagi. Namun, ia tahu ia tidak ingin Luna berada di dekatnya. Dan wanita yang berani melawannya tadi pagi... setidaknya ia punya nyali.

"Dia... wanita yang tadi pagi ada di aula, yang memakai kemeja putih," kata Arga, berusaha mengingat detail. "Sepertinya dia dari tim keuangan. Dia... kepala tim keuangan, kalau tidak salah."

Pak Anwar mencoba mengingat-ingat. "Maksud Bapak... Naura? Naura Fitriani, kepala tim keuangan?"

Arga menjentikkan jarinya. "Nah, itu dia! Ya, mungkin Naura. Saya ingin dia menjadi sekretaris saya mulai sekarang."

Pak Anwar terdiam, kaget dengan permintaan Arga. Naura adalah salah satu karyawan berprestasi di tim keuangan, dan memindahkannya ke posisi sekretaris... itu adalah perubahan yang cukup signifikan.

"Tapi, Pak Arga... bukankah Naura adalah kepala tim keuangan? Dia sangat berdedikasi di posisinya sekarang," Pak Anwar mencoba memberikan pertimbangan. "Lagipula, jika Pak Wijaya tahu tentang ini, bagaimana?"

Arga menyilangkan tangannya di dada. Matanya menatap Pak Anwar tajam. "Itu menjadi urusan saya, Pak Anwar. Saya akan bicara dengan Papah nanti. Saya tidak peduli. Saya ingin wanita itu, Naura, menjadi sekretaris saya. Sekarang juga."

Nada suara Arga tidak mengizinkan bantahan. Pak Anwar mengerti bahwa Arga tidak akan mengubah keputusannya. Ia hanya bisa mengangguk pasrah.

"Baik, Pak Arga. Saya akan segera mengurusnya."

"Bagus. Pastikan dia mulai bekerja sebagai sekretaris saya secepatnya," tegas Arga.

Setelah keluar dari ruangan Arga, Pak Anwar segera kembali ke departemen HRD dengan langkah berat. Ia tahu Naura adalah karyawan yang berdedikasi, dan memindahkannya dari posisi kepala tim keuangan ke sekretaris adalah sebuah penurunan yang mungkin tidak akan diterimanya dengan mudah. Tapi perintah Arga mutlak.

Pak Anwar memanggil Naura ke ruangannya. Naura, yang masih kesal dengan insiden jas Arga, datang dengan ekspresi datar. Ia sudah menduga akan dipanggil karena masalah jas kotor itu.

"Ada apa, Pak Anwar?" tanya Naura tanpa basa-basi.

Pak Anwar menghela napas. "Duduklah dulu, Naura. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."

Naura duduk, menunggu dengan tidak sabar.

"Begini, Naura... Bapak Arga baru saja membuat keputusan. Beliau ingin Anda dipindahkan posisinya."

Naura mengerutkan kening. "Dipindahkan? Ke mana, Pak? Apakah ada proyek baru di tim keuangan?"

"Bukan, Naura," kata Pak Anwar hati-hati. "Bapak Arga ingin Anda menempati posisi sekretaris pribadinya. Menggantikan Luna."

Mendengar itu, mata Naura langsung membelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sekretaris pribadi Arga? Setelah semua yang terjadi tadi pagi? Ini pasti pembalasan dendam!

"Apa?! Sekretaris?!" Naura berseru, suaranya meninggi. "Pak Anwar, saya ini kepala tim keuangan! Saya punya posisi yang jelas dan saya menyukai pekerjaan saya! Saya tidak mau jadi sekretaris! Apa ini karena masalah jas itu, Pak? Apakah dia sengaja membalas dendam kepada saya?!"

Pak Anwar terlihat tidak enak. "Bapak Arga tidak menjelaskan alasannya secara detail, Naura. Tapi beliau bersikeras ingin Anda yang menjadi sekretarisnya. Saya sudah mencoba berbicara, tapi beliau sudah memutuskan."

"Ini tidak adil, Pak!" Naura berdiri dari kursinya. "Hanya karena saya menumpahkan kopi ke jasnya, dia langsung memindahkan posisi saya? Ini namanya penyalahgunaan kekuasaan!"

"Naura, tenanglah," Pak Anwar mencoba menenangkan. "Saya tahu ini berat untukmu. Tapi ini adalah perintah langsung dari CEO baru. Mungkin lebih baik jika kamu bicarakan langsung dengan Bapak Arga. Jelaskan padanya keberatanmu."

Naura mengepalkan tangannya. Nafasnya memburu. Marah, kesal, dan merasa tidak dihargai. Ia tidak akan tinggal diam. Ia harus melawan keputusan sepihak ini.

"Baik, Pak Anwar!" Naura berkata dengan nada tajam. "Saya akan bicara dengannya! Saya tidak akan membiarkan dia memperlakukan saya seperti ini!"

Tanpa menunggu balasan dari Pak Anwar, Naura langsung berbalik dan berjalan cepat menuju lift. Jantungnya berdebar kencang, amarah membakar dadanya. Ia tidak peduli Arga itu CEO atau bukan, ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak begitu saja.

Sesampainya di lantai eksekutif, Naura melangkah cepat menuju ruangan Arga. Ia tidak mengetuk, langsung saja membuka pintu dengan sedikit keras, membuat suara gedebuk yang cukup nyaring.

Arga yang sedang fokus mengetik di laptopnya, sedikit terkejut. Ia mengangkat kepalanya, matanya menatap Naura dengan datar.

Naura masuk ke dalam ruangan, berdiri di hadapan meja Arga. Wajahnya merah padam karena amarah. Tanpa ragu, ia menggebrak meja Arga dengan telapak tangannya.

"Bapak!" teriak Naura, suaranya bergetar. "Kenapa Bapak memindahkan posisi saya menjadi sekretaris?! Apa salah saya?! Jangan hanya karena masalah jas yang ketumpahan kopi, lalu Bapak seenaknya saja membalas dendam seperti ini!"

Arga menatap Naura dengan pandangan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh ledakan emosi Naura. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.

"Saya tidak suka dengan sekretaris yang suka menggoda bosnya seperti Luna," jawab Arga datar, suaranya tenang, namun penuh otoritas. "Dan saya butuh seseorang yang bisa bekerja secara profesional, tidak mengandalkan penampilan atau rayuan murahan."

Naura semakin kesal. "Kenapa Bapak tidak suka?! Bukankah kebanyakan lelaki suka dengan wanita seksi dan menggoda?! Bapak ini aneh!"

Arga menyeringai tipis, pandangan matanya tetap tajam. "Saya bukan seperti lelaki lain. Saya mencari kompetensi, bukan daya tarik fisik. Dan saya sudah memutuskan. Anda akan menjadi sekretaris saya."

"Saya tidak peduli Bapak suka atau tidak suka dengan wanita seksi! Saya tidak mau dipindahkan!" Naura bersikeras. "Saya sudah nyaman di posisi saya! Saya sudah lama bekerja keras di tim keuangan!"

Arga bangkit dari kursinya. Langkahnya tenang, namun setiap langkahnya terasa seperti ancaman bagi Naura. Ia berjalan mendekat ke arah Naura, memaksa Naura untuk mundur perlahan. Naura terus melangkah mundur hingga punggungnya menabrak tembok dingin di belakangnya. Ia terpojok.

Arga berhenti tepat di hadapan Naura, jarak mereka kini sangat dekat. Naura bisa merasakan napas Arga yang hangat menyentuh wajahnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam mata Naura, memancarkan otoritas yang tak terbantahkan.

"Dengar baik-baik, Naura," Arga berbisik, suaranya rendah dan mengancam. "Jika kamu tidak mau menjadi sekretaris saya, maka silakan... keluar dari perusahaan ini. Sekarang juga."

Naura terdiam, membeku di tempatnya. Ancaman itu menghantamnya telak. Keluar dari perusahaan? Itu berarti ia akan kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan semua yang sudah ia bangun selama ini. Ia menatap Arga, matanya dipenuhi kemarahan, namun juga ketakutan. Arga tidak main-main. Ia benar-benar serius. Dan Naura tahu, ia tidak punya pilihan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Mencuri Ciuman dari Istrinya yang Hamil Setelah Bercerai
7.8
Kayshila Zena menjalani pernikahan paksa dengan Zenith Edsel, penguasa Jakarta, akibat penolakan keluarganya sendiri. Namun, tuduhan miring tentang masa lalunya membuat pernikahan itu hancur hingga ia harus pergi setelah melahirkan dan menandatangani perceraian. Bertahun-tahun berlalu, Kayshila kembali membawa anaknya dan melamar sebagai dokter pribadi Zenith. Di luar dugaan, sang mantan suami justru menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, bahkan menyayangi anak misterius tersebut seperti darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Keperkasaan Sang Mertua
9.3
Hubungan terlarang yang menegangkan tersaji dalam novel modern Keperkasaan Sang Mertua. Di hadapan jendela kaca besar yang memperlihatkan keramaian orang di bawah, seorang menantu perempuan tidak berdaya menghadapi tindakan intim dan dominasi fisik dari ayah mertuanya sendiri. Meski sang menantu merasa sangat malu dan memohon untuk dihentikan, sang mertua justru mengabaikan rasa bersalah tersebut. Ia menganggap situasi berisiko ini sebagai hal yang mengasyikkan untuk dinikmati.
Sampul Novel Mantan Suami yang Gigih: Tetaplah Bersamaku
9.0
Tiga tahun menikah, Linsey justru pertama kali bertemu Bryson dalam kondisi memalukan. Sang suami bahkan tak mengenalnya dan malah merendahkannya. Usai resmi bercerai, takdir kembali mempertemukan mereka di dunia kerja, saat Linsey menjadi penasihat hukum di perusahaan mantan suaminya tersebut. Kini, Bryson yang mulai jatuh cinta justru memohon agar Linsey tidak pergi. Akankah pria itu rela membuang harga dirinya demi mengejar kembali cinta Linsey yang dulu pernah ia sia-siakan?
Sampul Novel Menaklukan CEO Mesum
8.2
Demi menyelamatkan sang ibu dari jeruji besi akibat penggelapan dana satu juta dolar, Bianca nekat menemui CEO pusat di Singapura, Steve Dvalton. Namun, Steve justru menawarkan kesepakatan gelap yang menuntut Bianca menjadi pemuas nafsunya. Terjebak dalam dilema besar antara kesetiaan pada sang kekasih dan keselamatan ibunya, Bianca terpaksa masuk ke dalam hubungan intim yang penuh tipu muslihat. Di sisi lain, Steve merasa sangat tertantang oleh keliaran Bianca di ranjang.
Sampul Novel Sahabat Bad Boy VS Dosen Moody
7.8
Kehidupan Susan, mahasiswi 20 tahun di pinggiran Jakarta, mendadak berubah setelah menjadi korban jebakan keji yang menyisakan trauma mendalam. Di tengah luka batin tersebut, ia harus bangkit demi masa depannya. Namun, perjalanan menemukan cinta sejati membawanya pada dilema rumit. Susan kini dihadapkan pada tiga pilihan sulit untuk sosok pendamping hidupnya: sang sahabat setia, mantan kekasih masa lalu, atau dosennya yang dikenal sangat emosional.
Sampul Novel You're My End
9.3
Dua tahun menjalin hubungan, Dara harus menelan pil pahit saat Bryan lebih memilih Tasya, sahabat yang selalu diutamakannya. Pengkhianatan ini meninggalkan luka mendalam, memaksa Dara berjuang keras untuk melupakan sang mantan. Di tengah keputusasaannya untuk bangkit, hadirlah Zyan dalam hidupnya. Akankah kehadiran Zyan mampu memulihkan hatinya yang hancur, ataukah kepedihan masa lalu itu terlalu sulit disembuhkan oleh cinta yang baru?