APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istriku Berasal Dari Kerajaan Medang

Istriku Berasal Dari Kerajaan Medang

Kirana Ayu Wening, seorang gadis dari masa lalu Kerajaan Medang, mendadak terlempar ke masa depan sejauh 1024 tahun. Di tengah kota modern yang asing baginya, ia dipertemukan dengan Yodha, seorang pekerja yang tengah patah hati. Yodha pun tulus membantu Kirana beradaptasi dengan zaman baru ini. Bersama-sama, keduanya kini harus melewati badai kesedihan, kebingungan, hingga kebahagiaan demi memulai lembaran hidup yang benar-benar baru.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kulirik jam tanganku dan menyadari sudah pukul 19.15. Sudah sekitar dua jam aku berada di bawah jembatan pinggir sungai ini bersama seorang gadis yang entah dari mana asalnya, tengah pingsan sambil memelukku erat.

Hari semakin larut, dan hujan juga sepertinya sudah mulai berhenti sedikit demi sedikit. Aku berusaha membangunkannya dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi dia tetap tidak merespons.

"Astaga! Kalau posisi seperti ini sampai terlihat oleh orang-orang, bisa-bisa aku dihajar karena dikira sedang melakukan hal yang tidak senonoh kepada gadis ini!"

Aku semakin panik, mencoba mencari cara untuk membangunkannya tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

Kondisiku sangat tidak menguntungkan saat ini karena aku tidak mengenakan kemejaku yang sudah kutinggalkan di dekat trotoar saat membuang bungkusan rokok yang sudah tak berbentuk lagi.

Seorang pria yang tampaknya sedang melakukan pelecehan terhadap seorang gadis di bawah jembatan kota. Gadis itu terlihat sudah dilukai terlebih dahulu, dan pakaiannya tampak compang-camping seperti diserang oleh komplotan penjahat.

Tidak! Aku tidak ingin menjadi viral dan terkenal di media karena melakukan kesalahan yang tidak pernah kulakukan. Aku menepis pikiranku yang membayangkan diriku menjadi tersangka utama.

Kembali ke situasi darurat saat ini, aku mencoba membangunkan gadis itu dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Aku berharap agar dia segera sadar dan bisa memberikan petunjuk atau informasi tentang apa yang terjadi padanya.

Namun, meskipun aku mencoba dengan sekuat tenaga, dia tetap tidak merespons. Rasa putus asaku semakin mendalam, tapi aku tidak bisa menyerah begitu saja.

Mataku tanpa sengaja melihat kilat di langit yang mulai berdatangan lagi, menandakan bahwa hujan akan turun lagi tak lama lagi. Dengan susah payah, aku tetap menggendong gadis itu. Kucoba meraih kemejaku yang kutinggalkan, kemudian kugunakan untuk menutupi tubuh gadis itu.

Kukumpulkan tenaga dan mencoba berdiri. “Ternyata tubuh gadis ini ringan juga, ya?” aku berbisik pada diriku sendiri sambil melihat-lihat jalanan yang akan kulewati.

Dengan perasaan khawatir dan was-was, aku berlari sekencang mungkin sambil membawa gadis ini menuju rumahku. Pikiranku dipenuhi kekhawatiran akan apa yang akan dikatakan orang jika mereka melihatku. Aku membawa seorang gadis dalam pelukanku, dan itu pun pada malam hari!

Apakah orang-orang tidak curiga dengan apa yang sedang kulakukan ini? Aku hanya bisa berharap bahwa tidak ada orang yang melihatku yang tengah berlari kencang seperti sedang menculik seorang gadis. Tetapi, dalam keadaan genting seperti ini, aku tidak punya pilihan lain selain bertindak secepat mungkin demi keselamatan gadis itu.

Setelah berlari sekuat tenaga, akhirnya aku sampai di depan rumahku, sebuah rumah yang menjadi hasil jerih payah orang tuaku selama bertahun-tahun. Mereka memberikan rumah ini untukku dengan harapan aku bisa hidup mandiri dan tanpa ketergantungan pada mereka. Tapi sungguh, aku merasa sangat beruntung menjadi putra mereka di dunia ini!

Selain rumah utama, aku juga memiliki rumah kost tiga lantai yang berada tepat di depannya. Itu adalah bonus tambahan yang membuatku semakin bersyukur. Aku tidak perlu bekerja keras karena pendapatan dari sewa orang-orang yang tinggal di rumah kost terus mengalir.

Kupandangi halaman rumah kost dengan seksama, memastikan bahwa halaman ini sepi agar aku bisa langsung berlari menuju rumahku. “Sekarang saatnya!” Dengan semangat, aku meluncur dari halaman depan rumah kost menuju pintu rumahku. Aku meraih gagang pintu dengan penuh semangat, siap menyambut momen epik ini.

“Selamat...”

Dengan sedikit memaksa, aku melepaskan pelukan gadis itu dan menidurkannya di sofa. "Tidak mungkin, hahaha. Aku membawa pulang seorang gadis dan menidurkannya di sofa rumahku. Tapi kenapa aku tidak membawanya ke rumah sakit?"

Tak ingin dipusingkan dengan pikiran itu, aku memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaian yang basah. "Aneh, benar-benar aneh dengan semua hal yang terjadi hari ini."

Sambil mengelap rambut yang basah setelah mandi, aku membuka kulkas dan mengambil sekaleng kopi yang ada di dalamnya, lalu kuminum sambil menghadap ke arah luar jendela rumahku. "Hujan kembali turun, dan sepertinya akan turun dengan deras sekali."

Sambil menikmati kopi kalengan, aku berjalan menuju ruang keluarga untuk melihat keadaan gadis yang kupungut dari sungai itu. "Semoga dia baik-baik saja dan tidak membuat kekacauan di rumahku," gumamku sambil meneguk kopi dengan perasaan campur aduk. Aku benar-benar tidak pernah membayangkan bahwa aku akan mengalami petualangan seaneh ini di hari yang hujan-hujan seperti ini!

Gadis itu sudah sadar dan terlihat sedang terduduk kebingungan di sofa rumahku dengan pakaian basahnya. Dengan berani, aku mendekatinya.

"Eh... anu, dengar ini..."

Dia melirik ke arahku.

"Sekarang hari semakin gelap dan hujan juga sepertinya akan turun dengan deras lagi. Jika rumahmu tidak jauh, aku bisa mengantarmu pulang sebelum hujan deras datang."

Dia masih diam, tapi tatapannya menunjukkan bahwa dia mendengarkan.

"Jika rumahmu jauh, kamu bisa menelepon keluargamu dan meminta mereka untuk segera datang dan menjemputmu. Aku bisa meminjamkan ponselku untuk kamu pakai."

Gadis itu masih saja terdiam.

“Lihat tubuhmu yang basah dan pakaianmu yang compang-camping ini, lebih baik cepat pulang agar tidak jatuh sakit,” ucapku dengan nada khawatir.

Dia berdiri dan menatap wajahku. “Sebenarnya ini di mana?”

Hah? Tidak heran juga ia nampak kebingungan.

“Ini adalah rumahku, dan lingkungan ini termasuk kawasan rumah kost yang pemiliknya adalah aku sendiri,” jelasku dengan cemas.

“Dan paman ini siapa?”

Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan ini? Dasar tidak sopan menyebutku sebagai paman! Jika dilihat sepertinya usia kita tidak jauh berbeda!

“Namaku adalah Yodha, panggil saja aku Yoda dan bukan paman!” Jawabku dengan sedikit kesal karena dia terus memanggilku dengan sebutan paman. Hatiku merasa sakit mendengarnya!

Kuambil payung yang ada di dekat pintu rumahku. “Ini kuberikan payung agar kamu bisa pulang, tapi aku akan menyimpannya kembali jika kamu tidak mau memakainya.”

“Tapi aku tidak tahu arah jalan pulang, dan aku juga tak tahu ini di mana…” katanya bingung.

Benar-benar gila, tanpa diduga aku benar-benar membawa korban percobaan pembunuhan ke dalam rumahku!

“Sudahlah, aku menyerah. Sebaiknya kutelpon saja polisi nanti atau lusa untuk segera membawamu dari rumahku, aku juga siap menghadap ke kantor polisi.” Aku merasa putus asa.

Dia masih terlihat kebingungan di sana. Aku berharap dia bisa menemukan jalan pulangnya dengan baik.

“Apa kamu ingin mandi? Tidakkah tubuhmu merasa tidak nyaman karena pakaian basahmu itu?” tawarku, sambil meraih remot TV dan menyalakannya. Sambil itu, aku juga mengambil ponselku untuk menelpon polisi.

“Halo, kantor polisi? Aku ingin melaporkan sesuatu tentang penemuan—”

Aku terbelalak saat melihat gadis yang tadinya terlihat lemas dan kebingungan, kini berubah menjadi sangat agresif dan menghancurkan TV LED-ku menggunakan payung yang tadi kuberikan padanya dengan nafsu ingin membinasakannya.

“Halo, ada yang bisa kami bantu? Aku mendengar suara yang sangat keras, ada apa?” Suara polisi di telepon terdengar panik.

“Ti-tidak ada apa-apa, tadinya saya ingin melaporkan tentang perusakan barang tetapi ternyata itu adalah kelakuan kucing peliharaanku sendiri yang suka naik ke atas tangga dan perabotan rumah dan tanpa sengaja menjatuhkan barang-barang di rumah.. Maaf telah mengganggu,” ucapku sambil berusaha menjelaskan keadaan.

“Baiklah jika tidak ada keperluan lagi, kami akan menutupnya.”

“Baik, maaf telah merepotkan,” sahutku, seraya menutup telepon dengan gemetar karena ketakutan yang amat kuat.

Ini benar-benar hari yang gila! Tubuhku gemetar sembari menutup telepon dengan ketakutan yang amat kuat.

Sambil menahan ketakutanku, aku mencoba memecah keheningan yang tegang, "Kamu ternyata sangat kuat, ya? Ahahaha..." ujarku dengan nada canggung.

Tapi tatapan gadis itu masih sama saja, menyeramkan dan penuh nafsu membunuh. Aku berusaha mencari cara untuk keluar dari situasi yang semakin tidak menyenangkan ini.

"Aku... eh, maksudku... jadi, apakah kamu mau mandi?" tanyaku dengan suara yang sedikit gemetar, mencoba mengalihkan perhatiannya.

Tapi sepertinya tidak ada yang bisa menembus keadaannya yang seperti robot pembunuh.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DANGEROUS MAN
9.8
Athur Paker, CEO ternama sekaligus mahasiswa, menyembunyikan sisi gelap yang haus darah. Kehidupan dinginnya berubah total saat ia terobsesi pada Shena, gadis ceria yang berani menolak ajakannya. Tak menerima penolakan, Athur memakai paksaan untuk mengklaim Shena. Kini, hidup damai Shena hancur dalam jeratan sang psikopat tanpa jalan keluar. Di tengah penderitaan itu, rahasia masa kecil mereka mulai terkuak. Akankah identitas asli Athur membawa petaka baru bagi masa depan Shena?
Sampul Novel Dendam Seorang Pelacur
8.3
Felisha membuktikan ketangguhan seorang wanita yang terluka. Demi membalas kematian tragis orang tuanya, ia bersama adiknya, Shasya, nekat bergabung dengan agensi elite, The Angel. Menyamar sebagai wanita panggilan kelas atas, kakak beradik ini rela masuk ke dunia prostitusi demi melacak sang pembunuh. Di tengah bahaya yang mengancam nyawa, mereka mempertaruhkan segalanya untuk mengungkap kebenaran sekaligus menuntaskan dendam yang selama ini terpendam.
Sampul Novel Devano Lauder
9.1
Dendam lama dari musuh masa lalu membayangi hidup Devano Lauder. Selama dua puluh tahun, ia berjuang keras menuntaskan perselisihan panjang yang penuh pertumpahan darah. Di tengah kekacauan itu, Devano sempat terjebak dalam cinta segitiga semasa remaja. Kini, setelah dewasa, ia rela mempertaruhkan nyawanya demi memikul tanggung jawab dan mengakhiri konflik. Meski bahaya terus mengintai, takdir akan menuntun perjuangannya menuju titik akhir yang adil.
Sampul Novel Ketika Anak Kami Melompat, Saya Memutuskan Ikatan Kami
8.8
Demi selingkuhannya, Alpha Damien tega mengabaikan hari lahir putrinya. Noah yang mengalami gangguan jiwa merasa terbuang hingga nekat mengakhiri hidupnya. Di tengah duka yang hancur, Damien justru melindungi Omega lain alih-alih mendampingi sang istri. Kecewa atas pengkhianatan ini, sang istri nekat melakukan Ritual Penolakan di hadapan seluruh kawanan. Kini ikatan takdir mereka telah terputus selamanya, menyisakan penyesalan Damien yang sia-sia memohon ampun.
Sampul Novel King Of King
8.2
Di Negeri Awan, selir keempat Kaisar Oro, Elisabet, melahirkan Starling saat bintang raksasa bersinar. Namun, hasutan kejam seorang dukun membuat Kaisar curiga bahwa bayi itu adalah anak Jenderal Robert. Sang penguasa pun didesak mengorbankan darah dagingnya sendiri sebagai tumbal demi kedamaian istana. Di tengah ancaman maut dari Oro, akankah hasrat berkuasa sang ayah melibas kasih sayangnya pada Starling?
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda asal Qingchang, terikat takdir dengan The Flame, Phoenix legendaris milik mendiang Sage Putih Alaric yang tewas di tangan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, sang Phoenix melakukan penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan peristiwa ini terkunci hingga Kiran tumbuh menjadi jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, ia dituduh sebagai pengkhianat dan pewaris Klan Phoenix Merah, memicu perburuan maut oleh Kekaisaran Hersen.