APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder

Istri Polos sang Milyarder

Akibat ulah orang tak bertanggung jawab, Cantika tak mampu membayar biaya pengobatan ayahnya. Demi melunasi utang medis tersebut, ia terpaksa menikah sebagai istri kedua seorang miliarder dan bersedia mengandung anaknya. Namun, pernikahan impiannya justru berubah menjadi siksaan yang kejam layaknya neraka. Akankah perempuan polos ini sanggup bertahan menghadapi penderitaan tersebut, atau ia akan memilih melarikan diri demi meraih kembali kebebasannya?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Apa kau tidak bisa melakukannya dengan perlahan saja?” Rahang Andika mengeras, matanya terbelalak dan pipinya memerah akibat rasa malu yang menyelimuti dirinya.

  Pakaian mahalnya kini bernoda kopi panas yang tumpah akibat ketidakhati-hatian pelayan baru, Cantika. 

  “Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja karena ada sesuatu yang membuat saya terjatuh,” ucap Cantika lirih, sambil melirik sekilas ke arah Kartika.

  “Kenapa kau menatapku seperti itu?" ujar Kartika, mendelik penuh amarah. Alisnya menyatu, dan bola matanya memancarkan api kemarahan. "seorang pelayan rendahan beraninya menatap nyonya rumah sepertiku! Apa kau ingin menuduhku melakukan hal hina seperti itu?” Wajahnya merah padam sekaligus merasa bersalah karena di sini, salahnya sendiri yang menyebabkan kesalahan.

  Cantika menundukkan kepala, menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosi yang memuncak, merasa ditekan oleh tatapan tajam suaminya yang membuatnya ingin menangis. “Saya tidak bermaksud menuduh Anda, hanya saja kaki saya memang tersandung sesuatu hingga jatuh.”

  Andika, yang saat itu duduk di kursi ruang tamu, bangkit dengan geram dan menatap gadis itu dengan tatapan merendahkan. Ekspresi wajahnya menyiratkan betapa kecewanya pada Cantika. 

  “Seharusnya kalau kau tidak bisa bekerja hari ini, jangan memaksakan diri!” ucap Andika dengan nada sinis, lalu pergi dari sana tanpa menoleh, meninggalkan Cantika dalam keadaan terpuruk, sambil memperhatikan langkah kakinya yang semakin jauh.

  Kartika yang melihat suaminya pergi tanpa mengatakan apa pun, melirik Cantika dengan sinis. Lalu beralih kepada tamu yang ditinggalkan, sehingga sekarang perempuan tersebut sibuk menenangkan tamunya.

  Cantika melihat ini sebagai kesempatan untuk merapikan kekacauan yang telah ia buat. Dengan perlahan, ia mengelap tumpahan kopi di lantai dan meja. Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, gadis itu bergerak lincah. Sesekali, ia meremas pahanya, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara. Bekas kuku di pahanya tidak mempengaruhi semangatnya. Nampan di tangannya bergoyang saat Cantika berusaha berdiri dari posisi jongkok. Suara dentingan gelas terdengar, membuat Kartika menatapnya dengan tajam.

  "Maafkan saya," kata Cantika sambil membungkukkan tubuh, kemudian pergi menuju dapur.

  Di dapur, Cantika melihat Andika yang berdiri, menatapnya dengan dingin. Namun, gadis itu memutuskan untuk mengabaikan tatapan suaminya dan melanjutkan langkahnya melewati Andika. Rasa kesal akibat sang suami tak mengenali dirinya masih membayangi hati Cantika.

  Andika mencengkram tangan Cantika dengan erat, tubuhnya bergelora kemarahan. "Kenapa kau malah melewatiku?" keluhnya seraya merasakan rasa nyeri di dalam dadanya.

  Disaat pelayan rendahan seperti Cantika tak menatapnya dan malah berpura-pura tidak melihat kehadirannya. 

  "Saya tidak melihat, Tuan. Jadi maafkan saya!" Cantika menjawab pelan sambil menundukkan kepala.

  Namun, Andika merasa kalau Cantika sedang berbohong, sehingga ia semakin kuat mencengkram tangan mungil gadis tersebut. 

  Wajah Andika memerah oleh kemarahan, "Kau berbohong kepadaku? Padahal aku adalah majikanmu, tetapi berani sekali kau!" 

  Cantika meringis, menahan rasa sakit yang dihasilkan dari cengkeraman tangan Andika. "Saya mohon, lepaskan saya, Tuan! Saya di sini hanya bekerja, bukan siapa-siapa!" 

  Ucapan Cantika membuat bibirnya menggigit, karena mengatakan hal yang menyakitkan bagi dirinya sendiri.

  "Maksudmu apa mengatakan kalau kau bukan siapa-siapa?" Kali ini suara Andika terdengar melunak, mata yang tadinya tajam berubah menjadi berkaca-kaca. Tak lagi meninggi seperti tadi.

  Cantika terperangah, matanya berkaca-kaca ketika merasa sang suami mengenalinya. Baru ingin menggumamkan kata-kata, namun Andika menarik lengannya untuk mendekat.

  "Kau ini pelayanku, jangan berani-berani membohongi tuanmu!" bentak Andika sambil menepis tangan Cantika kasar, lalu melangkah pergi dari tempat itu.

  Hatinya tercabik melihat punggung lebar suaminya menjauh, yang berkali-kali melukainya dengan perkataannya. 

  Cantika mengusap mata yang basah, menahan isak sambil menatapnya semakin menjauh. "Kenapa engkau melupakan istrimu, padahal kita pernah menghabiskan malam indah bersama!" gumamnya hampa.

  Dalam kebingungannya, Cantika bergegas menggenggam nampan berisi gelas kotor dan pergi ke dapur. Beruntung gelas itu tidak terjatuh, sebaliknya masih utuh meskipun hatinya hancur.

  Bulir-bulir bening menetes dari kedua sudut mata Cantika, namun dia seakan tak mempedulikannya. Ia terus mencuci gelas dan perabotan yang menumpuk di wastafel, lalu beralih membersihkan bagian lainnya. Cantika acuh saja bila ada yang melihat penampilannya sekarang. Air mata tetap saja menetes tak terbendung. Kemudian, tubuh Cantika seolah kehilangan tenaga, sampai lantai keramik yang dipijak terasa bergetar.

  Cantika pun terduduk lemas di sudut dapur, gemetaran tak terkendali. "Ayah, aku tak yakin bisa bertahan di sini! Suamiku sendiri bahkan tidak mengenali aku, istrinya sendiri," ujarnya hancur, sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.

  Airmata Cantika membasahi wajahnya yang pucat, memperlihatkan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit dari memar dan luka di tubuhnya hampir tak terasa, namun hatinya yang tak terluka justru merasakan penderitaan yang tak terhingga.

  Seorang diri, Cantika terdiam di sudut rumah besar yang semula milik istri pertama suaminya. Suaminya dan istri pertama terang-terangan berlaku tak adil padanya, membuat Cantika semakin merasa dirinya menyedihkan. Tiada seorang pun yang bersimpati kepadanya.

  "Sudahlah, tak ada gunanya terlalu bersedih. Semuanya malah akan membuatku semakin menderita kalau terlalu dipikirkan," gumam Cantika seraya bangkit dari kursi.

  Dalam upaya menenangkan hati, ia memutuskan untuk membasuh wajah dengan air. Menyegarkan, itu yang ia rasakan saat air membasahi wajahnya.

  "Hei, kau harus datang ke ruang tamu tadi! Aksi konyolmu tadi membuat tamuku menjadi marah, jadi kau harus bertanggung jawab menghibur mereka!" Kartika datang dengan tangan bersedekap di dada, menatap rendah kepada Cantika.

  Cantika terperanjat, tak mengerti apa yang harus ia lakukan. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan raut kebingungan. Seumur hidupnya, ia belum pernah mengalami situasi seperti ini, diminta untuk menghibur orang yang tak ia kenal.

  “Ya, kau tinggal lakukan apa yang mereka perintahkan. Itu saja tidak mengerti!” gerutu Kartika sambil menatap tajam wajah Cantika, matanya menerawang kesal.

  “Tidak melakukan yang aneh-aneh, kan?” Cantika menatap ragu kepada Kartika, entah kenapa jantungnya berdebar kencang saat berurusan dengan istri pertama sang suami.

  Kartika menghela napas berat, matanya menatap kosong ke arah jendela. “Kau pikir aku akan melakukan hal rendah seperti itu? Aku hanya menyuruhmu menghibur mereka dengan menuangkan anggur saja, tidak lebih! Kalau mereka melakukan sesuatu kepadamu, kau tinggal pergi saja dari sana!”

  Kartika meraih sebotol anggur di meja dan memberikannya pada Cantika, lalu berlalu pergi meninggalkan gadis muda tersebut dengan senyuman misterius yang membuat Cantika semakin gelisah.

  Cantika merapikan rambutnya yang tergerai, tak ingin membuat tamu sang suami menunggu lebih lama lagi. Senyuman pun diukir semanis mungkin di wajahnya, berharap mereka semua tak mengeluhkan layanan yang dirinya berikan. Dengan langkah anggun, Cantika melangkah menuju ruang tamu. Begitu memasuki ruangan, ia terkejut melihat tak ada satu pun orang di sana.

  Gadis itu mengerutkan keningnya sambil memandang heran ke arah ruang tamu yang kosong. "Loh, kok tamu-tamunya pada kemana, ya?" gumam Cantika bingung.

  Tiba-tiba, sebuah tangan menariknya ke dalam ruangan yang berada bersebelahan dengan ruang tamu. Kedua mata Cantika membulat terkejut. 

  "Di sini, Cantik. Kamu nyari kami di mana sih?" tanya seorang lelaki dengan senyum mesum mengembang di wajahnya, seolah menikmati raut kebingungan Cantika.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DI ANTARA BUKU DAN RINDU
9.4
Seorang penjaga perpustakaan sekolah jatuh hati pada siswi yang kerap datang berkunjung. Hubungan manis yang bermula di antara deretan rak buku ini mendadak berubah menegangkan. Lewat deretan buku yang sering dipinjam sang gadis, sebuah misteri besar dan rahasia gelap perlahan mulai terkuak. Kebenaran yang tersembunyi di balik lembaran-lembaran tersebut kini mengancam akan menjungkirbalikkan kehidupan mereka berdua untuk selamanya.
Sampul Novel Obsession of teacher
9.6
Dunia seorang mahasiswi tingkat akhir di universitas elite New York runtuh seketika. Perlakuan keji dari dosennya sendiri meninggalkan trauma psikologis yang sangat mendalam. Pasca-kejadian tragis tersebut, ia harus berjuang menghadapi depresi hebat dan dorongan untuk mengakhiri hidupnya. Kisah pilu ini menyoroti pergulatan batin seorang wanita yang hancur akibat obsesi menyimpang sang pendidik.
Sampul Novel Pernikahan Rampasan
9.3
Demi membalas dendam atas kematian sang ibu, Sally Esteban berniat merebut kembali tunangannya dari adik tirinya. Namun, ia keliru dan justru merayu Glenn, adik mantan tunangannya yang terkenal dingin. Sadar salah sasaran, Sally mencoba menjauh, tetapi Glenn malah mengejarnya hingga mereka terikat pernikahan dalam keluarga Ston. Kehadiran Kayla, mantan kekasih Glenn, mulai menguji kesetiaan sang suami. Keraguan Glenn membuat Sally memilih bercerai, dan kini Glenn harus berjuang mempertahankan istrinya.
Sampul Novel Saving My Two Sons Mentally
9.1
Seorang ibu mengambil langkah berani untuk bercerai demi melindungi masa depan kedua putranya. Kini, ia harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya realitas kehidupan. Tanpa kenal lelah, dirinya bekerja keras dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan harian serta biaya sekolah buah hatinya. Kisah menyentuh ini menyoroti perjuangan dan pengorbanan luar biasa seorang wanita yang rela melakukan apa saja demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak tercintanya.
Sampul Novel Setelah Pergi Penelitian, Tunanganku Menyesal
9.0
Satu bulan menjelang pernikahan, sang kekasih bersikeras ingin memiliki anak dengan cinta sejatinya. Meski ditolak, ia terus mendesak hingga rahasia terungkap dua minggu sebelum hari besar. Melalui hasil pemeriksaan, terungkap bahwa perempuan itu telah hamil sebulan. Sadar persetujuannya tak pernah dianggap penting, hubungan bertahun-tahun pun kandas. Pernikahan dibatalkan, semua kenangan dihapus, dan tepat di hari pernikahan, ia memilih masuk ke laboratorium riset tertutup demi memutus hubungan.
Sampul Novel Terlahir Kembali, Akan Kubalas Kalian
8.7
Ketika Dylan Stevens memilih merayakan tahun baru di pantai bersama asistennya, sang kekasih tidak lagi menahan kepergiannya. Di kehidupan sebelumnya, tindakan menahan Dylan dengan kehamilan justru berujung pada kematian tragis sang asisten dan pembunuhan kejam terhadap bayinya sendiri oleh Dylan yang menyimpan dendam. Kini, setelah terlahir kembali, ia segera melakukan aborsi begitu Dylan pergi. Dengan kesempatan kedua ini, ia bertekad untuk menghancurkan hidup Dylan dan merebut seluruh miliknya tanpa sisa.