
Istri Yang Kesepian
Bab 2
Bahkan terdengar suara-suara yang memalukan dan membuat orang berdebar.
Stephen berdiri di depan sambil menatapku, suasananya sangat canggung.
Saat itulah aku baru sadar kalau dia lebih tinggi satu kepala dariku dan bahkan lebih tinggi dari suamiku.
Aku seperti seekor anak ayam ketika berdiri di depannya.
Mungkin untuk meredakan rasa malu, Stephen berbalik dan pergi.
Kemudian aku menyadari kalau dia berjalan terhuyung-huyung, mungkin karena mabuk.
Setelah ragu sejenak, aku menariknya dan memintanya untuk menginap di rumah karena sudah malam.
Stephen tidak menolak, aku membawanya ke kamar kosong.
Aku kembali ke kamar tidur dengan handuk dan mulai menyeka wajah suamiku yang mabuk.
Namun, suamiku yang sedang mendengkur keras tiba-tiba memegang tanganku.
Tepat saat aku bingung, dia menepuk pantatku dengan keras.
Ini adalah kode rahasia kami berdua.
Namun, melihat betapa mabuknya dia, aku menjadi agak ragu dan malah curiga kalau dia sedang mimpi.
Sebelum aku sempat berpikir, suamiku berbalik, memelukku dan menjatuhkanku ke ranjang.
Aku yang tadinya masih menahan-nahan, tiba-tiba hasrat menyala.
Suamiku menciumku dengan tergila-gila, aku meringkuk di bawahnya bagaikan cacing pita.
Suamiku tampak agak pusing, mungkin karena mabuk.
Aku hanya bisa meraih tangan suamiku dan perlahan-lahan meletakkannya di pahaku.
Tak lama kemudian suamiku mengangkat rokku. Aku menekuk lututku sedikit dan perlahan melingkarkan betisku di pinggangnya.
...
Seperti yang diduga, suamiku selesai dalam waktu dua menit. Dia berbalik dan berbaring di sampingku, sambil terengah-engah.
Aku baru hendak menikmatinya, bahkan belum sempat merasakannya.
Aku mendengar dengkuran keras di sebelahku. Saat aku hendak bangun, suamiku langsung bangun dan duduk.
Pengalaman sebelumnya memberitahuku kalau dia akan muntah.
Aku segera memeluk suamiku dan berusaha membuatnya membungkuk.
Kejadiannya begitu cepat sehingga sebelum aku bereaksi, suamiku sudah muntah.
Muntahan itu mengalir deras bagaikan hujan badai, memercik hampir ke seluruh lantai, bahkan ada yang memercik ke seprai dan baju tidurku.
Bau muntahan bercampur bau alkohol membuat kamarku berbau.
Aku tercengang dan terus berteriak melihat adegan di depan mataku.
Stephen bergegas datang setelah mendengar teriakan. Begitu memasuki kamar, dia pun mundur karena bau yang tidak sedap itu.
Sambil menutupi hidungnya, Stephen memaksakan diri memasuki kamar.
Stephen memapah suamiku berdiri tanpa berkata sepatah kata pun.
"Kakak Ipar, aku membawa Kak Melven mandi di kamar mandi, kamu bersihkan saja kamar tidur..."
Setelah berkata, Stephen memapah suamiku ke luar.
Aku hanya bisa tinggal untuk membersihkan kamar.
Aku memaksakan diri untuk membersihkan muntahan di lantai sambil menahan rasa mual.
Setelah menghela napas lega, aku mengambil pakaian bersih dan berjalan ke kamar mandi di kamarku.
Setelah menutup pintu, aku segera menanggalkan baju tidurku yang terkena noda muntahan.
Embusan angin bertiup masuk dari jendela melewati kedua kakiku, membuat seluruh tubuhku terasa gatal.
Tanpa sadar aku teringat adegan saat aku hendak memapah suamiku dan dilihat oleh Stephen.
Selain itu, aku juga sempat berkontak fisik dengan Stephen, baik sengaja maupun tidak sengaja, terlihat jelas kalau dia sangat kuat.
Memikirkan hal ini, tubuhku mulai bereaksi.
Nafsu yang selalu terpendam dan belum terlampiaskan, menjadi makin sulit dikendalikan karena berbagai rangsangan.
Aku mengangkat satu kaki di bak mandi, merentangkan kedua kakiku lebar-lebar dan ingin segera menyenangkan diri.
Anda Mungkin Juga Suka





