APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO

Almaira, seorang wanita lajang nan menawan, nekat menjadi istri simpanan Daffa, CEO tambang yang kaya raya. Meski bergelimang harta, Daffa merasa hampa karena sang istri sah belum juga memberinya keturunan. Terdesak kebutuhan ekonomi, Almaira pun bersedia memenuhi hasrat pria itu. Namun kini, ia justru terjebak dalam dilema moral dan batin yang mendalam, mempertanyakan kebahagiaan hidupnya yang hanya dianggap sebagai pemuas nafsu suami orang.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kala itu, gadis cantik yang bernama Almaira baru saja menginjak usia 29 tahun. Ia berasal dari keluarga yang jauh dari kata cukup. Dengan bermodal wajah cantik nan mulus, ia memberanikan diri pergi ke kota untuk bekerja disalah satu bar yang cukup ternama. Meskipun dirinya seorang tipe pemalu, namun kecantikannyalah yang menjadi alasan kuat untuk melangkah ke zona hitam demi memperbaiki perekonomiannya.

Sudah hampir setengah bulan, Alma bekerja di bar itu. Ia mulai bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Tidak hanya itu, ia pun mendapatkan teman baru yang rata-rata usianya lebih tua dari dirinya. Meskipun Alma bekerja di bar, tapi ia tidak pernah melayani pria hidung belang, yang seperti layaknya wanita nakal. Justru tiap ada pria yang mendekatinya, ia selalu menolaknya dengan halus.

Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, Alma masih bergelut dengan pekerjaannya. Hanya ada dua orang rekan kerjanya yang menemani Alma di bar itu, mereka adalah Doni dan Ikhsan. Semakin malam, bar itu semakin ramai. Ketika Alma sedang membereskan gelas bekas alkohol, tiba-tiba saja seorang pria datang menghampirinya dengan muka yang begitu masam, seperti sedang dirundung kecewa dan bercampur amarah.

Pria itu langsung memesan minuman yang mengandung alkohol kepada Alma. Dan dengan gesitnya gadis itu langsung menyediakan minuman yang dipesannya. Awalnya Alma tidak begitu mempedulikan, namun karena pria itu terlihat sedih, apalagi meneteskan air mata, rasa simpati Alma tidak bisa tertahan lagi. Pikirannya pun bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada pria tersebut. Bahkan rasa ingin tahunya kepada pria itu menjadi semakin penasaran.

Dengan rasa canggung dan malu, Alma pun memberanikan diri untuk bertanya kepada pria tersebut, "Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?"

Pria itu hanya menoleh dan tersenyum kepada Alma dengan tatapan kosong. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena menahan air mata yang hampir saja terberai.

"Sepertinya Anda memang sedang punya masalah. Apa Anda pikir dengan meminum banyak alkohol bisa menyelesaikan masalah Anda, Tuan?" tambah Alma menyunggingkan bibirnya. Ia semakin penasaran karena pria itu tidak juga menjawab pertanyaannya. Malahan minum lagi dan lagi.

"Daripada Anda melakukan hal yang tidak berfaedah, mendingan—" belum juga selesai bicara, pria itu langsung memotong pembicaraan Alma.

"Apa pedulimu? Kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini!" sentak pria itu marah dan dengan sedikit agak mabuk. Air mata yang mulai mengalir dari pipinya pun tidak ia rasakan. Bahkan pria itu menambahkan minuman alkohol lagi ke dalam gelas hingga penuh.

Ya ampun, sepertinya orang ini sombong dan keras kepala. Lagipula, bagaimana aku tahu dengan perasaannya sekarang. Ah, betapa menyebalkannya dia.

"Ya, tidak tahu juga sih, tapi kasihan saja melihat Tuan menangis seperti itu," tambah Alma dengan polosnya.

"Apa? Menangis? Sok tahu kamu! Mana mungkin orang ganteng sepertiku menangis di depan umum," geram pria itu gelagapan dan sedikit malu.

"Oh, masa? Tapi kenapa pipinya basah ya?" kata Alma sedikit Mengernyitkan alisnya. "Ya sudah, tidak masalah, kalau begitu, saya permisi dulu, selamat menikmati Tuan, jangan lupa bayarnya di kasir," sahut Alma dengan senyuman manisnya. Ia berusaha tersenyum meski hatinya kesal kepada pria itu.

"Ya sudah, sana! Lagian siapa yang menyuruhmu ke sini. Orang ganteng sepertiku, tidak akan pernah mau mendekati perempuan seperti kamu!" cetus pria itu menyunggingkan bibirnya.

Alma hanya tersenyum geli, meski pria itu mengejeknya, tapi dia tidak peduli, ia hanya menyengir karena laki-laki itu membantah kalau dirinya tidak menangis. Padahal sudah terlihat jelas oleh Alma, kalau pria itu sedang menangis.

Terserah kamu saja, Tuan. Yang pasti saya orang yang tidak bisa kamu bohongi, sudah jelas-jelas nangis, masih saja berkilah!

Setelah Alma pergi dari hadapannya, pria itu langsung segera menyeka air mata di wajahnya dengan tisu sambil berkata, "Bisa-bisanya ada orang yang memperhatikanku seperti ini."

****

Sudah hampir larut malam, Pria itu masih terus saja meminum alkohol sampai mabuk berat. Bahkan suasana di bar sudah mulai sepi. Alma dan rekan kerjanya pun sudah membereskan tempat itu dan siap untuk segera ditutup.

"Gimana nih, kita sudah mau pulang, tapi orang itu masih ada di sini, kalau disuruh pulang, nanti dia tersinggung nggak ya?" ucap Ikhsan salah satu rekan kerja Alma.

"Dia sedang bersedih, tadi saya sudah menghampiri dia," ujar Alma.

"Oh ya? Ya sudah kalau begitu kamu saja yang ngasih tau kalau bar ini akan segera ditutup," suruh Doni kepada Alma.

"Tapi—dia sombong, nanti ngomel-ngomel lagi gimana?" kata Alma yang sedikit merasa enggan untuk menghampirinya lagi.

"Sudah tidak apa-apa, aku yakin dia gak bakalan marah. Percaya deh sama aku, orang lagi mabuk gitu juga," tutur Ikhsan sembari mendorong Alma supaya segera menghampiri pria itu.

Tanpa bisa mengelak lagi, Alma terpaksa menghampiri pria itu dengan sedikit ragu. Dalam benaknya, pasti pria ini akan marah. Mengingat tadi yang ia lakukan atas sikapnya, membuat Alma sungkan.

"Tuan, bar ini akan segera tutup, jadi aku harap—" Seperti biasa, pria itu langsung memotong pembicaraan Alma.

"Iya-iya, aku tahu," ucap pria itu yang sudah mabuk berat.

Untuk beranjak dari tempat duduk pun pria itu seperti kesulitan dan hampir saja terjatuh. Alma yang masih di hadapannya ikut prihatin dan tanpa berpikir panjang, ia langsung membantu pria itu berdiri.

"Hati-hati, Tuan. Anda sudah mabuk berat, bagaimana bisa pulang kalau Anda dalam keadaan seperti ini?" tutur Alma sembari memegang tangannya.

"Tidak apa-apa, karena aku memang tidak ingin pulang. Kamu tidak usah khawatir aku bisa sendiri," ucap pria itu sembari berusaha melepaskan tangan Alma. Dan akhirnya ia bisa lepas, namun ia jatuh tersungkur ke lantai.

"Ya ampun, Anda sudah mabuk berat begini, mana mungkin bisa sendiri. Ayo saya bantu. Di luar ada tempat duduk, Anda bisa duduk dulu di sana, sampai keluarga menjemput Anda," ucap Alma sembari berusaha mengangkat tubuh pria itu yang sudah tidak berdaya.

Melihat Alma dalam kesulitan, rekan kerjanya pun tidak tinggal diam, mereka berdua langsung segera membantu pria itu berjalan keluar dari bar.

"Sini biar kita saja yang membawa pria ini keluar, mendingan kamu bereskan dulu bekas minumannya, dan jangan lupa setelah itu matikan semua lampu, kecuali yang di luar," tutur Doni sambil menyodorkan kunci. "Oh iya, nih kuncinya!"

"Oke, Mas. Oh iya, dia sudah bayar belum?" tanya Alma.

"Ya ampun belum! Untung saja kamu ngingetin kita, jadi gimana dong?" tanya Ikhsan kepada Doni.

"Nanti kita bicarakan lagi di luar, berat nih, orangnya udah gak sadar," kata Doni yang sudah membopong Pria itu dengan sekuat tenaganya.

"Oke-oke."

Kedua rekan kerja Alma langsung membopong pria itu, sementara Alma membereskan semua yang ada di dalam bar sebelum tempat itu ia tutup. Selang beberapa menit kemudian, Alma pun keluar dari tempat itu dan langsung menguncinya.

"Mas, ini kuncinya, Oia, gimana? Apa sudah ada pihak keluarganya yang mau jemput dia?" tanya Alma sembari memberikan kunci kepada Doni.

Bersambung ..

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Diceraikan Tanpa Alasan
9.0
Tiga tahun Elira memendam cinta pada Kael Virendra sebelum akhirnya diceraikan begitu saja. Demi mantan kekasihnya, Kael tega membuang Elira. Namun, perpisahan itu justru mengungkap jati diri Elira yang sebenarnya sebagai Seraphina Remos, seorang pewaris miliarder yang genius. Saat Kael menyadari kekeliruannya dan memohon untuk kembali, Seraphina yang telah bangkit kini mengabaikannya. Baginya, masa lalu telah usai dan tidak ada jalan untuk berbalik arah.
Sampul Novel Dikhianati oleh Orang yang Dicintai
9.1
Malam pertama Lana berubah menjadi mimpi buruk saat mendapati suaminya, Revan, berselingkuh dengan seorang pria. Di tengah keputusasaan karena dikhianati dan terjebak di rumah mertua, Lana kehilangan arah. Namun, sang ayah mertua, Henry, datang melindungi. Ketegasan Henry luluh demi menjaga menantunya yang rapuh. Dalam kesunyian yang mendalam, Lana mulai bergantung pada Henry hingga akhirnya hubungan terlarang di antara mereka berdua terjalin tak terkendali.
Sampul Novel Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
8.6
Di hari jadi pernikahan kelima, Diah memergoki Bara berselingkuh dengan sepupunya sendiri, Fathia. Bara bahkan menghina Diah sebagai istri yang menjemukan, tanpa menyadari istrinya itu tengah mengandung anaknya. Kecewa berat atas pengkhianatan ini, Diah memilih merahasiakan kehamilannya. Ia pun bersandiwara menjadi istri penurut selama tiga hari terakhir sebelum akhirnya pergi selamanya demi memulai lembaran hidup baru tanpa Bara.
Sampul Novel Masih Adakah Cinta Untukku
8.8
Demi janinnya yang ditolak Ken, Sonya Maharani terpaksa menikahi sopir pribadinya, Daffin. Delapan tahun kemudian, Ken muncul kembali bersamaan dengan terbongkarnya rahasia besar Daffin. Di tengah badai balas dendam, ada Darren, bodyguard setia yang memendam rasa padanya. Usai berpisah dari Daffin, siapakah yang akan dipilih Sonya? Akankah cinta lama atau perlindungan Darren, sementara ia baru menyadari bahwa hidupnya hanyalah pion dari rencana besar seseorang?
Sampul Novel Patah Hati Terlalu Dalam
9.3
Hidup Livia Suryani, CEO sukses merek kosmetik ternama, seketika runtuh saat memergoki Adrian berselingkuh. Tunangannya itu tega mengkhianatinya bersama Amara, saudara tirinya sendiri. Terpuruk dalam kesedihan yang mendalam, Livia memutuskan untuk menenangkan diri di klub malam. Namun, keesokan paginya ia justru terbangun di sebelah lelaki asing yang sangat posesif. Kini, di tengah luka akibat pengkhianatan Adrian, Livia harus menghadapi takdir baru bersama pria misterius tersebut.
Sampul Novel Pelabuhan Akhir Sang Pewaris
7.8
Sebagai pewaris tunggal Grup William, Sean Axel dikenal sangat tegas dalam bisnis. Meski banyak selebriti wanita mendekatinya demi harta, ia merasa muak dengan kepalsuan mereka. Hidup sang miliarder berubah total setelah bertemu seorang wanita unik yang berhasil memikat hatinya. Kini, Sean justru berjuang keras mengejar cinta perempuan tersebut, berharap dapat menjadikannya sebagai pelabuhan terakhir dalam perjalanan hidupnya.