APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel JANGAN AMBIL ANAKKU

JANGAN AMBIL ANAKKU

Almira, seorang ibu muda berumur 30 tahun, terdesak untuk bercerai demi kesehatan mentalnya setelah 1,5 tahun menderita akibat ulah suaminya, Iqbal, yang kikir dan sering berselingkuh. Namun, proses perpisahan ini tidak berjalan lancar. Iqbal justru memanfaatkan rasa takut Almira akan kehilangan hak asuh anak mereka untuk mengancam dan menekannya. Kini, Almira harus berjuang sekuat tenaga demi mempertahankan sang buah hati dari cengkeraman mantan suaminya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Yang sabar Dek, mbak yakin bahwa kamu sangat kuat, sehingga Allah selalu menguji mu dengan masalah dalam rumah tangga seperti itu!" dengan sedikit berteriak Aida berucap kepada adiknya. karena dalam perjalanan itu mereka menggunakan motor jadi jika Aida tidak mengeraskan suaranya maka Almira tidak akan mendengarnya, karena bersaing dengan suara angin dan juga deru motor.

"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega, tapi setelah itu berjanjilah untuk kuat, ada arka yang membutuhkanmu, Jangan hanya berfokus kepada suami mu yang brengsek itu! air matamu terlalu berharga jika hanya untuk menangisi lelaki seperti itu!" Aida tidak bisa bicara sepanjang lebar seperti itu karena posisi masih ada di jalan, semua kata-kata itu hanya ada dalam hatinya.

Aida teriris melihat adiknya terluka sekali lagi, dulu saat Almira memutuskan untuk memaafkan suaminya begitu saja, ada rasa tidak rela di hati Aida, hatinya sangat membenci keputusan sang adik yang terkesan sangat mudah memaafkan.

Jika itu terjadi pada Aida, bisa dipastikan rumah tangga itu akan hancur seketika itu juga, bagi Aida sebuah pengkhianatan itu pasti akan berulang jika tidak diberikan efek jera.

Tiba di rumah Bu Aminah, lagi-lagi ini Almira menumpahkan tangisnya, Bu Aminah sebagai seorang ibu tentu sangat sakit melihat air mata yang jatuh dari pipi anak sapihannya itu.

“Ada apa lagi nduk? Apakah Iqbal berulah lagi? Apakah sekali lagi dia berselingkuh? dengan orang yang sama atau dengan wanita lain lagi? Apakah kamu menangis untuk lelaki seperti itu? Apakah air mata ini untuk menangisi suami yang tak tahu diri itu? jangan terlalu bodoh anakku! air matamu terlalu berharga kalau hanya untuk menangisi semua itu!" Bu Aminah bicara panjang lebar mencecar anaknya yang terkesan bucin dengan suami yang tak bertanggung jawab seperti Iqbal.

Aida yang mendengar perkataan dari ibunya untuk sang adik kini terwakili sudah, jika yang ada dalam hatinya sudah diucapkan oleh Bu Aminah kini tinggal Aida menunggu jawaban dari adik tersayangnya itu.

"Bu, kenapa aku memiliki suami seperti Mas Iqbal? kenapa seolah aku ini tidak ada harganya sama sekali di matanya, kenapa seolah aku ini hanya pelengkap dan hanya menjadi istri formalitas saja!" bukannya menjawab pertanyaan sang Ibu justru Almira malah melontarkan pertanyaan kepada ibunya, lebih tepatnya seperti sebuah penyesalan.

"Apakah dulu saat kamu memilih Iqbal kamu mendengarkan kata-kata ibu? Apakah dulu saat ibu menentang hubungan kalian kamu mau mendengarkan kata-kata ibu? dan apakah dulu saat ibu memintamu untuk menjauh dari Iqbal kamu pun menurut dengan perkataan ibu? jawabannya tentu kamu lebih tahu sendiri!" Bu Aminah menatap sendu netra sang anak!

"Jika kamu menanyakan apa yang kamu utarakan tadi, maka jawabannya adalah, kamu salah alamat menanyakan itu ke ibu, tanyakanlah ke hatimu sendiri kenapa kamu bisa sampai jatuh hati kepada lelaki seperti itu!"jawab Bu Aminah lagi.

"Sejak kamu berpisah dari imam dulu, Ibu lebih setuju kamu untuk berpuasa dulu, menjalani kehidupanmu sendiri dan memperjuangkan kedua anakmu yang telah direnggut darimu oleh suamimu dulu! tapi apakah kamu mendengar ibu? tentu jawabannya tidak!" seolah Bu Aminah memiliki waktu yang tepat untuk mencecar sang anak, maka dengan enteng Bu Aminah berbicara panjang lebar kepada anaknya itu.

"Usiamu baru 28 saat itu, dan jika kamu puasa 10 tahun saja maka usiamu baru 38 tahun,dan pandangan ibu usia 38 tahun itu belum begitu tua, menikah sekarang atau nanti tentu yang didapat nanti hanyalah anak, betul Apa betul? tapi lagi-lagi kamu membantah kata ibumu ini, dan sekarang jika terjadi seperti ini, itu tandanya kamu harus intropeksi diri!" kata Bu Aminah lagi.

rasanya Bu Aminah masih ingin mencecar anaknya itu dengan semua kekecewaan-kecewaan yang ada di hati beliau terhadap anak sapihannya.

"Marah lah Bu marah lah, maki aku sepuas hati ibu, jika setelah itu ibu lega dan mau memelukku kembali, peluklah aku dengan doa-doamu ibu, peluklah aku dengan kasih sayangmu, Hari ini aku rapuh Bu hari ini aku benar-benar hancur, Maafkan Aku!" ucap Almira menjawab semua perkataan ibunya yang panjang lebar.

Seketika Bu Aminah sadar, saat ini yang dibutuhkan anaknya bukanlah makian atau cercaan, seperti yang dikatakan Almira barusan bahwa anaknya ini sedang rapuh dan hancur dia tidak butuh saran ataupun makian, dibutuhkan Almira sekarang adalah pelukan dan tempat bersandar.

"Maafkan Ibu nduk, maafkan Ibu yang tidak bisa menahan amarah yang bergejolak dalam hati ibu, sudahlah nduk, apapun yang terjadi di hidupmu kita hadapi bersama-sama, kamu tidak sendiri ada Ibu kedua mbakmu dan juga adikmu meskipun dia tidak ada di rumah!" Bu Aminah memeluk anaknya yang terlihat sangat rapuh.

"Assalamualaikum!"terdengar salam seseorang Saat memasuki pintu rumah, kan orang tersebut tak lain adalah Pak Handoko suami Bu Aminah.

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,!" jawab semua yang ada di ruangan itu serempak.

di ruangan tersebut ada Aida Eni Almira Bu Aminah dan juga Aldo sedangkan Nayla dan Nisa sedang asyik nonton serial kartun di ruang tv.

Saat Pak Handoko melihat tas pakaian yang ada di dekat Almira membuat Pak Handoko mengernyitkan dahi tanda bingung, ada pertanyaan bergejolak di hati Pak Handoko, saat melihat Almira yang matanya memerah pertanda bahwa dia sedang menangis membuat Pak Handoko diam dan menahan rasa penasarannya.

"Ada kamu Al? kapan kamu datang ke sini perasaan Bapak tadi waktu pergi ngopi di warung kamu belum ada di sini kan?"Pak Handoko bertanya dengan anak sapihannya itu dengan pertanyaan yang biasa saja.

"Almira Baru saja sampai pak, dijemput sama Mbak Aida tadi!"Almira menjawab pertanyaan dari Pak Handoko dengan suara yang serak khas orang habis menangis.

"Loh kok bisa dijemput mbakmu? memangnya Iqbal ke mana? ini sudah malam loh? kok kayaknya nggak pantes aja ke rumah ibunya bukannya diantar sama suami, tapi malah dijemput sama kakakmu!" Pak Handoko bertanya demikian untuk memancing Apa yang sebenarnya terjadi kepada Almira, terlebih saat beliau melihat tas pakaian milik Almira tersebut.

Seketika Almira bersimpuh di kaki Sang Bapak yang sudah duduk di kursi panjang di ruang tersebut, tangis Almira tiba-tiba pecah lagi, tentu hal itu membuat Pak Handoko sangat kaget.

"Ada apa? Apakah Iqbal mengusirmu dari rumah? atau ada masalah apa? ceritakan yang jelas kepada bapak,  Bapak tidak pernah mengajarimu untuk menjadi anak yang cengeng! meskipun kamu seorang wanita, kuatlah Jangan hanya mengandalkan air mata!"Pak Handoko mencoba mengangkat tubuh Almira yang semakin kurus.

Pak Handoko sangat kaget saat memegang bahu tersebut yang terkesan seperti tulang yang hanya berbungkus kulit saja.

"Apa yang sebenarnya terjadi di rumah tangga mu nduk? Apakah sekali lagi kamu menderita?"batin Pak Handoko dalam hatinya.

"Tatap mata Bapak nduk, ceritalah! tidak semua masalah bisa selesai hanya dengan sebuah air mata!"Pak Handoko berkata kepada putrinya itu seperti sebuah perintah.

"Jawablah pertanyaan Bapak tadi, Jangan membuat bapak memiliki praduga yang tidak tidak!" tegas Pak Handoko lagi.

Dengan menatap mata bapaknya, seolah kini Almira mendapatkan kekuatan di sana.

ini dengan gamblang Almira menceritakan tentang masalah rumah tangga yang dihadapinya dia bercerita panjang lebar tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Semua orang yang mendengarkan cerita Almira secara detail, merasa geram dengan ulah Iqbal.

bisa-bisanya seorang Iqbal yang mereka kenal sangat baik bisa berbuat demikian kepada Almira Putri kesayangan di rumah itu.

Banyak yang tidak menyadari bahwa Pak Handoko mencengkram kuat tangannya di kursi yang didudukinya, hati orang tua tersebut sangat panas dan merasa diinjak oleh seorang Iqbal.

Meskipun Pak Handoko mengetahui masa lalu dari Iqbal tapi Pak Handoko mau memberi kesempatan kepada Iqbal untuk berubah, apalagi saat diketahui bahwa Almira sangat mencintai Iqbal, tapi kepercayaan yang diberikan oleh Pak Handoko ternyata disalah artikan oleh Iqbal, tentu semua itu sangat membuat Pak Handoko garam dan marah.

Bu Aminah yang menyadari perubahan wajah Pak Handoko segera menghampiri suaminya tersebut, Bu Aminah takut jika Pak Handoko akan mengalami serangan jantung, sebab selama ini gejala sakit jantung sudah terdeteksi diri pak Handoko.

"Sabar Pak, nanti kita cari bersama-sama solusi untuk permasalahan Putri kesayangan kita itu, semua tidak akan ada gunanya bila kita marah-marah!" Bu Aminah mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus lembut punggung suaminya itu.

"Apa yang Ibu harapan dari sikap bapak? Apa Bapak harus menghajarnya? atau Bapak memisahkan mereka saja? lelaki tak tahu diuntung seperti Iqbal tak layak memperlakukan Putri kita seperti itu!" ada kelihatan amarah di mata Pak Handoko saat mengatakannya.

"Untuk sementara ada baiknya kita pura-pura tidak tahu saja dulu tentang masalah yang terjadi antara Almira dan Iqbal, jika Iqbal ke sini kita sambut seperti biasanya saja, tidak terjadi apa-apa! kita beri kesempatan Iqbal untuk menjelaskan semuanya!"usul Bu Aminah atas kebingungan sang suami.

"Tapi hati Bapak tidak terima Bu melihat putri kita diperlakukan seperti itu, Andai memang dia tidak lagi membutuhkan Almira kenapa tidak diserahkannya kembali kepada Bapak? tangan ini masih sanggup menafkahi Almira beserta anaknya!"ucap apa penuh kekecewaan.

"Udah malam ada baiknya kalian tidur saja, tak baik begadang sampai larut malam, kamu menginap di sini lagi Aida? Bagaimana dengan rumahmu? dan bagaimana dengan suamimu? Apakah dia nanti dia marah?" kini tinggal giliran Aida yang ditanya oleh Pak Handoko.

Aida cengengesan mendengar pertanyaan dari bapaknya, "Ttadi Aida sudah izin sama ayahnya Nisa Pak, katanya boleh menginap semalam lagi! tapi bila tambah lagi menginapnya, maka suruh membawa semua pakaian Aida dan Nisa sekalian!"meskipun menjawab demikian tapi Aida masih bisa cengengesan di hadapan bapaknya dan itu membuat Pak Handoko naik pitam.

"Dasar bocah gemblung, sudah diberi ultimatum begitu dengan suaminya masih bisa bersikap enteng! Malam ini kamu boleh nginap di sini, dan besok pagi kamu sudah harus angkat kaki dari rumah bapak, Bapak tidak mengizinkanmu menginjakkan kamu di rumah bapak jika suamimu tidak mengizinkan! paham kamu Aida?"tanya Bapak dengan melotot ke arah Aida.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Kehidupan Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, mendampingi Ratnasari di rumah sakit ketika ia tengah berjuang menjalani program bayi tabung. Penderitaan Aluna memuncak saat ia dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya lewat sabotase obat. Usai kehilangan bayinya dan diusir, identitas asli Aluna sebagai putri konglomerat media yang hilang akhirnya terungkap. Sang pewaris kini kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Gadis Bucin Dan Cowok Dingin
8.3
Logika kerap kali buta karena asmara, menyisakan luka mendalam di dalam dada. Walau diwarnai kepedihan dan obsesi, perasaan ini rupanya menyimpan kekuatan misterius. Siapa sangka, kasih sayang justru hadir sebagai obat paling mujarab untuk memulihkan duka? Kisah ini mengulas bagaimana keajaiban sebuah rasa mampu menyentuh relung jiwa terdalam, sekaligus mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan yang nyata bagi mereka yang merasakannya.
Sampul Novel Karma Manis untuk Tuan yang Sombong
7.9
Skandal tak terduga dengan Arjuna Adiwangsa, anak majikannya, menghancurkan pertunangan pria itu dengan Valerie dan menyeret Arunika Kinanti dalam kebencian mendalam. Meski sempat melarikan diri, Kinanti akhirnya ditemukan dalam keadaan mengandung. Demi menjaga reputasi, Arjuna terpaksa menikahi Kinanti dengan kesepakatan kejam: bercerai setelah bayinya lahir dan Kinanti harus pergi tanpa sang anak. Kini, ia terjebak dalam pernikahan dingin penuh penderitaan.
Sampul Novel Kontrak Cinta: Rahasia dan Janji
9.7
Clara Martins terancam kehilangan toko roti peninggalan neneknya di São Paulo akibat lilitan utang dan pengkhianatan. Di tengah keputusasaan, Enzo Albuquerque hadir menawarkan solusi. Mantan kekasihnya yang kini menjadi pengusaha dingin itu mengajukan pernikahan kontrak setahun demi melindungi posisinya dari intrik keluarga. Namun, hidup bersama justru membangkitkan kembali rasa yang dulu ada. Kini, Clara harus menyembunyikan kehamilannya, sementara Enzo menyimpan rahasia besar yang dapat menghancurkan hubungan mereka.
Sampul Novel Mendarat di Hatimu yang Retak
8.4
Pertemuan kembali setelah sepuluh tahun membawa perubahan besar bagi Liora Anindya dan Arlo Dirgantara. Liora sangat mencintai dunia penerbangan, sementara Arlo justru membenci langit akibat pengkhianatan mantan tunangannya yang merupakan seorang pramugari. Luka lama tersebut membuat Arlo yang dulu hangat kini menjadi sosok yang dingin. Profesi Liora sebagai pramugari pun membangkitkan trauma mendalam pada diri Arlo. Di tengah kebencian dan kenangan masa kecil, mampukah cinta mereka menyembuhkan luka Arlo?
Sampul Novel Nafsu Sesaat Dibayar Penyesalan
9.1
Ashley mengorbankan keselamatan dirinya demi menyelamatkan Noah tepat sebelum pernikahan mereka, yang mengakibatkan tubuhnya mengalami patah tulang parah dan wajahnya rusak akibat kecelakaan tragis. Noah tetap menikahi Ashley dan memperlakukannya dengan sangat penuh kasih sayang, membuat semua orang percaya cinta mereka tidak memandang fisik. Namun, keyakinan Ashley hancur seketika saat ia memergoki suaminya berselingkuh dengan pembantu rumah tangga mereka sendiri sejak setengah bulan yang lalu.